
Pagi hari di dalam tenda.
Han Ciu masih terlelap dengan tangannya berada di dada Sa Sie Hwa.
Dada Han Ciu penuh dengan tanda merah.
Sa Sie Hwa wajahnya tampak letih, tetapi bibirnya terus tersenyum, mengingat apa yang telah mereka lakukan bertiga.
Xiao Er yang tadinya malu, akhirnya setelah melihat Sa Sie Hwa, keberaniannya muncul dan mereka bertiga menikmati kebersamaan serta saling berbagi.
Dan itu terasa lebih indah.
Sa Sie Hwa bangun lalu menyelimuti Han Ciu
“Kapan adik Zhain datang membawa air untuk membasuh muka? Tanya Sa Sie Hwa kepada Xiao Er.
“Sebentar lagi pasti datang, jawab Xiao Er.
Sa Sie Hwa lalu memakai pakaian, ketika Sa Sie Hwa mendengar suara langkah kaki mendekat.
Sa Sie Hwa buru² menuju pintu tenda, dan tampak Zhain Li Er tengah berdiri dan hendak masuk.
“Sini biar Enci yang bawa! Ucap Sa Sie Hwa.
“Adik Zhain lebih baik istirahat saja, 2 hari lagi kita akan berangkat, biar aku dan adik Xiao yang akan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuh kan oleh Kak Han.
Zhain Li Er anggukan kepala, lalu memberikan baskom kepada Sa Sie Hwa, kemudian kembali ke tendanya.
“Eh! Ada apa dengan adik Zhain,” batin Sa Sie Hwa.
“Ternyata perubahan akibat bayi yang di kandung sangat besar,” pikir Sa Sie Hwa sambil membawa baskom berisi air.
Xiao Er juga heran dengan perubahan yang terjadi pada Zhain Li Er.
Tapi keduanya tersenyum setelah saling tatap sambil angkat jempol.
Sa Sie Hwa membasuh wajah, dengan air yang baru di berikan Zhain Li Er, wajahnya segar kembali.
“Adik! Apa di sini ada telaga? Tanya Sa Sie Hwa.
“Tidak ada, tapi di atas bukit ada aliran air yang jernih, segar untuk membersihkan badan,”
“Nanti siang kita kesana,” ucap Sa Sie Hwa mendengar perkataan Xiao Er.
“Adik, Biarkan kak Han istirahat, mari ikut aku! Sa Sie Hwa berkata.
Xiao Er anggukan kepala, lalu memakai pakaian dan siap.
Setelah keduanya siap, menjelang siang, Sa Sie Hwa keluar dari tenda bersama dengan Xiao Er.
Sa Sie Hwa langsung menuju tempat latihan.
Setelah sampai, Sa Sie Hwa langsung menemui Talaba.
“Talaba! Kau lihat paman Huang Zilin? Tanya Sa Sie Hwa ketika bertemu dengan Talaba.
“Tadi ada di sini,” ucap Talaba.
Sambil wajahnya menoleh ke kiri dan ke kanan, se akan mencari kemana perginya Huang Zilin.
Hmm!
Suara dengusan Sa Sie Hwa terdengar.
__ADS_1
“Paman Huang, jika tak keluar,” aku akan menambah bunga pada hutangmu,” Sa Sie Hwa berkata.
Setelah Sa Sie Hwa berkata, tak lama kemudian muncul Huang Zilin bersama dengan Tongki dari arah belakang Talaba.
“Aku bayar....aku bayar! Ucap Huang Zilin sambil menghampiri Sa Sie Hwa.
“Hai! Bayar apa? Tanya Tongki.
“Memangnya paman Tongki tidak tahu? Tanya Xiao Er.
“Aku memang tidak tahu! Jawab Tongki.
“Paman Huang berhutang kepada Enci Sa,” ucap Xiao Er.
“Pantas waktu melihat nyonya ketiga datang, saudara Huang langsung menarik tanganku, mengajak bersembunyi di balik semak.” Tongki berkata.
