Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 140 Hadangan Dari Perguruan Naga Api


__ADS_3

Han Ciu menyetujui syarat yang di berikan oleh Su Ki, kini ia bernama Su Fang, ponakan Su ki, penanggung jawab penginapan bunga naga, cabang kota Langye


“Besok kita berangkat, nanti aku susul jika kapal keluarga Naga air akan berangkat, jika kau di tanya tentang peliharaanmu, kau bisa bilang di pelihara dari kecil dan tak mengganggu orang, dan kau harus benar mengawasi serigala milikmu, agar jangan mengganggu bila sudah berada di kapal.”


Han Ciu memberi hormat sambil tersenyum, setelah mendengar perkataan, pria paruh baya itu, “baik paman Su Ki.”


Setelah memberi penjelasan, Su Ki kemudian berlalu, sedangkan Han Ciu kembali minum arak yang tersedia di meja.


Setelah selesai makan dan minum Han Ciu kembali ke tempat ia menginap.


Han Ciu istirahat di tempatnya, setelah melakukan perjalanan jauh, mungkin ini saatnya untuk tidur, pikir Han Ciu.


Ke esokkan hari pagi – pagi, seorang pelayan mengetuk pintu rumah yang di sewa oleh Han Ciu, setelah memberikan pakaian berwarna hitam, pelayan itu lantas pergi setelah memberitahu, bahwa pakaian itu pemberian ketua Su Ki.


Han Ciu memakai baju yang di berikan, dan pas dengan ukuran tubuhnya.


Han Ciu kemudian memasang tali yang telah di simpulkan sehingga kedua pedang tulang naga, berada di punggung, sedangkan golok api ia bungkus dengan kain yang telah di jahit.


Setelah hari menjelang siang, makan pagi telah memenuhi isi perut Han Ciu.


Su Ki datang dan memberitahu bahwa ia telah meminta ijin kepada keluarga Naga Air, dan Han Ciu boleh ikut bersama dengan rombongan mereka, tetapi tak ada jatah untuk kamar, dan harus tinggal di luar ruangan kapal.


Han Ciu menyanggupi persyaratan dari keluarga Naga Air, yang disampaikan Su Ki.


Mereka berdua lalu pergi ke dermaga, tempat kapal Naga Air bersandar.


Sebuah kapal yang lumayan besar, ucap Han Ciu dalam hati ketika melihat bendera se ekor Naga dengan riak air di bawahnya.


“Jadi ini keponakanmu Su Ki ?” benar Congkoan,” ucap Su Ki.


Hmm !


“Anak muda, apa yang kau bawa itu ?” ucap orang yang di panggil Congkoan oleh Su Ki.


“Hanya sepasang pedang dari tulang, dan tombak untuk berburu tuan Congkoan,” Han Ciu berkata menjawab pertanyaan Congkoan dari perguruan Naga Air.


“Aku percaya pada Su Ki, karna dia adalah orang yang di percaya oleh ketua penginapan bunga naga."


Tapi ingat !” aturan di dalam kapal adalah aturan kami, kau tidak boleh bertindak Semaumu, karna kau hanya orang yang menumpang, jika terjadi apa – apa dan kau membuat ke kacauan, pamanmu yang akan kami minta pertanggung jawabannya, apa kau mengerti ?” Han Ciu kembali mengangguk mendengar perkataan dari Congkoan keluarga Naga Air.


“Siapa namamu anak muda ?”


Su Fang tuan, ucap Han Ciu, nah kau naik bersama Su Ki, karna kapal sebentar lagi akan bersiap.


Congkoan agak tertegun setelah melihat sedikit rambut Han Ciu yang berwarna kuning ke emasan, keluar dari balik penutup kepalanya.


Setelah sampai di dalam kapal besar milik keluarga Naga Air, Han Ciu kemudian berdiri di beranda kapal bersama Fang Ji.


Tak lama kemudian setelah semua perbekalan selama perjalanan, naik ke kapal.


“Kapal besar milik keluarga Naga Air, setelah menarik jangkar dan melepas tali penahan, kapal mulai bergerak menyusuri sungai yang lebar.


Han Ciu terus menatap sungai besar yang berada di depannya, kini hanya pedang tulang naga yang berada di punggung, sementara golok api di titipkan di kamar Su ki, karna Han Ciu tidak di beri kamar di kapal ini.


