
"Jadi kau tidak buta, kenapa tidak bicara dari tadi.” Tongki berkata dengan sedikit kesal.
“Kau yang selalu bilang aku buta,” ucap Han Ciu.
Tongki kemudian kembali ke tempat duduknya, Iblis biru yang berada di samping Tongki tersenyum.
“Kenapa kau tidak tuntun lagi kakek tongkat putih ?” ucap Iblis Biru.
Phuih !
“Berarti kau tau dari semula bahwa dia tidak buta ?” tanya Tongki dengan raut wajah kesal.
“Aku tahu, makanya aku suruh kau diam dan Lihat, malah kau suruh aku tidak ikut campur,” Iblis Biru menjawab perkataan Tongki.
“Teman macam apa kau ini, tidak mau memberitahu teman,”
“Sudah kau diam !" lihat saja pertandingannya, bicara terus bikin kepalaku pusing,” ucap iblis biru.
Dewa Api menatap tajam ke arah Kakek Tongkat Putih.
Kali ini perkataan Dewa Api tidak seperti tadi, setelah Han Ciu mengetuk lantai dengan tongkatnya.
“Sepertinya kau seumuran denganku, dari mana asal tuan ?” tanya Dewa Api.
Han Ciu mendengus.
“Kau mau bertarung atau mau ngobrol ?”
“Kau sungguh tidak sabaran tuan,” Dewa api menatap tajam.
“Apa kau takut ?” ucap Han Ciu, sambil senyum mengejek ke arah Dewa Api.
Keparaat !
Dewa Api berteriak, kemudian melesat sambil tangannya menyambar ke arah kepala Han Ciu.
Karna marah merasa di ejek, tenaga dalam api yang di miliki langsung di salurkan ke arah dua tangan, sehingga kedua tangan Dewa Api berwarna sedikit kemerahan.
Han Ciu tak bergerak.
Setelah tangan Dewa Api sudah dekat kepala, tongkat Putih yang merupakan samaran pedang tulang naga diangkat oleh Han Ciu, untuk menangkis pukulan tangan Dewa Api.
Melihat pukulan tangannya tak di hindari malah di tangkis oleh tongkat, Dewa Api semakin gusar, kemudian menambah tenaga dalamnya ke arah tangan kanan, Dewa Api ingin mematahkan tongkat putih yang menangkis serangan tangannya, tangan kanan semakin merah.
Plak .... Ceeshh !
Ketika tangan yang berwarna merah bertemu dengan tongkat berwarna putih.
Suara seperti logam panas di masukan ke air yang dingin terdengar jelas oleh mereka yang melihat pertandingan.
Pedang Langit dari tempat duduknya, tersenyum sambil anggukan kepala.
Sedangkan Tongki mencolek tangan lblis biru, sambil berkata.
“Kau bisa tidak seperti itu ?”
Hmm !
“Lama – lama ku sumpal mulutmu itu, jika tak bisa diam,” Iblis biru berkata sambil melotot ke arah Tongki.
Tongki yang melihat mata lblis biru bersinar menatapnya, ia langsung menoleh ke arah lain.
Tangan kanan Dewa Api bergetar, ketika bertemu dengan tongkat putih musuhnya, ketika akan menarik, tangannya seperti lengket.
Dewa Api mendengus kemudian tangan kiri kakek serba merah itu, meninju ke arah dada Han Ciu.
Melihat tinju tangan kiri Dewa Api menyerang dada.
Han Ciu menekan satu tongkat yang menjadi tumpuannya, kemudian tubuhnya melayang mundur sambil tongkat kanan menepak tongkat kiri yang sedang menahan tangan kanan Dewa Api.
Tak !
Dorongan dari tongkat yang berlipat membuat Dewa Api juga mundur.
Keduanya mundur menjauh.
Dewa Api mendengus.
Tangan kanannya terasa sangat dingin, perlahan tenaga dalam api ia kerahkan, perlahan dingin di tangan kanan lenyap.
Keduanya saling tatap, Dewa api terkejut, ternyata tenaga dalam kakek tongkat putih tidak berada di bawahnya, sebab melalui perantara sebuah tongkat mampu membuat tangan kanannya terasa dingin, dan membuat ia mundur.
__ADS_1
“Paman Beng San, apa paman kenal dengan kakek tongkat putih ?” Liu Bang bertanya.
“Hamba baru kali ini melihatnya tuan, tapi sepertinya pertanyaan tuan hanya ada 1 orang yang bisa menjawabnya !”
“Siapa paman ?” ucap Liu Bang.
Tuan perhatikan saja ketua Selaksa Pedang, tuan Pedang Langit.
Ketika mendengar penjelasan dari Beng San, Liu Bang langsung melihat ke arah Pedang Langit yang sedang tersenyum sambil melihat ke tengah arena.
Liu Bang mengerti apa maksud dari, perkataan Beng San, lalu kembali menyaksikan pertandingan.
Dewa Api yang gusar dan merasa malu karna telah di buat mundur oleh kakek yang cacat, mengibaskan tangannya.
