Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 154 Markas Cabang Yang Kosong


__ADS_3

Melihat sekali hantam, seorang kawan mereka kepalanya pecah, kedua orang anggota perguruan Naga Api mengigil ketakutan.


Wajah mereka pucat dengan mata yang terbelalak ketakutan.


Sambil menahan rasa sakit akibat kakinya yang patah karna terkena tendangan Tongki, kedua orang itu memaksa menyembah di hadapan Suma Han.


Orang yang berpakaian paling bagus dengan rambut, dan jenggot yang tertata rapih, tidak seperti lblis biru serta Tongki yang semrawut, Talaba yang berwajah sedikit berbeda, apalagi Han Ciu yang masih terlalu muda di antara mereka.


“Ngapain kau sembah – sembah orang,” Tongki berkata kepada kedua orang itu setelah melihat mereka menyembah Suma Han.


“Hamba meminta pengampunan dari ketua untuk membebaskan kami, kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami.” Ucap kedua orang itu.


Phuih !


“Janji orang – orang perguruan Naga Api tak bisa di percaya.” Suma Han meludah karna kesal melihat kedua orang itu merengek rengek.


“Ampun ketua....ampun,” kedua orang itu berkata kembali, kepada Suma Han.


Tapi Suma Han, seperti yang sudah tak kuat menahan emosi, saat tangannya mengangkat ke atas, kedua orang itu menatap ngeri, sambil menjerit.


Saat tangan Suma Han akan menghantam, Han Ciu mencekal tangan ketua Suma Han.


Tunggu dulu paman Suma, mereka sudah tidak berdaya, lebih baik kita tanya terlebih dahulu.


Suma Han mengangguk mendengar perkataan Han Ciu, lalu mundur menjauh dari kedua anak buah perguruan Naga Api.


“Jika kalian ingin selamat, jawab perkataanku dengan jujur ?” kedua orang itu langsung mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


“Ada berapa kapal yang dimiliki oleh perguruan Naga Api ?” tanya Han Ciu.


“Kapal besar hanya 2 tuan, itu pun sudah hancur oleh perguruan Naga Air, sisanya hanya kapal – kapal kecil sebagai kapal pengintai yang mengawasi perguruan yang lewat, terutama....terutama.”


“Terutama apa ?” Han Ciu bertanya sambil menatap tajam, terutama mengawasi kapal Naga Air yang lewat.


“Keparaat !” Jadi kalian memata matai kami hah ? Suma Han yang susah menjauh mendengar perkataan kedua orang itu kemudian melesat kembali, hendak menghantam kedua orang itu.


Plak !


Hantaman tangan Suma Han, di tangkis oleh Iblis biru, Suma Han yang memang benci terhadap orang Naga Api.


Mengerutkan dahi melihat pukulannya di tangkis oleh Iblis Biru.


Iblis biru menatap tajam ke arah Suma Han.


“Apa kau tak dengar perkataan ketua Selaksa Pedang ?” atau kau ingin mencoba salah satu dari kami Suma Han,” tanya lblis biru sambil menatap tajam.


Suma Han diam mendengar perkataan lblis Biru, kemudian memberi hormat kepada Han Ciu.


“Maaf ketua, aku terbawa hawa nafsu melihat mereka.”


“Paman, tenangkan dulu pikiran paman, aku ingin membutuhkan informasi dari kawan kita ini, jika paman masih saja terus tak bisa mengendalikan hawa amarah, akan susah bagiku untuk mencari tahu, dan membalas dendam, apa paman bisa mengerti maksudku ?”


Suma Han memberi hormat sambil berkata, Maaf, dan kali ini duduk di dekat Tongki.


“Saat duduk di dekat Tongki, Tongki menepak nepak bahu Suma Han, sambil berkata, duduk saja lihat ketua menyelesaikan urusan, jangan seperti anak kecil.” Ucap Tongki.


Mendengar perkataan Tongki, lblis biru menoleh, wajahnya seperti heran bisa mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut Tongki.


“Ceritakan tentang markas perguruan Naga Api yang ada di Sishui ?”


Keduanya saling pandang kemudian berkata, “kami akan memberitahu tuan, tapi kami juga memohon agar tuan memberikan janji agar kami di bebaskan,” ucap kedua orang itu.


