Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 231 : Jebakan kedua


__ADS_3

Jari api semakin bernafsu untuk menangkap Tongki dan kawan yang bersamanya.


Ledekan serta jebakan dari mereka membuat pasukannya kalang kabut.


“Bangsaat! Sudah hampir 300 anak buah ku tewas oleh mereka, jika yang mulia Xiang Yu sampai tahu kejadian ini, mau di taruh dimana mukaku,” Jari api berkata dalam hati.


“Lacak jejak mereka! Jangan sampai lolos,” Jari api memberi perintah kepada 2 orang perwira anak buahnya.


“Tapi tuan, sepertinya ini adalah jebakan! Sebab mereka tidak pernah jauh dari pasukan kita, dan sepertinya mereka mengarahkan kita ke suatu tempat yang mereka inginkan,” ucap salah seorang perwira paruh baya yang sudah sering berperang.


“Lebih baik pasukan masuk kota Shang terlebih dahulu, baru kita keluar lagi untuk memburu mereka,” lanjut ucapan perwira paruh baya itu.


Ketika mendengar perintahnya di bantah, Jari api menatap tajam ke arah perwira itu.


“Aku yang memimpin pasukan ini, kau lakukan saja perintahku dan jangan banyak tanya,” ucap Jari api.


“Wajah perwira itu pucat ketika mendengar perkataan Jari api, dan tak berani membantah.


Lalu keduanya pergi untuk memburu Tongki dan yang lain.


Tongki dan Tan Kui yang memang tak jauh dari lapang lumpur hidup, sambil menunggu kedatangan pasukan yang di pimpin oleh pasukan Pedang api, selalu menjaga jarak dan tak terlalu jauh dari pasukan bintang timur yang di pimpin oleh Jari api.


Melihat para prajurit bintang timur datang, Tongki mengibaskan goloknya, hawa golok berwarna merah dari tenaga dalam hawa neraka melesat menghantam prajurit musuh yang berada paling depan.


Blam !


Lima orang prajurit terlempar dengan tubuh hangus terkena serangan hawa golok Tongki.


Puluhan prajurit lain datang menyerbu, dan mulai mengepung Tongki serta Tan Kui.


Ketika keduanya hendak mundur.


Terdengar suitan panjang 3 kali dari Talaba.


Suuuuiit....Suuuuiit....Suuuuiit!


Mendengar 3 kali suara suitan Talaba, Tongki dan Tan Kui saling pandang dan anggukan kepala.


“Saudara Tan, kuatkan kakimu dan keraskan kepalan tanganmu,” ucap Tongki.


Tan Kui anggukan kepala.


“Saudara Tong, kau juga harap berhati hati,” jawab Tan Kui.


Keduanya lalu mengamuk, Tongki dengan golok api miliknya serta tangan kiri, sedangkan Tan Kui dengan sepasang tangan dan ke dua kakinya.


Crash !


Golok api menyambar ke arah kepala, salah seorang prajurit, kemudian golok bergerak ke bawah dan berputar.


Craks....Craks!


Kaki para prajurit bintan timur yang terlambat menghindar putus terkena sabetan golok.


Sebuah tombak menyambar menusuk ke arah punggung, tetapi punggung Tongki seperti mempunyai mata, tubuhnya sedikit bergeser, kemudian Tongki berbalik, lalu menangkap tombak dan menarik tombak itu.


Sret!


Prajurit yang memegang tombak dan hendak membokong langsung terbetot, setelah prajurit itu mendekat, Tongki melepaskan tombak, kemudian tangan kirinya yang berwarna kemerahan yang di aliri tenaga dalam hawa neraka langsung menghantam kepala prajurit itu.


Prak!


Hanya terdengar suara pecahnya kepala, tanpa ada suara jeritan dari mulut prajurit yang hendak membokong, tubuhnya langsung ambruk dengan kepala hancur.


Serangan yang di lakukan oleh Tongki dan Tan Kui selalu berhasil menewaskan prajurit bintang timur.


Karena mereka tidak mau bertempur dengan setengah hati melawan prajurit bintang timur yang terus mengepung dan seperti tak pernah habis, membunuh atau terbunuh, itu yang ada di pikiran Tongki dan Tan Kui.


Baju Tongki serta Tan Kui sudah di penuhi oleh darah para prajurit bintang timur, satu dua goresan pedang prajurit musuh juga terlihat di tubuh Tongki serta Tan Kui.


Tan Kui yang sedang menghantam dada seorang perwira pasukan yang ada di depannya, sudah pasrah saat merasakan angin dingin mengarah punggung.


Buk !


