
Zhain Li Er gelengkan kepala, matanya masih terasa sakit, tapi perlahan pandangannya kembali mulai bisa melihat walau masih samar samar.
Sedangkan Han Ciu masih berdiri di depan Li Er sambil menatap sepasang siluman Elang.
Elang salju dan Elang botak kini berdiri bersama sama, tangan keduannya masih terlihat pucat dengan warna berbeda.
"Tidak tahu malu !" sudah bau tanah masih main keroyokan, dasar orang tua tak tahu diri." ucap Han Ciu.
Hmm !
"Siapa kau anak muda ?" jangan ikut campur urusan kami." Elang botak menatap tajam ke arah Han Ciu.
Han Ciu menatap tajam ke arah Elang botak.
Kapal dan perahu perahu banyak yang mendatangi kedai tempat Zhain Li Er dan Elang salju bertempur, suara beradunya tenaga dalam yang terkadang membuat gelombang air di telaga Tong, membuat mereka mencari dan mendatangi kedai apung di telaga Tong.
Tetapi setelah pertarungan terhenti, sebagian dari tamu dan pendekar yang ada dan tak mau mencari urusan, mereka segera mengambil perahu perahu mereka dan bergegas meninggalkan Kedai apung.
Kapal dan perahu kecil mendatangi kedai apung.
tapi sebagian melihat dari kejauhan, sebagian lagi terus melesat kearah ke adai apung.
Sa Sie Hwa, Pedang langit, lblis seribu wajah, Dewi angin, beserta anggota perkampungan selaksa pedang, turun dari perahu perahu mereka.
Sa Sie Hwa dan Pedang langit langsung menuju tempat Han Ciu.
Sedangkan Dewi angin dan Iblis seribu wajah menghampiri ke arah Zhain Li Er yang masih duduk termenung.
"Kau tidak apa apa nak ?" tanya Dewi angin kepada Zhain Li Er.
Zhain Li Er menggelengkan kepala, tapi matanya sesekali melirik ke arah Han Ciu.
Sementara Han Ciu melihat Sa Sie Hwa dan anak buahnya berdatangan tersenyum.
Sepasang Siluman elang yang tampak wajahnya berubah ketika melihat keberadaan Pedang langit.
Dulu Elang botak atas perintah Pocu mereka berusaha untuk melebarkan sayap perkumpulan mereka, tapi pas mendekati area perkampungan selaksa pedang, pasukan Elang botak kehendak dan akhirnya, pasukannya habis, dan ia sendiri melarikan diri, dan sejak saat itu, Elang botak masih jeri terhadap Pedang langit dan Perkampungan Selaksa pedang.
"Kau masih belum kapok juga, elang botak ?" ucap pedang langit sambil menatap tajam.
"Maaf suadara Zhidong, urusan ini bukanlah urusan perkampungan selaksa pedang !"
Gadis itu telah menganiaya Siauw Pocu ( majikan muda benteng ) hingga babak belur, jika kami hanya mendiamkan masalah ini, nama benteng perguruan kami akan di rendahkan oleh orang orang dunia persilatan," ucap Elang botak.
"Bukankah adikmu sudah membalasnya, lalu kenapa ikut campur ?" Elang botak langsung diam ketika mendengar perkataan dari Pedang langit.
"Sepertinya Cengcu ingin melindungi gadis itu ?" tanya Ealng salju kepada Pedang langit.
Gadis itu adalah salah satu selir Cengcu kami, jika kalian masih memperpanjang masalah ini, jangan salahkan aku, jika kalian yang ada di sini, tak bisa kembali.
"Selir Cengcu ?" tanya Elang salju.
Benar dan Cengcu Selaksa pedang sedang berdiri di depanmu, aku sekarang adalah Hu Cengcu.
Elang botak dan Elang salju terkejut mendengar perkataan Pedang langit, jika pedang langit yang mempunyai kepandaian tinggi hanya menjadi wakil, bagaimana dengan Cengcu mereka.
