
Sa Sie Hwa melambaikan tangannya ke arah Li Er dan Racun Cilik sambil tersenyum.
"Kenapa adik Li dan adik Zee belum tidur, apa kamarnya kurang bagus ?"
Cis !
"Kamar depan sangat panas, kami berdua ingin di sini, ucap Zhain Li Er.
"Aku .. aku diajak oleh Cici ke sini," Racun Cilik berkata sambil wajahnya menunduk.
Rupanya Li er yang berbuat ulah, ucap Han Ciu dalam hati.
"Pelayan !" letakan hidangan itu, kau boleh kembali.
Sa Sie Hwa memerintahkan pelayan itu kembali ke tempatnya.
Han Ciu duduk, lalu mengambil cawan, ketika hendak mengambil poci arak, Li er mendahului, lalu menuangkan arak kedalam cawan Han Ciu.
"Muka ayam, kau pasti letih sehabis bertempur, bagaimana jika aku pijat badanmu ?"
"Tidak usah !" kau juga habis bertempur dan kita sama sama letih, lebih baik istirahat, karna kita akan berangkat ke Sanchuan besok dengan menyamar menjadi pengemis.
"Benar ucapan Han Ciu koko, adik Li," kau istirahat saja dulu !"
Cis !
"Aku tak percaya padamu, jika kau banyak bicara, akan kutampar kau !" ucap Li Er sambil menatap tajam dan mata gadis itu mulai liar.
Hmm !
Han ciu lalu berbisik dengan suara jarak jauh kepada Racun cilik.
"Adik Zee, apa kau punya obat penawar obat tidur ?
"Cukup anggukan kepala saja jika ada,dan berikan padaku"
"Racun cilik mengangguk, mendengar perkataan Han ciu.
Tak lama kemudian, keluar ucapan dari Racun Cilik.
Kakak Han.
"jika .. jika letih, minum obat ini biar letih hilang !"
Han Ciu langsung mengambil obat yang ada di tangan Racun Cilik dan meminum obat itu.
Setelah meminum obat pemberian Racun cilik.
Han Ciu matanya lala menatap sekitar ruangan.
"Ruangan di sini seperti kurang cahaya !"
"Siapa di sini yang punya Lilin ?" Sa Sie Hwa diam, begitu pula dengan Zhain li er mendengar perkataan Han ciu.
Han ciu lalu menatap Racun cilik, "Kau ada lilin ?"
__ADS_1
"Aku ada satu," ucap Racun cilik sambil menundukan wajahnya.
Lalu mengeluarkan sebatang lilin pendek dari balik bajunya.
Han Ciu lalu menyalakan lilin itu dan menaruhnya di meja, lalu kembali minum arak sambil senyam senyum, Sa Sie Hwa mengerutkan keningnya melihat Han Ciu senyum, sedangkan Racun cilik terus menunduk, sedangkan Li er mulai asik dengan arak di cawannya.
Hooaaahh !
Mulut Li Er terbuka,
Tumben tiba tiba aku ngantuk sekali, ucap Sa Sie Hwa, ketika melihat Li er mulutnya mulai menguap.
"Plaaak !
Tangan Han Ciu melihat kepala Li er jatuh ke meja menahan supaya tidak membentur meja, lalu perlahan ia letakan.
Hmm !
"Kalau lelah dan terus minum, ini akibatnya ?"
Sa Sie Hwa mengerutkan kening, dan kali ini matanya juga sudah sangat berat dan tidak bisa di tahan, tapi sebelum Sa Sie Hwa matanya terpejam.
Si Sie Hwa menunjuk ke arah Racun cilik, sambil berkata.
"Kau .. Kau !"
Hanya kata itu yang terucap dari mulut Sa Sie Hwa, sebelum matanya benar benar terpejam.
Han Ciu lalu membopong tubuh Zhain Li Er dan di pindahkan ke atas tempat tidur, begitu pula dengan Sa Sie Hwa.
Setelah Han Ciu membaringkan kedua gadis itu di ranjang, Han ciu kembali duduk di samping Racun Cilik.
Racun Cilik masih menundukan wajahnya tak mau bertatapan muka dengan Han Ciu.
Tapi tak lama kemudian keluar perkataan dari Racun Cilik sambil perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Han Ciu.
"Jadi .. Jadi selama ini kakak tau jika aku menyalakan lilin artinya."
"Ya !" bukankah gurumu memberi aku pelajaran tentang racun yang sipatnya sederhana, dan lilin yang selalu kau nyalakan sewaktu kita menginap aku juga tahu, apa kegunaan lilin itu," ucap Han Ciu memutus perkataan Racun cilik.
"Aku merasa bersalah terhadap Kakak Han," Racun cilik berkata, sambil menundukan wajah.
