
Han ciu melanjutkan perjalanan karna menunggu Sa si hwa tak kunjung datang, karna kekesalan hati seorang dayang yang merasa majikannya, lebih berharga dari pemuda lusuh yang ia temui.
Han ciu melanjutkan perjalanan menuju Hengshan, dan dari Hengshan ke kota Nan sudah tidak terlalu jauh, tapi perjalanan dari Jiujiang ke kota Hengshan lumayan memakan waktu karna memang jaraknya yang jauh.
Han ciu memacu kudanya untuk terus berlari, selama perjalanan dari perkampungan selaksa pedang banyak sudah yang ia pelajari dari perkataan Pedang langit yang sudah ia anggap sebagai kakeknya sendiri, orang tua yang ramah, dan baik hati itu memberi nasehat kepada Han ciu untuk jangan percaya begitu saja terhadap orang yang tak di kenal, karna sekarang sedang terjadi pergolakan antara dua penguasa yang tadinya bersama sama menggulingkan kerajaan Qin, Liu bang dan Xiang yu.
Dan mereka berusaha menarik simpati orang orang untuk berpihak kepada kubu mereka untuk bisa menguasai negri yang sedang kacau, gubernur kota kota besar bertindak sendiri layaknya raja raja kecil, membuat rakyat semakin menderita.
Han ciu terus memacu kudanya untuk lebih cepat sampai di kota Hengshan, hanya menginap di hutan untuk kudanya istirahat.
Han ciu kagum ketika sampai di kota Hengshan, gerbang kota yang megah dan di kelilingi oleh tembok yang melindungi kota, membuat Hengshan kota yang aman dan tentram.
Di kota Hengshan, tak ada perguruan besar, kota itu di mendapat pengamanan dari keluarga Lan yang terkenal dengan ilmu pedangnya.
Keluarga Lan di pimpin oleh seorang kakek yang bernama Lan mo ci, dan sepasang pedang dari keluarga Lan, adalah anak dari Lan mo ci.
ketika berhasil masuk kota Hengshan, Han ciu melihat pemdandangan yang aneh, seorang pemuda sedang berteriak teriak sambil membawa sebuah mangkok hitam dan tongkat hitam.
"Bersedekah, siapa mau bersedekah, bersedekah, ada orang yang membutuhkan sedekah."
Han ciu yang merasa penasaran lalu menghampiri pemuda itu dan bertanya.
"Hai kawan, bersedakah untuk siapa ?"
"Saudara mau bersedekah ?" tanya pemuda itu.
"Aku mau bertanya ?" jawab Han ciu.
"Ganggu saja," jawab pemuda itu, lalu kembali dia berteriak teriak, sambil terkadang memukul mukulkan mangkok dari kaleng ke tongkat bambu hitam miliknya, "sedekah, siapa mau bersedekah !"
Hmm !
"Hai sobat, aku beri kau sedekah dan kau berikan nanti kepada orang tuamu ya !" ucap Han ciu.
Sambil menyodorkan 10 tail uang perak kepada pemuda hitam itu.
"Aku tak bisa menerima uangmu sobat," jawab pemuda hitam itu.
"Memangnya kenapa ?" Han ciu bertanya.
__ADS_1
"Jika kau memberi sedekah untukku akan aku terima, tapi jika sedekah untuk orang tuaku aku menolaknya." Jawab pemuda berkulit hitam itu.
"Makanya aku bertanya, memangnya kenapa ?" ucap Han ciu sambil mengerutkan kening mendengar perkataan pengemis bermuka hitam yang ada di depannya.
"Sebab aku yang membutuhkan uang, sedangkan orang tuaku tidak, mereka hanya butuh doa," Han ciu tersenyum mendengar perkataan dari pengemis hitam, lalu memberikan 10 tail perak, sambil berkata.
"Ya sudah, uang ini kau ambil saja untukmu,"
Wajah pengemis itu langsung berubah begitu mendengar perkataan Han ciu, "terima kasih kawan, Hek kay tak akan lupa akan budi orang yang telah membantunya."
Han ciu tersenyum dan mulai suka dengan sifat terbuka pengemis hitam yang umurnya tak jauh beda dengan dirinya.
