Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 261 : Hancurnya markas Telaga barat.


__ADS_3

Malam telah berlalu dan hari berganti pagi.


Ketiga orang tua terbangun, ketika mendengar suara gaduh aktivitas anak buah kapal.


Iblis biru ketika bangun berada agak jauh, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.


“Kenapa aku bisa ada di sini? Ucap Iblis biru dengan wajah heran melihat dirinya terpisah dengan Tongki dan Huang Zilin.


Tongki yang masih kesal dengan Iblis biru karena impiannya buyar tak menjawab, lalu masuk ke dalam kapal.


Melihat Dewi Kipas di dalam kapal yang sudah berganti pakaian, Tongki tampak cemberut.


“Sepertinya Dewi tidur pulas semalam? Tanya Tongki.


“Lumayan, perjalanan tanpa henti membuat tubuh lelah! Bagaimana dengan kakak Tongki semalam? Dewi Kipas balik bertanya.


“Aku baik² saja! Selain Ming Mo dan saudara Huang, banyak nyamuk yang menemaniku semalam,” jawab Tongki dengan wajah cemberut.


“Maafkan adik! Yang tak bisa menemani karena keadaan masih seperti ini,” ucap Dewi Kipas.


Tongki hanya anggukan kepala tanpa menjawab.


“Kakak tunggu di sini sebentar! Adik akan ambil teh panas dan beberapa makanan kecil untuk teman minum teh,” setelah berkata, Dewi kipas langsung ke dapur kapal untuk mengambil teh panas dan beberapa kue.


Keduanya lalu duduk di samping kapal, menikmati matahari pagi sambil minum teh.


“Jika tak ada halangan mungkin sehari atau dua hari lagi kita sampai ke telaga barat,” ucap Dewi Kipas membuka percakapan.


“Kakak! Nanti aku bawakan pakaian untuk salin,” lanjut ucapan Dewi kipas.


“Biarlah! Nanti jika sudah sampai di telaga barat, baru aku ganti pakaian, biar mereka tahu bahwa aku sudah menikah,” lalu berkata lirih, “tapi tidak bisa menikmati malam pertama.”


“Apa yang kakak katakan? Tanya Dewi kipas, ketika mendengar suara Tongki yang tidak terdengar jelas.


“Sudahlah! Ucap Tongki sambil meminum teh panas.


Dewi kipas tahu Tongki kesal padanya, karena dari mereka menikah mereka berdua belum bisa bersama, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk sementara ini tidak bisa bersama.


Mereka berdua lalu diam.


Tongki lalu memegang tangan Dewi Kipas.


“Maafkan sikapku Dewi, mungkin Dewi sudah terbiasa karena pernah menikah, tetapi memang aku baru kali ini menikah, jadi sipatku egois dan selalu ingin bersama,” ucap Tongki sambil meremas tangan Dewi kipas.


“Kakak tidak salah, kakak benar! Tetapi memang keadaan yang tidak mendukung kita untuk berduaan saja,” Dewi kipas berkata sambil tersenyum.


Keduanya lalu berpelukan dan berusaha saling memahami keadaan yang tidak menguntungkan bagi mereka.


Hari terus berganti dan malam pun berlalu, tidak ada keanehan yang terjadi selama dua hari menempuh perjalanan menggunakan kapal.


Lima buah kapal yang lumayan besar bergerak cepat mengikuti arus sungai besar, menuju telaga barat.


“Paman gendut, apa tak bisa cepat lagi? Tanya Han Ciu kepada Sin Ko.


“Kecepatan kapal kita sudah maksimal ketua,” jawab Sin Ko.

__ADS_1


“Aku merasa khawatir terhadap Zee In Biauw dan In Nio paman, perasaanku tidak enak,” ucap Han Ciu.


“Ketua jangan khawatir! Kedua nyonya sangat hebat, apalagi nyonya kelima, keahlian racunnya sudah tak ada tandingan, jadi menurutku, mereka berdua akan baik² saja,” Sin Ko berkata.


