
Wajah Han ciu terlihat gembira melihat siapa yang datang.
Kai Sek serta Hek Kay.
Pangcu.
Terima kasih sudah datang Han Ciu memberi hormat kepada, Pangcu pengemis tongkat hitam, sementara Hek kay, sahabat sewaktu dulu bersama ke rumah juragan Lan
"Muka cabul aku datang," ucap Hek Kay sambil tertawa.
Cis
"Gembel busuk, hati hati kau bicara," ucap Li Er.
Ha ha ha.
"Memangnya kenapa, aku memang memanggilnya si muka cabul." Hek Kay berkata.
Hmm !
Kai Sek mendengus "Hati hati jika tak hormat kepada Cengcu, apa kau ingin mendekam dalam goa selama setahun ?" ucap Kai Sek.
Tidak ..tidak guru, ucap Hek kay.
"Sekarang kita seimbang, mari mari jangan ragu ragu," ucap Han Ciu.
"Kakak, biar musang itu buatku."
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Zhain Li Er, dengan adanya bantuan perkumpulan Pengemis tongkat hitam, kedudukan menjadi seimbang.
"Keparaat !"
"Rupanya kau sudah menyiapkan semua ini," Golok api mendengus tajam sambil menatap Han Ciu.
"Aku tahu sekarang !" kalian adalah orang orangnya Liu Bang." ucap Golok api.
"Kau pikir memberantas orang sepertimu, harus anak buah tuan Liu Bang ?"
"Kami tak suka caramu merebut kekuasaan orang lain secara paksa." Han Ciu berkata sambil membalas tatapan golok api.
Golok api tanpa bicara melesat, goloknya membacok bahu Han Ciu.
Trang !
Han Ciu menyilangkan pedang di bahunya, menahan bacokan golok api.
Golok api menekan pedang yang di pakai Han Ciu.
Tangan kiri Han Ciu mencakar perut Golok api, dengan jurus cakar Naga hitam.
Golok di tarik, Golok api mundur menghindari serangan Han Ciu yang menyambar perut.
Musang utara yang hendak membantu sahabatnya, tak bisa bergerak mendekati Han Ciu.
Zhain Li Er selalu menghalangi.
Pedang angin menyerang bagian bagian yang terbuka dari Musang utara.
Musang utara menyambar pedang yang menusuk perut.
Creep !
Sarung kulit buaya sangat keras, pedang angin tak mampu merobek sarung tangan yang di pakai musang utara.
Musang utara mencengkram pedang angin, Zhain Li Er berusaha menarik, tapi Musang utara mengerahkan tenaga dalamnya menahan tarikan Li Er.
Shiing !
Musang utara melepaskan pedang Li Er kemudian telapak tangan terbuka, jarum beracun menghantam telapak yang memakai sarung tangan kulit buaya.
Jarum terpental dan jatuh ke tanah setelah menghantam sarung tangan kulit buaya.
Zhain Li Er mengetahui sarung tangan yang dipakai Musang utara sangat hebat, kedua sarung tangan yang dipakai selalu menjadi tameng untuk menahan serangan serangan pedang angin.
Zhain Li Er mengelilingi Musang utara, sekali kali Racun cilik melemparkan jarumnya ke arah Musang utara.
Shiing !
Tapi Musang utara mampu menghalau jarum beracun yang menyerang.
Zhain Li Er bergerak makin cepat, suara pedang angin semakin mencicit, baju sutra coklat Musang utara banyak yang sobek terkena sambaran pedang angin.
__ADS_1
Musang utara berusaha menghindari sabetan pedang angin yang bisa mengenai kulit, jika hanya baju yang sobek ia tak peduli.
Zhain Li Er memperhatikan gerak gerik kedua tangan Musang utara semua bagian tubuh telah ia serang tapi dengan gampang Musang utara, menangkis dan terkadang mencengkram pedang angin.
Zhain Li Er melihat batas sarung tangan kulit buaya yang di pergelangan, berpikir sebuah cara.
"Kenapa tidak aku serang saja pergelangan tangan itu.
