
Han Ciu, Zhain Li Er, Xiao Er, Tongki serta Talaba terkejut mendengar suara Huang Zilin, apalagi mendengar perkataan Iblis petaruh itu menyebut nama Tan Kui yang tak lain adalah sepasang siluman hutan Hanzhong.
Saudara Huang...! Apakah itu engkau yang bicara ? Teriak Tongki.
Tak lama kemudian, dari arah pohon melesat 3 buah bayangan, Huang Zilin bersama sepasang siluman hutan Hanzhong.
Sedangkan Tan Kui membawa seorang berpakaian kuning yang wajahnya babak belur.
“Maafkan Huang Zilin yang membuat ketua menunggu lama,” ucap si Iblis petaruh.
Han Ciu tersenyum mendengar perkataan salah seorang anak buahnya yang dulu ia tinggal di kota Nan.
“Tak apa paman Huang,” lanjut ucapan Han Ciu.
“Bagaimana paman Huang bisa bersama paman Tan Kui ? Tanya Han Ciu.
Sewaktu hamba meninggalkan kota Nan dan hendak ke Sanchuan, di jalan aku bertemu dengan 3 orang yang memakai pakaian berbeda, saat aku tanya, mereka malah menyerang, ya aku ajak bertaruh, yang 2 bertaruh nyawa, sedangkan si kuning keparat ini ku biarkan hidup karena ia mau mengajarkan ilmu pemanggil ular milik adik seperguruannya, tetapi ilmu pemanggil ular yang ia berikan malah membuat kacau,” ucap Huang Zilin.
“Tunggu dulu ! bukankah yang bisa memanggil ular dan lebah adalah si racun hijau, kenapa kau membawa si racun kuning ? Tanya Tongki.
“Si hijau ingin mampuus, ya aku turuti kemauannya karna sudah bertaruh, sedangkan si kuning keparat ini mempertaruhkan kepandaiannya, tapi aku tak berminat, ilmu pasang – pasang jebakan Cuma bikin pusing aku aja dan belum tentu berhasil, pas aku mau bunuh, ia menawar dengan ilmu meniup suling buat memanggil ular, makanya aku setuju, tetapi sepertinya ular – ular itu seperti bingung saat aku meniup suling ini,” Huang Zilin berkata dengan wajah heran.
Cis !
“Sudah tua masih saja tolol,” ucap Zhain Li Er.
“Kau sudah di tipu oleh si Racun kuning, dia memberi pelajaran ilmu memanggil ular hanya untuk mengulur waktu supaya bisa melarikan diri,” lanjut ucapan Zhain Li Er.
Mendengar perkataan Zhain Li Er, wajah si Racun kuning yang sudah babak belur tampak pucat pasi.
“Tidak....tidak, semua pelajaran meniup suling pemanggil ular itu sudah aku berikan, ular – ular itu juga menurut hingga ikut sampai sini,” Racun kuning berkata dengan wajah ketakutan.
Puih !
“Memang ikut, tetapi sewaktu aku meniup suling ini dan memerintahkan ular – ular itu untuk menyerang saudara Tan Kui, ular itu tak menuruti tiupan sulingku,” Huang Zilin berkata sambil melotot ke arah racun kuning.
Setelah mendengar perkataan mereka, Han Ciu langsung merobek pakaian racun kuning.
Bret....Bret !
Dari salah satu saku dalam baju racun kuning, ada sebuah lembaran kulit kecil yang lusuh, yang terdapat coretan – coretan.
“Apa ini ? Tanya Han Ciu kepada Racun kuning.
Zhain Li Er kemudian mengambil lembaran kulit kecil itu dari tangan Han Ciu kemudian melihatnya.
“Ini seperti pelajaran meniup suling,” Zhain Li Er berkata.
Keparat....! Jadi selama ini kau menipuku,” teriak Huang Zilin sambil melotot ke arah Racun kuning.
Lalu Huang Zilin menyambar leher Racun kuning.
Crep....krek....krek !
Sekali sambar dan cengkeram, tulang leher Racun kuning langsung remuk oleh Huang Zilin.
“Kenapa kau bunuh ? Teriak Zhain Li Er.
“Maaf nyonya, aku kesal sudah di permainkan oleh si keparat ini,” ucap Huang Zilin dengan wajah kesal.
“Berikan suling itu ! sepertinya aku bisa memainkannya, setelah melihat petunjuk yang ada di lembaran kulit ini,” ucap Zhain Li Er kepada Huang Zilin.
Huang Zilin memberikan suling kepada Zhain Li Er.
