
Mendengar perkataan Han Ciu, gubernur Cia Kun dan Kai Ko saling pandang, tak lama kemudian keduanya menundukkan kepala tak bicara.
Hmm !
Han Ciu mendengus.
Kota Xianyang akan di serang dari 3 kota.
Beidi dari kiri, Hedong dari kanan sedangkan kota Shang menyerang dari tengah.
Wajah gubernur Cia Kun serta komandan Kai Ko semakin pucat mendengar perkataan Han Ciu.
“Berapa pasukan yang ada di Xianyang ? Tanya Han Ciu sambil menatap komandan Kai Ko.
Kurang lebih 500 pasukan tuan muda, 50 pasukan panah, serta 150 pasukan berkuda, sedangkan sisanya para prajurit di garis depan.
Tetapi...!
Kai Ko lalu diam tak melanjutkan ucapannya.
“Tetapi apa ? Tanya Han Ciu sambil menatap heran.
“500 pasukan, tapi yang terlatih hanya 100 pasukan saja,” ucap Kai Ko sambil menunduk.
Hmm !
“Dengan pasukan Tangan Baja kalian bisa hancur, bagaimana jika di serang oleh 3 kota,” ucap Dewi Kipas sambil gelengkan kepala.
Aku tak tahu, berapa pasukan yang di kirim dari Sanchuan dan kapan mereka datang, kita harus buat persiapan, jika pasukan Xiang Yu menyerang, kota Xianyang harus bertahan sampai bantuan datang.
“Jadi....jadi tuan muda sudah minta bantuan ke Sanchuan ? Ucap gubernur Cia Kun.
“Benar ! tapi aku tak bisa memastikan, kapan bantuan itu sampai di sini.
“Komandan Kai Ko, dari sekarang pasukan kota Xianyang harus selalu siap, ajak para pemuda yang mampu dan mau menjadi prajurit, tapi jangan memaksa.
“Sebarkan mata – mata untuk melacak keberadaan serta jumlah musuh, serta informasi, kapan pihak musuh menyerang kota Xianyang.”
Mendengar perkataan Han Ciu, wajah Kai Ko tampak bersemangat.
“Baik Tuan ! saya akan memberi tahu para perwira serta anak buahnya agar selalu siap.” Setelah berkata, Kai Ko memberi hormat, kemudian undur diri.
Latih pasukan panah, setiap hari adakan patroli di sekeliling Xianyang.
Gubernur Cia kun anggukan kepala, mendengar perkataan Han Ciu.
Dewi Kipas serta paman Tongki berbagi tugas, mengawasi jalur dan orang dari kota Hedong serta kota Shang.
“Aku dari sisi kiri memantau Beidi
“Bersamaku,” Zhain Li Er memotong perkataan Han Ciu.
Puih !
“Memangnya ada yang sudi denganmu, batin Tongki sambil melirik ke arah Zhain Li Er.
Cis !
“Kau pikir aku mau satu kelompok denganmu ? Zhain Li Er berkata, setelah melihat lirikan Tongki
“Xiao cici bersama bibi Dewi, lanjut perkataan Zhain Li Er.
“kenapa cici harus bersama bibi ? Tanya Xiao Er.
“Cici, kemarin kita sudah sepakat, 2 hari sekali bersama kak Han, dan yang pertama adalah giliran adik,” ucap Zhain Li dengan wajah bersemu merah.
“Dasar licik, masa permaisuri harus kalah dengan selir,” ucap Tongki dalam hati.
“Xiao Er anggukan kepala sambil tersenyum getir,”
“Sekarang istirahat saja dulu, besok setelah segar, baru kita laksanakan tugas kita masing – masing,”
Mendengar perkataan Han Ciu mereka lalu membubarkan diri, setelah gubernur Cia Kun memerintahkan pelayan untuk mengantar Han Ciu serta rombongan ke kamar tamu.
****
Pagi – pagi sekali 2 ekor kuda melesat dari gerbang kota Xianyang ke arah timur, Han Ciu bersama Zhain Li Er bergerak untuk melihat situasi dan keadaan di sekitar kota Beidi.
Han Ciu sudah mendapat keterangan dari Tan Kui tentang kota Beidi, kota yang tidak terlalu besar, serta di kelilingi beberapa kampung di dekat hutan yang mengelilingi kota Beidi.
Kota Beidi letaknya agak terpencil dan jauh dari kota lain, biasanya kota seperti itu memiliki kampung yang lumayan besar untuk mendukung kota yang ada di dekat mereka, sepasang siluman hutan Hanzhong, Tan Kui memberitahu Han Ciu.
Kampung Hansi adalah kampung terbesar pendukung kota Beidi, letak kampung Hansi dengan kota Beidi di pisahkan oleh hutan yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
“Adik ! tujuan kita adalah kampung Hansi, kita harus menjaga sikap, agar mereka tak curiga terhadap kita.” Han Ciu memberi penjelasan kepada Zhain Li Er sambil berjalan dengan mengendarai kuda.