Musang licik itu pasti susah jika kuserang pergelangan tangannya, sebatas sarung tangan yang ia pakai.
Zhan Li Er mengempos tenaga dalam, gerakannya semakin cepat.
menyerang Musang utara, pedang angin tidak menebas, tapi menusuk mengincar pergelangan tangan Musang utara.
Musang utara terkejut, ia sama sekali tak menyangka, tempat tempat yang di serang adalah pergelangan tangan, Musang utara repot menangkis serangan Zhain Li Er.
Sreet, creet !
Ujung pedang menusuk sisi pergelangan tangan Musang utara.
Aiiissh !
Tring..!
Sebuah jari pisau putus terkena tebasan pedang angin milik Zhain Li Er.
Li Er mengeser pedang angin lalu menusuk ke arah dada.
Crash .. Arrrgghh !
Musang utara menjerit saat ujung pedang angin menyobek bahu Musang utara.
Kakek berambut putih itu mundur, darah mengucur keluar dari bahu yang tertusuk oleh pedang angin.
Gadis keparat, kau atau aku yang mati.
Musang utara kemudian menyerang Zhain Li Er, serangan serangannya sangat ganas.
Jari jari pisau menyabet serta menusuk, Li Er menangkis dengan pedang angin.
Zhain Li Er berputar, jurus putaran bidadari, semakin lama semakin kencang, Musang utara yang menyerang secara ganas, malah balik di serang oleh Zhain Li Er.
Semakin lama Musang utara semakin repot menahan tusukan serta sabetan yang menyayat, mengiris tubuh Musang utara.
Sedangkan Gubernur Xue Yang, Sin Ko dibantu oleh Pangcu serta Hek Kay, sudah mulai menguasai keadaan.
Keadaan yanng terlihat oleh Musang utara serta Golok api membuat kedua pemimpin Kota Xue itu menjadi semakin putus harapan dalam menghadapi Zhain Li Er serta Han Ciu.
Musang utara menghindari tendangan zhain Li Er dengan melesat ke atas.
Tapi Pedang angin tidak diam, pedang angin menyambar pergelangan tangan kiri Musang utara.
Craash !
Pergelangan tangan kiri Musang utara putus, raungan keras terdengar dari mulut kakek itu.
Dengan kalap, tangan kanan Musang utara menyambar kepala, berusaha mencengkram kepala Zhain Li Er.
Li Er menunduk, lalu pedang angin menebas perut Musang utara.
Musang utara mundur sambil tangannya yang menggunakan sarung tangan kulit buaya, menghantam ke arah pedang angin.
Sreet .. Plak !
Badan pedang angin di tepak oleh cakar Musang utara.
Tapi Musang utara lupa, bahwa Zhain Li Er masih mempunyai tangan kiri,
Whuut .. Plak !
Musang utara langsung jatuh ketika pipinya terkena tamparan keras Zhain Li Er.
Li Er Melihat Musang utara jatuh, pedangnya menebas kembali ke arah kaki.
Musang utara menarik kaki, kemudian tubuhnya bergulingan di tanah, menghindari pedang angin Li Er.
Setelah berhasil menghindari serangan, Musang utara loncat dan berdiri, wajahnya merah menahan geram.
Tangan kiri putus, serta bahu tertusuk pedang, membuat Musang utara hanya punya satu pilihan, yaitu mati atau mati bersama.
Musang utara menotok di beberapa bagian tubuhnya, untuk menghentikan darah yang keluar, serta memberikan bubuk obat.
__ADS_1
Sedangkan Racun cilik mengambil sisa tangan Musang utara yang terputus, kemudian memegang sarung tangan kulit buaya.
Sarung tangan ini sangat bagus, mengambil bubuk racun, tak akan takut keracunan.
Setelah darah tak lagi mengucur, Musang utara memasang kuda kuda, bersiap.
Sementara, Golok api bertempur sengit melawan Han Ciu, pusaka Golok api yang membuat Tayin masih bertahan, hawa panas dari golok serta angin panas yang menyelimuti golok, sedikit menahan serangan Han Ciu.
