
“Apa kau gila? Tanya Dewi Kipas mendengar perkataan Tongki.
“Aku memang gila! Dan kegilaanku akan sembuh jika kita menikah,” ucap Tongki.
Dewi Kipas menarik nafas panjang mendengar perkataan Tongki dan ia mengerti, tetapi sebagai seorang wanita ada tata cara dan adat yang tak bisa ia langgar, ia juga tak bisa berkata sembarangan dan harus mencari kesempatan yang tepat untuk menyampaikan maksud hatinya itu.
Tetapi keadaannya sekarang sedang tidak tepat untuk menyampaikan maksud hati kepada sang kakak.
Akhirnya Dewi kipas menemukan jalan untuk menyampaikan maksud hati mereka berdua.
“Mari ikut aku! Seru Dewi Kipas kepada Tongki.
Bibir Tongki tersenyum melihat wajah sang Dewi ceria, lalu anggukan kepala.
Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam gedung.
Tongki terus mengikuti Dewi kipas sampai di depan sebuah kamar.
Lalu diam menunggu, melihat kekasihnya mengetuk pintu kamar.
Tok....Tok....Tok.
“Masuk! Ucap suara dari dalam kamar.
Wajah Tongki berubah mendengar suara dari dalam kamar.
“Ini....ini kamar siapa? Tanya Tongki kepada Dewi Kipas.
“Ini kamar nyonya ke empat,” bisik Dewi Kipas.
“Tidak....aku tidak mau masuk! Ucap Tongki ketika Dewi kipas menarik tangannya.
“Kenapa kau jadi pengecut seperti ini? Tanya Dewi Kipas sambil mengerutkan kening.
Mendengar perkataan Dewi Kipas, kemudian Tongki berkata.
“Kau kan tahu bagaimana sipat nyonya ke empat terhadapku? Bisa² aku kena tampar,” jawab Tongki.
“Kau mau menikah denganku tidak? Tanya Dewi kipas sambil cemberut.
“Tentu saja mau, lalu apa hubungannya dengan nyonya ke empat? Tongki balik bertanya.
Sebelum Dewi kipas menjawab, suara dengusan dari dalam kamar terdengar dengan nada dingin.
Hmm!
“Tuh kan, apa aku bilang! Tongki berkata dengan wajah pucat, mendengar dengusan Zhain Li Er.
“Kau ikut saja, nanti biar aku yang bicara,” ucap Dewi Kipas sambil menarik tangan Tongki.
Akhirnya Dewi kipas berhasil menarik tangan Tongki dan mengajaknya masuk ke dalam.
Zhain Li Er tengah duduk seorang diri sambil minum teh ketika Dewi Kipas datang.
Melihat Dewi kipas datang bersama Tongki, Zhain Li Er kerutkan kening dan bertanya.
“Ada apa malam² datang ke kamarku? Tanya Zhain Li Er.
“Bibi mau minta tolong kepada nyonya! Ucap Dewi Kipas.
Hmm!
__ADS_1
Zhain Li Er mendengus, mendengar perkataan Dewi kipas sambil melirik Tongki.
Tongki langsung tundukkan kepala begitu melihat Zhain Li Er melirik ke arahnya.
“Apa yang bisa kubantu? Tanya Zhain Li Er kepada Dewi Kipas.
Setelah mendengar perkataan Zhain Li Er, Dewi kipas kemudian menceritakan keluh kesah mereka berdua, yang tak berani bicara kepada Beng San, tentang maksud hati mereka yang ingin meresmikan hubungan.
Zhain Li Er tampak menarik napas mendengar perkataan Dewi Kipas, kemudian bertanya.
“Apa bibi Dewi sudah benar² yakin ingin menikah dengan si kadal tua? Tanya Zhain Li Er.
“Nyonya, bibi sudah yakin, begitu pula dengan dia! Ucap Dewi kipas sambil melirik ke arah Tongki
“Tidak akan menyesal di kemudian hari? Zhain Li Er kembali bertanya kepada Dewi Kipas
Tongki yang terus menunduk dalam hati terus menggerutu, mendengar perkataan Zhain Li Er.
Phuih....Phuih....Phuih!
“Kalau mau bantu ya bantu, kenapa harus tanya sesal dan yakin segala, memangnya aku ini rampok, dasar gadis kampret! Batin Tongki.
“Kami berdua sudah berjanji nyonya, akan saling berbagi hati di usia kami yang sudah senja ini,” jawab Dewi Kipas.
Zhain Li Er anggukan kepala mendengar perkataan Dewi Kipas.
“Aku percaya terhadap Dewi, tapi terus terang aku sangsi terhadap paman Tongki,” ucap Zhain Li Er, kali ini suara dari Zhain Li Er terdengar lembut.
“Nyonya tidak usah khawatir, aku akan selalu menjaga Dewi,” ucap Tongki mendengar perkataan Zhain Li Er.
