Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 219 Misi Zhain Li Er


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dari Han Ciu.


3 ekor kuda melenggang perlahan keluar dari kota Beidi menuju jalan ke arah Kota Shang.


Beberapa orang yang sedang minum di kedai arak menatap tajam ke arah Zhain Li Er serta kedua orang yang ikut di belakang Zhain Li Er.


Lelaki itu tak lama kemudian membayar tagihan makan dan minum, lalu dengan terburu buru pergi meninggalkan kedai arak tempatnya bersantai.


Setelah selir ketiganya pergi, Han Ciu kemudian memanggil, Talaba, Huang Zilin serta sepasang siluman hutan Hanzhong.


Setelah mereka datang, kemudian Han Ciu memberitahu maksud hatinya kepada keempat orang itu.


“Mata – mata yang kita kirim untuk memantau serangan pasukan bintang timur yang menyerang dari tengah belum ada kabar, aku khawatir terjadi sesuatu terhadap mereka.


Tetapi yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, kita sama sekali buta akan perkembangan kota Xianyang.


“Talaba serta paman Huang dan paman Tan, bawa 300 pasukan untuk membantu pasukan Xianyang, hantam pasukan bintang timur yang menyerang dari tengah, paman dan bibi Tan pasti sudah menguasai hutan² di sekitar tempat ini dan bisa mencari tempat untuk bersembunyi para prajurit kita.


“Aku yakin dengan bantuan pasukan yang kalian bawa dan menyerang dari belakang, kalian bisa menghancurkan pasukan bintang timur yang menyerang kota Xianyang.


“Aku akan mengawasi dari Beidi, jika kota Shang mengirimkan bantuan, aku sendiri yang akan menahan dan kalau mampu menghancurkan pasukan bantuan mereka.


“Berhasil atau tidaknya tugas kalian, jangan lupa memberi kabar padaku.


“Jika kalian berhasil, kalian bisa langsung ke kota Xianyang, kemudian minta pasukan tambahan untuk membantu paman pedang api serta paman Ming Mo menghabisi pasukan musuh yang menyerang dari kota Hedong.


“Jika kalian berhasil, sampaikan salamku pada paman Pedang Api serta paman Ming Mo, segera taklukan kota Hedong, lalu bersama sama kita kepung kota Shang dari dua sisi.”


Talaba, Huang Zilin serta sepasang siluman hutan Hanzhong anggukan kepala, tanda mengerti maksud dari ketua mereka.


Han Ciu melihat mereka anggukan kepala, kemudian memerintahkan mereka untuk mempersiapkan diri, serta pasukan dan bekal yang akan mereka bawa.


****


Kuda yang di tunggangi Zhain Li Er perlahan berjalan di depan, sementara di belakangnya Tongki bersama Dewi Kipas berkuda ber iringan.


Tapi Zhain Li Er tak mendengar ada percakapan mereka berdua.


Cis !


“Dasar orang tua, tinggal bicara bla....bla susah sekali, bikin repot aku saja, jika pikiran mereka tidak fokus bukankah itu akan mengganggu perjuangan kak Han,” Zhain Li Er berkata dalam hati.


Wajah Zhain Li Er mulai merah, tampak kesal memikirkan Tongki dan Dewi Kipas.


“Bibi, apa kau hafal jalan menuju kota Shang ? Tanya Zhain Li Er.


“Jika ingin ke kota Shang terus berkuda dengan cepat, 3 hari akan sampai,” jawab Dewi kipas,”


“Apa ada kota kecil atau desa tempat singgah di perjalanan menuju kota Shang ? Zhain Li Er kembali bertanya.


“Kota tidak ada, tapi kalau perkampungan ada.


Ada kampung yang bernama Yangku setelah kita menempuh sehari perjalanan mengikuti jalan ini,” jawab Dewi Kipas.


“Nyonya ! Memangnya kita akan ke kota Shang ? Tanya Tongki.

__ADS_1


Cis !


“Kupikir kau bisu,” ucap Zhain Li Er ketika mendengar suara Tongki.


Tongki tak membantah perkataan Zhain Li Er yang menyindir dirinya.


Tongki sadar sudah setengah hari mereka berkuda mengikuti jalan ini, memang baru sekarang ia bicara.


“Untuk apa kita ke kota Shang ? Mau cari mati,” ucap Zhain Li Er.


“Kita mengamati pergerakan orang mereka di kampung Yangku dan sekitar kampung itu, aku yakin banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari sana,” lanjut ucapan Zhain Li Er.


Tapi dalam hatinya Zhain Li Er berkata mendengar perkataan Tongki.


“Jatahku habis oleh adik Xiao jika harus bolak balik 6 hari perjalanan ke kota Shang.


Aku mau keluar memantau situasi, karena dua hari ini adalah jatah adik Xiao bersama kak Han,”


Mata Zhain Li Er berkilat ketika melihat sebuah kedai arak ada di pinggir jalan tak jauh di depan mereka.


