
Di sebuah ruangan Bu Ban Liong tampak berjalan mondar mandir, muka kaku serta gelisah tergambar jelas dari raut wajahnya. jika ada yang melihat keadaan Bu Ban Liong Saat ini, anak buahnya pasti enggan untuk bertanya.
Hmm !
Suara dengusan keluar dari mulut Bu Ban Liong.
“Kenapa orang yang di kirim oleh Setan tangan putih belum datang Juga?” pikir Bu Ban Liong sambil memukul – mukul telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan, sambil terus berjalan mondar mandir dengan raut wajah gelisah.
Tok....Tok....Tok
Terdengar suara ketukan dari pintu ruangan.
“Masuk,” Bu Ban Liong berkata ketika mendengar suara ketukan di pintu ruangan.
Setelah mendengar perintah dari Bu Ban Liong.
Setan Tangan Putih serta seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan.
Melihat siapa yang datang, wajah Bu Ban Liong tampak tersenyum, lalu mempersilahkan mereka duduk.
“Apa sudah ada kabar dari markas cabang ? Tanya Bu Ban Liong.
Sebelum menjawab pertanyaan Bu Ban Liong, Setan Tangan Putih menarik napas panjang, seperti ada beban berat di dadanya.
“Kau katakan apa yang kau lihat,” ucap Setan Tangan putih, kepada pria yang berada di sampingnya.
Bu Ban Liong tampak bingung mendengar perkataan Setan tangan putih, lalu menatap ke arah pria yang ada di samping salah seorang kepercayaannya.
“Ceritakan kepada ketua apa yang kau lihat,” ucap Setan Tangan Putih kepada anak buahnya melihat Bu Ban Liong tampak penasaran.
Hamba sudah pergi ke markas cabang ketua.
Sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya, Bu Ban Liong langsung berdiri di depan pria itu.
“Cepat katakan apa yang kau lihat ?” tanya Bu Ban Liong.
Hamba tak melihat apapun di dalam markas cabang tempat wakil ketua Tongkat Naga.
“Tak melihat apa pun ! Bu Ban Liong, seperti bingung lalu bertanya.
“Apa maksudmu?” tanya Bu Ban Liong.
Hamba melihat pintu gerbang markas cabang hancur, serta beberapa orang sudah menjadi bangkai, hamba kemudian memeriksa semua tempat di benteng tapi tak melihat anggota yang lainnya.
“Kemana mereka ? Tongkat Naga serta kedua muridnya bukanlah orang – orang yang mudah di kalahkan, apalagi bersama dengan 200 anggota perguruan Naga Api.
Wajah Bu Ban Liong makin berkerut dan tegang, mendengar perkataan dari orang yang telah di kirim oleh Setan Tangan Putih.
Ketika tengah berpikir kemana anggota di bawah naungan Tongkat Naga, terdengar suara ketukan pintu ruangan.
Setan Tangan putih membuka pintu, setelah melihat Jagal utara dan nenek kipas hitam yang datang, keduanya lalu di persilahkan masuk ke dalam.
“Ketua ! ada surat dari gubernur Ping An,” ucap Jagal utara.
Mendengar perkataan Jagal Utara, Bu Ban Liong kemudian mengambil surat yang di berikan oleh anak buahnya.
Setelah membuka segel surat, lalu Bu Ban Liong membaca surat dari gubernur Ping An.
Hmm !
Keluar suara dengusan dari mulut Bu Ban Liong setelah membaca surat yang sedang ia pegang.
“Apa isi surat itu ketua ? Tanya Jagal Utara.
“Pemilik penginapan bunga naga ingin membuat cabang di kota Sishui, gubernur Ping An mengajak kita berunding untuk membahas masalah itu,” Bu Ban Liong berkata.
Jagal Utara, Setan Tangan Putih serta Nenek Kipas Hitam, lantas menatap kepada Bu Ban Liong, dengan wajah seperti bertanya apa langkah yang akan ia ambil.
“Penginapan bunga naga adalah penginapan terbesar, tapi aku dengar mereka mempunyai pelindung yang kuat, jika mereka akan membuka cabang di kota Sishui, kalian bisa bayangkan pajak yang akan di terima oleh kota Sishui,” ucap Bu Ban Liong.
“Apa ada kabar dari pendekar Baju Merah ?” tanya nenek Kipas Hitam.
“Tidak ada, tapi sepertinya surat ini juga usulnya, karena ini adalah hal besar,” ucap Bu Ban Liong.
__ADS_1
“Kapan mereka meminta bertemu ketua ?” tanya Setan Tangan Putih.
“Besok malam gubernur Ping An menungguku, bagaimana menurut kalian ?” tanya Bu Ban Liong.
“Ketua, bukankan sudah lama ingin mengambil alih kota Sishui dan menjadi gubernur, kenapa tidak kita jadikan saja ini sebagai kesempatan untuk mengambil alih kota ? Nenek kipas Hitam berkata sambil tertawa kepada Bu Ban Liong.
“Perkataanmu benar,” ucap Bu Ban Liong.
