
Han Ciu tersenyum melihat lebah perut biru pergi setelah mendengar suara suling.
Dengan adanya bukit batu ini kita tertolong, karna lebah itu tak bisa menyerang dari belakang.
Tapi kita harus lebih berhati hati, pasti mereka sudah menyiapkan jebakan yang lebih berbahaya untuk memperlambat gerakan kita.
Semua yang ada di situ mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
“Bibi ! kalau bisa, sebelum malam kita harus sudah sampai ke markas perguruan selaksa racun, bagaimana ? Sebab jika sampai kita bermalam di hutan, akan sangat berbahaya.”
Dewi Kipas yang mendengar perkataan Han Ciu anggukan kepala, “sebenarnya aku sudah lama melihat perguruan Selaksa Racun.
“Jalan – jalan yang dulu ku lihat agak berbeda, tapi aku masih hafal jalan yang menuju markas perguruan Selaksa Racun, aku rasa sebelum malam kita akan sampai di perguruan Selaksa racun.” Han Ciu anggukan kepala mendengar perkataan Dewi Kipas.
“Mari Bibi, lebih cepat lebih baik,” lanjut perkataan Han Ciu.
Dewi Kipas setelah mendengar perkataan Han Ciu lalu bergerak ke arah utara, yang lain mengikuti tak jauh dari Dewi Kipas.
***
“Keparat....Kurang ajar,” teriak salah seorang pria yang berbaju hijau sambil menggebrak meja.
“Tenang Toako, jangan terpancing emosi,” Racun baju hitam berkata.
“Bukankah aku sudah memperingatkan, bahwa mereka bukan orang sembarangan.” Lanjut perkataan Racun Hitam.
“Adik benar, mereka ternyata pendekar – pendekar hebat.
Lubang ular yang ku buat juga tak berguna. Setelah kuperiksa, sepertinya ada yang jatuh, tapi masih bisa tertolong oleh kawan yang lain, tadi ketika kalian berdua keluar, adik Hijau cerita, ia juga kehilangan banyak lebah perut biru yang ia latih.
“Mereka tertolong oleh dinding batu, jadi lebah peliharaanku tak bisa menyerang mereka dari belakang.”
“Kakak, sekarang apa yang harus kita lakukan ? Racun baju kuning bertanya kepada seorang yang berpakaian merah, pemimpin dari lima racun.
Racun Merah tampak termenung, tak lama kemudian terdengar suara dari Racun Merah.
“Rombongan itu sudah mengetahui letak perguruan kita yang berada di lembah kabut, sepertinya sudah tidak ada jalan lain bagi kita untuk menghindar dari mereka,” Racun Merah berkata sambil menatap ke arah adik seperguruannya.
“Sebagian kawan sudah mengikuti ketua begitu pula dengan guru Han Cikung.
“Kita adalah rombongan terakhir, tetapi kita juga tak bisa hanya diam jika kita tahu perguruan Selaksa Racun akan di hancurkan, kita biarkan mereka masuk, lalu hantam dari luar,” Ucap Racun Merah.
Racun coklat, hitam, hijau serta kuning anggukan kepala mendengar perkataan orang yang menjadi pemimpin lima racun.
"Kita bersembunyi di tempat rahasia, sambil menunggu kedatangan mereka." lanjut perkataan Racun Merah
Mereka lalu bergerak sambil menyusun rencana, serta bersiap menyambut kedatangan rombongan Han Ciu.
****
Setelah mengingat ingat jalan yang dulu pernah ia lalui.
Menjelang senja Dewi Kipas beserta para rombongan sampai di sebuah bukit, dari atas bukit tempat mereka berkumpul.
Di balik batu besar, Han Ciu melihat perkampungan yang di kelilingi hutan, dari atas bukit tempat mereka mengintai, walau samar tapi ada beberapa bangunan berdiri, serta rumah – rumah kecil
Pagar tinggi layaknya sebuah benteng mengelilingi perkampungan itu.
Jadi ini markas perguruan Selaksa Racun ? Ucap Han Ciu.
“Benar ketua,” jawab Dewi Kipas dengan nada penuh kepastian.
Han Ciu sambil mendengarkan perkataan dari Dewi Kipas, terus menatap tajam ke arah markas perguruan Selaksa Racun.
