
Sudah dua hari kota Xianyang sibuk.
Menggali parit, serta membuat jebakan di jalan – jalan, juga di hutan yang menuju kota Xianyang.
Prajurit di bantu masyarakat yang bekerja sama membuat jebakan dan perangkap untuk menghambat serangan yang akan di lancarkan oleh pasukan Xiang Yu.
Sementara itu, mata – mata pasukan yang di kirim jendral Cao untuk melihat pergerakan pasukan musuh selalu memberi kabar.
Pasukan Xiang Yu mulai bergerak hari ini, setelah mereka di ketahui bersiap di kota tempat mereka berkumpul.
Jika pasukan besar dengan berjalan kaki, mereka akan sampai di kota Xianyang dalam 3 atau 4 hari.
Han Ciu yang sudah membagi tugas kepada anak buah serta mereka yang turut membantu.
Pagi – pagi sekali rombongan Han Ciu dengan 200 pasukan, bergerak dari kiri kota Xianyang menuju ke arah kota Beidi.
Han Ciu di temani kedua istri, Talaba, Tongki dan juga Fang Ji.
Sementara, Pedang Api bersama dengan Iblis Biru dengan 500 pasukan berusaha menahan serbuan musuh yang datang dari Hedong.
Sedangkan, jendral Cao, perwira Kai Ko, Dewi Kipas serta gubernur Cia Kun bertahan di kota Xianyang.
“Talaba, beritahu pasukan agar jangan berpencar terlalu jauh dengan rombongan,
“Mata – mata dan pencari jejak, jika 1 hari tidak memberi laporan, kita harus waspada, karna ada kemungkinan mereka di bunuh atau di tawan oleh pihak musuh.”
Talaba yang mendengar perintah ketuanya, kemudian memberitahu kepada kawan mereka.
Di sebuah hutan bambu, Han Ciu setelah mendapat tempat tersembunyi, lalu mengajak pasukannya untuk istirahat, sambil memberi petunjuk dan pengarahan kepada para anak buah.
“Talaba, hutan bambu ini sangat cocok untuk pasukan penyergap, dengan senjata rahasia, pasukan kita bisa dengan mudah memanah serta melemparkan senjata rahasia, mereka juga bisa berpindah jika di serang, karena jarak antar bambu berdekatan.
Pilih orang yang biasa memakai senjata rahasia serta pemanah, utamakan mereka yang mempunyai tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, agar bisa menghindar dan bersembunyi jika sudah terjepit.
“Tak usah banyak, 20 saja sudah cukup,”
Talaba langsung pamit begitu mendengar perkataan Han Ciu, dan mulai memilih orang yang cocok dengan keinginan sang ketua.
Setelah terkumpul 20 orang yang di anggap cekatan dan memiliki keahlian menyerang dari jarak jauh serta tenaga dalam yang lumayan Tinggi.
Ke 20 orang itu berdiri di depan Han Ciu.
“Hormat ketua,” teriak ke 20 orang itu.
“Apa Talaba sudah memberitahu kalian, Kenapa kalian aku panggil kesini ? Tanya Han Ciu.
“Sedikit gambaran telah kami dapat ketua, tapi kami ingin mendengar arahan serta petunjuk langsung dari ketua,” ucap pria paruh baya, yang merupakan anggota perguruan Selaksa pedang.
Han Ciu tersenyum sambil anggukan kepala mendengar perkataan orang itu.
“Maaf kan aku yang telah membawa paman sekalian ikut menanggung susah karena peperangan ini,”
Ketua tidak usah berkata seperti itu, sebagai anak murid perguruan selaksa pedang, kami sangat bangga bisa berperang bersama sama dengan ketua, hidup atau mati adalah sebuah garis yang telah di tetapkan, mati dalam pertempuran adalah sebuah kebanggaan ketua,” ucap Pria itu.
“Siapa nama paman ? Tanya Han Ciu ketika mendengar perkataan pria paruh baya itu.
Hamba bernama Kho Tian, ketua.