Han Ciu menarik nafas panjang mendengar perkataan Sin Ko, kemudian menepak bahu pria gemuk itu kemudian berkata.


“Aku juga berharap seperti itu paman,”


Han Ciu kemudian masuk ke dalam ruangan kapal.


Mereka belum tahu, bahwa sebenarnya telaga barat tengah di serang oleh 3 buah kapal besar yang di pimpin langsung oleh Iblis mata satu.


Pintu gerbang markas selaksa pedang di telaga barat telah hancur, prajurit dan pasukan sungai perguruan selaksa pedang berusaha menahan mereka, tapi kemampuan Iblis mata satu, Dewi racun, pendekar Singa rambut api, serta mayat hidup lembah hantu bukan tandingan para tokoh dunia persilatan.


Apalagi Dewi Racun yang sangat bernafsu untuk menghabisi dan menghancurkan telaga barat, setelah mendengar pasukan Liu Bang berhasil memenangkan pertempuran dan semua anak murid perguruan selaksa racun tewas.


Setelah ketiga kapal berhasil masuk, mereka mulai membakar rumah dan gedung di telaga barat.


Ratusan anak murid selaksa pedang yang menjaga markas perguruan, walau jumlah mereka lebih banyak, tetapi mereka seperti kunang² yang datang menghampiri api, dengan sekali pukul dan tebas banyak anak murid selaksa pedang yang tewas.


In Nio dengan pedangnya terus bertahan, begitu pula Zee In Biauw yang bertempur sambil menggendong bayi mungil.


Dengan racun² yang ia miliki, Zee In Biauw terus bertahan, pasukan Iblis mata satu tak berani mendekat, begitu pula dengan Dewi racun.


Dewi racun tahu kapasitas Zee In Biauw dalam soal racun.


Setiap Racun cilik melemparkan bubuk beracun miliknya, Iblis mata satu beserta komplotannya mundur sambil menghalau bubuk racun dengan pukulan jarak jauh atau hawa golok yang di pakai oleh Iblis mata satu untuk menghalau bubuk racun Zee In Biauw.


“Nyonya cepat naik ke perahu dan tinggalkan telaga barat! Tempat ini sudah tak bisa di pertahankan lagi,” ucap salah seorang anggota perguruan selaksa pedang.


“Jangan bodoh nyonya! tempat bisa di bangun kembali, tapi dendam anak murid perguruan selaksa pedang harus di balas.


“Jika kita semua tewas, tak akan ada yang tahu siapa yang telah menghancurkan markas telaga barat,” ucap Kwi Eng, salah seorang kepala yang memimpin markas selaksa pedang.


“Cepat nyonya.....cepat! di sisi timur ada sebuah kapal pemburu yang bisa bergerak cepat, pergi dari sini! biar mereka kami tahan,” ucap Kwi Eng dengan gagah berani dan wajah penuh keyakinan.


In Nio kemudian menatap Zee In Biauw yang tengah menggendong putranya yang baru ber umur beberapa bulan.


“Baiklah, Kwi Eng sekiranya kalian bisa melarikan diri, tinggalkan tempat ini, walau telaga barat hancur, tetapi dendam ini harus kita balas,” In Nio berkata.


Kwi Eng anggukan kepala mendengar perkataan sang nyonya.


Ia lalu memerintahkan anak buahnya berbaris menahan pasukan Iblis mata satu.


Sedangkan In Nio bersama Zee In Biauw naik kapal pemburu yang tidak terlalu besar bersama beberapa anak buah kapal, tapi bisa bergerak dengan cepat.


Sebuah kapal melesat keluar dari telaga barat.


In Nio menatap sedih ke arah telaga barat setelah kapal yang ia taiki mulai menjauh, In Nio melihat api berkobar menghanguskan bangunan markas perguruan selaksa pedang.