Walaupun markas perguruan Selaksa Racun sedikit tertutup kabut, tapi Han Ciu masih dapat melihat, dan dahinya tampak berkerut wajahnya terlihat bingung melihat ke arah markas perguruan Selaksa Racun.
“Tapi bibi Dewi ! sepertinya di markas perguruan Selaksa Racun, aku tak melihat ada orang,” ucap Han Ciu.
__ADS_1
“Jika masalah itu aku tidak tahu ketua, tapi memang yang di bawah bukit ini di sebut lembah kabut, dan yang di bawah adalah markas Selaksa Racun,” jawab Dewi Kipas.
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Dewi Kipas, ia percaya kepada adik seperguruan koksu Beng San, penasihat sekaligus pengawal pribadi pamannya, Liu Bang si Penguasa Barat.
“Mungkin benar berita yang kita dengar, murid Selaksa Racun serta ketua mereka sudah bergabung dengan Xiang Yu, jadi markas mereka kosong,” lanjut perkataan Dewi Kipas.
“Kita istirahat dulu di sini ! nanti saat malam tiba, kita masuk ke markas Selaksa Racun,”
Semua anggukan kepala mendengar perkataan Han Ciu.
Mereka lalu membuka perbekalan, kemudian sambil istirahat menunggu malam, Han Ciu serta rombongan makan serta minum arak yang mereka bawa.
Sementara Dewi Kipas, Tongki serta lblis Biru berkumpul bersama.
Sedangkan Han Ciu, Zhain Li Er serta Xiao Er.
Talaba berjaga jaga di sekitar tempat mereka berkumpul.
“Apa benar yang kau katakan ketika bercakap cakap dengan Talaba ? Tanya Dewi Kipas kepada Tongki.
Hmm !
“Benar tidak ya,” ucap Tongki tanpa melihat ke arah Dewi Kipas.
Cis !
“Kan kau sendiri yang bilang, kenapa sekarang kau bimbang ? Dewi Kipas bertanya kembali setelah mendengar perkataan Tongki.
Tongki garuk kepalanya walau tidak gatal, ia bingung menjawab pertanyaan Dewi Kipas.
Iblis Biru yang tak mendengar Tongki bicara, lalu menatap ke arah Dewi Kipas.
“Apa kau sudah lupa dengan taruhanmu ? Tanya Iblis Biru.
Saat Dewi Kipas hendak menjawab, tapi di dahului oleh Tongki.
Ming Mo mendengus sebelum menjawab.
“Aku kan Cuma tanya, dan aku tanya kepada dia, tapi kenapa kau yang jawab ?
“Lalu apa maksud dan tujuan kau berkata seperti itu ? Kata – kata Tongki mulai naik.
Melihat suasana mulai panas, Dewi Kipas akhirnya bicara.
“Aku masih ingat taruhan itu, dan aku kalah,” sudah ku jawab pertanyaan saudara Mo.
“Dan sekarang aku tanya kepada saudara Tong, apa sekarang aku mengganggu saudara Tong ? Tanya Dewi Kipas.
“Tidak....Tidak mengganggu, kan Dewi hanya bertanya saja,” ucap Tongki sambil tersenyum.
Phuih !
“Tak punya pendirian,” ucap Ming Mo.
“Eh...apa yang kau bilang tadi ? cepat katakan sekali lagi,” suara Tongki makin meninggi sambil terus menatap ke arah Ming Mo.
“Ternyata telinganya juga tuli.” Setelah berkata Ming Mo menenggak arak dari wadah arak miliknya.
Tongki langsung berdiri, “cepat katakan sekali lagi, apiku atau es mu yang unggul,” suara Tongki terdengar oleh mereka yang berada di sekitar.
Talaba, Han Ciu serta kedua istrinya menatap ke arah Tongki.
Wajah Dewi Kipas tampak merah.
“Sudah saudara Tong, kalian berdua seperti anak kecil, jika terus seperti ini, suara kalian akan terdengar sampai bawah,” ujar Dewi Kipas, wajahnya tampak cemas.
Tongki yang mendengar perkataan Dewi Kipas akhirnya duduk kembali.
