
Hek kay menatap ke arah Han ciu, ketika melihat perubahan di wajah pemuda yang mulai akrab dengannya, Hek kay bertanya.
"Kau kenal dengan pemimpin berkuda itu ?" Han ciu mengangguk tanpa menoleh mendengar perkataan Hek kay.
"Untuk apa mereka datang ke kota Hengshan ?"
Hmm !
"Di tanya kenal, kau mengangguk, tapi tak tahu tujuan mereka ke Hengshan." ucah Hek kay sambil menatap heran.
"Apa kau tahu tujuan mereka ke sini ?" Han ciu berkata.
"Tentu saja tahu, perkumpulan pengemis tahu segalanya."
"Mereka pasti menemui Lan mo ci,"
"Menemui Lan mo ci, untuk apa ?" Han ciu berkata sambil menatap Hek kay.
"Karna kau sudah baik padaku, aku beritahu kau."
"Kiam to itu adalah Cong koan ( kepala keamanan rumah tangga ) perkampungan Selaksa pedang, sementara keluarga Lan adalah anggota cabang luar dari pekumpulan selaksa pedang, jadi wajar jika seorang Cong koan dari pusat menemui cabangnya yang berada di kota ini !"
Hmm !
"Jadi keluarga Lan masih termasuk anggota perkampungan selaksa pedang ?" ucap Han ciu.
"Kau terkejut dan baru tahu ya ?" Hek kay menjawab perkataan Han ciu.
"kami perkumpulan pengemis tahu semua tentang perguruan perguruan yang tersembunyi sekalipun, karna di kolong langit tidak ada tempat yang tidak ada pengemisnya, dan kami saling terhubung walaupun hanya sekedar informasi."
Han ciu mengangguk mendengar perkataan dari sahabat barunya Hek kay.
"Pasti ramai di tempat keluarga Lan, apa kau mau melihat lihat kesana ?" ucap Han ciu.
Hek kay tampak menarik nafas panjang mendengar perkataan Han ciu
"Kemampuan seorang busu sudah ada di kepalaku, jika kau mau berjanji untuk tidak ikut campur mari kita kesana, tapi jika tidak !" aku tak bisa melindungimu, karna Kiam to dan orang orang dari keluarga Lan bukan sembarang orang yang pantas untuk di ganggu, partai pengemis tak mau berurusan dengan perkampungan selaksa pedang." Hek kay berkata sambil menatap tajam kearah Han ciu.
Setelah selesai makan dan minum arak, keduanya lalu berjalan menuju kediaman keluarga Lan.
Sebuah gedung besar, dan rumah rumah kecil, yang di kelilingi oleh benteng yang kokoh, dan di pintu gerbang tertulis papan nama dari kayu, yang bertuliskan kata kata mutiara.
Pedang tanpa hati adalah senjata pembunuh, Pedang dengan nurani adalah senjata kebaikan.
Lan Mo Ci
Han ciu tersenyum melihat kata kata mutiara yang ada di papan kayu, diatas gerbang kediaman keluarga Lan mo ci.
"Bagaimana kita masuk ?" Han ciu berkata kepada Hek kay.
Hek kay menarik nafas panjang mendengar perkataan Han ciu.
"Apa ku bilang, kau pasti merepotkan," Hek kay berkata, sambil memegang tangan Han ciu lalu menarik Han ciu dengan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, melewati benteng kediaman keluarga Lan.
Han ciu memang menyembunyikan kekuatan tenaga dalamnya sehingga Hek kay tak menyadari dan hanya menganggap Han ciu sebagai busu biasa.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan sepasang mata terus mengawasi mereka berdua, sampai mereka masuk ke dalam benteng.
Hek kay menarik tangan Han ciu ke sebuah gunungan kecil yang tertutup semak belukar di samping gedung.
Sssst !
"Kita berdiam disini !" dan jangan berisik biar kita dengarkan pembicaraan mereka," Hek kay berkata sambil menempelkan jarinya ke bibir memberi isyarat agar Han ciu tak bicara.
Sementara itu di depan mereka terdapat lapang yang luas, yang biasa di pakai untuk berlatih pedang keluarga Lan.