“Aku percaya kalian akan saling menjaga jika saling mencintai, tetapi terkadang otak paman itu penuh muslihat,” Zhain Li Er membalas perkataan Tongki.
“Nyonya harus percaya padaku, walau banyak muslihat tetapi cintaku tulus kepada Dewi,” ucap Tongki membela diri.
“Kau pikir muslihat itu akan mengenai dirimu saja? Orang terdekatmu juga akan terkena akibatnya jika kau sering menipu orang,” Zhain Li Er berkata ketus ketika mendengar perkataan Tongki.
Tongki diam membenarkan perkataan Zhain Li Er, begitu pula dengan Dewi kipas.
Melihat mereka diam, Zhain Li Er setelah menarik nafas, kemudian berkata kembali.
“Baiklah! Aku akan membantu kalian dan membicarakan masalah ini kepada kak Han.
Dewi kipas dan Tongki saling pandang, kemudian membungkuk memberi hormat kepada Zhain Li Er.
“Terima kasih Nyonya....terima kasih! Ucap Dewi Kipas dan Tongki bersamaan.
Keduanya lalu mohon pamit, setelah Zhain Li Er menyanggupi untuk membicarakan masalah mereka, kepada Han Ciu dan Beng San.
Sambil berjalan hendak keluar kamar, Tongki dan Dewi Kipas saling lirik.
Tongki beberapa kali mengedipkan mata ke arah Dewi Kipas.
Tiba² terlintas di pikiran Tongki untuk mengajak Dewi Kipas ke kamarnya untuk bermesraan.
Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam, Tongki mengirimkan suara jarak jauh yang hanya bisa di dengar oleh Dewi Kipas.
Mulut Tongki mulai bergerak gerak.
“Dewi, setelah dari sini bagaimana jika kita ke kamarku! Tongki berkata, sambil melirik kekasihnya.
Wajah Dewi Kipas merah, mendengar perkataan Tongki yang menggunakan suara jarak jauh, kemudian perlahan kepalanya mengangguk.
__ADS_1
Wajah Tongki berubah ceria, senyum tersungging di bibir kakek tua itu.
Ketika mereka sampai di pintu kamar hendak melangkah keluar, terdengar suara Zhain Li Er.
“Bibi, temani aku tidur! aku malas tidur sendiri,” ucap Zhain Li Er.
Dewi kipas langsung menjawab mendengar perkataan Zhain Li Er, “baik nyonya,”
Mendengar perkataan Zhain Li Er, Tongki mendengus kesal.
“Phuih....Phuih!
“Terkadang menolong tapi terkadang membuatku kesal,” batin Tongki yang wajahnya langsung berubah cemberut.
Dewi kipas langsung kembali menghampiri Zhain Li Er.
Sedangkan Tongki dengan hati kesal, melangkah keluar dari kamar, ketika sudah berada di luar Tongki mendengar suara Zhain Li Er.
“Tutup pintunya!”
Tongki yang sedang kesal, ketika mendengar suara Zhain Li Er langsung menghempaskan pintu yang ia pegang.
Whut....Brak!
Mendengar suara pintu yang terhempas dan menimbulkan suara keras.
Zhain Li Er dan Dewi kipas langsung melesat ke arah pintu.
Mata Zhain Li Er menatap bengis ke arah Tongki.
“Apa yang kau lakukan? Tanya Zhain Li Er.
Tongki terkejut dan tak menyangka kekesalannya secara spontan itu membuat pintu kamar Zhain Li Er rusak, dan kini keduanya tengah menatap ke arah Tongki.
“Maaf....Maaf nyonya! Bajuku tersangkut di pintu,” ucap Tongki dengan wajah pucat.
Dewi kipas tahu kekasihnya sedang kesal dan membanting pintu kamar Zhain Li Er.
Lalu Dewi kipas memberi isyarat mata kepada Tongki untuk pergi.
Tongki membungkuk meminta maaf kemudian berbalik dan melangkah hendak meninggalkan kamar Zhain Li Er.
Tapi belum jauh Tongki melangkah, terdengar suara Zhain Li Er.
“Kembali!
Tongki berbalik mendengar perkataan Zhain Li Er.
“Ada apa lagi nyonya? Tanya Tongki.
“Kau lihat pintu kamarku? Tanya Zhain Li Er sambil menunjuk ke arah pintu yang sebelah engselnya rusak akibat bantingan Tongki.
Tongki anggukan kepala.
Setelah melihat Tongki anggukan kepala, Zhain Li Er kembali berkata.
“Perbaiki”
Tongki hanya bisa anggukan kepala sambil membungkuk, mendengar perkataan Zhain Li Er
Iblis Biru yang hendak ke kamarnya dan melihat Tongki membungkuk di depan Zhain Li Er dan Dewi kipas, mengerutkan keningnya
__ADS_1
Iblis biru sambil lewat di depan Tongki berbisik pelan.
"Ketahuan mengintip"