Memikirkan hal itu, Elang botak lalu memberi isyarat kepada Elang salju untuk meninggalkan kedai apung dan membicarakan masalah ini dengan pocu mereka.
Elang Salju yang menerima isyarat kakaknya lalu, mengajak para anggota yang ia bawa untuk pergi meninggalkan kedai apung.
"Siapa mereka paman ?" dan lagak kedua kakek itu seperti yang masih penasaran dengan kita."
Mereka adalah perguruan Elang putih, markas mereka ada di sebelah barat telaga Tong.
__ADS_1
Sebuah telaga kecil menjadi markas mereka, tapi di darat mereka lemah, sedangkan di perairan mereka berjaya karna mereka punya banyak kapal dalam benteng di telaga barat, jalan masuk hanya satu sungai dari telaga Tong yang terhubung langsung dengan benteng perguruan Elang putih.
Hmm !
"Perguruan Elang putih rupanya," Han Ciu mendengus setelah berkata, matanya tampak berkilat mendengar nama perguruan Elang putih.
Sambil melihat ke arah sepasang Siluman elang.
"Setelah sampai penginapan, kirim surat untuk perguruan Elang putih, katakan padanya aku ingin bertemu dengan ketua perguruan Elang putih." Han Ciu berkata.
Pedang langit mengangguk mendengar perkataan Han Ciu, Pedang langit mengerti melihat kilatan sinar mata dari sang Cengcu, pasti ada hubungannya dengan Perguruan Elang putih.
Kakek tua itu lalu pamit, untuk menyiapkan surat yang akan di berikan kepada perguruan Elang putih yang di pimpin oleh Dewa elang.
Sepasang Siluman elang adalah pelindung sekaligus penasehat perguruan Elang putih.
Mereka bertiga adalah tulang punggung perguruan Elang putih.
Han Ciu, Sa Sie Hwa serta Racun cilik menghampiri Zhain Li Er.
"Bagaimana keadaan nona Li Er ?"
"Li er tak apa apa, tapi wajahnya masih pucat, ucap Dewi angin
Adik Sa dan adik Zee, tolong bantu nona Li Er.
Sa Sie Hwa dan Racun cilik lalu membantu Dewi angin membawa Li Er kembali kepenginapan.
Zhain Li Er melirik ke arah Han Ciu sebelum pergi, tapi Han Ciu seperti acuh.
Bercakap cakap dengan lblis seribu wajah.
Setelah sampai penginapan, Han Ciu langsung menuju kamar, karna hari sudah beranjak malam.
Han Ciu duduk, Sa Sie Hwa langsung menyodorkan arak, sementara Racun cilik perlahan membuka sepatu Han Ciu.
Han Ciu menarik napas terlebih dahulu, sebelum minum arak dalam cawan yang ia pegang.
Han Ciu setelah minum arak kembali menghela napas lalu menatap Sa Sie Hwa dan Racun cilik bergantian.
"Bagaimana keadaan Li Er ?" Li Er hanya kaget, tapi tadi, aku lihat dia baik baik saja, malah terkadang sekilas aku lihat ia tertawa sendiri.
Haaah !
"Apa dia gila kembali ?" ucap Han Ciu sambil tangan kirinya memegang tangan Sa Sie Hwa, sambil menatap wajah gadis cantik berdarah bangsawan yang dipercaya memegang semua uang Han Ciu.
Cis !
"Kenapa Han Ciu koko berharap dia gila !"
"Han Ciu koko pasti berpikir, jika adik Li Er gila, maka akan mengingat muka ayam, benar tidak tebakanku ?" ucap Sa Sie Hwa.
Hmm !
"Kau selalu saja curiga dengan adik Li Er, apa kau tak mau jika adik Li Er bersama kita lagi ?" tanya Han Ciu.
"Kakak salah paham denganku, bukan itu maksud adik Sa."