“Baik jika kalian tidak berbohong aku akan membebaskan kalian,”

__ADS_1


Tapi....tapi bagaimana dengan ketua yang berada di sana ? Kedua orang itu menunjuk Suma Han.


“Kau beruntung Bangsaat !” jika tak ada ketua Han, sudah ku hancurkan batok kepalamu, Suma Han mendengus.


Setelah mendapat kepastian, kedua orang itu menceritakan keadaan markas mereka.


Bahwa, perguruan Naga Api mempunyai dua markas, 1 markas besar yang di huni ketua Bu Ban Liong, sedangkan satu lagi adalah markas kedua yang tak jauh dari sini, sebagai markas penghadang atau markas tempat bersembunyi, tergantung arah serangan musuh, markas kedua di pimpin oleh wakil ketua Tongkat Naga.


Hmm !


Jadi begitu, markas kedua tak jauh dari sini rupanya, Han Ciu tersenyum sinis.


Tuk...Tuk !


Keduanya lalu di totok di bagian dekat jantung mereka oleh Han Ciu, “sekarang kalian boleh pergi, tapi ingat !” kalian tidak boleh berbuat jahat, karna kepandaian kalian sudah kumusnahkan,” kedua orang itu menatap lesu, kemudian keduanya pergi meninggalkan tempat itu sambil tertatih tatih, karna salah satu kaki mereka patah.


Mereka kemudian kembali ke arah dermaga kecil sambil menunggu rombongan yang datang.


Tak lama kemudian beberapa perahu pemburu memasuki dermaga, mengantarkan orang – orang yang berasal dari kapal besar.


Kapal pemburu bolak balik mengantarkan hampir 200 orang, lalu sisanya bersama kapal besar.


“Bagaimana kak Han apa sudah, mendapat informasi ?”


Kita bagi dua kelompok, 50 orang bersamaku.


Talaba membawa 10 orang pemanah, paman lblis Biru, paman Tongki, serta Sa Si Hwa.


Sisanya kalian bergerak karna menurut 2 orang yang aku tangkap, ke markas perguruan Naga Api sehari perjalanan dari sini.


Markas cabang mereka yang ada di sini, biar aku basmi terlebih dahulu, nanti aku menyusul.


“Tuan Suma Serta adik Ahn Nio yang memimpin rombongan selama perjalanan, tetapi ingat, jangan menyerang jika kami belum datang,” mereka semua mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


Han Ciu yang sengaja memilih orang yang bisa bergerak cepat, agar bisa segera menghancurkan markas cabang Naga Api, yang menurut kedua orang tadi ada di pinggir hutan yang ada di depan mereka.


Han Ciu memimpin berlari memasuki hutan, tempat tadi anggota perguruan Naga Api melarikan diri, Fang Ji bersama Han Ciu karna Fang Ji bisa mengetahui jika ada musuh dari jarak yang jauh dengan penciumannya yang tajam.


Setelah memasuki hutan, mereka terus berlari, sebelum sore Han Ciu melihat sebuah bangunan dengan pagar yang tinggi, bangunan yang lumayan besar, dan tertutup rapat, tidak begitu terlihat ada kegiatan di markas cabang yang perguruan Naga Api.


“Talaba coba kau periksa dari atas pohon, berapa banyak anggota yang ada di markas ini ?”


Talaba mengangguk kemudian naik Ke pohon besar yang tinggi untuk bisa melihat ke dalam markas cabang perguruan Naga Api.


Saat melihat ke arah benteng, Talaba mengerutkan kening melihat markas cabang perguruan Naga Api yang sepi, hanya ada satu dua orang yang berlalu lalang di dalam markas.


Talaba kemudian turun, lalu memberitahu apa yang ia lihat.


Han Ciu mengerutkan kening mendengar keterangan Talaba, bahwa di dalam markas perguruan, hanya ada beberapa orang yang terlihat.


Han Ciu kemudian melesat mendengar keterangan Talaba, dengan meloncati pagar benteng.


Melihat orang yang berjaga di depan gedung utama, Han Ciu langsung menerjang, sambil menghantam dada seorang penjaga.


Buk !