Setelah menerima suling, gadis itu kemudian membuka tempat arak yang ia bawa, kemudian suling di siram arak.
“Nyonya, apa itu syaratnya kalau mau meniup suling, biar cepat mahir ? Tanya Huang Zilin.
__ADS_1
“Arak ini untuk menghilangkan bau dari ludahmu yang banyak terdapat di suling,” ucap Zhain Li Er.
Setelah melihat dan mengingat bahwa ia dulu pernah di ajarkan meniup suling oleh ibu angkatnya Dewi Angin, Zhain Li Er perlahan mulai meniup suling.
Ular berjumlah ribuan yang mengelilingi pasukan Han Ciu, dan saat ini menjadi tameng pasukannya sehingga pasukan bintang timur tak berani mendekat, tampak mendesis desis mendengar suara suling yang di tiup oleh Zhain Li Er, lalu ular berbalik berkumpul di depan Zhain Li Er.
"Sekarang sudah menjadi Nyonya penakluk ular, aku harus berhati hati kepada selir ke empat, bisa² nanti aku setiap hari di ikuti ular," sehabis melamun dan membuka mata, Tongki melihat ular² sudah berada di depannya.
“Eh....Eh....nyonya ! Kenapa ular – ular ini malah menghadap ke arah kita ? Tongki bertanya.
“Untuk mematukmu,” ucap Zhain Li Er dengan nada ketus.
Zhain Li Er kemudian meniup kembali suling milik Racun Hijau, menurut petunjuk yang ada di dalam lembaran kulit lusuh itu.
Pasukan bintang timur pimpinan San Chi yang melihat ular mundur dan berbalik, kemudian kembali mengepung dan mendekati Han Ciu serta anak buahnya, suasana di dekat tebing batu menjadi terang, karna cahaya ratusan obor yang di bawa oleh pasukan San Chi.
“Kak Han, perintahkan pasukan untuk merebut dan memadamkan obor yang mereka bawa, karna lawan ular adalah api.”
Mendengar perkataan Zhain Li Er, Han Ciu anggukan kepala.
Shing....Trak !
Panah yang di lepaskan Talaba melesat menghantam obor, Han Ciu menggerakkan kedua tangan, jurus pedang hampa berputar di depan tubuh, ketika tangan Han Ciu mendorong.
Puluhan pedang hampa melesat menghantam obor yang di bawa oleh pasukan San Chi.
Shing....Shing....Trak....Trak !
Suara suling yang di tiup oleh Zhain Li Er mulai melengking lengking, ribuan ular yang berada di depan mereka berbalik dan bergerak ke arah pasukan San Chi.
Melihat hal itu, Han Ciu serta anak buahnya menjadi semangat, Tongki, Huang Zilin, Xiao Er serta Talaba berlomba lomba berusaha memadamkan obor.
Pasukan bintang timur terkejut, lalu mundur.
San Chi melihat pasukannya mundur, kemudian berteriak kencang.
Pasukan San Chi menutupi obor yang mereka bawa dengan tameng baja, untuk menahan serangan pasukan Han ciu.
Suara suling yang di tiup Zhain Li Er semangkin tinggi melengking lengking, desis ribuan ular semakin kencang, ular – ular terlihat semakin ganas, sebagian naik ke atas pohon.
“Crep...Crep...Arrrrrggggh !
Ular menyerang dan mematuk kaki pasukan San Chi, di balas dengan tebasan serta tusukan tombak pasukan bintang timur.
Han Ciu serta anak buahnya menyerang pasukan San Chi yang berusaha menghadang barisan ular.
Talaba dengan panahnya selalu berhasil menjatuhkan lawan.
San Chi yang melihat pasukannya mulai kacau terkejut.
“Jika seperti ini, 1000 pasukan juga akan habis oleh ular dan serangan orang persilatan pendukung Liu Bang.
“Aku harus menarik mundur pasukan, jika sampai terlambat, semua akan habis,” batin San Chi.
“Mundur.....pasukan mundur,” teriak San Chi mengerahkan tenaga dalamnya.
Pasukan bintang timur yang memang sudah putus asa dan tak berdaya melawan pasukan ular, di tambah lagi Han Ciu serta anak buahnya terus mendesak, mendengar perintah sang jendral, pasukan bintang timur langsung mundur.
“Adik Li, suruh ular – ular untuk menyebar, jangan biarkan mereka lolos,” Han Ciu berkata kepada Zhain Li Er yang sedang meniup suling pemanggil ular.
Zhain Li Er anggukan kepala mendengar perkataan suaminya.
Semua petunjuk yang ada di kulit lusuh adalah pelajaran suara penguasa ular.
