
Phuih....Phuih!
Cakar rajawali meludah sambil mengusap air kencing di wajahnya.
Wajah Cakar Rajawali merah menahan marah karena telah di permainkan.
“Paman! Selesaikan dengan cepat,” ucap Han Ciu.
“Ketua tak usah khawatir, aku juga tak ingin buang² waktu dengan seorang keroco,” jawab Tongki.
Tongki melesat dan langsung menyerang Cakar Rajawali.
Golok Tongki menebas ke arah bahu.
Cakar Rajawali kesal sekali kepada Tongki, tongkat baja yang ujungnya berbentuk kaki elang, tanpa sadar menahan golok Tongki.
Trang!
Tongkat baja yang memang tidak terlalu besar, terkena hantaman golok Tongki yang berat, turun.
“Celaka, jika tak bisa menahan, bahuku akan terluka oleh tongkat cakar baja dan golok si keparat ini,” batin Cakar Rajawali.
Cakar Rajawali yang tak mau bahunya terluka, menambah tenaga dalam hampir 12 bagian ke arah tangan kanan yang memegang tongkat baja.
Tongkat cakar baja yang menahan, dan golok Tongki yang menekan, berhenti tepat di atas bahu Cakar Rajawali.
Setelah berhasil menahan tebasan Golok, telapak kiri Cakar rajawali menghantam ke arah perut Tongki.
Tongki melihat musuhnya menyerang, tak mau kalah, tangan kirinya bergerak lalu telapak tangan kiri menghantam ke arah telapak kiri Cakar Rajawali, dengan pukulan hawa neraka.
Cakar Rajawali terkejut, setelah melihat tangan Tongki yang agak kemerahan, Cakar Rajawali berusaha menahan, tapi terlambat.
Blar!
Wajah Cakar Rajawali pucat, ia merasakan tekanan tenaga dalam musuh sangat besar, tangan kirinya serasa hancur.
Cakar Rajawali langsung terpental.
Melihat musuhnya terpental, Tongki menyalurkan tenaga dalamnya ke arah kaki, lalu menghentakan kaki kanannya ke tanah, Tongki langsung melesat setelah dekat dengan tubuh cakar Rajawali yang tengah melayang.
Tangan kanan Tongki bergerak, goloknya langsung menebas ke arah tubuh Cakar Rajawali.
Crash!
Cakar Rajawali langsung tewas, tubuhnya terpotong oleh tebasan golok api.
Tubuh Cakar Rajawali langsung jatuh ke tanah.
Phuih!
“Kepandaian baru seujung jari sudah berani menantang ketua, sungguh orang yang tak tau diri,” Tongki berkata sambil meludah ke arah mayat Cakar Rajawali.
Setelah berhasil menewaskan Cakar Rajawali, Han Ciu dan Tongki bergerak ke arah Iblis biru yang sedang bertempur dengan Li Cao Bu.
Para pengungsi yang kesal, melempari mayat Cakar Rajawali yang telah tewas dengan batu.
Lalu mereka beralih ke pertempuran Li Cao Bu dan seorang kakek berwajah pucat dan bermata biru.
__ADS_1
Sebenarnya nyali Li Cao Bu sudah ciut ketika rombongannya di hadang, apalagi setelah melihat satu persatu perwiranya tewas dan yang terakhir adalah Cakar Rajawali.
Semangat bertempurnya sudah hilang, mentalnya sudah jatuh, dan gerakan² Li Cao Bu dalam bertahan dan menyerang mulai kacau.
Pedang terbangnya hanya berputar putar di sekitar iblis biru, karena tenaga penggerak pedang terbang sudah lemah dan tak berani menyerang, tenaga dalam Li Cao Bu perlahan mulai tersedot.
Keringat mengucur dari wajah Li Cao Bu.
“Kalau begini terus aku bisa kehabisan tenaga,” batin Li Cao Bu.
Jurus pedang terbang adalah jurus yang ampuh dan mematikan, serangan²nya tidak terduga, karena mengikuti perintah dari jauh, tapi kelemahan jurus pedang terbang adalah apabila menemui musuh yang lebih tangguh, serangan yang banyak menggunakan tenaga dalam dan tak bisa membunuh lawan, akan mengakibatkan pengguna ilmu itu dalam bahaya, seperti yang terjadi terhadap Li Cao Bu
Tangan kanannya lalu bergerak seperti orang yang sedang menarik.
Pedang yang sedang mengelilingi Iblis biru seperti di perintah, lalu melesat menuju ke arah sang majikan, Li Cao Bu.
Li Cao Bu menangkap pedangnya.
Lalu menatap tajam ke arah Iblis biru.
“Menyesal aku tidak membunuhmu ketika kau menjadi utusan,” Li Cao Bu berkata.
Phuih!
Iblis biru langsung meludah mendengar perkataan Li Cao Bu.
Wajah Ming Mo yang pucat terlihat sangat bengis.
“Memangnya kau mampu? Tanya Ming Mo.
“Jika saja waktu itu ketua tidak menyuruhku untuk mundur, sekarang kau tak bisa banyak bacot, karena kau sudah ada di neraka,” ucap Ming Mo dengan nada dingin.
Ming Mo menggeser tubuhnya menghindari tebasan pedang Li Cao Bu.
Pedang lewat di samping kiri tubuh Ming Mo.
Tangan kiri Ming Mo menepak badan pedang Li Cao Bu.
Pedang Li Cao Bu terpental.
