
Sebelum berangkat, ke telaga barat akhirnya, Han Ciu dan Zhain Li Er menemui Beng San mewakili Tongki melamar Dewi Kipas.
Beng San dan Liu Bang terkejut dan tak menyangka, kemudian memeluk Tongki dengan hangat lalu menepuk nepuk bahunya.
Kenapa Saudara Tongki tidak bicara dari dulu jika ingin menikahi adikku? Tanya Beng San.
“Aku ingin bicara tapi melihat kakak Beng San sibuk, jadi mengurungkan niatku ini,” ucap Tongki sambil tersenyum malu.
Beng San kemudian menarik nafas.
Setelah itu memeluk adiknya, “Dewi! Kau adalah adikku satu²nya dan keluarga Beng hanya tinggal kita berdua, aku akan selalu mendukung apapun yang akan membuat kau bahagia,” ucap Beng San.
Dewi kipas sangat terharu mendengar perkataan kakaknya, “terima kasih Kak,” ucap Dewi kipas, tampak matanya berkaca kaca menahan haru.
Liu Bang tersenyum kepada Han Ciu.
“Ponakan! Sepertinya kau harus berdiam sehari lagi di Sanchuan, karena akan ada perayaan di sini, Liu Bang berkata kepada Han Ciu sambil melirik Dewi Kipas dan Beng San yang tengah berpelukan.
Han Ciu anggukan kepala mendengar perkataan Liu Bang.
Anggota perguruan Selaksa pedang menyiapkan pesta sederhana untuk perayaan pernikahan antara Tongki dan Dewi Kipas, Sa Sie Hwa mengeluarkan sejumlah uang untuk acara pesta kecil²an itu.
Dewi Kipas kemudian di bawa oleh Xiao E, Sa Sie Hwa dan Zhain Li Er.
Sementara Tongki di bawa oleh Huang Zilin dan iblis Biru untuk di dandani.
Di dalam kamar iblis biru memilih pakaian yang pas untuk Tongki.
Hmm!
“Pakaian yang tersedia aku lihat tidak ada yang cocok untukmu,” ucap Iblis biru.
“Apa mungkin kau terlalu tua, jadi tak pantas memakai pakaian pengantin ini! Ucap Iblis biru sambil terus memilih milih pakaian untuk sahabatnya.
Phuih!
“Kau sepertinya iri padaku,” ucap Tongki kepada iblis biru.
“Aku iri, Kenapa harus iri? jika ingin kawin aku tinggal pergi ke rumah bunga dan memilih gadis yang muda dan kusuka,” ucap Iblis biru.
“Nah itu yang bikin kau hidup dalam kesesatan, dosa tolool! Ucap Tongki
“Lantas nanti jika kau sakit dan mati, memang gadis² di rumah bunga mau merawatmu? Tanya Tongki.
Iblis biru diam dan tak menjawab perkataan sahabatnya, karena apa yang di katakan memang benar.
Melihat iblis biru diam Tongki kemudian berkata kepada Huang Zilin.
“Saudara Huang bagaimana jika kita bertaruh? Ucap Tongki.
Huang Zilin mendengar Tongki ingin bertaruh langsung melesat.
“Apa....saudara Tongki ingin bertaruh apa denganku? Tanya Huang Zilin, wajahnya tampak penasaran.
“Kita bertaruh 500 tail perak, jika aku menang, hutangku lunas dengan saudara Huang, bagaimana? Tanya Tongki.
__ADS_1
“Baik....Baik! Bagaimana kita taruhan? Huang Zilin balik bertanya.
Aku bertaruh, bahwa aku akan menikah hari ini, bagaimana? Tanya Tongki.
Phuih!
“Dasar kadal tua,” batin Iblis biru mendengar taruhan yang di usulkan Tongki.
Ha Ha Ha
Huang Zilin tertawa mendengar perkataan Tongki.
“Maaf saudara Tong, pertaruhan ini tidak bisa ku lakukan, karena hasilnya sudah bisa di tentukan,” ucap Huang Zilin.
“Jadi saudara Huang takut? Tanya Tongki.
“Aku tidak takut, tapi yang saudara Tong katakan tadi bukan taruhan namanya,” ucap Huang Zilin.
“Tapi saudara Tongki tidak usah khawatir, hutang saudara Tong tidak usah di bayar.”