Musang utara melesat, apapun yang terjadi ia merasa jalan untuk keluar hidup hidup dari tempat ini sudah mustahil, satu satunya cara agar ia tak mengalami kerugian besar adalah mengajak Zhain Li Er untuk tewas bersama.
Tangan kanan Musang utara menyambar leher Zhain Li Er, berusaha menusuk dengan jari pisau, atau mencengkramnya.
Li Er begeser ke samping kiri, kemudian pedang angin menebas ke arah siku tangan Musang utara.
Musang utara, menarik serangannya, tangan kanan yang ia tarik, di pakai menangkap pedang angin.
Creep !
Pedang angin di cengkram oleh Musang utara.
Tapi tangan kiri Li Er yang terisi hampir setengah tenaga dalam miliknya menghantam pinggang Musang utara dengan Tinju petir.
Musang utara terkejut, merasakan angin serangan tinju Li Er, kemudian mengerahkan seluruh tenaga dalam ke arah pinggang.
Kilatan petir kecil keluar dari kepalan tangan Zhain Li Er, mengahantam pinggang Musang utara, seperti menandakan tempat yang akan terkena pukulan.
Blaaar !
Musang utara terpental ke arah Racun cilik, pinggang kebawah tak bisa di gerakan, dengan sisa tenaga yang ada, Musang utara mengarahkan cakarnya ke arah kepala Racun cilik.
Racun cilik menggeser tubuhnya.
Cakar Musang utara lewat, setelah melewati tubuh Racun Cilik, dengan sigap.gadis itu mencabut jarum, kemudian menancapkan jarum itu di punggung Musang utara.
Gubraaak !
Musang utara jatuh, tulang pinggangnya hancur di dalam, terkena pukulan tinju petir Li Er, sementara punggungnya terkena jarum beracun yang menimbulkan rasa gatal dan panas.
Musang utara meringis, mulai merasakan racun yang menyerang tubuhnya.
"Garuk dengan cakarmu jika merasa gatal, mau mampuus, masih ganas !" sekarang kau rasakan akibatnya." ucap Racun cilik dengan tatapan dingin.
Wajah Musang utara pucat, tapi rasa sakit di pingang, serta rasa gatal perlahan menyerang, membuat Musang utara mulai berteriak meminta untuk di bunuh,
Uaaggghhrr...aaaagggrhh !
"Bunuh aku, cepat bunuh aku !" teriak Musang utara.
Golok api, Tayin mundur mendengar teriakan teriakan sahabatnya.
Mata Golok api melotot ke arah sahabatnya yang tergeletak dan tengah menjerit sambil teriak teriak.
Bulu kuduk Golok api berdiri, melihat keadaan sahabatnya yang tengah tersiksa.
Wajah golok api pucat, perlahan keringat mulai mengucur dari wajahnya.
Musang utara akhirnya menuruti perkataan Racun cilik, jika saja tangan kirinya tidak terpotong, mungkin ia bisa melepas sarung tangan kulit buaya.
Tiga Jari pisau Musang utara bergerak ke arah punggung, tempat jarum beracun menancap.
Creeps,..sreeet !
Suara tiga buah pisau menancap, serta merobek daging terdengar, dari punggung yang sobek darah segar keluar membasahi punggung.
Wajah Musang utara tampak lega setelah merobek punggungnya sendiri.
Li Er menghampiri, kemudian menendang kepala Musang utara.
Kreek !
Leher Musang utara patah, terkena tendangan Zhain Li Er.
"Sebal aku lihat mukanya dari tadi meringis ringis terus," ucap Li Er.
Zhain Li Er berjalan ke arah Han Ciu, sementara Racun cilik mengambil sarung tangan kulit buaya milik Musang utara, setelah pisau pisau yang di jari di buang, Racun cilik menyimpan kedua sarung tangan kulit buaya, lalu menyusul Zhain Li Er.
"Kakak biar aku saja yang menghabisi orang itu !" ucap Li Er.
"Golok api bagianku, kau bantu saja yang lain !"
Zhain Li Er mengerutkan kening, mendengar perkataan Han ciu
__ADS_1
"Bantu !" musuh kita hanya tinggal dia sendiri."