“Kita mampir di kedai arak itu, tapi hati² kedai arak itu mencurigakan,” ucap Zhain Li Er sambil mengambil sebuah poci kecil.


Lalu memasukkan sebuah pil yang keluar dari poci ke dalam mulutnya.


Tindakan Zhain Li Er yang di lihat oleh Tongki serta Dewi Kipas kemudian di ikuti oleh mereka.


Setelah sampai di depan kedai, mereka menambatkan kuda, kemudian masuk ke dalam kedai.


Terlihat di dalam kedai arak hanya ada 2 orang tamu yang tengah duduk santai.


Tak lama kemudian seorang pelayan tua datang menghampiri.


“Tuan dan Nyonya mau pesan apa,” tanya pelayan tua itu sambil menatap ke arah Tongki dan Dewi kipas bergantian.


“Siapkan arak serta makanan ringan,” Tongki berkata kepada pelayan itu.


Mendengar pesanan Tongki, pelayan tua itu anggukan kepala kemudian pergi menyiapkan apa yang di pesan.


Setelah pelayan tua itu pergi, Zhain Li Er tersenyum kemudian berkata.


“Sepertinya pelayan tua itu menganggap aku adalah putri kalian.”


Wajah Dewi Kipas tampak merah mendengar perkataan Zhain Li Er, sementara Tongki diam tak menjawab.


Ketika mereka menunggu pesanan, terdengar suara beberapa ekor kuda datang.


Lalu 5 orang bertampang kasar masuk ke dalam kedai.


Brak !


“Pelayan, bawa arak terbaik,” ucap salah seorang dari mereka sambil menggebrak meja.


Pelayan tua keluar sambil membawa guci arak serta makanan ringan, lalu matanya yang tajam melirik ke arah kelima orang itu.


“Sebentar tuan, akan hamba ambilkan arak yang tuan pesan,” ucap pelayan tua itu, lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


Zhain Li Er menuangkan arak ke cawan, mencium sebentar wangi arak, kemudian menenggak arak di ikuti oleh Tongki serta Dewi Kipas.


Setelah merasakan arak yang ia minum, mata Zhain Li Er berkilat lalu berkedip ke arah Tongki serta Dewi kipas.


“Arak beracun,” batin Zhain Li Er setelah meminum arak dari cawan.


Tanpa ragu, Zhain Li Er kemudian menuangkan kembali arak kemudian meminumnya.


Tak lama kemudian.


Brak....Brak !


Kepala Zhain Li Er serta Tongki jatuh kemeja tak sadarkan diri, begitu pula dengan Dewi Kipas.


Ha Ha Ha


“Ternyata tidak susah membuat mereka tak sadarkan diri,”


Terdengar suara tawa dan perkataan dari pelayan tua yang keluar dari dalam.


“Khu Sam, kau memang hebat,” teriak salah seorang dari kelima pengendara kuda yang baru saja datang, kedua tamu yang sudah berada di dalam kedai kemudian bergabung dengan pelayan tua dan kelima orang itu.


“A Siong, tindakanmu sangat mencurigakan dan ceroboh itu bisa membongkar penyamaran kita,” ucap pelayan tua itu dengan nada dingin.


“Hanya menghadapi dua orang tua dan satu bocah, tindakanmu terlalu berhati hati Khu Sam,” A Siong membalas perkataan dari pelayan tua yang dipanggil Khu Sam.


Semua orang yang berada di dalam kedai terkejut, ketika mendengar suara Tongki.


“Apa sudah berdebatnya,” tanya Tongki sambil angkat kepala menatap ke arah Khu Sam dan A Siong.


“Kepalaku sakit jika kalian terlalu lama berdebat,” ucap Zhain Li Er yang bersama dengan Dewi Kipas sama² angkat kepala.


“Ka....kalian sudah sadar,” ucap Khu Sam terkejut melihat ketiga orang yang telah meminum arak yang di campur racun olehnya, tampak segar bugar.


“Kau pikir dengan racun rendahan seperti ini, kalian bisa membunuh kami,” ucap Tongki sambil mengambil guci arak, lalu menenggak arak yang telah di campur racun oleh Khu Sam.


Gluk....Gluk...Gluk !


Tongki setelah meminum arak, kemudian menyemburkan arak yang ia minum ke arah Khu Sam.


Puah !


Khu Sam, A Siong serta yang lain, loncat menghindari semburan arak dari mulut Tongki, mereka lalu mencabut senjata masing – masing dan bersiap.


Zhain Li Er yang melihat gerakan Khu Sam serta A Siong yang menghindari serangan arak Tongki, kemudian berkata.


“Paman dan bibi saja yang hadapi mereka.


“Aku malas bermain main dengan bangsa keroco seperti kalian,”


Tongki mendengar perkataan Zhain Li Er langsung mencabut golok api.


“Wanita duduk, diam dan perhatikan, biar aku yang habisi keroco² ini,” lanjut ucapan Tongki.


“Aku jamin tak akan lama,”

__ADS_1


__ADS_2