Sambil mengerahkan tenaga dalam ke arah punggung, agar serangan Yang membokong tidak masuk lebih dalam, Tan Kui mengeraskan hati dan menggigit bibirnya untuk menahan sakit, sambil kedua tangan mencengkeram kepala dua orang prajurit kemudian di benturkan satu sama lain.


Prak !

__ADS_1


Dua kepala prajurit pecah.


Shing....Crep!


Panah mendesing dari sebuah pohon dan menembus kepala prajurit yang hendak membokong Tan Kui.


Melihat Prajurit yang hendak membokongnya tewas, Tan Kui melirik ke arah pohon besar, lalu ia melihat Talaba tersenyum sambil mengangkat ibu jari ke arahnya.


Tan Kui anggukan kepala, kemudian kembali mengamuk. Menghantam dan menendang para prajurit bintang timur, kali ini panah dari pohon² besar melesat membantu Tan Kui dan Tongki yang tengah bertarung.


Prajurit bintang timur bersama jari api yang memutari lapang lumpur hidup dari kiri dan kanan akhirnya sampai di tempat Tongki serta Tan Kui bertempur.


Jari api yang memang sangat bernafsu, ketika melihat Tongki berada di tengah kepungan para prajuritnya langsung menyerang Tongki, tubuhnya loncat lalu tangan kananya mengibas sambil melesat ke arah Tongki.


Whut!


Sinar merah berhawa panas melesat menyerang Tongki dari atas.


Tongki mundur selangkah, kemudian tangan kirinya bergerak lurus ke atas dengan pukulan hawa neraka menghantam ke arah pukulan Jari api.


Blam!


Ledakan keras terdengar ketika kedua pukulan yang sama berhawa panas bertemu.


Beberapa prajurit yang berada dekat ketika kedua pukulan itu bertemu, terpental dengan tubuh hangus.


Tongki mundur setapak ketika kedua pukulan bertemu, karena bukan kalah tenaga dalam dengan Jari api, tapi memang tenaga dalamnya telah terkuras akibat terus menyerang para prajurit bintang timur.


Jari api berdiri dua tombak di depan Tongki sambil menyeringai buas.


“Tikus selaksa pedang! kali ini jangan harap kau bisa melarikan diri,” ucap Jari api.


Ha Ha Ha


Tongki tertawa mendengar perkataan Jari api, lalu menaruh goloknya ke punggung.


“Hai badut merah, kau lihat pakaianku! penuh darah dan keringat, itu tandanya aku sudah terlalu lama menunggu.


“Sedangkan kau masih terlihat rapi, apa kau baru bangun tidur? Tongki berkata sambil tersenyum mengejek ke arah Jari api.


Wajah Jari api semakin kelam mendengar olok² Tongki.


Tongki menunduk menghindari serangan, kemudian kaki kanan menyambar ke arah kaki Jari api.


Jari api loncat menghindari sabetan kaki Tongki, ketika tubuhnya berada di atas, kaki Jari api balik menyerang menendang kepala Tongki dari atas.


Tongki menyilangkan kedua tangannya di atas kepala menahan tendangan kaki Jari api.


Plak!


Saat tendangannya di tahan, Jari api loncat sambil bersalto, tubuhnya kemudian sudah berada di belakang Tongki, lalu tangannya menghantam punggung Tongki.


Tongki melihat musuh loncat ke belakang tubuhnya, tubuhnya maju selangkah kemudian berbalik, lalu tangan kanannya menghantam ke arah tangan jari api.


Kedua tangan yang sama² telah di aliri tenaga dalam berhawa panas kembali bertemu.


Blam!


Tubuh Jari api bergetar, tetapi Tongki mundur satu langkah, dari bibirnya tampak mengalir darah segar, akibat luka dalam yang ia derita.


Tongki yang sudah Kelelahan dan tenaga dalamnya yang sudah banyak terkuras, membuat Jari api mendapat keuntungan ketika kedua tangan yang telah di aliri tenaga dalam bertemu.


“Tikus selaksa pedang! bersiaplah kau untuk bertemu dengan setan² penghuni neraka,” ucap Jari api sambil tersenyum penuh kemenangan.


Jari api lalu melesat dengan tangan menghantam ke arah dada, Tongki bergerak ke kiri menghindari serangan, tapi tangan kiri Jari api langsung bergerak cepat, dan menebas ke arah bahu.


Melihat serangan musuh yang sangat cepat dan tak ingin bahunya hancur, Tongki dengan terpaksa menangkis serangan tangan kiri jari api.


Plak!


Tubuh Tongki bergetar lalu terhuyung, Jari api melihat kesempatan emas tak mau ia sia² kan, Jari api lalu menendang perut Tongki yang tidak terjaga.