“Paman Kho sungguh bijaksana, ke 20 orang yang bersama aku serahkan kepada paman Kho, kami akan ke pusat tempat musuh berkumpul, jika mereka lewat hutan bambu ini, habisi mereka, tapi sekali lagi aku tegaskan, jika paman dan kawan terdesak, cepat lari, jangan bertindak bodoh, karena orang hidup lebih berharga daripada orang mati, paman mengerti maksudku ? Kho Tian bersama ke 20 orang anak buahnya yang baru, ketika mendengar perkataan Han Ciu langsung sujud, mereka sangat terharu dengan ucapan ketuanya.
“Kami mengerti maksud ketua, terima kasih,” ucap mereka bersama sama sambil bersujud.
Air mata Xiao Er tumpah membasahi pipi, ia terharu melihat Han Ciu serta anak buahnya, saling memberi hormat setelah berbagi tugas, Xiao Er yakin mereka belum tentu bisa bertemu lagi, karena Xiao Er yakin, kali ini perjuangan mereka sangat berat.
Han Ciu bersama dengan 180 orang yang tersisa bergerak masuk ke dalam hutan, ia yakin pasukan Xiang Yu masih berada di lembah yang pernah ia lihat, karna jarak antara Ketiga kota dengan Xianyang, kota yang paling dekat adalah Beidi.
Setelah dekat dengan lembah tempat musuh berada, Han Ciu menempatkan pasukannya di tempat tersembunyi yang tak jauh dari lembah.
“Talaba, kau periksa keadaan di lembah, jika bisa, cari tahu tenda perbekalan mereka.” Ucap Han Ciu.
“Baik ketua ! Setelah menjawab, Talaba langsung bergerak ke arah lembah, dimana dulu Han Ciu bersama Zhain Li Er pernah melihat tenda – tenda pasukan Xiang Yu.
Han Ciu serta yang lain menunggu di tempat persembunyian, sebelum malam tiba, Talaba telah kembali.
Bagaimana, apa mereka masih disana ? Tanya Han Ciu.
__ADS_1
“Mereka masih di sana ketua, tapi....tapi ! Talaba diam tak melanjutkan perkataannya.
“Tapi apa Talaba ?
“Mereka sepertinya bukan 1000 pasukan seperti yang ketua katakan, tapi menurut hamba jumlah mereka antara 2500 sampai 3000 pasukan.”
“Apa kau bilang ?! Han Ciu sampai teriak mendengar perkataan Talaba.
“Jika benar, itu artinya pasukan yang berada di kota Shang sebagian telah menuju Beidi, dan mereka siap menyerang Xianyang dari sisi kiri, sedangkan Shang ataupun Hedong adalah kekuatan untuk memancing pasukan kita berkumpul menyerang Hedong, tapi sebenarnya inti serangan yang mereka lakukan berasal dari kota Beidi.” Ucap Han Ciu sambil menghantamkan tangannya ke arah batu besar.
Blar !
Batu besar langsung remuk terkena hantaman Han Ciu.
Kita mundur perlahan sambil menghabisi sebagian prajurit Xiang Yu.
“Aku, Talaba, serta adik Li akan berusaha membakar, tenda perbekalan pasukan mereka, Xiao Er serta paman Tongki tunggu di depan hutan bambu, kami akan memancing mereka, pukul dan lari.
“Talaba jangan sampai kau salah melihat tenda perbekalan,” ucap Han Ciu.
“Tidak ketua, hamba tidak salah, hamba sudah memeriksa sampai 2 kali dan itu memang tenda perbekalan mereka.” Talaba menjawab.
“Baik....malam ini kita bakar tenda perbekalan mereka.”
Di lembah tempat tenda pasukan Xiang Yu yang berada di hutan perbatasan kota Beidi, 3 buah bayangan berpakaian hitam dengan tutup kepala hitam, tengah mengintai ratusan tenda besar yang terdapat di dalam lembah.
Ternyata semakin ke dalam lembah ini semakin besar, hingga bisa menjadi tempat persembunyian ribuan prajurit yang akan menyerang kota Xianyang, hingga keberadaan mereka susah di ketahui oleh mata – mata dari kota Xianyang.
Han Ciu menatap ratusan tenda – tenda yang saling berdekatan, “jadi 3 tenda yang berada di tengah dan di jaga oleh prajurit jaga adalah tenda perbekalan mereka ? Tanya Han Ciu.
“Benar ketua, hamba bisa mendekati tenda itu dengan menyamar menjadi prajurit mereka,” jawab Talaba.
