Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 253 : Runtuhnya pertahanan kota Henei


__ADS_3

Rombongan pasukan Han Ciu terus bergerak menuju kota Julu.


Mereka tidak mengetahui bahwa kota Henei mulai di serang oleh pasukan bintang timur.


Saat 2 hari perjalanan akan sampai ke kota Julu, pasukan Han Ciu bertemu dengan para pengungsi yang berbondong bondong menjauh dari kota sekitar tempat pertempuran.


Setelah bertanya tanya, Han Ciu serta rombongan terkejut mendengar cerita dari para pengungsi, bahwa kota Henei sudah hampir 2 hari di gempur oleh pasukan bintang timur.


Han Ciu kemudian berunding dengan anak buahnya, langkah apa yang harus ia ambil.


Huang Zilin dan Tongki diam, begitu pula yang lain.


Melihat semuanya diam, Han Ciu bertanya kepada Pedang api, "bagaimana menurut paman? Tanya Han Ciu.


Pedang api menarik nafas panjang setelah mendengar perkataan Han Ciu.


"Hamba bingung ketua, mata² tak ada yang memberi laporan kepada kita, bahwa kota Henei dan kota Dang di serang oleh pasukan bintang timur. ( Han Ciu tidak tahu, semua yang di curigai menjadi mata mata penguasa barat di habis oleh anak buah Han Cikung )


"Rupanya mereka tidak mau pasukan penguasa barat bertambah besar, sehingga memutuskan untuk menyerang.


"Kita butuh dua hari sampai kota Julu, kemudian sehari perjalanan sampai ke kota Henei, sepertinya kota Henei sulit untuk bertahan,” ucap Pedang api.


“Di gempur habis²an selama 6 hari, akan sulit bagi mereka untuk bertahan,” lanjut ucapan Pedang api.


Han Ciu kemudian membuka gulungan peta yang bergambar jalan, kota dan gunung.


"Lalu selanjutnya langkah apa yang harus kita ambil? Tanya Han Ciu sambil membuka peta.


"Jika kita ke Julu menurut hamba percuma ketua! Lebih baik kita ambil jalur menuju kota Hedong.


"Hedong....Hedong! Seru Han Cui, wajahnya seperti tengah berpikir.


“Jadi paman ambil kemungkinan terpahit? Tanya Han Ciu.


“Betul ketua! Jawab Pedang api sambil tersenyum, karena Sang ketua tahu maksud hatinya.


“Semoga saja perkiraan paman salah, karena korban sudah terlalu banyak, kasihan rakyat,” ucap Han Ciu.


"Pemikiran paman pedang api ternyata sama dengan ku, menuju Hedong adalah langkah yang tepat," batin Han Ciu.


"Baik, siapkan pasukan! Malam ini juga kita berangkat ke Hedong.


Sebagian anak buah Han Ciu tak mengerti kenapa mereka harus ke Hedong, bukan ke kota Julu atau Henei.


Tapi Han Ciu tak cukup waktu untuk menjelaskan kepada mereka, pasukan kemudian bergerak ke timur menuju Hedong dengan segudang tanda tanya.


****


Pasukan Pedang Langit yang terus bergerak tertegun setelah melihat dari atas bukit.


Suasana kota Dang yang bisa terlihat dari bukit tampak mengenaskan.


Pedang langit gelengkan kepala melihat keadaan kota Dang, sengaja pasukannya ia ajak naik ke atas bukit dan berkumpul, ternyata keputusannya tepat.


Kota Dang yang terlihat dari atas bukit tampak merah membara, dengan asap hitam membumbung tinggi.


"Dasar manusia kejam, gedung sampai rumah penduduk mereka bakar, benar² tak punya perikemanusiaan,” ucap Pedang langit dengan nada geram.


“Lalu apa tindakan kita selanjutnya, tuan? Tanya salah seorang perwira yang tergabung dengan pasukan Pedang langit.


“Jika kita turun sekarang, kita akan habis, pasukan mereka aku lihat banyak sekali, sebaiknya kita menunggu mereka keluar dari kota Dang, lalu mencari sisa² pasukan yang masih hidup dan tercerai berai.”


Para perwira anggukan kepala mendengar perintah pedang langit.


Jika mereka membantu kota Dang yang sudah hancur, mereka juga pasti hancur karena jumlah pasukan bintang timur yang lebih banyak.


Sebelum malam, pasukan Han Cikung keluar dari belakang gerbang kota Dang, setelah menghancurkan kota tersebut.


Pedang langit yang melihat kepergian pasukan Han Cikung tampak terkejut.


"Ternyata kota Henei akan di serang dari 2 arah dari depan dan dari timur, apa yang harus kulakukan, jika aku menyerang pasukan bintang timur yang baru saja keluar, kami pasti akan habis.