Sudah sehari mereka melakukan perjalanan.


Tengah asyik memandang sungai, tak lama kemudian seorang gadis datang dan berdiri di samping Han Ciu.


“Su Fang, itu namamu kata paman Su Ki, benar tidak ?” Han Ciu mengangguk sambil tersenyum ke arah gadis cantik yang baru saja datang, melihat gadis itu, Han Ciu teringat kembali kepada Zhain Li Er serta racun Cilik.


“Benar nona, aku bernama Su Fang, dan ini serigala peliharaanku, bernama Fang Ji.” Ucap Han Ciu kepada gadis yang berada di sampingnya.


Aku biasa dipanggil si bungsu Lan, namaku Suma Lan, anak bungsu dari keluarga Suma.


Jadi keluarga Naga Air adalah keluarga Suma, sepertinya aku pernah dengar dari Sin Ko, tentang para penguasa sungai, dan salah satunya adalah keluarga Suma.


“Eh aku lihat rambutmu berbeda dengan yang lain, boleh aku lihat ?” ucap gadis itu sambil tersenyum.


Han Ciu terkejut karna ia merasa telah menutupi rambutnya, tapi ada yang tidak tertutup.


“Maaf, aku malu nona, karna rambutku berbeda dengan orang lain, sebab aku terkena penyakit sewaktu kecil, sehingga rambutku berubah.” Ucap Han Ciu.


“Aku ingin tahu, dan juga aku ingin melihat wajahmu karna sewaktu aku tanya umurmu kepada paman Su Ki, katanya kau paling berbeda sekitar 4 atau lima tahun denganku.


Di kapal ini tak ada teman selain kakak Suma Hu yang bisa aku ajak bicara.” Gadis yang mengaku bernama Suma Lan berkata sedih.


“Baik nona, tapi awas jangan nona tertawakan nanti,” Han Ciu berkata sambil tersenyum kepada Suma Lan.


“Han Ciu membuka caping, lalu penutup kepala yang menutupi seluruh rambutnya.”


Setelah caping terbuka, Suma Lan tampak tertegun setelah melihat wajah asli Han Ciu, pemuda yang berwajah tampan, tapi terlihat dewasa, dengan mata yang jernih, dan rambut berwarna kuning ke emasan, berkibar tertiup angin.


Ketika hendak memakai capingnya kembali, Suma Lan langsung berkata. “Jangan pakai lagi caping itu, biarkan saja !”


“Tapi....tapi aku takut nanti orang di kapal ini mengejekku nona ?” Han Ciu berkata.


"Jika kakak Su Fang ada yang menghina, bilang saja padaku, nanti aku yang marahi mereka,” ucap Suma Lan sambil tertunduk malu.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Suma Lan.


Tapi pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar geraman dari Fang Ji.


Han Ciu lalu melihat ke arah Fang Ji yang menggeram.


Tampak dua orang pemuda tampan, berjalan mendatangi ke arah mereka.

__ADS_1


“Adik Lan sedang apa di sini ?” ucap pemuda yang tampak seumuran dengan Han Ciu bertanya.


“Kakak Hu, ini adalah Su Fang, keponakan paman Su Ki yang ikut kita ke telaga barat.


Orang yang di panggil Kakak Hu oleh, Suma Lan, mengerutkan kening, apalagi setelah melihat serigala yang menggeram ke arah mereka.


Tapi tak lama kemudian, senyum keluar dari wajah pemuda itu setelah memperhatikan mata Han Ciu, tak ada kilatan sinar mata, tanda tinggi rendahnya tenaga dalam.


Sedangkan pemuda yang berada di samping Suma Hu mendengus, melihat Suma Lan tampak ceria bersama dengan Han Ciu, sudah lama pemuda yang bernama, Bu khi menaruh rasa suka terhadap Suma Lan, tapi gadis itu sepertinya tak peduli dan acuh dengan perhatian yang ia berikan.


Ayah Bu Khi adalah sahabat dari Suma Han kepala keluarga Naga Air, yang bernama Bu Heng, dan Bu khi menjadi murid Suma Han, karna kedekatan mereka berdua, Bu Heng juga bukan orang sembarangan karna ia juga seorang tokoh yang bergelar, jari tunggal.


Kesaktian Bu Khi lebih tinggi dari Suma Hu maupun Suma Lan, karna dia mendapat pelajaran dari Naga Air serta mendapat bimbingan dari ayahnya, sehingga kepandaian Bu Khi, lebih maju pesat di bandingkan anak gurunya sendiri.