Sambil kita mencoba kesetiaan sepasang Hantu malam serta kedua orang tua yang ia bawa.” Jagal Utara menimpali perkataan Bu Ban Liong.
“Baik lah, urusan markas cabang akan kita selidiki setelah berhasil mengambil alih kota Sishui, Setan Tangan Putih, kau menunggu bersama anggota perguruan Naga Api, jika prajurit kota menyerang, kau langsung habisi.
Aku, Nenek Kipas Hitam, Jagal Utara, sepasang Hantu malam serta kedua paman mereka akan ikut menghadap, kita bisa manfaatkan mereka untuk menghadapi orang – orang gubernur Ping An, sementara kedua paman sepasang Hantu Malam, bisa kita pakai untuk menghadapi jagoan penginapan bunga naga bila terjadi kekacauan, ketiga jagoan anak buah Bu Ban Liong mengangguk mendengar perkataan ketua mereka.
Setelah merencanakan sesuatunya, mereka lalu membubarkan diri dan kembali ke tempat masing – masing.
Sementara itu setelah mendapat ijin gubernur Ping An, Talaba memberi tahu rombongan yang berada di luar kota Sishui untuk masuk kota secara bertahap, dan mereka menginap di pertengahan antara gedung dengan markas perguruan Naga Api, untuk melihat situasi keadaan yang akan terjadi setelah pertemuan dengan ketua perguruan Naga Api.
***
Malam yang di tunggu tiba, di ruangan depan yang luas, gubernur Ping An, serta penasihatnya, Han Ciu, Sa Sie Hwa serta Talaba. menerima tamu yang telah di undang.
Bu Ban Liong, Jagal Utara, Nenek Kipas Hitam, sepasang Hantu Malam, Tongki, lblis Biru serta 20 murid utama yang mengawal Bu Ban Liong masuk ke ruangan.
Sa Sie Hwa serta Han Ciu tersenyum melihat sepasang Hantu Malam datang bersama dengan Tongki serta lblis Biru.
“Seperti dugaanku,” Ucap Han Ciu dalam hati melihat anak buahnya.
Seperti biasa, Han Ciu berdiri dengan kedua pedang di punggung, sedangkan Talaba pedang di pinggang, busur ia pegang dengan puluhan anak panah berada di punggungnya.
Sebuah meja dengan 3 kursi, serta masing – masing pengawal berada di belakang ketua mereka.
Gubernur Ping Ang membuka percakapan setelah Bu Ban Liong duduk.
“Ketua Bu, perkenalkan !” ini adalah ketua penginapan Bunga Naga nyonya Sa Sie Hwa, Bu Ban Liong mengangguk memberi hormat kepada Sa Sie Hw sambil tersenyum.
Bu Ban Liong memang pernah mendengar bahwa penginapan Bunga Naga di pimpin oleh seorang wanita.
“Gubernur An, aku tak melihat pengawal setia tuan, pendekar Baju Merah, kemana gerangan itu ?”
Phuih !
“Pendekar Baju merah mempunyai kepandaian tinggi, hamba meminta ia berjaga jaga di luar supaya tidak ada yang mengganggu pembicaraan kita ini,” ucap gubernur An menjawab pertanyaan Bu Ban Liong.
Bu Ban Liong tersenyum mendengar perkataan Ping An.
“Mari kita kembali ke pembicaraan inti” ucap Ping An.
“Ketua penginapan Bunga Naga ingin membuka cabang di kota Sishui ini, aku sudah menyetujui permintaan dari nyonya Sa, tetapi aku juga ingin ketua Bu mengetahui persoalan ini,” ucap Ping An.
Bu Ban Liong tersenyum mendengar perkataan Ping An.
“Kenapa aku harus tahu tuan gubernur ?” Bu Ban Liong menjawab perkataan Ping An, nada suaranya seperti yang merendah.
“Tadinya aku juga berpikir seperti itu ketua Bu, karna biasanya di kota tempat cabang penginapan bunga naga, ijin membuka cabang hanya kepada penguasa setempat dalam hal ini adalah gubernur Ping An,” tapi gubernur Ping An bicara ketua Bu harus tahu, dan sekarang aku ingin mendengar keterangan dari ketua Bu.” Ucap Sa Sie Hwa sambil tersenyum lalu menatap Bu Ban Liong.
Ha Ha Ha.
“Gubernur Ping An terlalu memandang tinggi kepadaku nyonya Sa.” Bu Ban Liong menjawab dengan bangga perkataan Sa Sie Hwa.
Baiklah, tuan – tuan, aku akan bicara, pada pokok inti.
“Penginapan Bunga Naga akan membuka cabang di kota Sishui dan pajak akan kami berikan kepada gubernur untuk membantu pembangunan kota Sishui serta pengelolaan penginapan bunga naga juga akan kami berikan kepada gubernur Ping An, Silahkan jika ada yang kurang jelas dari perkataanku, bisa tuan tanyakan !” Ucap Sa Sie Hwa.
Gubernur Ping An tersenyum mendengar perkataan Sa Sie Hwa, tapi tidak dengan Bu Ban Liong.