__ADS_1


"Pasukan mereka sepertinya ada sekitar 20 ribu pasukan, apa artinya pasukan ku yang hanya 7 ribu," batin Pedang langit.


Perkiraan Pedang langit benar sekali, Han Cikung sudah sepakat dengan Xiang Yu, jika kota Dang berhasil di kuasai, mereka akan langsung bergerak dan mengepung kota Henei, 20 ribu pasukan Xiang Yu menyerang dari utara, dan 20 ribu pasukan yang di pimpin oleh Han Cikung menyerang dari timur.


****


Di kota Henei tengah resah, menurut laporan pasukan di gerbang timur, musuh sudah sampai di gerbang timur kota Henei.


"Satu kota telah Hancur, pasukan saudara Pedang Langit juga aku rasa sudah hancur oleh pasukan bintang timur yang menyerang kota Dang.


"Pertahanan kita mulai lemah, pasukan kita juga banyak terbuang, sementara pasukan yang di bawa oleh Han Ciu, kita tidak tahu kapan akan sampai di kota Henei, karena belum juga ada kabar,” Beng San berkata kepada Liu Bang.


“Paman benar, hari kemarin kita di serang dari 2 wilayah, prajurit kita banyak yang tewas, aku tidak tahu sampai kapan kota Henei akan bertahan.


“Jika sampai kota ini jatuh, Tuan Liu Bang harus segera tinggalkan tempat ini apapun yang terjadi.” Ucap Beng San.


“Tapi paman! Sebelum Liu Bang berkata kembali, Beng San sudah mendahului.


“Yang Mulia! Lerjuangan belum berakhir jika yang mulia masih ada.


"Tetapi jika yang mulia terkubur di kota ini! Perjuangan kami juga ikut selesai," ucap Beng San.


Liu Bang termenung sambil anggukan kepala mendengar penasihat yang dari dulu selalu bersamanya.


"Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan kota Henei, sambil menunggu keponakan Han datang," ucap Liu Bang.


Setelah menetapkan hati, keduanya lalu fokus untuk mempertahankan kota Henei.


Tiga hari telah berlalu, bagian atas benteng depan banyak yang hancur oleh hantaman alat pelontar batu.


Beng San terpaksa membagi dua pasukan untuk menjaga gerbang utama serta gerbang timur.


Tetapi pasukan semakin lama semakin berkurang walau pintu gerbang berhasil mereka pertahankan.


Hari ke empat akhirnya gerbang utama berhasil di jebol oleh pasukan bintang timur.


Beng San bersama Liu Bang bertempur dengan gagah berani, ketua Xiao tak jauh dari Liu Bang bersama dengan Hek Kai bertempur.


Pedang, Tongkat serta tangan kosong Xiao Cen terus memburu pasukan bintang timur yang berada di dekat mereka.


Perlahan pasukan penguasa barat mundur, kewalahan menghadapi serangan dari dua arah.


“Mundur....Yang mulia mundur! Hek Kai dan Ketua Cen tolong lindungi yang mulia agar bisa keluar dari sini, biar aku tahan mereka,” ucap Beng San, tubuhnya sudah penuh dengan darah prajurit musuh, rambut putihnya juga sudah berubah warna menjadi merah.


Beng San terus menyabet dan menebas pasukan bintang timur yang berusaha mendekat.


Ketua Xiao Cen menyambar seekor kuda, lalu menyuruh Liu Bang untuk naik.


“Yang Mulia, cepat tinggalkan tempat ini bersama 500 pasukan berkuda, nanti kami semua menyusul,” ucap Ketua Cen.


“Hek Kai! Kau temani Yang mulia,” setelah berkata, ketua Cen melesat ke arah prajurit pasukan bintang timur, kedua tangannya menghantam dengan pukulan api suci.


Beberapa prajurit terpental dengan tubuh hangus, sisanya menggelepar meregang nyawa.


Xiao Cen menyambar sebuah pedang, kemudian mengamuk.


"Kejar....kejar jangan sampai lolos! Teriak salah seorang perwira bintang timur sambil menunjuk ke arah Liu Bang yang memecut kudanya dengan 500 prajurit berkuda bersama Hek Kai keluar dari gerbang selatan.


Pasukan bintang timur yang menunggang kuda langsung menarik tali kekang kuda dan mengejar Liu Bang.


Ketua Cen melemparkan pedang yang ia pakai ke arah seorang penunggang yang hendak mengejar Liu Bang.


Shing....Crep!


Prajurit itu tersungkur, ketua Cen menyambar seorang penunggang, kemudian menghantam kepalanya.


Prak!


Ketua Cen menyambar tombak lalu menggebrak kuda, mengikuti arah kemana Liu Bang pergi.


Beng San yang melihat bahwa Kota Henei tak bisa lagi di pertahankan kemudian naik kuda, lalu berteriak kencang.

__ADS_1


“Ambil kuda....mundur....mundur.”


