
Rombongan Han Ciu meninggalkan padang rumput Taiyuan setelah membakar mayat² kedua prajurit yang tewas.
Ribuan mayat di bakar dan menimbulkan bau yang tak sedap.
Jika tak di bakar, ribuan mayat akan busuk dan bisa menimbulkan wabah penyakit, jika di kubur, waktu mereka banyak terbuang untuk membuat banyak lubang.
Han Ciu beserta anak buahnya.
Bergerak masuk wilayah Hengshan timur.
Setelah menemui tempat luas, pasukan Han Ciu mendirikan tenda, untuk istirahat, karena dalam beberapa hari mereka terus bergerak dan bertempur.
Pedang Api memberi hormat ketika mereka berkumpul.
“Ketua! Apa yang harus kita lakukan kepada 1000 prajurit bintang timur yang sudah menyerahkan diri? Tanya Pedang api.
“Ajak mereka untuk bergabung dengan kita, dan awasi mereka dengan ketat! Jangan sampai kita lengah, jika mereka memberontak di tengah pasukan kita, itu akan berbahaya dan melemahkan mental pasukan kita,” ucap Han Ciu.
Pedang api mengangguk mendengar perkataan sang ketua dan membenarkan apa yang di katakan oleh Han Ciu.
“Lalu bagaimana dengan prajurit musuh yang tidak mau menyerah? Tanya Tongki.
“Kita jauh dari tempat kita, jika kita tahan dan membawa mereka, itu akan sangat merepotkan karena kita harus selalu mengawasi, jika kita taruh mereka di sini, dan mereka melarikan diri dan memberitahu posisi kita, itu akan sangat berbahaya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Tongki kembali bertanya.
“Bunuh mereka.”
“Sekalian untuk peringatan bagi pasukan bintang timur yang bergabung, agar mereka tahu kita tidak main² jika mereka akan berkhianat.”
Tongki serta yang lain, yang sedang berkumpul anggukan kepala mendengar perkataan sang ketua.
Karena memang itu pilihan yang mereka punya.
“Nah saudara Ming, kau dengar sendiri bukan perkataan ketua? Ucap Tongki.
“Apa maksud mu berkata seperti itu? Tanya Ming Mo sambil menatap Tongki.
“Kau kan orang yang paling kejam dan tak banyak bicara diantara kita yang ada di sini! Jadi menurutku kau yang paling pantas menjadi algojo,” ucap Tongki.
Phuih!
“Enak sekali kau bicara,” Ming Mo berkata sambil mendengus.
“Lalu apa kerjamu? Tanya Ming Mo.
“Tugasku adalah menanyai mereka, mau menyerah dan ikut bergabung tidak,” ucap Tongki.
“Jika mereka bilang tak mau? Kembali Ming Mo bertanya.
“Tinggal kau bunuh,” kan gampang.
Phuih!
__ADS_1
“Enak sekali tugasmu! Sedangkan tanganku harus berlumuran darah,” Ming Mo kembali berkata.
“Jika kita tukar tugas, kau kan belum tentu bisa bertanya kepada mereka.”
Hanya...Hmm....Hmm dan Hmm.
“Malah akan tambah repot,” ucap Tongki.
Zhain Li Er mendengus mendengar perkataan mereka berdua, karena mereka berdua terus berdebat, membuat mereka yang hadir diam mendengarkan.
Zhain Li Er menatap tajam dengan mata penuh ancaman ke arah Tongki, karena memang kakek itu yang telah memancing perdebatan dengan Ming Mo.
“Kau mau diam tidak? Tanya Zhain Li Er.
Tongki langsung angkat tangan.
“Diam....aku diam,” ucap Tongki.
“Ketua! lalu apa selanjutnya langkah yang akan kita ambil! Apa kita harus menyerang Hengshan timur? Tanya Pedang api setelah melihat semua yang hadir diam.
“Untuk apa kita menyerang Hengshan timur, apa paman Pedang api yakin, prajurit bintang timur banyak berkumpul di kota Hengshan? Han Ciu balik bertanya.
“Hamba tak yakin prajurit bintang timur banyak berada di kota Hengshan timur, setelah membaca surat yang di kirim oleh tuan Liu Bang,” ucap Pedang api.
“Begitu juga dengan aku paman! Pasukan bintang timur sekarang berpusat di tiga kota yang berdekatan, Zulu, Handan serta Dong.
“Sebelum Manusia racun tewas, ia mengatakan bahwa Xiang Yu bersama Han Cikung ada di kota Zulu.
“Jadi kita harus berangkat ke Zulu, tapi kita juga harus berhati hati karena pasukan musuh sangat banyak, kita harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.”
Sekarang kita bisa istirahat di sini untuk memulihkan tenaga kita yang terkuras dan menyembuhkan prajurit yang terluka.
“Pedang kiri dan kanan, selama kita istirahat kau latih prajuritmu bertempur, agar mereka bisa menghadapi pasukan musuh dan tidak bertindak konyol.” Ucap Han Ciu.
Pasukan kita hanya tinggal kurang lebih 7000 orang dan itu termasuk dengan 2000 pasukan yang kau selamatkan ketika terjadi pertempuran di padang rumput Taiyuan.
Pedang kiri dan kanan anggukan kepala, menerima perintah dari Han Ciu.
“Sebarkan mata – mata di daerah sekitar sini, juga cari tahu kabar dari pasukan pusat dan tindakan apa yang sedang mereka lakukan,” Han Ciu berkata sambil menatap ke arah Pedang api.