"Sudahlah, tak usah kita bahas lagi masalah itu !"
ucap Han Ciu sambil menyodorkan cawan araknya kepada Racun cilik.
Racun Cilik tanpa ragu langsung meminum arak pemberian Han ciu.
Wajah gadis itu langsung merah, hawa panas arak mengalir dari dalam perut dan terus naik ke tenggorokan dan kepala Racun Cilik.
Han Ciu juga minum, lalu menyodorkan kembali cawan arak ke arah Racun Cilik.
Dan gadis itu kembali meminum arak pemberian Han Ciu, kali ini wajah dan pipi gadis itu yang putih, sudah mulai terlihat kemerahan akibat pengaruh arak.
Mata Racun Cilik sesekali mulai melirik ke arah Han Ciu, lalu wajahnya merah setelah Han Ciu juga melihat ke arahnya dan mata meraka saling beradu pandang.
__ADS_1
"Kakak Han, kenapa menatap terus ?"
"Tidak apa apa," jawab Han Ciu.
"Aku malu, ternyata Kakak Han seorang pembesar yang kaya raya, sedangkan Aku hanya gadis lembah."
"Adik Zee, kau jangan berkata seperti itu !" kau harus ingat apa nasehat dan perkataan gurumu sebelum kau pergi bersama.
Tapi adik Zee tak sebanding dengan cici Sa dan Cici Li er, belum lagi adik Zee dengar, masih ada Kakak Ahn nio di kota Nan, ucap Zee In Biauw dengan nada sedih.
Han Ciu lalu menarik tangan Racun Cilik dan menepuk nepuk tangan gadis itu perlahan dan berkata.
"Tatap mataku !"
Zee In Biauw perlahan mengangkat wajah dan menatap Han Ciu.
"Kau sangat cantik di mataku Zee, jika kau mau bersamaku aku sangat senang, tapi aku tak mau memaksa seseorang untuk ikut bersama, kau lihat sendiri bagaimana keadaan dan orang orang sekelilingku," ucap Han Ciu.
"Apapun yang terjadi aku akan ikut kakak Han, aku .. aku, cinta kakak Han." Racun cilik berkata.
Han Ciu mendengar perkataan dari racun cilik tersenyum dan mengangguk.
Keduanya lalu saling tatap dan tersenyum.
Han Ciu lalu manarik dan menggeser bangku Racun cilik agar berhadapan dengannya.
Han Ciu perlahan mulai menarik bahu Racun Cilik dan mencium bibir mungil yang merah dah terlihat indah.
Racun Cilik memejamkan mata, tubuhnya bergetar dan dadanya berdebar debar.
Baru kali ini ia merasakan kehangatan bibir seorang lelaki, apalagi lelaki itu adalah orang yang ia cintai.
Han ciu mulai nakal, sambil mencium bibir, tangan pemuda itu mulai liar, dan terus meraba raba tubuh Racun cilik.
Racun cilik tubuhnya semakin bergetar, dan mukanya semakin merah, bibir yang tadinya tertutup mulai terbuka dan mulai membalas ciuman Han ciu, dan Racun cilik sudah mulai pasrah, karna pengaruh arak yang ia minum juga menambah gairah dari dalam tubuh Racun cilik.
Setelah puas Han Ciu mencium dan meraba raba, Han ciu lalu Mengangkat dan membopong Racun Cilik ke tempat tidur.
Ranjang yang besar, setengahnya di pakai tidur oleh Sa Sie Hwa dan Zhain Li Er, sementara setengahnya lagi, dipakai oleh Han ciu dan racun cilik bercumbu rayu.
Nafas dan suara desahan terdengar dari mulut Racun cilik
Setelah puas bercumbu, Han ciu dan Racun Cilik tidur dengan sangat nyenyak, kebahagian terpancar dari wajah keduanya dan itu terlihat dari senyum yang keluar dari bibir mereka berdua yang tengah tertidur.
Tak terasa malam telah berlalu dan hari berganti pagi.
Han ciu terkejut ketika merasakan ranjang yang ia tiduri bergetar seperti sedang ada gempa bumi.
Han Ciu perlahan membuka mata, dan melihat tatapan bengis Zhain Li Er.
Sebelah kaki Li er menginjak ranjang, sambil sesekali kaki gadis itu menekan nekan kakinya yang berada di atas ranjang, sehingga membuat ranjang bergetar seperti hendak rubuh.
Han Ciu bangun dan duduk di ranjang, wajahnya terkejut ketika melihat, Racun cilik tengah duduk dan menundukan wajah di hadapan Sa Sie Hwa, hanya terlihat selimut yang menutupi tubuh gadis itu.
Li er menatap Han Ciu dan wajahnya terlihat bengis.
__ADS_1
"Muka ayam, kami ingin penjelasan !"