Yang berhasil menguasai cara memainkan suling yang terdapat di kulit itu akan bisa memanggil dan memerintahkan ular.
Zhain Li Er sudah menguasai setelah melihat, kini suara suling berubah lebih tajam dan melengking.
__ADS_1
Ular – ular seperti mengerti apa yang di inginkan Zhain Li Er dari suara suling yang ia tiup.
Ular yang menyerang dari depan langsung menyebar, bergerak mengepung pasukan bintang timur asuhan San Chi.
San Chi terkejut melihat ular menyebar dan mengepung pasukannya, lalu menyerang dari berbagai arah.
“Bikin formasi kura – kura tanah,” teriak San Chi.
Pasukan bintang timur yang mendengar instruksi sang jendral, berkumpul di tengah, barisan luar pasukan yang masih memegang tameng, bagian tengah memakai tombak, dan bagian dalam pasukan yang membawa obor.
Daerah di dekat lembah batu, memang agak besar dengan lapang rumput luas di tengah yang di kelilingi hutan.
Formasi kura – kura tanah, adalah formasi bertahan, tameng menancap di tanah sampai menutup kepala, barisan kedua bisa menyerang dengan tombak, sedangkan bagian dalam jika malam, obor adalah pasukan yang berada di tengah serta pasukan panah.
Han Ciu terkejut, ular – ular tertahan oleh barisan tameng yang menancap di tanah, sementara itu, pasukan tombak menusuk ular yang berada di depan tameng.
“Jika tak bisa masuk, ular – ular akan habis, memang hebat formasi perang ciptaan orang yang bernama San Chi,” batin Han Ciu sambil menatap ke arah formasi kura – kura tanah yang menahan ular.
“Paman Huang, paman Tongki, cabut pohon² besar untuk jalan ular, lemparkan ke arah tameng yang menghambat jalan ular.
“Aku akan langsung mengacau dari tengah.
“Sebagian bantu paman Huang untuk menebang pohon, lebih banyak lebih baik.” Perintah telah di keluarkan, mereka bergerak melaksanakan apa yang tadi Han Ciu katakan.
Whut....Whut....Brak....Brak !
Dua buah batang pohon yang baru saja di cabut oleh Huang Zilin serta Tongki melesat dan menghantam tameng yang menutupi tubuh pasukan bintang timur.
Ratusan ular bergerak melewati batang pohon dan ranting menyerang pasukan bintang timur.
“Celaka ! Batin San Chi, melihat dua buah batang pohon menembus formasi kura² tanah, dan ular yang berhasil masuk melalui batang dan ranting menyerang pasukannya.
“Tutup lubang.....cepat tutup ! Teriak San Chi.
Tapi San Chi langsung melesat mundur dua langkah, saat melihat sebuah bayangan masuk ke tengah formasi.
Shing....Shing....Crash....Crash !
Dua buah pedang putih menebas tubuh dua orang yang membawa obor.
Obor menimpa orang yang berada di sisi, kemudian membakar baju orang tersebut, suasana menjadi kacau saat orang itu teriak kesakitan ketika tubuhnya mulai terbakar dan terus berlari menabrak apa saja yang berada didepan.
Han Ciu dengan menggunakan sepasang pedang tulang naga dan 10 langkah naga langit mengamuk di tengah formasi kura² tanah pimpinan San Chi.
Trang....Trang !
San Chi menangkis pedang Han Ciu yang dua kali menyambar ke arah badan.
Kaki baja San Chi sangat kuat, pedang tulang naga tak bisa memutus, kaki buatan pahlawan kaki satu.
Pedang San Chi menyambar leher Han Ciu setelah berhasil menangkis serangan pedang tulang naga.
Han Ciu mundur selangkah dengan pedang menusuk ke arah belakang.
Shing....Crep !
Han berhasil menghindari pedang San Chi dan juga menusuk seorang perwira yang berusaha membokongnya dari belakang, Han Ciu merasakan angin dingin di punggung, tanpa ragu kemudian menusukkan pedangnya ke belakang.
San Chi dan Han Ciu saling tatap,
San Chi tahu setelah batang² pohon yang di lemparkan berhasil menembus tameng, dan ular bisa masuk, pasukannya dalam bahaya besar.
Apalagi di tengah, ia harus berhadapan dengan Han Ciu yang berusaha menghancurkan formasi kura² tanah ciptaannya.
San Chi menatap tajam ke arah Han Ciu, lalu berkata dengan nada dingin.
“Anak muda ! kita tentukan hari ini, siapa yang akan mati.”
__ADS_1