"Aku tak mengharapkan imbalan, asal kau mau menunjukan rumah makan yang masakannya enak dan harganya murah, itu sudah cukup buatku."
Ha ha ha.
"Mari mari, Hek kay tunjukan rumah makan itu !" ucap Hek kay sambil tertawa tawa.
Keduanya lalu berjalan ke pusat kota Hengshan.
Sebuah rumah makan tak terlalu besar, tapi dengan kiri kanan dinding rumah makan yang bisa di buka tutup, sehingga orang yang makan bisa sambil melihat lihat keadaan di luar.
"Paman !" Hek kay membawa tamu untuk paman," pengemis hitam itu berkata kepada seorang tua, yang sedang membersihkan meja yang baru saja di tinggalkan oleh mereka yang sudah selesai makan.
Orang tua itu tersenyum, silahkan masuk tuan muda, orang tua itu berkata kepada Han ciu, sambil menarik sebuah kursi setelah kursi di lap terlebih dahulu dengan kain yang tersampir di pundak orang tua itu.
"Paman siapkan makanan terbaik buat kawanku ini," Hek kay berkata.
"Kau tenang saja," orang tua itu menjawab perkataan Hek kay sambil tersenyum.
"Kau ikut makan juga ?" Han ciu berkata sambil menatap ke arah Hek kay.
"Tentu saja, bukankah lebih enak makan berdua daripada seorang diri !" ucap Hek kay.
"Lalu siapa yang bayar makananmu nanti ?" Han ciu bertanya.
"Bukankah kau yang ajak aku makan, tentu saja kau yang bayar,"
"Kau kan sudah ke beri uang, masa sekarang aku juga yang bayar," ucap Han ciu.
__ADS_1
"Sobat !" aku kan pengemis, tidak mempunyai perkerjaan, sedangkan kau seorang busu ( pakaian yang di kenakan Han ciu adalah ciri khas pakaian seorang busu )
"Jadi wajar jika sekali kali kau traktir aku makan."
Han ciu tak bisa berkata kata lagi, hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Hek kay.
Hidangan di sediakan dan memang benar apa kata Hek kay, walau rumah makan kecil, tapi masakan paman tua itu sangat enak, keduanya makan dengan sangat lahap.
Setelah kenyang, Han ciu memesan arak, ia dan Hek kay lalu minum sambil bercakap cakap.
"Sobat, kau menjadi busu dimana, setahu aku yang sudah lebih dulu di sini, aku baru pertama kali ini melihatmu di kota Hengshan !"
"Aku busu rumah hiburan surga malam di kota Nan." Han ciu berkata.
"Rupanya kau habis di pecat di rumah hiburan itu." ucap Hek kay.
"Dipecat !" Han ciu mengerutkan dahi mendengar perkataan Hek kay.
Ha ha ha
"Aku seorang pengemis sobat, informasi di kepalaku datang dan pergi, aku tahu rumah hiburan surga malam yang ada di kota Nan, sudah tak ada, karna di bakar oleh segelintir orang dan semua penghuninya di bunuh."
Han ciu hanya menarik nafas, mendengar perkataan dari Hek kay.
"Tapi kau tak usah khawatir, jika mau bekerja di sini menjadi busu, pasti kau akan cepat mendapat kerja," ucap Hek kay.
Han ciu hanya diam tak menanggapi perkataan dari Hek kay.
Ketika mereka tengah asik minum, terdengar suara gemuruh derap kaki kuda yang berjumlah puluhan.
Han ciu melirik ke arah rombongan berkuda yang berpakaian hitam hitam itu.
"Dimana mana selalu saja ada orang orang yang berpakaian hitam selain busu sepertimu, dan bila mereka datang bergerombol biasanya ada yang sedang mereka incar." ucap Hek kay.
Han ciu tak menanggapi perkataan dari Hek kay.
Karena mata Han ciu tengah focus menatap pemimpin rombongan berkuda dengan mata berkilat dan penuh nafsu membunuh, karna pemimpin rombongan berkuda itu adalah.
"Kiam to"
__ADS_1