Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 173 persiapan untuk berangkat ke Hanzhong


__ADS_3

Setelah mendengar rencana Han Ciu dan Liu Bang juga menyetujui.


Liu Bang akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke kota Sanchuan bersama sama dengan ketua Chen.


Sedangkan Sin Ko serta pedang api mempersiapkan kapal yang mereka punya, serta mengirim orang ke tempat keluarga Suma.


Sebelum mereka pergi, Zee ln Biauw membagi bagikan obat penawar racun hasil racikan kepada masing – masing pemimpin.


Sedangkan Han Ciu masih tetap menunggu beberapa hari bersama dengan Pedang Langit di telaga barat.


Mereka membantu Zee ln Biauw membuat serta membeli kebutuhan untuk membuat penawar racun.


Karna penawar racun racikan Zee ln Biauw sangat penting, obat yang merupakan penangkal racun bagi pasukan Liu Bang. Jika tidak ada obat anti racun, maka prajurit Liu Bang akan menjadi sasaran empuk buat ahli – ahli racun dari perguruan Selaksa Racun.


Sebagian akan di bawa oleh Han Ciu, sisanya akan di bawa oleh Pedang Langit lalu di sebarkan kepada mereka yang membutuhkan.


Han Ciu sedang mengipasi rebusan obat di dalam kuali.


“Adik Zee, kau kasih tahu aja apa yang harus kami lakukan, biar kami yang kerjakan semuanya, kau lebih baik istirahat,” ucap Han Ciu.


“Tidak apa Kak Han, musuh kak Han sekarang, semua adalah ahli racun, walaupun kau pernah belajar mengenai racun, tapi racun sangat beraneka macamnya, jika salah mengobati maka akan malah tambah parah.


Jika aku boleh ikut, aku tak perlu repot untuk meracik obat penangkal racun.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Zee ln Biauw.


“Adik Zee ! Bukannya kakak tidak mau mengajakmu, tetapi kau tengah mengandung anak kita, nanti takut terganggu jika kau ikut dalam pertempuran kali ini, kalau situasi negeri ini sudah aman kau bisa pindah ke Sanchuan atau berdiam saja di telaga barat.” Ujar Han Ciu.


Zee ln Biauw mengelus sambil menggenggam tangan Han Ciu.


Ia merasa terharu dan bahagia mendengar perkataan sang Suami.


Kak Han kau harus hati – hati, Han Cikung sangat licik, kau jangan terbawa emosi jika berhadapan dengan Han Cikung.


Han Ciu menggenggam erat tangan Zee ln Biauw sambil menatap selir bungsu dan yang paling muda diantara selir lain dan anggukan kepala.


“Terima kasih adik Zee,” ucap Han Ciu.


Han Ciu kemudian keluar ruangan lalu naik ke perahu kecil.


Han Ciu ingin melihat persiapan yang dilakukan oleh Sin Ko.


Kapal – kapal besar berderet di depan gerbang telaga barat.


Melihat Han Ciu datang dengan naik perahu kecil para anak buah kapal yang juga merupakan murid dari perguruan Selaksa pedang.


Bersorak menyambut kedatangan Han Ciu.


Tepuk tangan dan suara pujian terdengar dari anak buah kapal yang melihat kedatangan Han Ciu.


Saat melihat di sebuah kapal besar seorang pria gemuk tengah melambaikan tangan.


Han Ciu langsung melesat ke arah pria gemuk itu.


Whuut...tap !


Dalam sekejap Han Ciu sudah berada di atas kapal depan Sin Ko dan Pedang Api.


“Bagaimana persiapannya paman ? Tanya Han Ciu.


“Jiaodong adalah kota di pinggiran laut, jika di sungai 20 kapal di tambah dengan armada yang di miliki oleh keluarga tuan Suma Han, kita pasti bisa merajai sungai besar ini, tetapi jika pasukan Xiang Yu mempunyai armada laut, perang terbuka kita akan di sapu habis, sebab armada laut biasanya kapalnya lebih banyak, serta kapal yang di pakai juga lebih besar.” Sin Ko memberi keterangan kepada Han Ciu.

__ADS_1


Hmm !


“Jika memang benar mereka punya armada laut, kita jangan keluar paman ! Pancing mereka untuk masuk sungai, lalu habisi mereka, tapi paman juga harus melihat situasi, lebih baik mundur daripada hancur.”


Sin Ko mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


Malam terakhir sebelum keberangkatan, Han Ciu berdiri di sebuah batu pinggir telaga barat.


Saat itu tengah bulan purnama.


Bulan berbentuk bulat serta bersinar terang apalagi langit sedang cerah.


Han Ciu menatap bulan tanpa berkedip, matanya terus menatap keindahan alam yang jelas sekali terlihat.


Han Ciu menoleh ke arah bayangan yang bergerak sangat cepat ke arahnya.


Whuut....Tap !


Zhain Li Er, sampai dan berdiri di samping Han Ciu.


Kakak Han di cari kemana mana tidak ada, ternyata berada di sini.


“Ada apa ? Tanya Han Ciu kepada Zhain Li Er.


