Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 227 Informasi dari prajurit Taiyuan


__ADS_3

Han Ciu setelah mengirim surat lewat udara kepada Pedang api dan anak buahnya yang berhasil menaklukkan kota Hedong, lalu berangkat untuk menaklukkan kota Shang.


Seorang pengantar surat di kirim oleh Liu Bang ketika Han Ciu masih berada di kampung Yangku.


Setelah membaca surat yang di kirim oleh pamannya, Han Ciu kemudian menatap ke arah pengantar surat dan bertanya.


“Selain berita penguasa timur yang bergerak ke kota Hengshan timur, apa paman Liu Bang menyampaikan pesan kepadamu ? Tanya Han Ciu.


“Tuan Liu Bang hanya berpesan, jika kota Shang berhasil kita rebut, kita bisa mengepung kota Hengshan.


“Dari utara tuan Sin Ko dengan armada sungai perguruan selaksa pedang, dari tengah akan di pimpin oleh yang mulia Liu Bang sendiri, sedangkan dari selatan jika ketua Han berhasil menaklukkan kota Shang akan bisa terlaksana.


“Tapi jika kota Shang tidak bisa di taklukan, yang mulia Liu Bang memberi pesan, agar ketua segera bergabung dengan pasukan yang menyerang dari kota Sanchuan,” pembawa pesan itu berkata.


Han Ciu anggukan kepala, mendengar pembawa pesan itu bicara, ia telah mendengar pergerakan pasukan besar yang di pimpin sendiri oleh Xiang Yu.


Dan Han Ciu memang berpikir bahwa langkah yang di ambil oleh Xiang Yu memang sudah ia duga, karena markas pusat Xiang Yu yang ada di kota Dai sangat jauh dan susah untuk mengontrol kota² yang ada di bawah kekuasaannya dan memberi bantuan kepada mereka.


“Aku mengerti maksud paman Liu, tapi aku akan berusaha untuk menaklukkan kota Shang, dengan bantuan pasukan yang bergerak dari kota Hedong.” Ucap Han Ciu.


“Pasukan musuh sangat besar, jika harus saling berhadapan, kerugian ada di pihak kita, tetapi jika kita bisa menyerang dari berbagai sisi, walau kita kalah jumlah, tapi masih ada kesempatan untuk kita memenangkan pertempuran ini,” lanjut ucapan Han Ciu.


“Baiklah ! surat sudah sampai dan pesan yang kuterima dari paman Liu sudah ku mengerti, kau boleh kembali dan katakan kepada paman Liu, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkan kota Shang,” Han Ciu berkata kepada sang pembawa pesan.


Setelah pembawa pesan itu pergi, Han Ciu kemudian berkumpul dan membahas surat yang ia terima dari pamannya, Liu Bang.


“Kita harus bisa menaklukkan kota Shang ! Seru Han Ciu sambil mengepalkan tangan kanannya.


“Menurut para pedagang dari kampung Yangku, pasukan tambahan dari kota Dai sudah berkumpul di Taiyuan.


“Kota Shang akan semakin kuat, kita harus memikirkan cara tang tepat untuk menaklukkan kota itu.” Ucap Jiang Wu.


“Paman benar, agaknya perjuangan kita semakin berat, semoga rombongan paman pedang api, bisa segera sampai dekat kota Shang,” Han Ciu berkata.


“Apa perlu aku susul rombongan Pedang api ketua ? Tongki berkata sambil menatap ke arah Han Ciu.


“Apa paman masih ingat jalan yang menuju ke arah kota Hedong ? Han Ciu balik bertanya.


“Kalau sendiri sih, aku kurang begitu hafal jalan, tapi jika bersama dengan Dewi kipas, aku yakin kami berdua bisa cepat menemukan rombongan Pedang api,” ucap Tongki sambil melirik ke arah Dewi Kipas.


Cis !


“Tugas yang kau mau, pasti di akhir kalimat selalu menguntungkan dirimu sendiri,” Zhain Li Er ikut bicara begitu mendengar perkataan Tongki.


Mendengar perkataan Zhain Li Er, alis Tongki terangkat, wajahnya tampak tak senang.


“Ini untuk kebaikan serta keuntungan kita semua dan pasukan, bukan untukku,” ucap Tongki dengan nada ketus.