“Kenapa mereka mengizinkan membawa binatang di atas kapal ini ?” Bu khi berkata suaranya, tampak sinis.


Sementara Fang Ji terus menggeram sambil kepalanya mengarah Bu Khi.


Han Ciu lalu jongkok dan mengusap leher Fang Ji dengan tangannya, menenangkan serigala itu yang sepertinya tak suka terhadap Bu Khi.


“Fang Ji, jangan bikin repot aku !” jika kau mengacau di sini, maka kita berdua bisa di lempar ke sungai,” Han Ciu berkata.


Setelah mendengar perkataan Han Ciu dan usapan di lehernya, Fang Ji berhenti menggeram, lalu mengusapkan kepalanya ke leher Han Ciu.


“Kakak Su, ternyata Fang Ji menurut sekali padamu,” ucap Suma Lan.


"Fang Ji beri hormat untuk keluarga Suma, dan tuan muda ini."


Fang Ji mendengar perkataan Han Ciu menekuk kedua kakinya, seakan memberi hormat kepada Suma Lan serta Suma Hu, kedua muda mudi itu tampak senang dengan Fang Ji.


Tapi ketika Fang Ji hendak ke arah Bu Khi, pemuda itu malah hendak menendang kepala Fang Ji.


Suma Hu yang melihat, langsung menangkis tendangan Bu Khi.


Apa yang kau lakukan, kenapa sifat mu tak pernah berubah Sute ( adik se perguruan )


“Suheng, aku tak suka dengan anjiing penjilat,”


“Dia adalah Serigala, bukan anjiing seperti yang kau katakan,” terdengar suara dari kejauhan, tak lama kemudian dua orang pria yang berpakaian mentereng datang menghampiri mereka.


"Ayah, teriak Suma Lan ketika melihat seorang berumur 50 tahun serta seorang lelaki yang umurnya tak jauh beda dengan Suma Han.


“Ayah,” Bu Khi berkata sambil memberi hormat kepada orang itu.


“Ada apa Lan ji,” tanya Suma Han, tidak ada apa – apa ayah, kami hanya kagum kepada binatang peliharaan Su Fang, keponakan paman Su Ki.


“Oh Jadi pemuda ini yang di maksudkan oleh Congkoan,” Naga Air berkata sambil tersenyum.


Han Ciu memberi hormat kepada Naga Air,


“maaf karna ingin melihat keramaian jadi merepotkan ketua Suma Han,” Han Ciu berkata.


“Sudahlah, seorang pemuda memang harus panjang langkah,” Suma Han berkata sambil tersenyum.


Sedangkan Bu Heng, matanya berkilat menatap Han Ciu, tapi setelah memperhatikan mata pemuda itu yang jernih seperti orang yang tak mempunyai tenaga dalam.


Bu Heng menarik napas lega.


Pedang mu sangat unik anak muda, tanya Suma Han, saat melihat sepasang pedang tulang naga berada di punggung Han Ciu.


“Hanya pedang yang terbuat dari tulang tuan Suma, bukan dari baja, hanya untuk menakut – takuti orang saja.”


Ha Ha Ha


“Kau jujur sekali anak muda,” setelah sampai di telaga barat, kau bisa melihat banyak pendekar tangguh yang kesaktiannya lebih tinggi dari kami.


"Oh iya, kita besok akan berbelok menuju aliran sungai yang ke arah telaga Tong,


"Kota Sishui, diantara kota dan aliran sungai yang akan menuju telaga Tong, kita harus berhati hati, karna itu adalah kawasan dari perguruan Naga Api, jangan sampai kita kecolongan oleh mereka, dan kalian juga tahu bahwa, Naga Air dan Naga Api tak pernah bisa duduk berdampingan.


"Suma Hu, Suma Lan serta kau Bu Khi, perintahkan kepada keluarga Suma untuk bersiap siap dari sekarang dan berjaga jaga !"


Ketiga pemuda dan pemudi itu, mengangguk lalu pergi, melaksanakan perintah ayah mereka, sementara Suma Han bercakap cakap dengan Bu Heng lalu pergi meninggalkan Han Ciu.


Setelah mereka semua pergi, wajah Han Ciu berubah sangat menakutkan.


