
Bu Heng merasakan sakit di tangannya kemudian dengan tangan kiri menghantam, Tongki dengan jari Tunggal.
Shing !
Tongki mengibas dengan pukulan Hawa neraka.
Whuut....Blaaam !
Ledakan terjadi saat pukulan jari tunggal Bu Heng dan pukulan Hawa neraka yang mengeluarkan kabut merah dan berhawa panas bertemu.
Bu Heng ketika beradu pukulan dengan Tongki mundur selangkah.
He He He
Mau coba – coba dengan pendekar Pedang Neraka rupanya, Tongki berkata sambil tersenyum dingin.
Bu Heng melirik ke arah anaknya Bu Khi, tapi kini sang anak yang masih tak sadarkan diri sudah di jaga oleh orang selaksa pedang, apalagi melihat salah seorang yang menjaga anaknya adalah kakek bermata biru yang tadi bersama Han Ciu.
Bu Heng yakin bahwa orang itu pasti bukan orang sembarangan, kini langkah yang akan ia tempuh semakin sulit, berada di dalam sarang musuh yang hampir rata – rata kepandaiannya diatas dia sendiri.
Suma Han melihat apa yang terjadi dan masih tak mengerti antara terkejut dan kaget.
Melihat sahabat yang sudah ia anggap kakak angkat dengan jari telunjuk kanan yang putus serta terjepit karna serangan dari orang perkumpulan selaksa pedang.
Serta calon menantu juga murid yang baru saja akan di jodohkan dengan putrinya pingsan terkena hantaman Han Ciu alias Su Fang.
“Tunggu Dulu ketua ?!” Teriak Suma Han Kencang
“Apa yang terjadi, tolong jelaskan pada kami keluarga Suma, jangan membuat kami bertanya tanya."
Suma Han setelah berkata, matanya menatap ke arah Pedang Langit yang merupakan sahabat dekatnya, seakan minta penjelasan.
Pedang langit mengerti akan kebingungan yang di alami oleh sahabatnya itu, kemudian maju dan memberi hormat kepada Han Ciu.
“Ketua, mohon maaf jika boleh hamba bicara, lebih baik ketua jelaskan dulu duduk permasalahan ini biar semuanya menjadi jelas dan tak ada kecurigaan di antara sahabat sendiri.” Pedang langit berkata.
“Paman Pedang api, tolong jaga si botak satu itu, jangan sampai dia bunuh diri atau di bunuh oleh keparat itu,” Han Ciu berkata sambil menatap ke arah Pedang Api
“Baik ketua,” jawab Pedang Api.
“Paman Pedang Langit, maaf bila membuat banyak orang bingung,” ucap Han Ciu.
"Tuan Suma !" sahabat tuan Suma serta anaknya adalah musuh dalam selimut.
"Sejak di kapal aku sudah curiga terhadap mereka, dan kecurigaanku semakin terbukti setelah mendengar percakapan kedua pria botak itu."
“Apa maksud Ketua ?” tanya Suma Han sambil mengerutkan kening mendengar perkataan Han Ciu.
“Tuan Suma !” Bu Heng dan Bu khi ada hubungannya dengan perguruan Naga Api, dan hal ini aku ketahui dari percakapan kedua orang kepala botak itu, yang merupakan mata – mata dari perguruan Naga Api, hadangan yang perguruan Naga api lalukan di sungai juga mereka turut andil memberikan informasi.” Han Ciu berkata.
“Ap...Appaa !” mereka dari perguruan Naga Api.” Suma Han berkata.
“Bohong !” adik, kau jangan percaya dengan omongan ketua busuuk itu, ia ingin menghancurkan persahabatan kita.”
Whut...Plak !
Bu Heng langsung terhuyung dua langkah kebelakang, sambil teriak kencang saat pipinya terkena tamparan, dua buah giginya tanggal akibat kerasnya tamparan itu.
“Kurang ajar kau memaki suamiku, kubunuh kau !” ke empat selir yang baru saja datang karna mendengar suara gaduh, hadir kembali.
__ADS_1
Karena posisi pintu ruangan tempat Zhain Li Er datang dengan ketiga selir yang lain dekat dengan tempat Bu Heng berdiri, sehingga Zhain Li Er yang mendengar perkataan Bu Heng langsung melesat dan menampar kakek itu yang tak menyadari kehadiran Zhain Li Er ada di dekatnya.
“Tak aneh, baru datang sudah main tampar,” ucap Sin Ko yang baru saja datang bersama Talaba, sambil gelengkan kepala.
“Tunggu dulu adik Li Er,” teriak Han Ciu ketika melihat selir no. 3 nya akan bergerak.
"Tuan Suma, aku tak bermaksud lain selain menolong keluarga Suma, dan aku tak bisa melihat adik Suma Lan menjadi korban kekejaman binatang yang bernama Bu Khi.
"Mereka berniat merampas dan menghancurkan keluarga Suma dari dalam, setelah tahu aku berhasil menghancurkan rombongan perahu yang menghadang keluarga Suma.
"Itulah sebabnya Bu Khi yang tak ingin rahasianya terbongkar membunuh salah seorang murid perguruan Naga Api untuk membungkam, supaya rahasia mereka bapa dan anak tidak bocor."
Hmm !
“Aku mengerti sekarang !” ketua Naga Api kalau tidak salah bernama Bu Ban Liong, sedangkan mereka Bu Heng dan Bu Khi, sama – sama bermarga Bu, pasti mereka ada pertalian saudara dengan ketua Naga Api,” Pedang Langit berkata.
Mendengar penjelasan dari Han Ciu serta di tambah lagi omongan dari Pedang Langit yang memang masuk akal, keluarga Suma terkejut.