“Kita harus bergerak cepat, hancurkan dan pergi dari sana, tapi jika kita ketahuan sebelum melarikan diri, kita harus mengacak acak pasukan mereka.” Han Ciu berkata.
Setelah memberikan instruksi, ketiganya perlahan turun dan masuk ke lembah mendekat ke tenda perbekalan, suasana malam yang larut menguntungkan Han Ciu. 5 orang yang berjaga di sekitar tenda perbekalan tampak berdiri tegap.
Dengan ilmu pedang hampa, Han Ciu menciptakan pedang kecil.
Dua pedang yang tercipta dari tenaga dalam melesat.
Pedang hampa menembus leher kedua penjaga, dua orang penjaga di depan tenda perbekalan langsung tersungkur, tewas seketika.
Zhain Li Er tak mau ketinggalan, tubuhnya berkelebat laksana angin malam, gadis itu menjambak rambut prajurit yang berjaga, kemudian menggorok leher penjaga dari belakang, kemudian melemparkan pedang angin ke arah penjaga yang lain.
Melihat kedua penjaga tewas, Zhain Li Er mengambil batu api yang sudah ia siapkan, lalu membakar tenda.
Sementara itu, seorang penjaga kepalanya tertembus panah Talaba, setelah selesai membereskan ke lima orang penjaga, Han Ciu serta Talaba membakar tenda,
Ketika api mulai membesar, ketiganya lalu berkumpul, saat hendak melesat pergi terdengar teriakan kencang serta suara peluit tanda bahaya dari para prajurit jaga.
Ada penyusup....ada penyusup !
Prit....prit...prit !
Suara kentungan kemudian saling susul, tak lama kemudian cahaya obor bermunculan dari berbagai penjuru.
Han Ciu yang memang sudah memperkirakan apa yang terjadi, kedua tangan menghantam ke arah tenda perbekalan yang terbakar.
Pukulan Dewa angin serta Dewa api menghantam tenda, beberapa tenda yang berdekatan terbang terkena hantaman pukulan Dewa angin, sementara sebagian tenda lain terbakar terkena hantaman pukulan Dewa api.
Suasana bertambah kacau, banyak prajurit yang terpental dan terbakar akibat pukulan Dewa Angin serta pukulan Dewa Api.
Serang....Serang....! itu mereka,” Teriak salah seorang perwira yang melihat tiga bayangan melesat hendak meninggalkan lembah.
Ratusan prajurit di pimpin oleh seorang perwira terus mengejar Han Ciu, Zhain Li Er serta Talaba.
Seorang bertubuh hitam dengan tubuh besar berpakaian mewah, tapi satu kaki orang itu terbuat dari besi.
Salah seorang jendral kepercayaan Xiang Yu, San Chi pahlawan satu kaki, salah seorang komandan yang mengepalai pasukan dan salah satu pencetus pasukan khusus Bintang timur.
Hmm !
“Hanya tiga orang kroco, hendak mengacau pasukan yang aku pimpin,” dengus San Chi dengan geram.
“Co tong, siapkan prajurit ! kita persempit ruang gerak mereka, aku yakin mereka juga membawa pasukan, kita habisi pasukan mereka, sekalian kita serang kota Xianyang.” San Chi berkata kepada Co Tong, salah seorang komandan kepercayaannya.
__ADS_1
“Baik jendral ! Ucap Co tong, lalu pergi mengumpulkan prajurit untuk mengejar Han Ciu.
Han Ciu berlari paling belakang sambil melindungi Talaba serta Zhain Li Er, sesekali tangan pemuda itu mengibas ke belakang, menghalau panah dan tombak yang dipakai untuk menyerang mereka.
Tapi lama kelamaan, para prajurit semakin banyak, mereka terkadang menyerang dari samping ketika Han Ciu berlari.
“Rupanya mereka memakai jalan pintas untuk mengejar kita, adik Li lindungi Talaba,” ucap Han Ciu sambil tangannya mendorong ke depan dengan pukulan Dewa Angin.
Whut....Blam !
Tiga orang prajurit yang menyerang dari samping terlempar terkena pukulan Dewa angin.
Shing....Shing !