“Adik akan selalu menuruti apapun perkataan kak Han,” ucap Zhain Li Er sambil melirik penuh arti ke arah suaminya itu.
Han Ciu tersenyum mendengar perkataan selir Ke 3 nya, selir yang dianggap paling galak dan berbicara seenaknya oleh anak buah Han Ciu.
Han Ciu bersama Zhain Li Er memacu kuda mereka agar sebelum malam bisa sampai di kampung Hansi.
Han Ciu serta Zhain Li Er di beri kuda pilihan oleh gubernur Cia Kun, kuda terus berlari dengan kencang.
Kampung Hansi adalah kampung tempat persinggahan antara Xianyang dan Beidi, juga kota Hedong jika mereka mau memotong jalan tidak melewati Xianyang.
Setelah melewati beberapa bukit serta hutan kecil, akhirnya Han Ciu serta Zhain Li Er sampai di hutan bambu yang berada di luar perkampungan Hansi.
Hutan bambu yang tak begitu lebat, di belah oleh jalan yang tak begitu besar.
Jalan yang menuju perkampungan Hansi.
Sambil mengusap usap leher kuda.
“Kuda hebat, benar....benar kuda yang hebat,” ucap Han Ciu.
“Adik ! agaknya kita bisa bersantai sejenak sebelum istirahat, menurut keterangan pencari kayu tadi, setelah melewati hutan bambu ini, kita sampai di kampung Hansi.” Lanjut ucapan Han Ciu.
“Kenapa Kak Han tidak mengajak Fang Ji ? Tanya Zhain Li Er.
Aku belajar dari pengalaman sewaktu bertemu dengan paman Tan Kui serta Bibi Tan Ling.
“Fang Ji terlalu mencolok perhatian orang, kita tidak bisa bebas bergerak jika membawanya,” Zhain Li Er anggukan kepala ketika mendengar penjelasan Han Ciu.
Mata Han Ciu melihat sekeliling hutan bambu yang ia lewati.
Hmm !
Hutan bambu ini sangat cocok buat pasukan panah dan ahli senjata rahasia yang mempunyai tenaga dalam.
Sebelum sore, Han Ciu serta Zhain Li Er sampai di kampung Hansi.
“Kampung yang lumayan besar,” batin Han Ciu.
Banyak mata yang memperhatikan Han Ciu serta Zhain Li Er ketika masuk semakin dalam di kampung Hansi.
Sebuah bangunan yang lumayan besar tapi sederhana di tengah kampung.
Dia atas pintu bangunan tersebut ada sebuah papan nama yang bertuliskan. “Penginapan Hansi.”
Zhain Li Er anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.
Seorang pelayan datang tergopoh gopoh, kemudian memberi hormat kepada Han Ciu yang duduk diatas kuda di depan penginapan.
“Selamat datang.....selamat datang, tuan dan nona,” aku pelayan penginapan Hansi, ucap pelayan itu.
Han Ciu serta Zhain Li Er turun dari kuda, kemudian memberikan tali kekang kuda mereka kepada pelayan itu, “beri rumput terbaik buat kuda – kuda kami,” ucap Han Ciu.
“Baik tuan,” pelayan itu menjawab perkataan Han Ciu.
Setelah masuk ke dalam, seorang pria paruh baya tersenyum sambil memberi hormat sambil berkata.
“Ada yang bisa kami bantu tuan ?
“Kami ingin menginap di Hansi paman, apa ada kamar kosong ? Tanya Han Ciu.
“Ada....ada tuan muda,” pria itu berkata sambil tersenyum.
Apa tuan butuh dua kamar ? Tanya pria itu.
“Kenapa harus 2 ? kami suami istri, satu kamar sudah cukup,” Zhain Li Er menjawab perkataan pria itu.
“Pesan 1 kamar, yang bagus, besar dan ada ruang tamu,”
Pria itu tampak termenung mendengar perkataan Zhain Li Er.
“Kami hanya punya kamar biasa dan tidak terlalu besar nyonya, tapi ada ruang tamu di dalam kamar tersebut,” ucap Pria itu.
“Ya sudah, kamar itu kami ambil paman ! ucap Han Ciu.
Pria itu kemudian memanggil salah seorang pelayan, setelah mendengar perkataan Han Ciu.
Akui !
Ya, Cengcu ! Akui menjawab panggilan pria paruh baya tersebut.
Mendengar jawaban pelayan yang bernama Akui, Han Ciu kerutkan kening.
__ADS_1
Apa orang ini adalah Cengcu kampung Hansi.
Melihat Han Ciu yang wajahnya seperti bertanya tanya, pria paruh baya itu tersenyum.
Benar apa yang ada di pikiran tuan, saya Kho Sam, generasi ketiga pemilik penginapan Hansi, sekaligus Cengcu di Hansi.
Hmm !
