Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 178 Sebuah Ketetapan Hati


__ADS_3

Huang Zilin tak kuat menahan tubuhnya dan duduk bersimpuh di depan Han Ciu sambil memuntahkan gumpalan darah segar yang membeku akibat hawa dingin yang di timbulkan sewaktu Huang Zilin beradu pukulan dengan Han Ciu.


“Apa ingin di teruskan lagi paman ? Tanya Han Ciu.


Huang Zilin tak menjawab perkataan Han Ciu, karna memang mulutnya masih banyak gumpalan darah beku, begitu pula urat serta darah di dalam tubuhnya.


Han Ciu tersenyum, kemudian menghampiri Huang Zilin, kemudian duduk di belakang kakek itu, kedua telapak tangan Han Ciu dengan ilmu tenaga dalam jubah emas menekan punggung Huang Zilin untuk mengobati luka dalam yang di derita oleh si lblis petaruh.


Hoaak....Hoaak !


Huang Zilin kembali memuntahkan lebih banyak darah beku dari dalam tubuhnya.


Tapi kini keadaan tubuhnya lebih membaik, dan hawa hangat mengalir berputar mencairkan darah serta urat – urat yang membeku di dalam tubuh.


Huang Zilin memutar kedua tangan dan mulai menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuh.


Han Ciu ketika merasakan tenaga dalam Huang Zilin mulai bergerak, kemudian melepaskan kedua tangan yang menyalurkan tenaga dalamnya.


Setelah pulih kembali, Huang Zilin menarik napas panjang, matanya menatap ke arah langit seperti sedang memikirkan sesuatu, sorot mata teduh dan seperti orang bingung tampak terlihat di wajah Huang Zilin.


Han Ciu yang melihat Huang Zilin tampak termenung, kemudian tersenyum lalu berkata.


“Paman ! Tak usah jadi ganjalan di hati, anggap saja ini sebuah perkenalan diantara kita, pertaruhan yang kita bicarakan anggap saja tidak ada, tapi ijin kan kami untuk menginap sehari di kota Hengshan ini.” Han Ciu berkata untuk menghibur Huang Zilin yang wajahnya terlihat sedih.


Huang Zilin menarik napas panjang mendengar perkataan Han Ciu.


Kemudian menatap pemuda yang telah mengalahkannya, tadinya ia berpikir jika beradu tenaga dalam akan bisa memenangkan pertandingan, tapi sungguh di luar dugaan, ternyata tenaga dalamnya masih kalah satu tingkat di bandingkan pemuda yang umurnya terbilang bisa dianggap masih seumuran dengan cucunya sendiri yang sudah tiada.


Setelah menatap langit dan selesai berpikir, kemudian menatap ke arah Han Ciu.


Huang Zilin akhirnya memberi hormat kepada Han Ciu.


“Salam hormat dari pelayan barumu tuan,” Huang Zilin berkata sambil membungkuk.


Han Ciu yang melihat Huang Zilin menepati janjinya buru – buru memegang bahu, Huang Zilin agar tidak membungkuk.


“Sudahlah paman, seharusnya aku yang memberi hormat terhadap paman, karna aku lebih muda,” ucap Han Ciu sambil tersenyum.


“Tuan, aku memang di sebut salah satu dari 2 lblis dunia persilatan, tetapi aku selalu memegang janji dan ucapan yang telah aku keluarkan, tuan sudah 2 kali berhasil mengalahkan aku, jadi sekarang aku adalah pelayan tuan.”


Lanjut perkataan Huang Zilin.


Tapi jika boleh bertanya, aku ingin tahu orang yang menjadi tuanku, ucap Huang Zilin sambil menatap Han Ciu.


Han Ciu kemudian menoleh ke arah Jiang Sun.


“Tuan Jiang boleh kami menumpang bicara di tempat tuan ?” Han Ciu meminta ijin kepada tuan Jiang Sun.


“Tuan tidak usah meminta ijin, karna ini semua adalah milik pelayanmu dan artinya semua yang kumiliki adalah milik tuan.” Ucap Huang Zilin.

__ADS_1


Han Ciu hanya tersenyum, tak menjawab perkataan Huang Zilin, sedangkan Jiang Sun tak bisa berkata kata, raut wajahnya tampak sedih.


“Silahkan tuan muda,” ucap Jiang sun mempersilahkan Han Ciu serta rombongannya masuk ke dalam rumah besar.


Huang Zilin mempersilahkan Han Ciu masuk terlebih dahulu, kemudian mengawasi satu persatu rombongan yang di bawa Han Ciu.


Ketika Tongki lewat di depan Huang Zilin, Tongki menunduk sambil melangkah masuk.


Huang Zilin langsung memegang bahu Tongki yang hendak masuk, Tongki memang selalu menundukkan wajah saat Huang Zilin melihat ke arahnya.


“Kenapa kau selalu menunduk, apa ada yang salah ?” tanya Huang Zilin kepada Tongki.


“Tidak....Tidak ada yang salah, semua baik – baik saja,” ucap Tongki.


“Tetapi setiap ku perhatikan, kau selalu saja menundukkan wajah setiap bertatapan denganku, apa kau tak suka karna aku menjadi pelayan ketuamu ? Kembali Huang Zilin bertanya kepada Tongki.


“Tidak tuan Huang, bukan seperti itu, aku memang pemalu jika ada yang memperhatikan, aku memang selalu menundukkan wajahku,” kembali Tongki menjawab perkataan Huang Zilin.


Hmm !


“Begitu rupanya,” Huang Zilin berkata sambil mendengus, kemudian melepaskan cengkeramannya terhadap bahu Tongki.


