Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 151 Kau Telah kembali


__ADS_3

“Kawan – kawan sekalian !”


"Kami perguruan Selaksa Pedang meresmikan perguruan bukan untuk mencari permusuhan, tetapi kami ingin di akui dan menjalin persahabatan, masalah cukup sampai di sini dan berharap perseteruan di tempat kami tolong di hentikan.


Kami dari perguruan Selaksa Pedang menjamin yang hadir, jika tak membuat keributan akan keluar dengan aman dari telaga barat.


Pedang Langit berkata sambil mengerahkan tenaga dalamnya hingga semua yang hadir mendengar apa perkataan dari Pedang Langit.


Xiang Yu mendengus kemudian berdiri di ikuti oleh rombongannya.


Xiang Yu menatap tajam ke arah Liu Bang.


“Sekarang sudah tidak ada basa basi lagi, semua rakyat negeri sudah tahu, di tempat ini, aku Xiang Yu menyatakan perang terhadap Liu Bang,”


“Mari kita tentukan siapa penguasa negeri sesungguhnya, Kau atau Aku.”


“Baik !” Aku terima tantangan ini, dan memang ini adalah jalan terbaik yang harus kita tempuh, untuk memastikan kemana arah negeri ini.” Liu Bang berkata.


Xiang Yu lalu menatap Pedang Langit.


“Walau aku tahu ke arah mana tujuan Selaksa Pedang berpihak, tapi aku masih memberi kesempatan pada perguruan Selaksa Pedang jika ingin bergabung.”


Pedang langit memberi hormat kepada Xiang Yu, lalu berkata.


“Kami akan menentukan pilihan atau tidak berpihak kepada siapapun, akan kami rundingkan dahulu dengan semua anggota Selaksa Pedang.”


Setelah mendengar perkataan Pedang Langit, Xiang Yu kemudian meninggalkan ruangan di ikuti rombongannya keluar menuju kapal dan meninggalkan telaga barat.


Liu Bang memberi hormat kepada Pedang Langit.


“Maaf jika kami membuat kegaduhan di Perguruan Selaksa Pedang.”


“Sudahlah !” tuan Liu Bang tak usah sungkan,” Pedang Langit berkata sambil tersenyum.”


Pedang Langit kemudian memberi tanda agar melanjutkan acara, sementara Han Ciu duduk kembali di dekat, Iblis Biru dan Tongki.


Makanan dan arak di hidangkan, kini mereka tertawa tawa, sambil minum arak yang tersedia.


Sebagian tamu rombongan mulai kembali, tapi sebagian yang kenal akrab, masih bertahan sambil bercakap cakap.


Perguruan Api Suci, rombongan Liu Bang, serta keluarga Suma dan beberapa tamu, masih tetap berada di ruangan.


Sementara itu, sesekali Liu Bang Serta Xiao Cen mencuri pandang kepada kakek Tongkat putih yang telah membunuh Dewa Api.

__ADS_1


Pedang Langit tahu, tapi ia belum bisa membuka identitas Han Ciu, karna masih ada beberapa tamu, yang masih bercakap cakap dengan mereka.


Kau kalau buta ya bilang buta, kalau tidak buta ya bilang tidak, jangan bikin orang bertanya tanya, Tongki berkata.


“Memangnya aku bilang buta padamu ?” ucap Han Ciu tanpa melihat Tongki.


“Memang kau tidak bicara,” tapi aku kan lihat matamu putih, biasanya yang tidak melihat itu matanya tertutup dan bola matanya tidak hitam seperti mataku ini buta,” ucap Tongki.


“Lalu kawanmu itu yang bermata biru, apa dia juga buta ?” ketika akan menjawab pertanyaan Han Ciu, Tongki tak jadi membuka mulut karna melihat Iblis biru sudah menatap ke arahnya.


“Aku tidak bilang kau buta,” ucap Tongki.


Hanya Xiao Er yang selalu termenung walau sesekali Sa Sie Hwa menghibur gadis itu.


Xiao Cen yang melihat akhir – akhir ini cucunya sering sedih setelah mendengar kabar Han Ciu tewas tertimbun di goa, tak bisa berbuat apa – apa untuk menghibur hati Xiao Er, dan sewaktu Xiao Er mengganti pakaiannya menjadi putih, Xiao Cen tak menegur cucunya itu.


Setelah semua tamu kembali, dan hanya Liu Bang, Xiao Cen serta keluarga Suma yang ada di ruangan.


Pedang Langit lalu membawa mereka ke ruangan khusus, agar pembicaraan mereka lebih tenang dan tidak terganggu.


Di sebuah ruangan khusus, Pedang langit yang mengundang Liu Bang serta Xiao Cen dan Kakek tongkat putih yang merupakan penyamaran dari Han Ciu.