Hawa tenaga dalam berwarna merah yang panas berbentuk seperti sebuah kipas berwarna merah, pukulan kipas api melesat ke arah Han Ciu.
Han Ciu menancapkan kedua tongkat batunya ke arah lantai, lalu tangan kirinya berputar, kabut yang berhawa sangat dingin tercipta perlahan mengembang dan besar, kemudian tangan kiri mendorong, kabut dingin melesat cepat kearah hawa tenaga dalam Dewa api.
Melihat tangan kiri Han Ciu berputar dan mengeluarkan kabut dingin.
Suma Han mengerutkan keningnya, kemudian ia tersenyum sambil anggukan kepala.
“Rupanya ini yang di maksud bahwa, Keluarga Suma harus merahasiakan, pertemuan mereka dengan Ketua Selaksa Pedang yang sebenarnya.” Suma Han berkata dalam hati.
Karna Suma Han pernah melihat dengan jelas kesaktian Han Ciu yang menghancurkan kapal milik Naga Api yang menghadang, dengan pukulan yang berhawa dingin.
Ceeshh !
Suara mendesis keras terdengar oleh mereka yang menyaksikan bertemunya kedua pukulan yang kedua unsurnya saling bertolak belakang.
Asap membumbung tinggi.
Melihat pukulannya kembali dapat di tahan.
Dewa Api melesat dengan kedua tangan berwarna merah, pukulan tangan api siap menyerang Han Ciu.
Karena posisi Han Ciu memakai tongkat, dan ia tak ingin menggunakan ilmunya, selain ilmu yang ia dapat dari perut bumi, agar penyamarannya tak di ketahui.
Kedua tangannya bergantian menekan tongkat untuk menahan tubuhnya.
Han Ciu melihat Dewa Api melesat, tangan kirinya berputar, kabut dingin kembali keluar tapi kali ini, tangan kiri memegang tongkat, sedangkan tangan kanannya mendorong ke arah kabut dingin yang mengandung butiran air
Shing .. Shing .. Shing
Puluhan butir es melesat menyerang ke arah Dewa Api.
Dewa api yang melihat puluhan sinar berwarna putih melesat cepat ke arahnya.
Kemudian memutar kedua tangan, hawa tenaga dalam berwarna merah tercipta dan menjadi tameng melindungi tubuh Dewa api.
Puluhan butir es air mata naga langsung rontok, begitu menghantam hawa pelindung yang di ciptakan Dewa Api.
Amarah Dewa Api semakin menjadi melihat serangan Han Ciu, kemudian bergerak ke arah kanan, menyerang dari samping,
Han Ciu kemudian mencabut tongkat batu yang menancap di lantai arena.
Dengan kedua tongkat yang seolah menjadi kaki, Han Ciu dengan jurus 10 langkah naga menghindari serangan Dewa Api yang menyambar ke arah bahu kiri.
Tubuhnya Han Ciu bergeser ke arah kanan, menghindari serangan Dewa Api, kemudian tongkat kanan Han Ciu balik menyambar pinggang Dewa Api.
Dewa api lompat sambil bersalto ketika pinggangnya di serang tongkat Han Ciu.
Lalu dari atas, tangan kanan Dewa api menghantam ke arah wajah Han Ciu.
Aku ingin lihat, julukanmu atau pukulan Dewa api milikku yang lebih panas.” Han Ciu berkata dalam Hati.
Han Ciu menekan kedua tongkatnya lebih dalam, dengan tangan kiri menekan tongkat, tangan kanan dengan menggunakan pukulan Dewa api pemberian dari kakeknya Kim Tay Han.
Blaar !
Tangan Dewa api yang dilapisi hawa tenaga dalam berwarna merah bertemu dengan pukulan dewa api milik Han Ciu.
Dewa Api terpental, tapi Dewa Api adalah seorang tokoh yang di segani di golongan putih, saat terpental, kakek yang serba merah kemudian salto di udara sambil menekuk tubuhnya, kemudian turun ke lantai arena,
Dewa Api merasakan tubuhnya panas akibat beradu pukulan dengan Han Ciu.
Dari kepala Dewa api keluar asap putih berhawa panas.
Wajah Dewa api terlihat bengis, matanya merah menatap tajam ke arah Han Ciu.
Han Ciu juga merasakan panas di tubuhnya, tapi tenaga dalam dari mutiara Naga es yang sudah melebur, langsung bergerak ke seluruh tubuh melindungi Han Ciu.
__ADS_1
Semua yang menyaksikan pertandingan gelengkan kepala, mereka tak menyangka Dewa api sampai terpental mundur ketika beradu tangan dengan kakek Tongkat putih, yang julukannya baru mereka dengar.
“Aku yakin sekarang,” ucap Tongki yang berada di samping lblis biru.
Iblis biru yang mendengar perkataan Tongki menoleh kearah kakek itu.
“Apa yang kau yakini ?” tanya Iblis Biru.