Dengusan keluar dari mulut penjaga seiring nyawanya terbang.


Tak lama kemudian terdengar suara gerbang depan hancur,


Beberapa orang keluar dari rumah dan gedung, melihat Han Ciu menyerang kawan mereka, kemudian mereka mengepung Han Ciu.


“Panggil semua orang yang berada di sini ?” ucap Han Ciu, tapi mereka yang mengepung hanya mendengus tak menjawab, kemudian menyerang Han Ciu.

__ADS_1


Han Ciu tak mau menunggu lama, sambil menyambar pedang dengan tangan, Han Ciu menghantam leher penyerangnya itu.


Krek !


Pedang yang berhasil ia sambar, setelah mematahkan leher salah seorang penjaga.


Kemudian dengan jurus selaksa pedang melesat membabat satu persatu orang yang mengepung, kepala dan anggota tubuh perguruan Naga Api terpental terkena sambaran Han Ciu.


Sisa dua orang penjaga yang mengepung, wajah mereka pucat dan ketakutan melihat keganasan Han Ciu yang telah membabat kawan – kawan mereka, keduanya lalu berusaha melarikan.


Shing....Jleb !


Sebuah panah mengenai leher salah seorang yang berusaha kabur kemudian langsung tersungkur dan tewas seketika.


Saat seorang lain melihat temannya tewas tertembus panah, hanya sekilas melirik, kemudian meneruskan untuk melarikan diri.


Shing....jleb...aaaaarrrghh !


Anggota perguruan Naga Api yang melarikan diri juga langsung tersungkur sambil teriak kesakitan, ketika panah Talaba menembus paha kaki kanannya.


Han Ciu melesat mendekati orang itu, kemudian menjambak rambut orang itu, “kemana orang – orang yang berada di markas cabang ini ?” tanya Han Ciu sambil menatap bengis.


“Jangan bunuh aku...jangan bunuh aku !” mereka semua sedang menyergap rombongan Naga Air yang hendak menyerang markas pusat, ucap orang itu.


“Apa kau bilang ?” Han Ciu semakin keras menarik rambut orang itu,


“Benar tuan, 200 orang yang berada di markas cabang, di pimpin oleh wakil ketua menyergap pasukan Naga air yang bergerak dari dermaga kecil, ucap orang itu.


Iblis biru bersama yang lain ketika baru datang, mendengar perkataan orang itu langsung menendang, setelah Han Ciu melepaskan jambakannya.


Buk !


“Tak ada jeritan saat tulang dada anggota perguruan Naga Api remuk terkena tendangan Iblis Biru.”


Tongki yang mendengar perkataan dari anak buah Naga api yang di tendang oleh Iblis biru, kemudian berteriak


“Mari kita kejar !”


Sambil mengajak orang – orang Selaksa Pedang,


“Mari ikut aku,” sambil melesat keluar dari markas cabang Perguruan Naga Api, tanpa bicara kepada Han Ciu


Han Ciu hanya gelengkan kepala melihat Tongki, dan tidak mencegahnya.


“Kak Han apa tindakan kita, dan kemana kita mencari, para penyergap itu ?” Sa Sie Hwa bertanya.


Han Ciu memberi isyarat tangan agar Sa Sie Hwa, serta yang lain diam.


“Fang Ji, kau cium bau bekas orang – orang di sini !” lalu kita kejar mereka,” Talaba, lblis Biru, serta beberapa orang anggota selaksa pedang mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.


Fang Ji seperti mengerti akan perkataan sang majikan, kemudian masuk ke dalam gedung utama.


Setelah selesai mencium bau bekas orang – orang yang berada di dalam gedung, Fang Ji kemudian bergerak menuju keluar pintu gerbang yang roboh.


Han Ciu kemudian berkata kepada yang lain, “mari kita ikuti Fang Ji”


Mereka lalu bergerak mengikuti Fang Ji.


Ketika sampai di luar, mereka melihat Tongki beserta rombongan berjalan ke arah mereka.


Iblis biru mengerutkan dahi melihat Tongki, lalu bertanya, “kenapa kau kembali ?” Tongki yang mendengar perkataan Iblis biru menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Aku bingung, hendak mengejar kemana”

__ADS_1


__ADS_2