
“Huang Zilin atau lblis petaruh adalah tokoh tua, sipatnya yang aneh dan suka bertaruh membuat dia di juluki lblis petaruh.” Ucap lblis Biru
“Tapi kenapa di sebut lblis paman ?” tanya Han Ciu.
“Bukankah keanehan adalah wajar, tidak perlu di sebut lblis ?” Lanjut pertanyaan Han Ciu.
“Ketua tidak tahu, sipat bertaruhnya sehari hanya di batas 3 kali, tetapi dalam bertaruh apa saja ia pertaruhkan, tak peduli dengan anggota tubuhnya atau nyawanya sekalipun.
“Jika kalah bertaruh dengannya, dan orang itu tak mampu membayar, maka salah satu anggota tubuhnya dianggap milik Huang Zilin sesuai dengan kesepakatan.
Jika dia sudah menghendaki seseorang untuk bertaruh, apapun akan dia lakukan agar orang itu mau bertaruh dengannya, itulah mengapa ia di sebut lblis petaruh.
“Dia adalah salah seorang dari 2 lblis yang sangat di takuti selain lblis mata satu.” lblis Biru berkata.
“Tunggu dulu ! kau bilang dia salah seorang dari 2 lblis, bukankah kau juga lblis, “Ming Mo, si lblis Biru,” ucap Tongki.
“Jaga mulutmu keparaat, bisa jadi kalau kau bicara lagi, kau yang akan jadi lblis sungguhan.” Ucap lblis Biru dengan wajah gusar sambil menatap Tongki.
“Aku di sebut lblis bukan karna kelakuanku, tapi karna tanganku jika bertarung berwarna biru, apa kau ingin coba ?” tanya lblis Biru sambil menatap ke arah Tongki.
“Tidak....Tidak, kau saja nanti yang melawan Huang Zilin,” ucap Tongki mendengar perkataan Ming Mo.
“Apa perkumpulan pengemis tongkat hitam, sudah tahu keberadaan Huang Zilin di kota Hengshan ini ?” Han Ciu bertanya kepada Hek Kay.
Mendengar perkataan Han Ciu, Hek kay menarik napas dalam – dalam sebelum menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Tidak susah untuk mencari lblis itu, karna dia sudah hampir menguasai kota Hengshan.” Hek kay berkata.
“Apa maksud perkataanmu itu ?” ucap Han Ciu yang belum mengerti maksud perkataan Hek kay.
“Semua orang penting di kota ini di ajak bertaruh olehnya, dan ia memenangkan semua taruhan itu,” Hek kay berkata sambil menatap Han Ciu.
“Lalu kau mau apa di sini, jika memang tak bisa menghalangi Huang Zilin ? Tanya Tongki.
“Aku di suruh guru untuk mengawasi kemana perginya Huang Zilin setelah berhasil mengambil kota ini.” Hek kay menjawab pertanyaan Tongki.
“Apa dia curang dalam berjudi sehingga dia selalu menang ? Han Ciu kembali bertanya.
Hek kay yang mendengar pertanyaan Han Ciu gelengkan kepala.
Walaupun dia lblis, tapi dalam bertaruh dia tidak pernah curang, semua orang boleh melihat ia bertaruh.
Tapi kakek tua itu selalu saja menang, walaupun pernah kalah, tapi kekalahannya bisa di hitung dengan jari.
Aku sendiri pernah menyaksikan ia berjudi, dan memang ia main seperti biasa, tak ada permainan curang, setiap aku melihat ia bertaruh di kota Hengshan.
“Apa kau tahu dimana Huang Zilin sekarang ?” tanya Han Ciu.
Biasanya dia ada di rumah bangsawan Jiang Sun.
__ADS_1
“Setelah kalah bertaruh, Jiang Sun harus kehilangan rumah serta hartanya, lalu akhirnya bangsawan Jiang Sun menjadi anak buah Huang Zilin.
“Kakak ! antarkan aku ke tempat Huang Zilin berada, aku ingin melihat seperti apa orang yang bernama Huang Zilin.” Ucap Han Ciu kepada Hek Kay.
Sebenarnya Hek Kay ragu untuk mengantarkan adik angkatnya, ke tempat kediaman Huang Zilin, tapi setelah berpikir kembali, Hek Kay akhirnya mengangguk.
Jika tidak ia tunjukan, Han Ciu juga bisa dengan mudah menemukannya.
“Mari aku antar kesana,” Hek kay setelah berkata.