Liu bang memberi hormat kepada kakek Tongkat putih lalu berkata.


“Paman tak usah berkata seperti itu, ini memang sudah kewajibanku membantu paman sendiri,”


Liu Bang dan Xiao Cen yang mendengar suara parau dari kakek tongkat putih yang berkata seperti itu, mengerutkan keningnya.


Hanya Pedang Langit yang tersenyum mendengar perkataan kakek tongkat putih.


Paman, maaf tuan sepertinya lebih tua dari kami, jadi kami yang lebih pantas memanggil paman,” Liu Bang.


Han Ciu yang sudah mengerahkan tenaga dan memutuskan tali yang mengikat kaki hingga terlihat buntung, berdiri memberi hormat kepada Liu Bang dan Xiao Cen.


“Paman Liu, ketua Cen maaf sudah membuat khawatir,” ucap Han Ciu


Liu Bang serta Xiao Cen masih belum mengerti, apalagi melihat kakek tongkat putih tiba – tiba berdiri.


Han Ciu tersenyum kemudian ia mengeluarkan ilmu pelemas otot dan pelekuk tulang.


Krek .. krek


Tubuh yang bungkuk sudah tegap kembali, sambil melepaskan topeng tipis yang ia pakai.

__ADS_1


Setelah melihat topeng yang telah di buka, dan siapa orang di balik topeng, Liu Bang langsung berdiri dan memeluk Han Ciu, begitu pula dengan Xiao Cen.


Mata Liu Bang berkaca kaca, “Ponakan Han !” aku seperti mimpi melihatmu,” ucap Liu Bang sambil menepuk nepuk, punggung Han Ciu.


“Dewa masih berpihak padaku paman,” ucap Han Ciu sambil tersenyum.


“Kau benar, Dewa selalu melindungi orang yang baik.” Liu Bang berkata sambil tersenyum, wajah penguasa daerah barat itu wajahnya kembali ceria.


Han Ciu kemudian tersenyum kepada Xiao Cen, “maaf telah membuat khawatir ketua Cen dan adik Xiao Er,” Han Ciu berkata.


Ha Ha Ha


“Aku sudah tak bisa berkata kata lagi saking senangnya.”


Lanjut perkataan Xiao Cen, “kau tahu Xiao Er sangat sedih setelah mendengar kabar kau terkubur di bukit serigala, dan sejak mendengar kabar itu, Cucuku tak pernah lagi mau memakai pakaian selain yang berwarna putih, dan wajahnya selalu murung, aku tak sampai hati melihatnya.


“Sekarang aku ingin lihat seperti apa reaksinya begitu melihat kau ada di sini,” Xiao Cen berkata sambil tertawa.


Pedang Langit tersenyum melihat suasana di dalam ruangan langsung berubah ceria.


“Mari kita ke ruangan, sepertinya mereka sudah tak sabar menunggu kita datang” ucap Pedang Langit.


Han Ciu kemudian memecahkan tongkat batu putih, dua pedang berwarna putih terlihat oleh Liu Bang dan Xiao Cen, suasana di dalam ruangan seketika menjadi dingin, setelah Han Ciu menaruh sepasang pedang tulang naga di punggung, dan menyerap hawa dingin dari dalam pedang ke dalam tubuh, hawa ruangan kembali seperti biasa.


“Liu Bang dan Xiao Cen hanya bisa terpana melihat senjata baru Han Ciu.”


“Tokoh sekelas Dewa Api dengan mudah ia kalahkan, entah sudah sampai dimana kesaktian calon menantuku ini,” Xiao Cen berkata dalam hati.


Mereka kemudian keluar dan menuju ruangan tempat berkumpul orang – orang selaksa pedang serta orang yang bergabung dan setia seperti keluarga Suma.


Ketika Liu Bang, Pedang Langit serta Xiao Cen masuk ke ruangan tempat berkumpul sambil tersenyum, Han Ciu berada di belakang ketiga tokoh itu.


Xiao Er yang sedang bercakap cakap dengan Sa Sie Hwa dan Ahn Nio, melihat siapa yang datang wajahnya tampak sedih.


Tetapi wajahnya langsung berubah, air matanya langsung bercucuran sambil tersenyum bahagia, melihat pemuda yang muncul dari belakang tubuh kakeknya.


Ahn Nio memegang tangan Xiao Er sambil tersenyum, lalu berkata pelan.


“Sambutlah calon Suami mu”


Xiao Er langsung mengangguk mendengar perkataan Ahn Nio.


Tanpa ragu gadis itu melesat dan langsung memeluk Han Ciu di depan semua orang.

__ADS_1


“Kakak Han, Kau telah kembali.”


__ADS_2