Dewi Racun setelah berhasil membunuh menggunakan racunnya dan Iblis mata satu yang membacok kepala Kwi Eng sampai terbelah dua, melihat kedua istri Han Ciu yang tadi ikut bertempur tidak ada.


Iblis mata satu, Dewi Racun, kemudian membakar markas perguruan selaksa pedang, lalu mereka bergegas naik ke kapal dan mengejar kapal yang barus saja keluar dari gerbang telaga barat.


Kapal pemburu yang melaju cepat terus di ikuti oleh ketiga kapal Iblis mata satu,

__ADS_1


Para pendayung mengerahkan sekuat tenaga untuk mendayung serta layar di kembangkan, berusaha mengejar kapal pemburu yang di pakai oleh In Nio dan Zee In Biauw.


Kapal pemburu yang melaju, terkadang oleng ke kanan dan ke kiri akibat di terjang ombak.


Air sungai yang masuk ke dalam kapal pemburu, muncrat membasahi mereka yang menaiki kapal.


Zee In Biauw terus menutupi anaknya yang masih ber umur beberapa bulan dengan tubuhnya sendiri, agar sang anak tidak terkena air sungai yang masuk ke dalam kapal.


“Panah mereka....panah! Suara parau dari iblis mata satu berteriak memerintah anak buahnya.


Shing....Shing....Shing!


Puluhan panah melesat dari kapal yang mengejar.


Jleb....Crep....Crep!


Beberapa panah menancap di badan kapal, dua orang anak buah kapal, berusaha menangkis tapi akhirnya roboh terjungkal setelah beberapa panah menembus tubuhnya.


Tring....Tring!


In Nio dengan pedangnya terus berputar berusaha menahan panah yang menyerang ke arah mereka, melindungi Zee In Biauw yang terus mendekap sang putra yang belum lama ia lahirkan.


“Kak Han, maafkan aku jika aku tak bisa melindungi putra kita,” batin Zee In Biauw sambil mendekap putranya.


Panah yang tak berhenti, membuat repot In Nio, hingga akhirnya sebuah panah berhasil lolos dan menancap di kaki In Nio.


Crep!


In Nio menjerit menahan sakit, dan terus berusaha menangkis, panah yang masih menancap di biarkan oleh In Nio, karena jika ia cabut panah itu, darah pasti akan banyak keluar dan membuat nya lemah.


Tapi perlahan karena sakit dan darah yang terus keluar, akhirnya In Nio ambruk tak sadarkan diri.


Zee In Biauw melihat In Nio tak sadarkan diri, lalu menarik tubuh In Nio ke balik tong besar yang di pakai untuk menyimpan air bersih, lalu mereka bersembunyi di balik tong besar agar terlindung dari panah musuh.


Zee In Biauw melihat panah mulai berhenti memanah, lalu mengintip dari tong besar tempatnya bersembunyi, wajah gadis itu pucat, melihat para pemanah yang berbaris di depan tengah membidik, sementara di ujung panah tampak api berkobar.


“Celaka panah api,” batin Zee In Biauw.


Shing....Shing....Shing!


Panah – panah api melesat menuju ke arah kapal yang di pakai oleh In Nio dan Zee In Biauw untuk melarikan diri.


Wajah Zee In Biauw sangat cemas, sambil mendekap bayinya dan berdoa, mata Zee In Biauw terus menatap ke arah langit.


“Oh Dewa pencipta, tolong selamatkan kami,” Zee In Biauw berkata dengan air mata bercucuran sambil mendekap erat sang bayi.


Selesai Zee In Biauw berdoa, pandangannya yang masih terus ke atas.


Melihat ratusan bayangan pedang melesat di atasnya.


Wajah Zee In Biauw yang sudah putus asa, langsung mendekap putranya, melihat ratusan bayangan pedang lewat di atasnya


Bibir Zee In Biauw mendesis dan berkata pelan melihat ratusan bayangan Pedang lewat di atasnya.


“Jurus pedang hampa”

__ADS_1


__ADS_2