Hmm !
“Jadi aku di undang kesini hanya untuk menjadi saksi antara kalian berdua ?” tanya Bu Ban Liong sambil menatap tajam ke arah gubernur Ping An.
Gubernur Ping An, mendengar perkataan dari Bu Ban Liong lalu berkata.
“Tepat ketua Bu, maksud kami mengundang ketua adalah menjadi saksi perjanjian antara aku dengan ketua penginapan bunga naga.” Ping An berkata.
__ADS_1
Mendengar perkataan Ping An, Bu Ban Liong menatap tajam, “tuan An, apa tuan bisa menjamin keamanan di kota Sishui jika terjadi kerusuhan ?” tanya Bu Ban Liong.
Ping An tak menjawab pertanyaan Bu Ban Liong.
Sa Sie Hwa yang mendengar perkataan Bu Ban Liong berkata.
“Kami melihat kota Sishui aman, itu sebabnya kami berencana membuka cabang di kota ini.
Ketua Bu bilang jika terjadi kerusuhan, kerusuhan apa yang di maksud oleh ketua Bu ?” tanya Sa Sie Hwa sambil menatap tajam ke arah Bu Ban Liong.
Kenapa ketua Sa tidak bertanya saja kepada Ping An,” ucap Bu Ban Liong dengan nada dingin.
“Aku tahu sekarang ! bukankah kerusuhan itu datang dari ketua Bu ? Ucap Sa Sie Hwa.
Brak !
Bu Ban Liong menggebrak meja yang ada di depannya.
“Jika bicara tolong di pikir dahulu, aku tahu penginapan bunga naga sangat besar dan banyak cabang dimana mana, tapi di kota Sishui harap nyonya bila bicara hati – hati karna di sini adalah tempatku, bukan daerah kekuasaan milik bunga naga.” Ucap Bu Ban Liong sambil menatap tajam ke arah Sa Sie Hwa.
“Ketua Bu mengancamku ? Tanya Sa Sie Hwa.
“Jika iya, apa yang akan ketua lakukan ?”
Bu Ban Liong berkata sambil menatap tajam ke arah Sa Sie Hwa.
“Jika benar kau mengancamku, nasibmu akan sama dengan Tongkat Naga serta 200 orang anak buahnya yang sedang menunggumu di neraka.” Sa Sie Hwa berkata dingin sambil menatap Bu Ban Liong.
Brak....Brak....Brak
Beberapa pintu ruangan langsung tertutup setelah Sa Sie Hwa berhenti bicara.
Bu Ban liong mendengus, lalu menatap bergantian ke arah Ping An serta Sa Sie Hwa.
“Jadi kalian berdua menjebakku ?” ucap Bu Ban Liong.
Lanjut perkataan Bu Ban Liong.
“Ping An, sepertinya hari ini aku akan mengambil alih kota Sishui dari tanganmu.”
Setelah Bu Ban Liong selesai bicara terdengar suara dari sepasang Hantu Malam.
“Ketua ! Biar kami yang akan menghadapi mereka.” Ucap Hantu Malam rambut putih.
“Baiklah saudara Rambut putih, silahkan,” ucap Bu Ban Liong.
Sepasang Hantu Malam, lblis Biru serta Tongki berjalan.
Mereka terus berjalan melewati Bu Ban Liong, setelah sampai di hadapan Han Ciu mereka memberi hormat, kemudian berdiri di belakang Han Ciu.
Melihat Hal itu, Bu Ban Liong terkejut ia berdiri lalu lompat mundur, Jagal Utara serta nenek Hitam langsung siap di belakang Bu Ban Liong.
“Aku hadapi si Jagal, sedangkan kau hadapi nenek genit itu,” ucap Tongki kepada Ming Mo.
Phuih !
“Kau saja yang hadapi nenek itu,” ucap lblis Biru dengan nada ketus.
Nenek Kipas Hitam tanpa bicara kepada Bu Ban Liong melesat, lalu bersiap.
Matanya yang genit dan sering mengedip, menatap Ke arah Tongki.
“Aku ingin bertarung dengan orang yang membawa golok.” Ucap Nenek Kipas Hitam sambil mengedipkan mata ke arah Tongki, Tongki langsung melihat ke belakang, yang tak ada siapapun di belakang dirinya.
“Kau....iya kau lawanku, kenapa menengok ke belakang ? Nenek Kipas Hitam berkata sambil menunjuk ke arah Tongki.
Han Ciu mengerutkan kening melihat Tongki yang sudah di ajak bertanding tapi seperti yang tak peduli.
“Paman ! nenek itu menantangmu,” ucap Han Ciu sambil menoleh ke arah Tongki.
Tongki yang mendengar perkataan Han Ciu, menjawab, “ketua ! biar lblis Biru saja yang melayani nenek itu.”
Iblis Biru yang mendengar perkataan Tongki, sebelum Han Ciu bicara, sudah mendahului menjawab sambil melotot ke arah Tongki.
__ADS_1
“Tak sudi”