Lalu tubuhnya melesat, sedangkan Han Ciu beserta rombongan mengikuti di belakang Hek kay.
Tak lama bergerak, Hek kay sudah berdiri di depan sebuah gedung yang megah.
“Ini rumah bangsawan Jiang Sun, yang sekarang menjadi milik Huang Zilin.”
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Hek Kay.
Lalu Han Ciu masuk ke gedung besar yang pintu gerbang depannya tak di jaga oleh busu.
Saat berada di halaman gedung, seorang pria paruh baya datang menghampiri rombongan Han Ciu.
“Maaf apa yang bisa kami bantu tuan ?” pria paruh baya itu berkata.
“Kami mencari Huang Zilin,” Han Ciu berkata sambil menatap pria paruh baya yang ada di depannya.
Pria paruh baya yang ternyata Bangsawan Jiang menarik napas, kemudian berkata.
“Nasib manusia memang tidak pernah tahu jadi apa kedepannya, ternyata sipat ingin selalu puas malah menjadi bumerang untuk diriku sendiri.
“Seperti yang kalian lihat, sekarang aku adalah pelayan Huang Zilin.
Serta ingin memberi tahu untuk kebaikan kalian, lebih baik kalian kembali saja, sebelum lblis itu datang.
Hmm !
“Ada tamu bawa rezeki kenapa tidak kau suruh masuk ke dalam,”
Terdengar suara dari dalam ruangan, seorang kakek dengan santai. Berjalan menghampiri Jiang sun lalu betanya, “siapa mereka ?” tanya kakek yang bertubuh besar dan tinggi kepada Jiang Sun sambil menatap menatap Han Ciu beserta rombongan.
Selamat bertemu tuan, aku bernama Han Ciu yang,.
“Kami baru saja dari turun dari kapal, saat Hendak ke penginapan, kami lalu mendengar kabar berita bahwa tuan adalah pemilik kota, jadi kami langsung kesini.
“Tuan muda ! mari silahkan uduk, Huang Zilin berkata setelah mereka berada di Ruangan Dalam .
“Tuan Huang, kami dengar kau sangat suka dengan taruhan ? Tanya Han Ciu sambil menatap tajam ke arah Huang Zilin.
Ha Ha Ha.
__ADS_1
“Kalian sudah datang dan bertamu di tempatku, tentu saja harus bertaruh sebelum meninggalkan tempat ini,” Huang Zilin berkata.
“Kami tak punya harta tuan ! lalu apa yang bisa di jadikan taruhan,” ucap Han Ciu.
“Apa saja bisa !, kalian kan punya tangan, kaki, kepala.” Itu bisa buat taruhan, ucap Huang Zilin.
“Apa tuan juga mau bertaruh yang sama denganku ?” tanya Han Ciu sambil menatap tajam ke arah Huang Zilin.
“Aku punya banyak harta, kau tinggal sebut berapa harga dari kepala temanmu atau bisa juga kepalamu sendiri.
“Jika seperti itu, tidak adil namanya.”
“Anggota tubuhku tak bisa kuberikan, walaupun di tukar oleh apa yang kau punya di kota ini.
Hmm !
Rasa ingin bertaruh, membuat tubuh Huang Zilin bergetar.
“Jadi apa maumu ?” tanya Huang Zilin.
Bagaimana jika kita bertaruh dengan tubuh kita masing - masing.
“Apa maksudmu anak muda ?”
“Jika aku kalah, aku siap menjadi pelayan, begitu pun sebaliknya, apa tuan Setuju. ?”
Ha Ha Ha.
Bukan Huang Zilin namanya jika tak mau bertaruh.
“Baik, aku terima taruhanmu.”
"Yang kalah akan menjadi pelayan, lalu permainan apa yang akan kita lakukan ?" tanya Huang Zilin.
"Anak buahku yang akan melakukannya, dan permainannya bukan seperti yang biasa, tapi siapa yang lebih kuat dan masih berdiri minum racuan dialah yang menang.
"aku ak peduli dengan siapapun, yang penting bertaruh."
"Baik aku terima tangtanganmu.",
Phuih !
"kau pikir aku akan kalah !" tenaga dalamku sudah tinggi, aku bisa menahan sementara racun yang masuk kedalam perut."
he he he
sambil menatap Han Ciu, Huang Zilin berkata.
"Bersiaplah menjadi pelayanku anak muda."
__ADS_1