“Aku yakin kau tak akan bisa mengalahkan kakek tongkat putih, sahabat baruku itu,” ucap Tongki.
Phuih !
“Kenapa kau bawa - bawa aku, kau pikir saja sendiri, kau sanggup tidak mengalahkan dia ?” lblis Biru berkata dengan nada tinggi.
Tongki tak menanggapi perkataan Iblis biru, hanya tangan kirinya bergerak ke arah bibir, memberi isyarat untuk lblis Biru agar diam.
Dewa Api menatap tajam ke arah Han Ciu.
“Siapa kau sebenarnya ?” Dewa Api bertanya.
“Tak usah banyak bicara, mari kita lanjutkan,” ucap Han Ciu membalas perkataan Dewa Api.
Teringat akan kematian kedua orang tuanya di depan kakek ini dan hantaman Dewa Api yang membuat ibunya tewas.
Wajah Han Ciu berubah menyeramkan.
Dengan ilmu sepasang pedang Naga es dan ilmu 10 langkah naga langit.
Han Ciu melesat seperti terbang, tongkat batu putih menyambar ke arah kepala Dewa Api.
Dewa Api lebih waspada karna sekarang ia sangat yakin bahwa musuhnya sangat berbahaya, apalagi setelah tahu, musuhnya bisa mengeluarkan pukulan yang berhawa panas maupun dingin.
Ketika tongkat musuh menyambar, Dewa Api menundukkan kepala, saat tongkat batu lewat, kaki Dewa Api menyambar tongkat Han Ciu yang menjadi tumpuan tubuhnya.
Han Ciu mencabut tongkat, tubuhnya melayang mundur sambil berputar, kemudian setelah berhasil menghindari serangan, setelah satu tongkat sampai di lantai sebagai tumpuan, Han Ciu melesat, tongkatnya menusuk ke arah leher Dewa Api.
Dewa api menangkis tongkat dengan tangan kanan kemudian balas menyerang, pertempuran semakin cepat, tapi ilmu 10 langkah naga langit, bergerak menghindar dan menyerang ke arah tempat yang tak terduga, apalagi hawa dingin yang di keluarkan oleh sepasang pedang tulang naga mulai mengganggu gerakan Dewa Api, aliran darahnya perlahan mulai tidak lancar, membuat gerakan Dewa api menjadi lambat.
Dewa api kemudian mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga api, berusaha menghalau hawa dingin, kemudian menyerang Han Ciu dari jarak dekat.
Han Ciu menancapkan kedua tongkatnya, tangannya bergantian, menangkis dan membalas serangan Dewa Api, sambil perlahan melepaskan kabut hawa dingin, yang mulai menyelimuti tubuh Dewa api.
Dewa api baru menyadari, setelah tubuhnya mulai susah bergerak, rambutnya yang merah, alis serta janggut mulai terdapat butiran – butiran es, peluh yang perlahan berubah beku.
Han Ciu semakin bernafsu melihat gerakan musuh mulai lambat, Dewa api yang berusaha keluar dari kabut dingin memutar kedua tangan lalu menghantam ke arah Han Ciu.
Pukulan tenaga api dengan kekuatan penuh menghantam ke arah dada.
Han Ciu menekan kedua tongkatnya masuk lebih dalam menancap di lantai, sambil menyeringai, dengan kekuatan penuh serta kabut yang menyelimuti tubuh Dewa Api.
Han Ciu mengeluarkan pukulan Dewa naga.
Hawa putih yang sangat dingin beradu dengan pukulan Dewa Api.
Blaam !
Dewa Api menjerit, tubuhnya terpental, pukulan tenaga api miliknya seperti tenggelam oleh pukulan musuh.
Melihat musuh yang di bencinya terpental Han Ciu melepaskan kembali pukulan Dewa naga dengan kekuatan seluruh tenaga dalam dari mutiara Naga es.
Dewa api yang melihat pukulan musuh yang berhawa dingin dan berwarna putih menghantam tubuhnya.
Hanya bisa menatap ngeri, Kabut yang menyelimuti tubuh Dewa api terkena hantaman pukulan Dewa naga, dengan kekuatan penuh, langsung membuat tubuh Dewa Api membeku.
Tubuh Dewa Api terlempar seperti sebuah bongkahan es.
Dewa api tewas tanpa bersuara, dengan seluruh tubuh kaku dilapis es akibat pukulan Dewa Langit.
Semua mata memandang tak berkedip ke arah tubuh Dewa api yang tewas.
Begitu pula dengan Tongki dan lblis biru yang menatap tak percaya ke arah arena.
Tongki menggelengkan kepala.
"Kenapa kau gelengkan kepala ?" tanya Iblis biru melihat kakek itu gelengkan kepala.
"Walau mati tapi dia punya gelar baru," ucap Tongki sambil menunjuk ke arah Dewa api.
"Apa gelarnya" tanya Iblis biru, sambil mengerutkan kening ke arah Tongki.
"Dewa es"
__ADS_1