
Gubernur Ziang Hay Ji sampai membungkuk di depan Sin Ko merasa sangat bersyukur dan berterima kasih, karna telah di bantu dari serangan sepasang pendekar cabul yang terkenal akan kelicikan dan kekejamannya.
"Sudah, sudahlah gubernur Ziang !" tak usah berlebihan," ucap Sin Ko sambil menarik bahu gubernur Ziang yang sedang membungkuk.
Karna Sin Ko melihat Han Ciu dan Li Er mulai mendekat ke arah mereka, sementara Racun cilik hanya tersenyum melihat tingkah dan kelakuan Sin Ko.
"Gubernur, cepat perintahkan anak buahmu untuk membersihkan mayat mayat itu, karna jika ada yang melihat dan mereka adalah mata mata Xiang Yu, kau akan celaka nanti, siapkan saja makanan dan arak pilihan di meja." Ucap Sin Ko.
Gubernur Ziang Hay Ji mengangguk mendegar perkataan Sin Ko, kemudian masuk kedalam ruangan untuk memerintahkan pelayannya seperti yang di katakan Sin Ko.
Kay Kun memberi hormat kepada Han Ciu. Terima kasih tuan pelindung telah membebaskan kota Donghai dari bencana, jika kota ini sampai jatuh ke tangan Xiang Yu, maka rakyat kota Donghai yang akan menderita.
Han Ciu tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Kay Kun.
"Kemana gubernur Kay Kun ?" tanya Han Ciu.
"Kedalam memerintahkan pelayan untuk membereskan mayat musuh, serta menyiapkan makanan dan arak untuk kemenangan ketua," ucap Sin Ko.
Kay Kun tersenyum mendengar perkataan Sin Ko dan Li Er dapat menangkap senyum yang ada di bibir Kay Kun.
"Hai gendut, kau bicara apalagi dengan gubernur Ziang ?" tanya Zhain Li Er.
"Tidak aku tidak bicara apa apa," ucap Sin Ko sambil menggerak gerakan kedua tangan, melihat wajah Li Er sudah berubah bengis.
Li Er tak melanjutkan ucapan ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Silahkan tuan pelindung, arak terbaik sudah tersedia, silahkan !" ucap gubernur Ziang Hay Ji sambil menarik tangan Sin Ko yang sekarang agak malu malu, sementara Zhain Li Er mendengus melihat apa tang terjadi di depannya, tapi gadis itu diam, setelah mendapat isyarat dari Han Ciu.
Sedangkan Racun cilik hanya tersenyum sambil menutup mulut dengan sebelah tangan menahan tawa.
Setelah minum arak, Sin Ko tampak lancar bicara dan tertawa tawa.
"Tuan pelindung sehabis dari Donghai akan berangkat kemana lagi ?" tanya gubernur Ziang Hay Ji.
"Kami akan ke kota Xue, untuk melihat lihat pemandangan di sana gubernur," ucap Sin Ko.
Gubernur Ziang Hay ji, menarik napas mendengar perkataan Sin Ko.
"Kenapa tuan ?" tanya Han Ciu melihat wajah gubernur Ziang yang agak pucat sewaktu mendengar Sin Ko berkata akan ke kota Xue.
"Kota Xue adalah kota keturunan keluarga Xue.
Gubernurnya adalah Xue Yang, tapi aku dengar kota Xue sudah di rebut oleh orang orang Xiang Yu, sekarang mereka hendak merebut kota Donghai, untung ada tuan pelindung," ucap gubernur Ziang Hay Ji.
Setelah berkata, dari balik bajunya gubernur Ziang Hay Ji mengeluarkan lembaran uang kertas lalu di berikan kepada Sin Ko.
"Tuan pelindung, ini 20 ribu tail perak tanda ucapan terima kasih kami, karna telah menolong kota Donghai dari ancaman orang orang Xiang Yu."
"Apa !"
"Cuma 20 ribu tail perak apa kau sudah gi."
Hmm !
Sin Ko langsung diam mendengar dengusan Han Ciu.
"Cukup, ini sudah cukup gubernur Ziang !" terima kasih," ucap Sin Ko sambil tersenyum kecut dan takut, karna mendengar dengusan Han Ciu.
Setelah berbasa basi sebentar mereka lalu pamit dan kembali ke penginapan, gubernur Ziang Hay Ji juga memberikan 4 buah ekor kuda pilihan sebagai tanda ucapan terima kasihnya kepada Sin Ko.
Kay Kun mengantarkan Han Ciu ke penginapan,
Di depan penginapan Han Ciu memberitahu Kay Kun bahwa besok ia akan melanjutkan perjalanan ke kota Xue, untuk melihat situasi di sana serta berpesan kepada Kay Kun untuk membantu Kota Donghai bila terjadi serangan dari pihak Xiang Yu.
Kay Kun menyanggupi permintaan Han Ciu dan bertanya.
__ADS_1
"Maaf jika boleh tahu, siapa nama dan gelar pelindung, nanti jika pangcu bertanya Kay Kun bisa menjawabnya."
"Bilang saja Naga hitam yang bertemu denganmu."
Mendengar nama Naga Hitam Kay Kun terkejut, kemudian langsung membungkuk dalam dalam.
"Maafkan Kay Kun yang buta dan tak bisa melihat pendekar besar, serta penolong perkumpulan pengemis tongkat hitam." ucap Kay Kun.
"Sudahlah, tetua sudah tahu, tapi tolong rahasiakan keberadaanku termasuk kepada anggota pengemis tongkat hitam, karna aku tak ingin keberadaanku di ketahui."