__ADS_1
Han Ciu hanya gelengkan kepala melihat kedua kakek itu.
Malam tiba, Han Ciu setelah memberi arahan, turun bersama rombongan, gerakan mereka kali ini sangat cepat.
Bayangan – bayangan Hitam tampak menuruni bukit, kemudian bayangan – bayangan tersebut berkelebat dari pohon ke pohon, mendekati markas perguruan Selaksa Racun.
Han Ciu memimpin anak buahnya, melesat meloncati benteng kayu dari perguruan Selaksa racun, setelah masuk ke dalam markas musuh, Han Ciu langsung melesat ke arah sebuah pohon besar di samping sebuah gedung kecil.
Matanya tajam menatap sekitar, walaupun malam, dengan kekuatan tenaga dalam yang tinggi, mata Han Ciu bisa melihat di kegelapan.
Han Ciu lalu memberi tanda.
Zhain Li Er dan yang lain lalu melesat ke arah pohon dimana Han Ciu berada.
Hmm....Aneh, kenapa sepi sekali, seperti kampung yang tak berpenghuni,” ucap Han Ciu pelan.
“Itu ada gedung besar di depan panggung arena, siapa tau di dalam ada murid perguruan Selaksa Racun.
“Aku, Adik Zhain serta adik Xiao akan ke gedung besar, sedangkan kalian berpencar, mencari siapa yang bisa di tanyai, setelah selesai, kita berkumpul di gedung besar.
Dewi Kipas, Ming Mo, Tongki, serta Talaba mengerti maksud Han Ciu lalu melesat ke arah kanan dan Kiri, sedangkan Han Ciu melesat ke arah gedung besar bersama kedua Istrinya.
Han Ciu masuk ke dalam gedung, lalu memeriksa, tapi tak ada satu pun orang di dalam gedung.
“Kenapa tidak ada satu pun orang dari perguruan Selaksa Racun,” pikir Han Ciu.
Tak lama kemudian, Ming Mo serta yang lain datang ke dalam gedung besar tempat Han Ciu berada.
“Bagaimana ? Tanya Han Ciu sambil menatap ke arah anak buahnya.
Tapi semua gelengkan kepala.
Hmm !
“Aneh ! mengapa tak ada satu pun orang di dalam markas perguruan Selaksa Racun,” ucap Han Ciu.
Wajah Han Ciu tampak berubah, ketika telinganya mendengar suara desisan dari arah luar gedung.
“Sepertinya kita di jebak ! Ucap Han Ciu.
Tak lama setelah berkata, dari celah pintu dan jendela gedung, cahaya masuk.
“Mari kita keluar, mereka sudah menyambut kedatangan kita,” Han Ciu berkata sambil jalan keluar gedung.
Setelah membuka pintu gedung, di atas panggung arena, tampak berdiri lima orang yang berpakaian, coklat, hitam, hijau kuning serta merah.
Puluhan obor terpasang, suasana di sekitar gedung terlihat terang, puluhan orang sambil membawa berbagai senjata menatap ke arah rombongan Han Ciu, tatapan mereka tampak bengis seperti hendak *******.
Tapi yang membikin, Zhain Li Er, Xiao Er serta Dewi Kipas bergidik ngeri adalah di depan mereka ratusan ular beracun, kelabang serta serangga beracun lain, udara di sekitar langsung, berubah anyir dan berbau busuk.
Binatang beracun itu seperti menunggu perintah untuk menyerang, belum lagi lebah perut biru yang jumlahnya ratusan siap menyerang dari atas.
Dewi kipas yang merasa ngeri melihat ular, hendak ke belakang Han Ciu, tetapi Tongki langsung menahan tangan Dewi kipas.
“Kau jangan takut terhadap ular – ular itu.”
Ucap Tongki
“Aku bukannya takut, tapi merasa geli dan jijik melihat ular – ular itu,” Dewi kipas menjawab ucapan Tongki.
“Yang harus kau waspadai bukan ular yang jumlahnya ratusan itu,” Tongki kembali berkata.
“Lalu ular apa ? Tannya Dewi Kipas.
“Dia,” ucap Tongki sambil menunjuk ke arah Ming Mo.
“Ular Biru”
__ADS_1