Memang pas, sebab yang datang menginap adalah orang dari luar perkampungan, jadi kepala kampung pasti tahu, siapa saja yang datang ke kampungnya.
“Baik Cengcu, tolong tunjukan kamarnya, kami ingin segera istirahat.” Han Ciu berkata sambil tersenyum.
Kho Sam tersenyum, pria paruh baya itu mulai suka terhadap sikap Han Ciu yang sopan.
Akui menunjukkan kamar di ikuti oleh Han Ciu serta Zhain Li Er.
Setelah sampai, Akui mempersilahkan masuk.
“Hamba akan mengambil arak serta hidangan ringan, apa tuan dan nyonya hendak makan ? Tanya Akui.
“Nanti saja ! Ucap Zhain Li Er
Saat masuk, Zhain Li Er melihat sebuah ruangan yang hanya ada satu meja serta 2 buah kursi.
“Kamar ini sungguh bersih,” batin Zhain Li Er.
“Kak Han, Coba lihat ! Seru Zhain Li Er sambil menarik tangan Han Ciu.
Sebuah tempat tidur dengan seprai merah, di tutup dengan kelambu yang juga merah.
“Ini seperti....seperti tempat tidur sewaktu kak Han menikah dengan cici Xiao Er.” Zhain Li Er berkata sambil memeluk Han Ciu.
Tok....tok....tok !
Tiga kali suara ketukan pintu kamar terdengar.
Zhain Li Er jalan ke arah pintu, setelah membuka pintu, tampak Akui membawa nampan yang berisi guci arak yang di beri pita merah, serta beberapa piring kecil makanan ringan.
“Eh....kenapa guci araknya di beri pita merah ? Tanya Zhain Li Er.
Ini memang hadiah bagi tamu yang menyewa kamar pengantin, mendapat tambahan satu guci arak pengantin.
“Bawa makanannya sekalian ya, yang enak – enak, ini buat mu ! Seru Zhain Li Er lalu memberi Akui 2 tail perak.
Wajah Akui terbelalak, 2 tail perak baginya sangat besar karna itu sama dengan gajinya 1 bulan bekerja di penginapan Hansi,” terima kasih nyonya, sekarang juga Akui akan siapkan makanan.
“Kenapa pesan makan, apa adik sudah lapar ? Tanya Han Ciu.
Kak Han, besok kita akan keliling kampung Hansi sampai hutan yang menjadi batas dengan kota Beidi.
“Jadi hari ini kita istirahat penuh di dalam kamar, aku akan pijit seluruh tubuh kak Han dari atas sampai bawah,” Zhain Li Er berkata sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zhain Li Er memberitahu Han Ciu bahwa kamar yang mereka sewa adalah kamar pengantin, dan arak yang sekarang mereka minum adalah arak pengantin.
Mereka bersantap, setelah santai mereka lalu duduk sambil minum arak pengantin.
“Kenapa adik terus melihatku ? Tanya Han Ciu melihat Zhain Li Er selalu menatap wajahnya sambil senyum.
Zhain Li Er menundukkan kepala, kedua pipinya merah akibat pengaruh arak.
“Kak Han ! Kau pasti lelah, mari kupijit,” ucap Zhain Li Er sambil menunduk, tak berani menatap Han Ciu.
Han Ciu memadamkan pelita, kemudian menurunkan kelambu, keduanya lalu saling peluk dan cium, melepaskan kerinduan.
Zhain Li Er berusaha memberikan yang terbaik, ia juga ingin punya anak dari Han Ciu, agar posisinya aman karena sekarang tambah Xiao Er yang menjadi istri sah Han Ciu.
Keduanya terlelap tanpa busana, hanya selimut yang menutupi kedua tubuh mereka, tapi senyum puas tampak tergambar di bibir Zhain Li Er, yang tidur sambil memeluk Han Ciu.
Ke esokkan hari, menjelang siang, dua ekor kuda bergerak santai ke keluar kampung Hansi.
Seorang pemuda tampan yang membawa sepasang pedang di punggung dengan leher tertutup syal, serta seorang gadis yang juga cantik jelita dengan pedang di punggung, mereka berdua berkuda sambil bercakap cakap.
“Kak Han, semoga yang semalam bisa berhasil,”
“Berhasil apa adik Li ? Tanya Han Ciu.
“Tentu saja berhasil jadi anak,” ucap Zhain Li Er sambil cemberut.
“Memangnya kau tak suka punya anak dariku ? Lanjut perkataan Zhain Li Er.
“Tentu saja suka, tapi aku yakin, anak kita pasti galak seperti ibunya,”
“Kenapa bisa begitu ? Tanya Zhain Li Er sambil menatap heran ke arah Han Ciu.
__ADS_1
“Sudah terlihat,” Han Ciu berkata sambil cemberut, kemudian Han Ciu menarik syal yang ia pakai di leher.
“Leherku merah semua, habis kau gigit.”