"Baik, tuan penolong jangan khawatir, Kay Kun akan menutup rapat mulut ini," jawab ketua pengemis kota Donghai.
Setelah bercakap cakap sebentar Han Ciu masuk ke penginapan untuk istirahat, karena besok akan melajutkan perjalanan.
Ke esokan harinya, empat buah kuda pilihan keluar dari kota Donghai dengan tujuan kota Xue, yang kabarnya telah di kuasai oleh Xiang Yu.
Ke empat kuda berlari kencang, tanpa henti menuju arah kota Xue.
Malam hari mereka menginap di sebuah desa kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Ketika jalan mulai memasuki sebuah hutan yang dinamai hutan Xue, karna setelah melewati hutan akan sampai ke kota Xue.
Han Ciu dan rombongan berjalan perlahan.
Han Ciu merasa curiga dengan keadaan hutan yang ia lewati.
Hmm !
Han Ciu menghentikan kudanya, ketika mendengar suara suara mencurigakan.
Kecurigaan Han Ciu terbukti, lalu menarik tali kekang kuda.
Cuuiiiit ..Cuuuiiiit.
Hmm !
"Rupanya para perampok" ucap Han Ciu dalam hati.
Puluhan perampok langsung mengepung Han Ciu.
Tapi ada yang aneh dari penampilan perampok perampok itu, wajah dan pakaian mereka tidak terlihat seperti perampok.
Dari rombongan perampok yang menghadang, berjalan seorang pria berusia sekitar 50 tahun dan tampak gagah berdiri di depan Han Ciu.
Han Ciu dan yang lain turun dari kuda, sambil menatap pria itu.
"Apa kalian akan merampok kami ?" tanya Han Ciu.
Pria gagah itu tak menjawab perkataan Han Ciu, ia malah balik bertanya.
"Hendak pergi kemana, tuan sekalian ?" ucap pria itu.
"Kami akan ke kota Xue," Han Ciu menjawab pertanyaan orang itu.
"Tuan !" mereka pasti kawan bangsaat bangsaat itu, tak usah banyak tanya, lebih baik bunuh saja," ucap seorang pria tua, sambil menyuruh dua orang teman mereka untuk menyerang.
Dua orang bersenjata pedang loncat, sambil mencabut pedang menerjang ke arah Han Ciu.
Tapi sebelum sampai ke tempat Han Ciu.
Bayangan biru melesat dengan cepat.
Plak, bhuuk, ghuubraaak !
Kedua orang itu terpental dan jatuh ke tanah sambil meringis kesakitan, seorang pipinya bengap karna di tampar oleh Zhain Li Er, Sementara pria yang satunya lagi, terkena tendangan di perut oleh Zhain Li Er.
__ADS_1
Pria gagah itu terkejut, melihat kecepatan gerak dari gadis muda yang berpakaian biru.
Lalu pria itu bertanya.
"Siapa kalian dan mau apa ke kota Xue ?" tanya pria itu.
"kalian perampok busuk ,tak usah banyak bicara !" ucap Zhain Li Er sambil bersiap menyerang.
"Lebih baik kalian berdoa !" karna sebentar lagi kalian akan ku bunuh." ucap Zhain Li Er.
"keparat ?!"
"Apa kalian tidak puas melihat kami masih hidup ?"
"Setelah mengambil kota milik ku, ternyata itu belum cukup."
"Serang mereka, Seraaang !" teriak pria gagah, yang sepertinya pimpinan para perampok.
Enam orang bergerak, tiga dari samping kiri dan tiga dari samping kanan, menyerang ke arah Han Ciu serta Zhain Li Er.
Shing .. Shing
Dua buah jarum melesat, ke arah dua orang terdepan dari kedua sisi.
"Serang anak buah Xiang Yu keparaat itu."
Han Ciu yang mendengar perkataan dari pemimpin perampok itu, terkejut.
"Tahan !" teriak Han Ciu.
Zhain Li Er yang hendak bergerak, mendengar teriakan Han Ciu langsung diam.
Tapi dua buah jarum Racun cilik sudah di lesatkan.
Creeps .. Creeps
Dua jarum beracun milik Racun cilik menancap di dada dua orang terdepan, dari kedua sisi.
Kedua orang itu langsung diam, tubuh mereka bergetar.
Traang !
Pedang yang mereka pegang jatuh ke tanah.
Dari belahan baju di dada yang terbuka, tampak kulit kedua orang itu berubah pucat lalu perlahan memutih dan terus meyebar ke seluruh tubuh, tangan, kaki serta kepala semua berubah putih, bola mata yang hitam juga ikut berubah menjadi putih, seperti beku.
Bluuuk !
Keduanya lalu jatuh ke tanah, seperti bongkahan kayu yang telah membeku.
Empat kawan mereka serta orang orang yang berada di sekeliling, termasuk pria yang berada di depan Han Ciu mundur, melihat orang mereka tewas dengan sangat mengerikan.
"Adik Zee, tahan !" jangan serang mereka."
Zhain Li Er melihat kedua orang yang tewas oleh jarum beracun Racun cilik, menoleh ke arah Zee ln Biauw, sambil tersenyum manis lalu mengedipkan mata.
Sin Ko yang melihat tingkah Zhain Li Er tersenyum.
Ucapnya dalam hati sambil gelengkan kepala.
"Yang satu beracun, satunya lagi, gila."
"Ketua !" kau jangan sampai bertengkar dengan mereka."
"Bahaya"
__ADS_1