Di lapang yang luas itu tampak rombongan Kiam to sedang berdiri berhadapan dengan orang orang dari keluarga Lan.
__ADS_1
Hek kay dan Han ciu mendengarkan percakapan kedua kubu, yang terdengar sampai ke tempat mereka.
"Lan mo ci !" aku meminta upeti kepada keluarga Lan untuk membantu perjuangan tuan Xiang yu," ucap Kiam to.
"Aku akan memberikan upeti yang tuan Kiam to minta, tapi dengan syarat !"
"Apa syaratnya ?" Kiam to berkata begitu mendengar perkataan Lan mo ci.
"Surat dan stempel resmi dari perkampungan selaksa pedang."
Kiam to langsung diam ketika mendengar perkataan dari Lan mo ci.
"Kenapa Cong koan diam, apa ada yang salah dengan perkataanku ?" Lan mo ci berkata.
"Maaf, aku keluar buru buru dari perkampungan selaksa pedang jadi tak membawa surat yang saudara Lan katakan, bagaimana jika suratnya menyusul ?" ucap Kiam to.
Hmm !
"Cong koan mengerti dengan aturan bukan !" mana bisa seperti itu," Lan mo ci berkata.
"Lan mo ci, apa kau mau membangkang perintah Cengcu selaksa pedang ?" Kiam to berkata, sambil menatap tajam ke arah Lan mo ci.
"Aku bukannya membangkang, tapi Cong koan tahu bagaimana sifat Cengcu bukan !"
Lan mo ci tetap bersikeras.
"Agaknya tak ada jalan lain."
"Keluarga Lan, cabang luar dari perkampungan selaksa pedang telah membangkang, semua milik keluarga Lan yang ada akan di sita, dan keluarga Lan akan di hukum mati karna tak menuruti perintah." ucap Kiam to dengan nada bengis.
"Cong koan !" aturan tetap aturan, keluarga Lan tetap setia dengan perkampungan selaksa pedang, jaga perkataanmu."
Sementara itu Hek kay dan Han ciu yang tengah bersembunyi, melihat sambil mendengarkan perkataan kedua kubu, tampak heran.
"Kenapa satu perkampungan mereka saling beradu mulut, apa ada yang tak beres ?" Hek kay berkata.
Han ciu tak menjawab perkataan Hek kay, karna sedang berpikir apakah akan keluar dari tempat persembunyiannya atau tidak.
Lan mo ci yang melihat Kiam to mengeluarkan pedang, juga sudah mencabut pedangnya dan menatap tajam ke arah Kiam to.
"Aku mencium bau tak beres denganmu Cong koan, dan orang orang yang kau bawa, aku belum pernah melihat mereka di perkampungan selaksa pedang." ucap Lan mo ci.
"Kiam to tak mau berlama lama lagi berbicara,"
Pedangnya langsung menyambar kepala Lan mo ci.
Trang !
Lan mo ci menangkis pedang Kiam to dan balas menyerang.
Sepasang pedang keluarga Lan dan anggota keluarga yang lain juga sudah mencabut pedang, dan bersiap melihat kepala keluarga mereka bertempur melawan Kiam to.
Orang orang berpakaian hitam dan berwajah bengis, mencabut pedang dan mulai menyerang sepasang pedang keluarga Lan dan anggota keluarga yang lain.
Pertempuran sengit terjadi di lapang luas tempat keluarga Lan berlatih ilmu pedang.
Suara teriakan dan beradunya pedang terdengar riuh.
Anggota Keluarga Lan mulai terdesak, karna Kiam to membawa orang orang pilihan, sedangkan dari keluarga Lan, hanya Lan mo ci dan sepasang pedang keluarga Lan saja yang bisa di andalkan.
Lan mo ci sambil menghindari tebasan ke arah pinggang, melirik ke arah anggota keluarganya yang sudah terdesak oleh anak buah Kiam to.
Pikiran Lan mo ci menjadi bercabang memikirkan keluarga dan anak anaknya yang mulai terdesak, dan beberapa malah sudah terluka oleh anak buah Kiam to.