"Biarkan Li Er menemukan jati dirinya tanpa dipaksa untuk mengingat apa yang dulu ia alami.
Biar adik Li Er sendiri yang mengingat apa yang terjadi dan siapa dia serta apa hubungannya dengan kakak Han, sebelum ia sembuh."
Han Ciu mengangguk dan tersenyum mendengar penjelasan dari Sa Sie Hwa, memang terkadang jika bicara, Sa Sie Hwa suka seenaknya, tapi saat serius perkataan Sa Sie Hwa selalu memberi solusi yang tepat terhadap permasalahan Han Ciu.
__ADS_1
Han Ciu lalu menatap Racun cilik.
"Cici Li Er tidak terluka, dia hanya kaget," ucap Racun cilik.
Han Ciu mengangguk dan kembali minum arak.
Sa Sie Hwa menggerak gerakan kepala kearah Racun cilik.
Tapi Racun cilik pura pura tak melihat isyarat kepala Sa Sie Hwa.
"Adik Zee, apa harus ku beritahu lagi, bahwa malam ini adalah bagian encimu ?" ucap Sa Sie Hwa sambil menatap tajam ke arah Racun cilik.
Kakak Han, Cici Sa, Zee pamit ucap gadis itu lalu keluar kamar.
Sa Sie Hwa duduk di samping Han Ciu sambil menemani minum arak.
Tangan Sa Sie Hwa perlahan memijat pelan tangan Han Ciu.
"Kak Han," bisik Sa Sie Hwa.
Han Ciu tersenyum melihat Sa Sie Hwa.
Wajahnya yang putih, cantik serta anggun membuat Han Ciu terpesona dan mencium kepala gadis itu.
Keduanya lalu saling rangkul.
Han Ciu menggendong Sa Sie Hwa dan membawanya ke atas tempat tidur.
Keduanya lalu menarik selimut, hanya terdengar suara tertawa kecil, dan selimut yang bergerak, keduanya menghabiskan malam sambil bercumbu.
Sementara itu di kamar lain, Zhain Li Er belum tidur, gadis itu masih mengikirkan bayangan yang ia lihat.
"Wajahnya tersenyum, pemuda tampan yang sering bersama itu adalah Suamiku, tapi kenapa selama ini dia seperti yang tak kenal denganku ?"
"Jika benar perkataan ibu bahwa dia adalah suamiku ?" tapi kalau benar dia suamiku, kenapa dia selalu bersama dengan Racun cilik dan nona Sa."
"Nanti lihat saja, jika benar !" aku akan bikin perhitungan karna dia telah mengabaikan aku selama ini." Zhain Li Er lalu memejamkan mata, sambil memikirkan Han Ciu.
Pagi Hari Cuaca telaga Tong sangat dingin, kabut pagi masih terlihat di atas permukaan telaga Tong.
Han Ciu masih terlelap sambil memeluk Sa Sie Hwa.
Setelah hari siang, baru Han Ciu keluar kamar penginapan dan bertemu dengan Pedang langit.
"Cengcu !" surat sudah di kirim, dan tadi perguruan Elang putih mengirim surat balasan, mereka mau menerima kita di benteng air telaga barat, mereka mengirim kapal untuk menjemput kita.
Hmm !
"Bagus, paman siapkan orang orang !"
"Orang orang !"
Apa maksud Cengcu ?" ucap Pedang langit.
Han Ciu lalu memperlihatkan daftar buruannya yang berada di buku kecil lalu berkata, "orang dan perguruan yang ada dalam buku ini harus mati." ucap Han Ciu.
Pedang langit setelah memeriksa catatan, lalu menatap Han Ciu dan bertanya.
"Jadi apa langkah Cengcu selanjutnya ?"
"Paman tak usah tanya lagi, persiapkan anggota selaksa pedang.
"Setelah Sampai di perguruan Elang putih,
__ADS_1
"Benteng air telaga barat akan ku tenggelamkan."