Wajah Suma Han langsung merah dan sangat gusar, begitu pula dengan Suma Lan yang memang kurang suka dengan Bu Khi.
“Bangsaat ?!”
“Bu Heng, apa benar perkataan dari ketua perguruan selaksa pedang ?” Suma Han bertanya kepada orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat, dan menerima anaknya menjadi murid.
“Adik, jangan percaya omongan mereka, aku di fitnah, semuanya bohong,” ucap Bu Heng.
Suma Han kemudian melesat dan berdiri di depan pria gundul yang di jaga oleh Pedang Api.
“Cepat katakan apa keterkaitan antara Bu Heng dan perguruan Naga Api,?" Tanya Suma Han di depan Pria gundul anak perguruan Naga Api.
“Ap....apa benar aku akan dibebaskan ?” pria gundul itu bertanya.
“Baik...Baik, Bu Heng dan ketua Bu Ban Liong adalah saudara jauh,” ucap pria gundul itu.
“Keparaat !” Suma Han berkata, lalu tangannya menyambar dan mencengkeram kepala pria gundul itu, kemudian meremasnya.
Kraak !
Pria gundul anak perguruan Naga Api langsung tewas dengan batok kepala remuk.
Yang berjanji adalah ketua selaksa pedang sedangkan aku tidak, “semua yang ada hubungan dengan Naga Api harus mati di tanganku.” Ucap Suma Han.
Kemudian kepala keluarga Suma yang bergelar Naga Air melesat ke arah Bu Heng.
Sementara Suma Lan mencabut pedang dari punggungnya, kemudian melesat ke arah Bu Khi yang masih tak sadarkan diri akibat aliran darahnya membeku terkena kibasan tangan Han Ciu.
Craash !
Kepala Bu Khi langsung terpisah, saat pedang Suma Lan menyambar dan menebas leher Bu Khi.
Kejadian yang begitu cepat sangat mengejutkan Bu Heng.
“Bu khi ?!”
Bu Heng berteriak histeris melihat anaknya tewas tanpa sempat membuka mata.
Tapi Bu Heng tak bisa berbuat apa – apa karna saat ia berteriak, Suma Han sudah sampai dan langsung menyerang Bu Heng.
Tangan dengan jurus cengkeraman Naga Air melesat lurus ke arah leher Bu Heng.
__ADS_1
Bu Heng bergerak ke kiri menghindari serangan Suma Han, tapi gerakan Bu Heng seperti kaku dan tenaga dalam di tubuhnya seperti naik turun.
Zhain Li Er yang melihat gerakan – gerakan Bu Heng kemudian mencolek Racun cilik.
“Adik Zee, pasti Kerjaanmu kan” ucap Zhain Li Er.
“Aku benci lihat mukanya cici Li, aku taburkan bubuk racun pelemas tenaga sewaktu cici menampar mukanya tadi,” ucap Zee ln Biauw selir ke empat Han Ciu.
Zhain Li Er langsung acungkan jempol kepada Racun Cilik, "dia telah menghina kakak Han, yang menghina suami kita harus tahu akibatnya," ucap Li Er.
Bu Heng terkejut, walau ia sempat menghindari serangan tapi, tenaga dalamnya seperti lenyap.
Lalu kakek itu mengempos semangatnya, dan menarik napas untuk mengatur tenaga dalam untuk mengeluarkan pukulan Jari tunggal.
Tenaga dalam yang berkumpul di perut mulai naik.
Bu Heng melihat Suma Han dengan jurus cakar Naga Air menyerangnya kembali, kemudian bersiap.
Lalu telunjuk kirinya mengarah ke tubuh orang yang telah menganggapnya kakak.
Sreet...Blep !
Bu Heng terkejut, jari telunjuk kirinya yang sudah bersinar dan melesatkan Jari tunggal, saat mengempos tenaga dalam, tiba – tiba tenaga dalamnya melemah, pukulan Jari tunggal lenyap sebelum sampai di tempat tujuan, Bu Heng terkejut lalu menunduk saat melihat cakar Suma Han menyambar kepalanya.
Whuut !
Sambaran Suma Han lewat, dan Bu Heng untuk kedua kalinya terhindar dari serangan Suma Han, tapi Suma Han setelah serangannya berhasil di hindari, kaki kanannya menendang pinggul Bu Heng.
Buk....aaaaarrrghh !
Bu Heng, teriak kencang ketika merasakan pinggulnya seperti hancur terkena tendangan Suma Han.
Bu Heng terpental dan menabrak dinding.
Brak !
Suma Han yang sudah sangat marah tak mau berhenti setelah Bu Heng terlempar, kemudian terus memburu.
Bu Heng yang tidak bisa bergerak karna tulang pinggulnya hancur hanya bisa pasrah saat Suma Han melesat dan tangan kanannya menyambar ke arah Leher.
Crep !
Leher Bu Heng terkena cengkeraman Suma Han, lalu kepala keluarga Suma dengan wajah gusar dan penuh kemarahan meremas tulang Leher Bu Heng.
Krek....Krek
Suara patahan tulang leher Bu Heng terdengar, Bu Heng yang telah menjadi sahabat dan dianggap kakak oleh Suma Han tewas di tangan adik angkatnya sendiri.
Suma Han setelah berhasil membunuh Bu Heng kemudian berteriak kencang, melepaskan rasa kesal dihatinya yang telah di khianati.
Sedangkan Suma Lan langsung duduk di lantai sambil menangis dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Fang Ji menghampiri Suma Lan lalu mengelus elus tubuh Suma Lan dengan kepalanya, seperti merasa simpati melihat penderitaan gadis itu.
Zain Li Er yang melihat kejadian itu mendengus, dalam hatinya berkata.
Percuma Fang Ji
“Tak ada cerita untuk selir kelima”
__ADS_1