Tombak, panah melesat dari belakang, Han Ciu memutar kedua tangan, puluhan pedang hampa melesat menghantam tombak serta panah, sebagian jurus pedang hampa menembus tubuh para prajurit yang mengejar Han Ciu dari belakang.
“Berpencar....kejar mereka jangan sampai lolos,” teriak seorang perwira yang marah melihat anak buahnya tewas oleh Han Ciu.
Sementara itu rombongan Tongki serta Xiao Er yang bersembunyi di depan hutan bambu, melihat dari kejauhan cahaya obor yang bergerak seperti berputar putar, mereka bersiap sambil menggenggam erat senjata masing² sambil menunggu Han Ciu, Zhain Li Er serta Talaba.
Wajah Xiao Er tampak cemas, gadis itu menggenggam pedang sambil berdoa dalam hati, agar mereka yang menyusup selamat dari kejaran musuh.
“Adik Li, lindungi Talaba, kalian berangkat lebih dulu, biar aku yang menahan mereka, suruh pasukan yang tersisa untuk bersiap,” Han Ciu berbisik kepada Zhain Li Er.
“Biar aku bersama kak Han menahan mereka,” ucap Zhain Li Er.
“Jangan bodoh, aku gampang menyelamatkan diri, tapi sambil menjaga kalian dari serbuan prajurit yang jumlahnya ribuan akan repot,” nada bicara Han Ciu mulai tinggi mendengar Zhain Li Er membantah perkataannya.
“Kau jangan khawatir, aku akan menyusul kalian dan kita berkumpul di hutan bambu seperti yang sudah kita rencanakan,”
Melihat sang suami berkata sambil tersenyum, Zhain Li Er tak membantah lagi, gadis itu lalu memegang lalu menarik tangan Talaba kemudian melesat pergi ke arah hutan bambu tempat pasukan mereka berkumpul.
Di tempat yang sedikit terbuka, Han Ciu hentikan langkah setelah melihat di depannya berdiri seorang pria berpakaian mewah dengan jubah, tapi berkaki satu, di belakang pria itu berdiri beberapa orang perwira serta ratusan prajurit Xiang Yu.
“Menyerahlah, tuan sudah terkepung, ” ucap San Chi, si pahlawan kaki satu.
Han Ciu mendengus mendengar perkataan pria itu.
“Aku memang terkepung, tapi belum tertawan,” Han Ciu membalas perkataan San Chi.
Ha Ha Ha
“Yang tuan katakan memang benar, tapi jika tuan menyerah, mungkin kami akan mempertimbangkan untuk mengampuni tuan, tapi jika melawan, pihak kami tak berjanji untuk menangkap tuan hidup – hidup.” San Chi berkata sambil menatap tajam ke arah Han Ciu.
Sementara itu, puluhan prajurit semakin banyak berdatangan mengepung Han Ciu.
Melihat prajurit yang mengepung semakin banyak, dan ada kemungkinan Zhain Li Er telah lolos dari kejaran musuh.
Han Ciu tanpa ragu memutar kedua tangan, puluhan pedang hampa tercipta dari kedua tangan pemuda itu.
Hiaaaaat !
Setelah berteriak kencang, Han Ciu mendorong kedua tangannya ke depan.
Puluhan pedang hampa melesat menyerang ke arah San Chi.
Mata San Chi membesar melihat puluhan hawa pedang melesat ke arahnya, pahlawan kaki satu kemudian memutar kedua tangan lalu mendorong ke arah depan.
Sret....Blam !
Dari tangan San Chi keluar sebuah angin kencang menghantam puluhan pedang hampa.
Blam !
Hawa pedang lenyap ketika dihantam oleh pukulan San Chi.
Kaki San Chi melesak ke dalam tanah, akibat pertemuan tenaga dalam.
Hmm !
“Rupanya Hebat juga orang yang di kirim oleh Liu bang ! Seru San Chi saat merasakan getaran tenaga dalam yang ia rasakan ketika kedua pukulan mereka bertemu.
Para prajurit diam sejenak ketika merasakan kedua pukulan bertenaga dalam tinggi bertemu, sebagian terseret mundur oleh hawa tenaga dalam San Chi dan Han Ciu.
Han Ciu mencabut sepasang pedang tulang naga, lalu menatap tajam ke arah San Chi.
__ADS_1
Mari maju dan buktikan perkataanmu !