Zhain Li Er lalu tak menjawab perkataan Tongki, tapi malah bertanya kepada Jiang Wu.


“Paman Wu, apa paman punya anak buah yang hafal jalan dari Shang sampai ke kota Hedong ? Tanya Zhain Li Er.


“Banyak sekali Nyonya ! karena penduduk kampung Yangku menjual hasil bumi dan membeli kebutuhan hanya kepada 3 kota, kota Shang, Beidi serta Hedong,” jawab Jiang Wu.


“Aku serta adik Xiao masih butuh bibi Dewi disini, apa paman Tongki bisa pergi bersama dengan anak buah paman Jiang Wu, untuk menjemput pasukan paman Pedang api ? Tanya Zhain Li Er kepada Tongki sambil tersenyum.


Tongki langsung diam mendengar perkataan Zhain Li Er.


Tapi tak lama kemudian setelah menarik napas panjang, Tongki dengan suara pelan berkata kepada Zhain Li Er.


“Nyonya ! Sebenarnya dalam perjalanan ini ada yang ingin ku katakan kepada Dewi kipas secara pribadi,” ucap Tongki setengah berbisik.


“Itu yang tak kusuka dari paman, maksud baik jika di lakukan secara sembunyi malah akan menimbulkan kesan yang kurang baik, apa paman masih kurang mengerti ? Tanya Zhain Li Er.


“Ucapan nyonya benar, tapi untuk terus terang dengan maksudku, aku yang sudah berumur kan malu jika harus terbuka,” Tongki membalas perkataan Zhain Li Er.


Cis !


“Mengerjai ketua sendiri tidak malu, tetapi masalah seperti ini malah malu,” ucap Zhain Li Er.


“Nyonya keempat ! kenapa kau selalu mengungkit masa lalu,” ucap Tongki dengan nada tinggi.


“Sudahlah, kenapa harus ribut dengan masalah seperti ini,” ucap Dewi Kipas.


“Ketua ! Aku minta ijin untuk melihat situasi sekitar, sambil menjemput pasukan yang di pimpin oleh saudara Pedang api bersama dengan saudara Tongki,” lanjut ucapan Dewi Kipas.


Han Ciu yang mengerti maksud Tongki anggukan kepala, kemudian berkata.


“Bawa Fang Ji bersama kalian, Fang Ji sudah hafal bau dari kawan² kita, biar paman dan bibi bisa segera menemukan pasukan yang di pimpin oleh paman pedang Api.


“Jika ada kabar pasukan tambahan dari pihak musuh sudah bergerak dari kota Taiyuan ke kota Shang, sekalian saja sergap, tapi jika pasukan paman pedang api tidak mendukung, lebih baik kita berkumpul dan menyerang secara terbuka dan bersama sama,” Lanjut perkataan Han Ciu.


Dewi kipas serta Tongki anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu, keduanya lalu pamit setelah mendapat persetujuan dari Han Ciu.


Setelah berjalan seharian menyusuri hutan, Tongki dan Dewi Kipas jarang bicara.


Dewi Kipas akhirnya tak tahan dengan keadaan seperti itu.

__ADS_1


Katanya ada yang ingin kau bicarakan secara pribadi kepadaku ? Tanya Dewi Kipas.


Tongki menarik napas mendengar perkataan Dewi Kipas.


“Kenapa Dewi masih bertanya, aku pikir Dewi pasti mengerti maksudku mengajak Dewi bersama dalam perjalanan ini,” jawab Tongki.


“Aku mengerti, tetapi aku ingin mendengar sendiri apa yang kau maksudkan itu ?


“Aku....Aku ! Hanya itu yang keluar dari mulut Tongki.


“Aku apa ? Tanya Dewi Kipas sambil mengerutkan kening.


“Ah....Dewi apa masih tidak mengerti juga dan terus bertanya,” batin Tongki yang masih susah untuk berkata.


“Aku menyukai Dewi dan hendak melamar Dewi menjadi istriku,” Tongki berkata pelan sambil tundukkan kepala.


Tapi setelah Tongki berkata dan menunggu, tapi tak ada jawaban.