Perguruan Naga Api, salah satu perguruan yang ikut menghancurkan sekte Naga hitam, jika mereka benar – benar menunjukkan muka mereka, akan ku habisi mereka semua, ucap Han Ciu geram.


Saat malam menjelang, Han Ciu kemudian pergi ke sebuah perahu yang telungkup, di sanalah Han Ciu bersama Fang Ji istirahat jika malam hari.


Ke esokkan harinya seperti biasa, Han Ciu serta Fang Ji, hendak menuju ke depan, tapi setelah melihat keluarga Naga Air berkumpul, Han Ciu membatalkan niatnya, Han Ciu kemudian mencari Su Ki, untuk mencari tahu, apa benar mereka yang berjaga di depan, bersiap untuk menghadapi serangan dari perguruan Naga api yang menjadi musuh keluarga Naga Air.


Kebetulan ketika hendak mencari Su Ki, pria paruh baya itu juga sedang mencari Han Ciu.


Saat keduanya bertemu, Su Ki langsung menarik tangan Han Ciu lalu mengajak Han Ciu ke sudut kapal.


Situasi di kapal aku dengar sedang genting, sebaiknya kau jangan ke depan, nanti terkena salah sasaran, Su Ki berkata.


Saat sedang bercakap cakap, mereka mendengar teriakan – teriakan dari arah depan kapal.


“Mari kita lihat paman, keluarga Naga Air aku lihat sudah berjaga jaga di depan kapal, pasti mereka melihat musuh sudah menghadang,” ucap Han Ciu.


Su Ki tak bisa menolak setelah Han Ciu menarik tangan Su Ki menuju arah depan.


Setelah mendekat, Suma Lan langsung menghampiri mereka berdua, "kalian jangan dekat – dekat, ternyata perguruan Naga Api mempunyai kapal dan sekarang menghadang kita, ayah sama sekali tak menyangka mereka mempunyai kapal," ucap Suma Lan.

__ADS_1


"Jadi sekarang kami yang harus berhati hati terhadap mereka, tapi yang di takutkan oleh ayah adalah, jika kita sampai terlambat menghadiri peresmian perguruan selaksa Pedang. Keluarga Naga air akan malu, terhadap pedang langit, makanya ayah akan berniat menyerang mereka sambil menerobos, jika selamat dan lancar, kapal kita akan bisa melesat meninggalkan mereka, tapi jika tidak, sepertinya sungai ini akan menjadi kuburan kita."


“Menurutmu, kapal ini mampu menerobos atau tidak ?” wajah Han Ciu mulai berubah gusar.


“Masih dalam pertimbangan ayah,” Suma Lan menjawab.


“Ketua perguruan Naga Api ikut menghadang atau tidak ?” kembali Han Ciu bertanya.


“Aku tidak tahu masalah itu kak Su,” jawab Suma Lan


“Kenapa kau tanya masalah itu, apa kau sendiri yang akan menghancurkan mereka ?” tanya Suki.


“Mari kita ke sana,” Han Ciu berkata, pemuda itu tak menjawab perkataan Su Ki, karna hatinya sudah mulai gusar.


Suma Lan dan Su Ki yang heran terhadap perubahan Wajah Han Ciu, lalu mengikuti di belakang pemuda itu.


Suma Han serta Bu Heng heran, ketika ada yang menerobos anak buah mereka, dan ternyata adalah Su Fang, Su Ki serta Suma Lan.


“Mau apa kalian kesini ?”


“Ketua Suma, berapa hari menurut tuan kita akan sampai di telaga barat ?” tanya Han Ciu


“Kau diam saja bocah, sudah numpang banyak bicara,” Bu Heng berkata sinis, mendengar perkataan Han Ciu.


Han Ciu yang sudah gusar, tanpa melihat ke arah Bu Heng, berkata sambil menatap ke arah Suma Han.


“Aku tidak tanya kau,”


Bu Heng serta anaknya Bu khi, melotot ke arah Han Ciu, saat hendak bertindak, mereka diam setelah mendengar perkataan Suma Han.


“Jika kita tidak terhalang oleh mereka dalam dua atau tiga hari kita akan sampai di telaga barat.


"Tapi jika kita bertempur dengan mereka, waktu kita akan banyak terbuang, belum lagi orang serta kapal yang rusak akan menghambat kita.”