Belum selesai Huang Zilin berkata, Tongki langsung meraih tangan Huang Zilin.
“Terima kasih....Terima kasih saudara Huang,” ucap Tongki.
Tidak apa saudara Tong, anggap saja sebagai hadiah dariku, saudara Tongki cukup bayar setengahnya saja,”
Phuih!
“Tadi kau bilang tidak usah bayar? Ucap Tongki.
“Teman macam apa kau? Teman mau menikah bukannya ikut gembira, malah kau tagih hutang,” ucap Tongki sambil cemberut.
“Saudara Tong....hutang adalah hutang,” ucap Huang Zilin sambil tersenyum.
“Sudah kau pilih belum pakaian yang akan kau gunakan? Tanya Iblis biru melihat keduanya masih terus bercakap cakap.
“Kenapa aku yang harus memilih! Lalu untuk apa kalian berdua berada di sini? Tanya Tongki.
“Sudah kau pilih saja jangan banyak bicara! Seru Iblis biru.
Tongki kemudian memilih pakaian berwarna merah yang identik dengan acara pernikahan.
Setelah memakai pakaian dan berdandan di bantu oleh kedua sahabatnya.
Tongki duduk di kursi sambil minum arak yang tersedia, kemudian bertanya kepada kedua sahabatnya itu.
“Bagaimana penampilanku sekarang? Tanya Tongki.
Iblis biru serta Huang Zilin melihat wajah Tongki bergantian.
Tiba² Iblis biru bertanya, kau sudah mandi belum?
Tongki gelengkan kepala.
“Pantas saja! Mau menjalani upacara sakral kenapa kau tidak mandi? Tanya Iblis biru sambil gelengkan kepala, “wajahmu terlihat suram,” lanjut perkataan kakek berwajah pucat itu.
__ADS_1
Iblis biru teringat dengan sebuah cara, ia sering melihat tukang buah atau pedagang sayuran yang sampai siang dagangannya belum habis terjual, sementara buah dan sayurannya sudah terlihat layu, lalu membanjur dengan arak.
“Kau duduk dan jangan membuka mata,” ucap Iblis biru kepada Tongki.
Tongki menuruti perkataan sahabatnya itu.
Iblis biru kemudian mengambil dua buah cawan arak, setelah ia isi, satu cawan di berikan kepada Huang Zilin sambil berbisik di telinga Huang Zilin.
Huang Zilin anggukan kepala mendengar bisikan Iblis biru.
Iblis biru meminum arak yang berada dalam cawan, kemudian berkumur, lalu arak di semburkan ke arah wajah Tongki yang sedang duduk sambil memejamkan mata.
Puah!
Iblis biru menyembur wajah Tongki dengan arak.
“Jangan buka mata,” ucap Iblis biru melihat kelopak mata Tongki bergerak gerak.
Tongki menuruti perkataan Iblis biru.
Iblis biru lalu memberi isyarat kepada Huang Zilin.
Puah!
Si Iblis petaruh kemudian melakukan hal yang sama kepada Tongki.
Setelah itu Iblis biru mengambil sebuah kain, lalu perlahan mengelap wajah Tongki yang basah oleh arak.
Setelah kering, perlahan Iblis biru bergerak ke kiri dan ke kanan sambil melihat wajah Tongki.
Hmm!
“Sekarang sudah terlihat segar,” ucap Iblis biru sambil tersenyum
“Kau boleh membuka mata! Seru Iblis biru.
Tongki membuka mata, lalu tersenyum kepada Iblis Biru.
“Terima kasih”
“Mari kita keluar! Ajak Iblis biru.
Ketiganya lalu berjalan keluar.
Tongki berjalan di tengah di dampingi oleh Iblis biru serta Huang Zilin di kiri dan kanan menjadi pendamping.
Ketika mereka sampai, Dewi Kipas dan kawan² mereka sudah berkumpul, sebuah altar persembahan yang terdapat beberapa batang lilin berwarna merah terlihat di atas altar.
Melihat Tongki datang bersama Iblis Biru dan Huang Zilin yang lain tersenyum, Dewi kipas tundukkan wajah, karena malu.
Han Ciu yang melihat baju di dekat leher Tongki basah kemudian bertanya.
“Kenapa baju paman basah? Tanya Han Ciu.
Tongki menjawab sambil tersenyum.
__ADS_1
“Biar segar,”