Tenaga dalam yang sudah banyak berkurang, membuat Li Cao Bu terus berada dalam tekanan.
Hawa dingin yang keluar dari tangan Ming Mo juga menambah repot Li Cao Bu.
Tubuhnya terasa dingin, urat serta darahnya serasa beku dan susah di gerakkan.
“Tapi menyerang adalah pertahanan terbaik,” pikir Li Cao Bu.
Setelah pedangnya terpental, kemudian balik menyambar ke arah pinggang Ming Mo.
Shing!
Ming Mo mundur selangkah, pedang Li Cao Bu lewat beberapa senti di depan perut.
Tangan kanan Ming Mo menghantam ke depan, menggunakan jurus titik beku.
Li Cao Bu terkejut, kemudian loncat menghindari pukulan Ming Mo, setelah berada di atas, pedangnya langsung menebas kepala Ming Mo.
__ADS_1
Tapi memang ini yang di mau oleh Ming Mo.
Melihat musuh loncat sambil menebas.
Perlahan tangan kiri Ming Mo berputar pelan, setelah tangan kiri berputar, kemudian Ming Mo menghantam Li Cao Bu yang tengah menyerang dengan jurus angin es.
Blar!
Wajah Li Cao Bu pucat, pedangnya seperti tertahan oleh dinding yang tebal, perlahan udara di sekitarnya menjadi sangat dingin
Ming Mo menyeringai, melihat Li Cao Bu tertahan di udara, tubuhnya lalu melesat melewati bawah tubuh musuh lalu naik ke atas, kemudian dari belakang Ming Mo menghantam ke arah tengkuk Li Cao Bu.
Buk....Krek!
Li Cao Bu matanya mendelik, tubuhnya terasa kaku, kemudian penguasa kota Shang langsung tersungkur ke tanah, dengan tulang leher patah dan urat besar di lehernya membeku, akibat pukulan angin es yang di keluarkan oleh musuhnya.
Li Cao Bu penguasa kota Shang yang kejam, langsung tewas.
Para pengungsi yang menonton pertempuran langsung sorak, melihat bekas pemimpin kota mereka tewas.
Han Ciu menatap ke arah para pengungsi yang melihat pertempuran, kemudian berkata.
“Kami tak pernah memaksakan kehendak kepada para penduduk, perang memang kejam, tapi kami ingin yang terbaik untuk kedepannya, jika kalian ingin meneruskan perjalanan meninggalkan kota, silahkan!
Tapi untuk kedepannya jika kalian ingin kembali ke kota Shang akan sulit, karena kami akan membatasi orang² yang masuk maupun keluar kota sampai perang ini berakhir, dan keputusan ada di tangan kalian.” Setelah berkata lalu Han Ciu menyuruh Ming Mo serta Iblis biru untuk membawa harta yang di sembunyikan di dalam keranjang sayur.
Lalu pergi ke arah kota Shang.
Sebagian pengungsi yang mendengar perkataan Han Ciu, sebagian besar akhirnya kembali ke kota Shang.
Kota Shang setelah di kuasai oleh pasukan penguasa barat langsung berbenah diri, Han Ciu memerintahkan para penduduk dan para prajurit untuk membangun kembali kota Shang setelah sebagian hancur akibat pertempuran.
Zhain Li Er di kota Shang menunjukkan gejala aneh, kepalanya suka pusing dan mual, setelah di periksa oleh tabib kota, akhirnya di ketahui, perut Zhain Li Er telah berisi benih dari Han Ciu.
Xiao Er, Dewi kipas, Tongki serta Ming Mo yang mendengar kabar bahwa Zhain Li Er tengah hamil muda, kemudian memberi selamat kepada Han Ciu.
Setelah tabib pulang, mereka berkumpul di ruang tengah sambil bercakap cakap, wajah Zhain Li Er merah dan sering tundukkan kepala setelah Tabib memberitahukan kepadanya bahwa kini ia telah berbadan dua.
“Adik Li, sebaiknya kau kembali ke telaga barat, berkumpul bersama dengan adik Zee In Biauw,” ucap Han Ciu.
“Tidak....tidak....aku tidak mau, aku mau bersama kak Han,” ucap Zhain Li Er.
“Tapi perang ini bisa membahayakan kesehatanmu! Seru Han Ciu.
“Benar ucapan ketua, nyonya.” Lanjut perkataan Tongki, “jika di telaga barat banyak yang akan memperhatikan nyonya,”
Cis!
“Kau jangan ikut campur urusanku, di sini ada cici Xiao Er serta bibi Dewi yang membantuku.
“Dan jika harus bertempur, aku masih kuat,” ucap Zhain Li Er.
“Tabib juga tadi berkata, anak yang ku kandung akan lebih baik jika berdekatan dengan ayahnya, apalagi jika ayahnya sering menengoki anak yang ku kandung ini, itu akan lebih baik lagi” ucap Zhain Li Er sambil menundukkan kepala, wajahnya tampak merah.
Xiao Er tertawa kecil sambil menutupi mulutnya yang terbuka mendengar perkataan Zhain Li er, sedangkan Dewi Kipas tersenyum sambil melirik ke arah Han Ciu.
Sedangkan kening Tongki berkerut seperti sedang berpikir, ia masih tak mengerti dengan maksud perkataan Zhain Li Er.
__ADS_1
Hmm!
“Belum lahir harus sering di tengok, lalu bagaimana cara ketua menengok anaknya? Pikir Tongki.