Tongki melihat tendangan musuh yang sudah tak bisa ia hindari, kemudian mengerahkan tenaga dalamnya ke arah perut.


Buk!


Tongki terhuyung dua langkah ke belakang, lalu jatuh terduduk.

__ADS_1


Hoaak!


Dari mulut kakek itu menyembur darah segar.


Jari api tak mau membuang kesempatan, tubuhnya loncat melesat hendak menyerang.


Shing....Shing!


Dua buah anak panah, melesat dengan sangat cepat mengarah kepala dan tubuh Jari Api.


Pemimpin pasukan bintang timur melentingkan tubuhnya ke belakang, menghindari 2 anak panah yang di lepaskan oleh Talaba untuk menyelamatkan Tongki.


Melihat serangannya gagal, Jari api berteriak kepada anak buahnya, “serang....serang mereka, dan habisi semua,”


Ratusan prajurit bintang timur langsung bergerak ke arah Talaba.


Puluhan anak panah dari pasukan bintang timur juga melesat ke arah pohon, tempat di mana Talaba dan anak buahnya bersembunyi.


Shing....Shing....Crep....Crep!


2 orang anak buah Talaba terjungkal saat anak panah musuh menembus tubuh mereka.


Keduanya jatuh dari pohon dan langsung di tebas oleh puluhan pedang para prajurit bintang timur yang sudah menunggu di bawah.


Talaba loncat dari satu dahan ke dahan lain menghindari serangan puluhan anak panah musuh, lalu wajahnya tersenyum melihat dari atas pohon ratusan pasukan Pedang Api bergerak cepat dari tiga sisi, tengah, kanan dan kiri.


Teriakan penuh semangat terdengar dari dalam hutan.


Serang....Serang!


Ratusan prajurit bintang timur terkejut melihat banyaknya pasukan musuh yang datang.


Pedang api mengamuk membabat prajurit² bintang timur yang ada di hadapannya, sementara dari sisi kanan, Huang Zilin mendesak dan dari sisi kiri, Tan Ling dengan pecutnya menyambar pasukan prajurit bintang timur.


Sesuai dengan petunjuk yang telah di gambar oleh Tan Kui dari sobekan bajunya.


Tan Kui, Tongki, Talaba serta 50 anak buahnya menjadi ujung tombak yang memancing pasukan musuh, sementara pasukan besar setelah musuh datang lalu menyerang dari tiga sisi dan mendesak pasukan musuh ke arah satu titik, yakni lapang lumpur hidup, sehingga tak ada jalan lain bagi pasukan bintang timur untuk bergerak mundur.


Jari api terkejut mendengar suara² teriakan para prajurit, dan benturan senjata yang terdengar di sekelilingnya.


Seorang perwira datang menghampiri jari api, kemudian melapor dengan wajah pucat.


“Celaka....celaka tuan! Pasukan musuh menyerang dan mengepung kita dari tiga sisi,” ucap perwira itu.


Tongki yang masih terduduk mendengar laporan perwira itu. Tertawa terbahak bahak.


Ha Ha Ha.


“Akhirnya datang juga.”


Tadi setan penghuni neraka berbisik padaku, “kau belum pantas berada di sini,” ketika setan itu minta ganti nyawaku, aku langsung tunjuk dirimu.” Tongki berkata lalu tertawa terbahak bahak.


Ha Ha Ha.


Bangsaat....keparaat!


Jari api berkata sambil melotot ke arah Tongki.


“Aku tak peduli walau harus mati, tetapi yang mati itu harus kau terlebih dahulu,” teriak Jari Api.


Kedua tangannya berputar, dan perlahan berubah merah, kemudian melesat ke arah Tongki yang duduk pasrah menerima serangan, karena tenaga dalamnya sudah terkuras habis.


Dua buah bayangan melesat ke arah Tongki ketika Jari api menyerang.


Blam!


Jari api terhuyung mundur selangkah, tubuhnya terasa sangat dingin.


Di depan Jari api telah berdiri, seorang kakek tua bermata biru yang telah menangkis pukulannya.


“Aku lawanmu,” ucap iblis biru sambil tersenyum dingin dan menatap tajam ke arah Jari api.


Sementara itu sebuah bayangan menyambar Tongki yang tengah duduk, kepala Tongki bersandar empuk di sebuah dada orang yang menyelamatkannya, tercium bau harum dari orang yang memeluknya itu.


Ketika Tongki membuka mata.


Dewi Kipas tersenyum manis sambil menatap ke arah Tongki yang berada dalam pelukannya, kemudian bertanya dengan lembut.

__ADS_1


“Kau tidak apa – apa ?


__ADS_2