Perwira dan prajurit yang tersisa mencari kuda, setelah dapat atau mengambil kuda lawan, para perwira yang tersisa langsung mengikuti Beng San menggebrak kuda berusaha mengejar Liu Bang yang tengah di buru oleh pasukan berkuda yang di pimpin oleh seorang perwira kepala pasukan berkuda, Tian long si tombak utara.


Ketua Cen serta Beng San sudah bergabung dengan Liu Bang, sekitar 1000 pasukan berkuda yang tersisa bersama mereka.


Pasukan bintang timur dengan 3000 pasukan berkuda di pimpin oleh tombak utara terus mengejar pasukan Liu Bang.


Di belakang mereka, hampir 15 ribu pasukan yang di pimpin oleh Xiang Yu serta Han Cikung terus mengejar.


1000 ekor kuda berlari di padang rumput menuju ke arah hutan, sedangkan di belakang mereka 3000 pasukan berkuda bintang timur terus mengejar.


Liu Bang, Ketua Cen, Beng San serta Hek Kai diam sambil menatap hutan, hutan lebat yang penuh dengan semak berduri dan pepohonan besar yang rapat.


“Kita tak bisa masuk ke dalam hutan ini sambil menunggang kuda,” sepertinya kita harus menghabisi pasukan berkuda mereka, sebelum Xiang Yu bersama pasukannya datang," ucap Beng San.


“Sepertinya hanya sampai disini, perjuanganku,” batin Liu Bang.


Pasukan berkuda bintang timur yang di pimpin tombak utara mulai mendekat.


“Menyerah saja, percuma melawan! Jumlah pasukan kami lebih banyak,” ucap Tombak utara sambil menatap bengis.


Sebelum Liu Bang menjawab, terdengar suara suling mengalun tak beraturan, yang semakin lama semakin kencang.


Tak lama kemudian.


Perlahan dari dalam hutan keluar ribuan ular bergerak menuju ke arah pasukan berkuda bintang timur.


ketika ular melewati Kuda – kuda pasukan Liu Bang, kuda meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan, se ekor ular langsung mematuk kaki kuda yang di tunggangi Hek Kai.


Crep!


Hek Kai berusaha menarik tali kekang dan mengendalikan kuda, tapi kuda semakin liar, dan mulutnya mengeluarkan buih.


Hek Kai lompat turun, sedangkan kuda terus berlari, dan menginjak injak ular, yang semakin lama semakin banyak.


Kuda yang ketakutan langsung di patuk oleh beberapa ular, setelah kuda tewas.


Ular² kecil langsung menggulung kuda yang tewas, gulungan ular yang semakin lama semakin banyak seperti bukit kecil, membuat nyali prajurit bintang timur ciut.


2 orang kakek tampak tengah bercakap cakap di sebuah pohon besar, di belakang rombongan Liu Bang.


“Tak di sangka, ternyata pilihan ketua dan adikku tepat sekali, mereka lari ke arah Hedong, dan kita sudah sangat tepat berada di sini,” ucap Kakek itu yang tak lain Tongki bersama Iblis biru.


“Kenapa ketua tidak langsung menyerang mereka? Dengus Iblis biru.


“Kau tidak dengar ketua bilang, menunggu pasukan inti mereka datang! Baru kita serang," ucap Tongki


“Tapi kau lihat ular² itu, beberapa kuda kawan kita di patuk oleh mereka,” jika gadis kampret itu salah tiup, dan ular sampai tidak bisa membedakan mana lawan mana kawan, bukankah ini berbahaya buat tuan Liu Bang,” ucap Iblis biru.


“Kau tenang saja! Ular nyonya ke empat pasti bisa membedakan mana prajurit kita dan mana musuh.


"Sedangkan kuda mungkin mereka tak bisa membedakan, jadi asal main patuk saja,” jawab Tongki.


“Bagaimana kau bisa tahu? Tanya Iblis biru.


“Kau sudah tua masih saja tolol."


"Coba kau lihat! Prajurit kita dengan prajurit musuh, beda tidak? Tanya Tongki.


“Ya tentu saja beda! Penguasa barat berseragam biru, sedangkan prajurit bintang timur berseragam merah,” jawab Iblis biru.


“Itu sebabnya ular tidak mematuk pasukan kita,”


“Coba kau lihat kuda – kuda yang ada di depan! Mereka memakai seragam tidak? Kembali Tongki bertanya.


“Tidak! Jawab Iblis biru.


“Nah maka dari itu, ular – ular nyonya ke empat tak bisa membedakan, mana kuda lawan dan mana kuda kawan, karena kuda tidak memakai seragam,” ucap Tongki memberi penjelasan.


Mendengar perkataan Tongki, Iblis biru mendengus, sambil menatap sahabatnya itu.

__ADS_1


Hmm!


“Tumben kau pintar."


__ADS_2