Tongki kemudian angkat kepala, dan kakek itu terkejut ketika melihat Dewi Kipas sudah jauh berada di depannya, tengah mengejar Fang Ji yang berlari kencang.


Hmm !


“Serigala keparaat ! Aku susah bicara, ketika bicara binatang itu mengganggu.”


Tongki melesat mengejar Dewi Kipas serta Fang Ji yang berlari kencang.


Melihat Dewi kipas melesat ke atas sebuah pohon besar, Tongki menyusul.


Whut....tap !


Tongki telah berdiri di sebuah dahan yang cukup besar di samping Dewi Kipas yang terus memperhatikan Fang Ji.


Ada apa Dewi ? Tanya Tongki.


“Sepertinya Fang Ji menemukan sesuatu,” Jawab Dewi Kipas sambil menunjuk Fang Ji yang bersembunyi di balik semak belukar yang ada di sisi jalan.


Tak lama kemudian terdengar suara derap kaki kuda.


10 ekor kuda yang di tunggangi oleh prajurit berpakaian lengkap terlihat.


Hmm !


“Pasukan bintang timur,” batin Tongki, setelah melihat seragam 10 prajurit berkuda.


“Kita memang tak jauh dari kota Taiyuan, sepertinya itu pasukan patroli,” ucap Dewi Kipas.


“Apa yang kita lakukan terhadap mereka ? Tanya Tongki.


Sebelum Dewi Kipas bergerak, Fang Ji lompat dan menerkam salah seorang prajurit yang berada paling belakang.


Fang Ji berhasil lompat menerkam dan menggigit leher seorang prajurit yang berjalan paling belakang, kuda meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan, setelah sang penunggang terlempar dari atas kuda.


Sembilan prajurit terdepan, langsung menarik tali kekang kuda dan menghentikan laju kuda mereka.


Dewi Kipas melesat, dengan kipas terbuka menyambar leher dan tangan kiri menghantam badan salah seorang prajurit yang berada paling dekat.


Sret....buk !


Kedua prajurit terpental dari atas kuda, satu prajurit dengan leher hampir putus dan satu lagi terpental dengan dada remuk.


Tongki juga tidak mau ketinggalan, begitu turun kedua tangan mengibas, dua orang prajurit langsung terpental, dan tewas dengan kepala remuk.


Lima orang prajurit yang tersisa terkejut mendapat serangan yang langsung menewaskan 5 orang kawan mereka.


Prajurit terdepan, yang merupakan pimpinan dari 10 penunggang kuda langsung mencabut pedang, kemudian menyerang Tongki.


Pedang menyambar ke arah pinggang.


Shing !


Tongki menghindari serangan dengan bergerak ke kiri, lalu tangan kanan menghantam badan kuda yang di tunggangi salah seorang prajurit dengan pukulan hawa neraka.


Blam !


Kuda meringkik keras lalu ambruk, tewas seketika dengan badan hangus terkena pukulan hawa neraka.


Prajurit yang kudanya tewas terkena serangan Tongki langsung loncat, tapi Fang Ji dengan cepat menyambar prajurit tersebut dan menggigit lalu mengoyak leher sang prajurit.


Prajurit yang kesakitan berusaha meronta, tapi gigitan Fang Ji semakin dalam, dengan sekali sentakan urat leher prajurit putus, darah mengucur deras. Sang prajurit tak lama kemudian diam tak bergerak.


Pemimpin prajurit dan 3 orang prajurit yang tersisa bersiap dengan pedang di tangan menatap tajam ke arah Tongki serta Dewi Kipas.


Pemimpin prajurit itu setelah melihat, lalu memberi hormat dan berkata.


“Mohon maaf jika kami mengganggu ketenangan kedua senior dunia persilatan.


“Kami prajurit bintang timur yang sedang patroli di sekitar sini.” Ucap pemimpin prajurit, ia mengatakan prajurit bintang timur, agar kedua orang yang menyerang tahu dan menghentikan serangan mereka.

__ADS_1


“Tak usah kau kaukatakan ! dari seragam yang kau pakai, aku sudah tahu kalian prajurit bintang timur,” ucap Tongki dengan nada dingin.


“Dan setiap prajurit bintang timur yang bertemu dengan kami harus mati,” lanjut ucapan Tongki.