Pedang api anggukan kepala.
Mereka yang berkumpul kemudian makan makanan ringan sambil minum arak dan membicarakan langkah² yang akan mereka ambil untuk ke depan.
****
Sementara di kota Henei dan kota Dang, Liu Bang bersama dengan anak buahnya terus mempersiapkan kedua kota dari serangan pasukan bintang timur.
Jebakan² serta pertahanan kota Henei dan Dang semakin di perkuat oleh Liu Bang.
Semakin hari semakin panas laporan yang di berikan oleh pengemis tongkat hitam.
Pasukan – pasukan bintang timur mulai bertahap mengisi 3 kota yang akan di jadikan basis pertahanan mereka untuk menggempur atau bertahan dari serbuan pasukan penguasa barat.
__ADS_1
Liu Bang, Beng San, ketua Chen serta Pedang langit sedang berkumpul membicarakan tentang segala hal yang terjadi ke depan dari perjuangan ini.
“Paman Beng San, bagaimana dengan, jebakan² di sekitar kota Henei dan kota Dang? Tanya Liu Bang.
“Hamba sudah membuat jebakan² di depan benteng kedua kota, hamba rasa jebakan² yang hamba buat bisa memperlambat gerak pasukan bintang timur.
“Jika pasukan kita taat dan menuruti perintah yang sudah aku siapkan, hamba rasa bukan hanya memperlambat, tapi juga bisa mengurangi pasukan musuh,” jawab Beng San.
Liu Bang anggukan kepala mendengar perkataan Beng San.
Setelah mendapat jawaban memuaskan dari Beng San.
Liu Bang lalu bertanya kepada ketua Xiao Chen.
“Ketua Chen, bagaimana dengan pasukan kita, apa ada tambahan? Tanya Liu Bang.
“Sebenarnya banyak yang ingin bergabung dengan kita yang mulia Liu! Tetapi mereka yang ingin bergabung, kebanyakan dari penduduk yang ada di wilayah barat, sebagian juga ada dari kota wilayah timur yang mengungsi.
Tetapi waktu kita yang sudah mepet dan pasukan musuh yang mulai bergerak, terpaksa aku membatasi mereka.
“Aku hanya menerima calon prajurit yang benar² siap dan punya kemampuan, yang pernah berlatih silat dan orang dunia persilatan yang ingin bergabung langsung di terima, tetapi mereka yang ingin bergabung dan belum mempunyai ilmu silat, atau dasar dari ilmu keprajuritan, terpaksa kami menolak mereka.
“Alasan pertama adalah, waktu kita sedikit dan tak bisa melatih mereka.
“Alasan kedua, jika terjadi pertempuran, mereka akan menjadi pasukan yang akan melemahkan mental bertarung pasukan kita, jika mereka tidak siap dan mundur atau melarikan diri dari pertempuran.
“Dan alasan yang terakhir adalah, kita tidak mempunyai bekal yang cukup untuk mereka yang ikut bergabung.
“Aku memperkirakan jika kita menerima mereka dan perang ini sampai berlarut larut, nanti kita juga yang akan repot, karena kekurangan bekal ketika perang masih berlangsung, dan itu akan menjadi hal yang sangat membahayakan perjuangan kita,” ucap Xiao Chen.
“Jadi kita ada tambahan pasukan kurang lebih 3000 prajurit yang menurutku benar² siap untuk bertempur,” lanjut perkataan Xiao Chen.
Liu Bang tersenyum mendengar laporan dari Xiao Chen, ia puas mendengar persiapan akhir yang mereka lakukan.
Aku memang tidak mempunyai dana yang cukup untuk perbekalan pasukan, dan aku berterima kasih kepada bangsawan Sa Sie Hwa yang telah membantu memberi dan meminta bantuan dari para bangsawan yang ada di wilayah barat, untuk menyiapkan perbekalan pasukan kita.
Menurut perhitunganku, pasukan bintang timur dalam beberapa hari ini pasti akan menggempur kedua kota Henei dan kota Dang.
Pedang langit terkejut mendengar perkataan Liu Bang.
“Maaf tuan! Kapan tuan bertemu dengan nyonya ketua? Tanya Pedang langit.
“Beberapa hari yang lalu ia kesini, dan ia menyuruh aku untuk merahasiakan ini kepada paman, selir kedua dari keponakanku itu sekarang sedang bersama beberapa orang dari perguruan selaksa pedang, sedang menyusul keponakan Han.
“Lalu bagaimana dengan telaga barat? Tanya Pedang langit kepada diri sendiri.
“Paman tak usah khawatir, Sa Sie Hwa sudah mendapat ijin dari Tie An Nio, dan ia juga memberikan banyak pil penawar racun kepadaku dari Zee In Biauw untuk persiapan jika musuh menggunakan racun," Liu Bang berkata.
“Aku pikir sebentar lagi Sa Sie Hwa akan bertemu dengan keponakan ku itu,” batin Liu Bang sambil tersenyum.
Dan benar perkiraan dari Liu Bang, setelah bergerak dari Henei, Sa Sie Hwa menuju kota Hedong dan mencari tahu kemana pasukan Han Ciu bergerak, setelah mendengar pertempuran di padang rumput Taiyuan, kemudian Sa Sie Hwa langsung menuju Hengshan timur dan akhirnya.
Seorang gadis cantik dengan pakaian mewah sedang berdiri di hadapan tenda tempat Han Ciu tinggal, dan gadis itu adalah.
__ADS_1
Sa Sie Hwa