Kiam to melihat pergerakan Lan mo ci mulai lambat karna pikirannya bercabang terus mendesak.
Sebuah tebasan ke arah leher Lan mo ci, membuat kepala keluarga Lan itu gugup
__ADS_1
Lan mo ci menghindari sabetan yang ke arah leher dengan bergerak ke arah kiri, tapi pedang Kiam to seperti tahu kemana Lan mo ci akan menghindar, dan menyabet ke arah kiri, Lan mo ci terkejut dan berusaha mundur, tapi terlambat.
Craaas !
Bahu kiri Lan mo ci terkena sabetan pedang Kiam to, Lan mo ci mundur 2 langkah menjauhi Kiam to.
Han ciu sudah dari tadi ingin bergerak keluar dari tempat persembunyian nya, tapi Hek kay memegang erat tangan Han ciu, sambil berkata.
"Jangan ikut campur urusan mereka, atau kita yang akan celaka," ucap Hek kay.
Tapi ketika melihat Lan mo ci terluka, Han ciu melepaskan tangan Hek kay dan ketika hendak keluar, sebuah bayangan melesat mendahului sambil menyabetkan pedang.
Sreet craash !
Seorang anak buah Kiam to langsung rubuh terkena sabetan pedang dari orang yang baru saja datang.
"Penghianat"
Kiam to terkejut mendengar dan melihat orang yang baru saja menyerang anak buahnya.
Kim ho si bayangan pedang berdiri di depan Lan mo ci, sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
"Penghianat"
"Cengcu sedang mencarimu dan ternyata kau mengacau di sini," ucap Kim ho.
Sebelum Kiam to bicara.
Kim ho menatap ke arah gunungan kecil yang tertutup semak belukar tempat Han ciu dan Hek kay bersembunyi.
"Cengcu cepatlah keluar dan habisi penghianat perkampungan selaksa pedang."
Hek kay tangannya gemetar sambil memegang erat pergelangan tangan Han ciu.
"Celaka sobat, kita celaka." ucap Hek kay.
Han ciu mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Hek kay.
"Kenapa sobat, kenapa kita celaka ?"
Orang yang baru datang itu kalau aku tidak salah, adalah Kim ho, salah satu orang kepercayaan Cengcu perkampungan selaksa pedang.
Dan dia melihat ke arah kita sambil menyuruh Cengcu untuk keluar.
"Jika paman Pedang langit ada di sini dan memberitahu guruku, aku bisa celaka." ucap Hek kay.
"Memangnya kenapa ?"
"Guruku dan paman pedang langit adalah sahabat sejak muda, jika paman pedang langit tahu aku mengintip di sini dan memberitahu guru, aku pasti akan di kurung selama setahun di goa." ucap Hek kay membalas perkataan Han ciu.
"Urusan gurumu dan Pedang langit nanti saja di pikirkan lagi, tempat persembunyian kita sudah di ketahui oleh mereka, mari kita kesana !" Han ciu berkata kepada Hek kay.
Han ciu lalu balik memegang pergelangan tangan Hek kay, kemudian melesat ke arah Kim ho dengan ilmu meringankan tubuh Raja angin.
Whuuuut !
Setelah sampai di tempat Kim ho.
Hek kay menatap Han ciu dengan pandangan tak percaya.
Ketika memegang tangan Han ciu dan membawanya lompat keatas benteng, Hek kay hanya merasakan aliran tenaga dalam yang tak terlalu besar di tangan sobat barunya itu.
Tapi ia dalam sekejap seperti di tarik, dan tiba tiba sampai di tempat Kim ho berada.
Wajah Kiam to langsung pucat melihat siapa yang datang.
Sedangkan sepasang pedang keluarga Lan ketika melihat Han ciu datang, entah kenapa hati kedua kakak beradik itu merasa lega, mereka sudah melihat kemampuan Han ciu menewaskan Siluman srigala, dan mereka yakin Han ciu datang untuk menolong.
__ADS_1
Kim ho berkata, sambil sedikit membungkukan badan, memberi hormat.
"Cengcu, musuhmu ada di sini."