Mereka yang masih hidup, mundur satu langkah mendengar perkataan Tongki.


Dewi Kipas langsung bergerak, kipasnya tertutup lalu menusuk ke arah kening salah seorang prajurit.


Tuk !


Prajurit yang terkena totokan di kepala, langsung tewas.


Salah seorang prajurit menebaskan pedangnya ke arah kepala Dewi Kipas.


Shing !


Dewi Kipas menunduk, lalu ujung kipas yang menutup dihantamkan ke arah perut.


Crep !


Kipas masuk ke dalam perut prajurit yang menyerang, setelah mencabut kipas, Dewi Kipas menggerakkan kipas.


Kipas yang terbuka kemudian menyabet ke arah perut.


Sret !


Perut prajurit sobek terkena sabetan kipas, tubuh prajurit itu langsung jatuh dan tewas seketika.


Ketiga prajurit tersisa marah dan menyerang ke arah Dewi Kipas, tapi Tongki lebih dulu menendang salah seorang prajurit.


Buk !


Saat prajurit terhuyung, tanpa ampun telapak tangan Tongki menghantam kepala prajurit itu.


Prak !


Dua orang prajurit yang tersisa tanpa bicara, kemudian langsung memutar tubuh hendak melarikan diri, tapi Tongki dan Dewi Kipas melesat menghadang mereka.


Sambil menatap tajam ke arah keduanya, Tongki kemudian berkata.


“Salah seorang dari kalian yang bisa memberi informasi padaku tidak akan ku bunuh.


“Pilihan ada diantara kalian ! Ucap Tongki.


“Aku....aku akan memberikan apapun yang tuan ingin ketahui,” teriak salah seorang prajurit.


Aku pemimpinnya tuan pendekar, informasiku lebih banyak daripada prajurit dia,” teriak prajurit yang memimpin.


Sambil menusukkan pedangnya ke arah punggung anak buahnya.


Blesh !


“Kau....kau,” ucap prajurit yang punggungnya tertusuk sambil menunjuk atasan yang telah menusuknya, tak lama kemudian tubuhnya ambruk dan tewas.


“Ampun tuan pendekar, jangan bunuh hamba,” ucap prajurit bintang timur sambil berlutut.


“Dimana pasukan kalian dan berapa jumlahnya ? Tanya Tongki.


“Kami pasukan tambahan dari Kota Dai tuan, sementara ini berada di kota Taiyuan, tapi akan berangkat ke kota Shang, jumlah kami ada 3000 pasukan, tadinya seribu, tetapi ada tambahan 2000 pasukan yang ada di kota Taiyuan,” jawab prajurit itu.


“Siapa yang memimpin ? tanya Tongki.


“Tuan Jari Api yang memimpin pasukan, tuan pendekar,” jawab prajurit itu.


Hmm ! Jari Api, orang yang hampir berhadapan denganku di telaga barat, tetapi berhasil di lerai,” batin Tongki.


“Kapan kalian akan berangkat ke kota Shang ? Tanya Tongki.


“Secepatnya kami akan berangkat tuan,” jawab prajurit itu.


Tongki setelah mendapat informasi yang dia inginkan kemudian menotok 2 buah urat besar di dada prajurit itu.


“Ilmu mu sudah ku musnahkan, sekarang kau bebas,” ucap Tongki.


“Mari Dewi, kita lanjutkan perjalanan,” ucap Tongki.


Dewi Kipas anggukan kepala.


Sang prajurit sambil tertatih lalu pergi ke arah kota Taiyuan.


“Aku harus segera pergi ke Taiyuan untuk melaporkan hal ini kepada tuan Jari Api,” batin kepala prajurit sambil berjalan tertatih.


Sebelum melesat pergi, Tongki melirik ke arah Fang Ji sambil mulutnya monyong² ke arah prajurit yang pergi.


Fang Ji seperti mengerti, dan anggukan kepalanya.


Dewi kipas mengerutkan keningnya setelah mereka berdua pergi dan mendengar jeritan sang prajurit dari kejauhan, lalu bertanya.

__ADS_1


“Kau membunuh prajurit itu ? Tanya Dewi Kipas.


“Bukan aku, tapi Fang Ji.”


__ADS_2