“Ih, kakak Han kok judes sih ?” Zhain Li Er berkata sambil cemberut.


Han Ciu tersenyum, lalu memegang tangan Li Er kemudian menarik, Zhain Li Er tubuhnya ikut terbawa lalu gadis itu jatuh ke pelukan Han Ciu.


“Ih, genit ! Ucap Zhain Li Er sambil menatap Han Ciu.


Tanpa ragu, Zhain Li Er menarik leher sang suami, lalu kedua bibir mereka bertemu, Zhain Li Er langsung ******* bibir Han Ciu, sambil memeluk erat tubuhnya.


Nafas Zhain Li Er semakin memburu, desahan gadis itu mulai terdengar.


Zhain Li Er lalu berusaha membuka baju Han Ciu, ketika sudah membuka tali pengikat.


Kresek....Kresek !


Han Ciu terkejut, karna rangsangan birahi yang tinggi bersama Zhain Li Er, kewaspadaannya berkurang, mendengar suara gerakan setelah dekat, dua gerakan telah berada dekat Han Ciu.


Zhain Li Er, merapikan baju bagian atas yang sedikit terbuka, mukanya merah menahan marah.


Zhain Li Er mendengus melihat Tongki serta Dewi Kipas, dua bayangan yang dengan cepat bergerak ke arah mereka.


“Lagi – lagi si keparat,” dengus Zhain Li Er, sambil bergerak, tapi langkahnya terhenti setelah Han Ciu memegang tangan gadis itu.


Tongki langsung mundur dua langkah, lalu berdiri di belakang Dewi Kipas.


“Kau saja yang bicara.” Ucap Tongki.


Cis....pengecut !


Dewi kipas berkata sambil menepis tangan Tongki yang hendak memegang tangannya.


“Ketua ! kami mohon maaf karna mengganggu acara, ketua dengan nyonya Li Er.


“Sedang apa kalian di sini ?” tanya Zhain Li Er dengan nada ketus.


“Dari kejauhan tuan Tongki mengira ada penyusup, sehingga langsung bergerak mengajak aku untuk mengejar, ternyata ketua serta nyonya yang berada di sini,” Dewi Kipas berkata.


Mendengar perkataan Dewi Kipas, Zhain Li Er langsung melotot ke arah Tongki.

__ADS_1


“Eh....Eh, tunggu dulu nyonya ! bukan seperti itu ceritanya,” ucap Tongki sambil menggoyangkan kedua tangannya ke arah Zhain Li Er yang tengah menatap tajam.


“Hai nenek peot ! Kau jangan sembarang bicara, kita kesini untuk mencari bahan obat lalu secara tak sengaja bertemu dengan ketua.


Tongki berkata, sambil menatap ke arah Han Ciu.


Melihat Tongki yang terus menatap ke arahnya, Han Ciu mengerutkan kening, kemudian bertanya kepada Tongki.


“Kenapa paman menatapku terus ?”


“Maaf ketua, itu....itu ikat pinggang ketua terlepas dan ada di tanah,” ucap Tongki.


Dewi kipas langsung menutupi mulutnya dengan kipas, agar senyumnya tak terlihat.


Muka Han Ciu merah, lalu mengambil tali ikat pinggang, kemudian mengikatkan ke pinggang.


“Kakak Han, biar ku tampar si kakek busuk yang bernama Tongki, dimana mana selalu saja bikin onar.” Zhain Li Er berkata dengan nada kesal.


“Sudah lah, Han Ciu berkata sambil mengikat tali pinggangnya.


“Besok kita akan berangkat,” lebih baik kalian istirahat


Tongki langsung mengangguk, mendengar perkataan Han Ciu.


“Ketua kan masih pengantin baru, jadi biar kami berjaga di sekitar markas telaga barat, Dan ketua lanjutkan bersama nyonya Xiao Er, atau yang lain.


"Kalo soal pengantin baru nanti masih banyak waktu, karna di telaga barat aku lihat masih banyak pasang mata, yang tengah menatap ke arah tempat Tidurku.


Cis !


“Kakak Han menyindir aku ?” ucap Zhain Li Er.


Aku melubangi kertas jendela, atas perintah Enci Sa Sie Hwa.


Cis !


“Memalukan, masa ketua sendiri di intip juga.”


Desis Tongki pelan.


Han Ciu yang mendengar suara Tongki lalu bertanya.


“Kenapa paman ?”


“Ketua ! aku kaget mendengar kamar ketua ternyata banyak yang ingin tahu alias Di intip,” sambil mata Tongki melirik ke arah Zhain Li Er.


“Tak usah berkata seperti itu paman,”


“ Bukankah paman Tongki juga selalu mengintip aku dari arah Timur.”


“Benar Tidak ?” Tanya Han Ciu.


Mendengar perkataan Han Ciu, Tongki menunduk sambil berkata,


ltu hamba tersesat ketua,” ucap Tongki


Cis !


Suara dengusan keluar, mulut Zhai Li er.


“Tersesat kok tiap hari.”

__ADS_1


__ADS_2