Tongki setelah Huang Zilin melepaskan cengkeraman terhadap bahunya, kemudian buru – buru masuk ke dalam rumah.


“Ih Seram, aku di tegur oleh seorang lblis,” ucap Tongki.


Huang Zilin masuk ke dalam ruangan paling akhir setelah semua rombongan Han Ciu masuk.


Mereka lalu kumpul bersama, apalagi setelah Jiang Sun menyediakan makanan serta arak, percakapan semakin lama semakin ramai.


“Tuan muda ! bagaimana jika tuan menginap di sini, banyak kamar kosong di rumahku,” Jiang Sun berkata sambil memberi hormat kepada Han Ciu.


Phuih !


Apa kau bilang, apa kau masih mungkir bahwa kau sudah kalah taruhan denganku, masih untung hanya rumah serta harta yang kuambil, bagaimana jika anak serta istrimu ku bawa sekalian,” Huang Zilin berkata sambil melotot ke arah Jiang Sun.


Pria tua yang bekas orang terkaya di kota Hengshan langsung terkejut dan gemetar ketakutan ketika mendengar perkataan Huang Zilin.


“Maaf....maaf tuan, hamba tidak berani,” ucap Jiang sun.


Jiang sun dipaksa bertaruh oleh Huang Zilin, karna takut ancaman, akhirnya Jiang Sun mau berjudi dengan Huang Zilin, tapi setelah asyik berjudi, semua harta ia pertaruhkan dan akhirnya kalah oleh Huang Zilin.


Akhirnya Han Ciu memutuskan menginap di tempat Jiang Sun, karna memang ia hanya sekedar mampir di kota Hengshan dan besok akan melanjutkan perjalanan ke kota Nan.


Tuan muda, aku ingin bertanya kembali.


“Tuan muda bangsawan dari mana, serta tuan muda terkadang di panggil ketua, apa nama perguruan tuan muda ?” tanya Huang Zilin.


“Jangan panggil aku Tuan muda ! panggil saja namaku paman, aku bernama Han Ciu.

__ADS_1


Lanjut perkataan Han Ciu, “aku memang di angkat ketua di perguruan kecil paman, jika aku sebutkan, belum tentu paman kenal dengan perguruan yang aku pimpin, Han Ciu berkata sambil tersenyum kepada Huang Zilin.


Huang Zilin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Han Ciu, lalu menatap tajam ke arah Han Ciu dan berkata.


“Apa tuan masih tidak percaya kepada pelayanmu yang bernama Huang Zilin ini ? Aku sudah memutuskan untuk menjadi pelayan tuan, besar kecilnya perguruan yang tuan muda pimpin tidak akan ada pengaruh untuk aku membatalkan keputusanku mengabdi untuk menjadi pelayan tuan Han,”


Iblis Biru, Tongki, Xiao Er, Zhain Li Er serta yang lain mengangguk mendengar perkataan Huang Zilin, mereka terharu akan keputusan salah seorang iblis dunia persilatan yang mau menjadi seorang pelayan Han Ciu.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Huang Zilin.


“Paman, aku memimpin sebuah perguruan yang bernama perguruan Selaksa Pedang.” Ucap Han Ciu.


“Apaa !” Huang Zilin teriak dan terkejut sampai berdiri dari kursi mendengar Han Ciu menyebut perguruan selaksa pedang.


Tapi setelah berpikir sebentar, Huang Zilin duduk kembali lalu berkata.


“Setahu aku, kalau perkampungan Selaksa pedang memang ada, dan di ketuai oleh Pedang Langit, tapi jika Perguruan Selaksa Pedang aku baru mendengarnya.


Tongki yang mendengar perkataan Huang Zilin langsung bicara.


“Tuan pedang Langit itu wakil ketua Han Ini, tuan Huang, dulunya memang perkampungan Selaksa Pedang, tapi di ganti dan di resmikan di telaga barat, dari perkampungan menjadi perguruan.” Ucap Tongki.


“Jadi....jadi, tuan Pedang Langit adalah wakil dari tuan Han.” Huang Zilin berkata sambil menatap Han Ciu seakan meminta kepastian dari ucapan benar tidaknya perkataan Tongki.


Han Ciu mengangguk setelah Huang Zilin menatapnya.


Ha Ha Ha.


Huang Zilin setelah melihat anggukan Han Ciu kemudian tertawa terbahak bahak.


Tanpa di duga oleh mereka, yang sedang duduk bersama.


Huang Zilin menggebrak meja dengan kedua tangan.


Brak !


Makanan serta arak, mencelat ke atas dan banyak yang tumpah dan percikannya menodai baju mereka yang tak sempat menghalau percikan arak dengan tenaga dalam., akibat kerasnya gebrakan Huang Zilin, Tongki bajunya basah terkena arak yang muncrat ke arahnya.


Huang Zilin menyadari kesalahannya setelah melihat meja berantakan.


kedua tangannya mengepal, Maaf...Maaf.


Lalu Huang Zilin setelah meminta maaf, lal menghadap ke arah Han ciu sambil memberi hormat.


“Aku sudah malas berkelana, dan ternyata aku mengabdi kepada orang yang tepat.


“Tuan Han Ciu, sekarang sudah tak ada keraguan lagi di hatiku untuk mengabdi menjadi pelayanmu.” Huang Zilin berkata sambil memberi Hormat.


Zhain Li Er melirik ke arah Huang Zilin, sambil membersihkan noda arak di bajunya, raut wajahnya tampak kesal.

__ADS_1


Cis !


“Tambah satu lagi orang gila dalam rombongan.”


__ADS_2