Sebelum Suma Han berkata lebih Lanjut, Han Ciu sudah bertanya kembali,


“Siapa yang memimpin di perguruan Naga Api, apa ketua mereka ?” Han Ciu bertanya kembali.


“Bukan, sepertinya wakil ketua, si Tongkat Naga.” Suma Han Menjawab.


“Baiklah, aku tolong kalian, aku hanya titip paman Su Ki, karna aku akan langsung ke telaga barat.”


Paman Su Ki tolong jaga Fang Ji, nanti di telaga barat aku akan mengambil Fang Ji.


Setelah berkata, Han Ciu maju dan berdiri di anjungan kapal, sambil menatap tajam ke arah dua buah kapal yang ukurannya, hampir sama dengan kapal milik Naga Air.


“Kalian mundur,” Han Ciu berkata saat melihat, kapal yang lebih besar serta berbendera Seekor Naga berwarna merah bergerak mendekat


Suma Han serta anak buahnya mundur, setelah mendengar perkataan Han Ciu.


Bu Heng masih berdiri bersama anaknya Bu Khi, di belakang Han Ciu dan tidak menuruti perkataan pemuda itu untuk mundur.


Sementara Su Ki menatap cemas ke arah Han Ciu begitu juga Suma Lan.


Han Ciu mengangkat kedua tangannya sambil teriak kencang, memompa semangatnya.


Hiaaaaat !


Lalu kedua tangannya yang berada di atas, perlahan turun, tangan kiri Han Ciu berputar putar menciptakan kabut yang sangat dingin.


Bu Heng dan Bu Khi terkejut, lalu mundur menjauh, karna jika tidak, mereka pasti akan menjadi beku akibat hawa dingin yang di keluarkan oleh tangan kiri Han Ciu.


Semua mata yang memandang ke arah Han Ciu yang berdiri paling depan, mata mereka terbelalak seperti tak percaya.


Setelah hawa dingin perlahan menjadi kabut, dan mengandung banyak air, tangan kanan Han Ciu mendorong ke arah kabut yang ada didepannya.


Blaaam, Shing .. Shing .. Shing


Hawa kabut yang mengandung air dan berubah menjadi ratusan butiran es, melesat ke arah kapal yang mendekati mereka


Ratusan es menancap dan memecahkan papan kapal dan merobek layar, sebagian malah menembusi tubuh para anggota perguruan Naga Api yang sedang berdiri berjajar di depan.


Lalu kabut yang tersisa dihantam kembali oleh pukulan dewa naga, kali ini sebongkah es yang hampir sebesar tubuh manusia dewasa melesat seperti anak panah ke arah kapal milik perguruan Naga Api.


Braak !


Bagian depan kapal milik perguruan Naga api Hancur, terhantam es yang di keluarkan oleh Han Ciu.


Pemuda itu lalu mencabut sepasang pedang tulang naga, suasana di sekeliling Han Ciu semakin dingin, Suma Han Serta yang lain semakin mundur karna tidak kuat menahan hawa dingin yang di timbulkan oleh tenaga dalam dan sepasang pedang tulang naga milik Han Ciu


Matanya menatap beringas ke arah kapal milik Naga Api.


Lalu dengan teriakan keras, sambil mengibaskan sepasang pedang tulang naga, hawa dingin layaknya sebuah kipas es yang besar melesat ke arah kapal milik Naga Api.


Lalu tubuh Han Ciu melesat mengikuti hawa pedangnya mneghantam serta memotong bagian tengah kapal.


Sepasang pedang tulang naga, kembali mengibas, tebasan yang memotong tengah kapal yang mulai bergerak pelan, kembali terhantam oleh hawa pedang, dan kembali membelah tengah kapal Naga Api.


Kreek .. Kreek .. Blaaaar !


Rombongan Suma Han, apalagi Su Ki hanya bisa terpana, melihat kapal musuh terbelah dua, dan seorang pria berlompatan ke sana kemari sambil menyabet dan menusuk, hanya rambut yang berwarna ke emasan saja yang, terlihat dari kapal Naga Air,


Han Ciu mengamuk di atas kapal yang terbelah dua dan mulai tenggelam milik Naga Api.


Suma Han terpana, begitu pula yang lain.

__ADS_1


Mereka jadi bertanya tanya melihat Han Ciu yang mengamuk dan seorang diri sanggup membelah kapal musuh yang besar.


“Apakah dia seorang manusia,”


__ADS_2