“Jadi ini maksud perkataannya kemarin sewaktu bilang habis di rampok,” batin Tongki.
Tongki terus memperhatikan gerak gerik Huang Zilin.
Ketika Huang Zilin mengambil sesuatu dari balik baju, dan melihat uang kertas yang pinggirannya terbuat dari tinta emas, begitu pula cap yang terdapat di uang kertas itu.
Mata Tongki seperti hendak keluar melihat lima lembar uang kertas, yang selembarnya bernilai 100 tail emas.
“Kau....kau hutang 500 tail emas kepada nyonya ketiga? Tanya Tongki.
Huang Zilin anggukan kepala, kemudian berkata pelan.
“Aku kalah taruhan,”
“Apa....apa aku tak salah dengar? Tanya Tongki, seorang iblis petaruh bisa kalah taruhan,” Tongki berkata kembali dengan nada tidak percaya.
“Kalah....ya kalah,” ucap Huang Zilin.
Sambil menyerahkan uang kertas lima lembar senilai 500 tail emas.
Hem!
“Sejuk sekali rasanya angin yang keluar dari kipas ini,” ucap SA Sie Hwa.
Xiao Er tertawa melihat aksi Sa Sie Hwa di depan Huang Zilin yang tampak sedih, serta Tongki yang matanya tak berkedip menatap kelima uang kertas itu.
“Padahal perhitunganku sudah tepat,” ucap Huang Zilin.
“Tujuh hari sampai di kota Julu,”
“Memang kau bertaruh apa? Tanya Tongki.
“Berapa hari pasukan kita akan berangkat ke kota Julu,” ucap Huang Zilin
“Lalu tebakanmu berapa hari? Tanya Tongki.
“Aku menebak 3 hari, nyonya menebak 2 hari, dan kau dengar sendiri apa kata ketua! Ucap Huang Zilin.
“Tentu saja nyonya sudah tahu, jadi nyonya menebak terlebih dahulu,” ucap Tongki.
Hmm!
“Aku yang di suruh oleh nyonya untuk menebak terlebih dahulu,” jawab Huang Zilin.
Phuih!
“Dasar tolool,” ucap Tongki.
__ADS_1
“Eh....Saudara Tong! Kenapa jadi saudara yang kesal, apa 500 tail emas itu aku pinjam dari saudara Tong? Tanya Huang Zilin dengan wajah kesal kepada Tongki, karena di sebut tolool.
“Kalau saja aku tahu kau menyimpan uang sebanyak itu, aku pasti sudah pinjam,” batin Tongki, wajahnya masih tampak bersungut sungut.
Tapi Tongki tak membalas perkataan Huang Zilin.
“Apa kalian sudah puas berdiskusi? Tanya Sa Sie Hwa.
“Paman Huang harus bangga, karena uang yang paman berikan akan aku pakai untuk membiayai pasukan kita,” ucap Sa Sie Hwa.
“Nyonya ketiga! apa....apa uang itu akan di gunakan semua? Tanya Tongki.
“Untuk apa kau bertanya seperti itu? Sa Sie Hwa balik bertanya dan matanya penuh selidik menatap wajah Tongki.
“Boleh....boleh tidak jika paman pinjam? Ucap Tongki malu.
“Paman untuk apa pinjam uang, paman kan tahu keadaan sedang perang, apa yang mau paman beli dalam keadaan seperti ini? Tanya Sa Sie Hwa.
“Bukan....bukan itu! Seru Tongki.
“Paman sedang dekat dengan wanita, mungkin jika perang ini berakhir paman akan melamar dia? Ucap Tongki malu – malu sambil menunduk.
Apa benar paman? Tanya Sa Sie Hwa.
Siapa wanita yang kurang beruntung itu paman? Sa Sie Hwa melanjutkan Pertanyaannya dengan wajah serius.
Tongki yang masih menunduk, ketika mendengar perkataan Sa Sie Hwa langsung angkat kepala.
“Tadi nyonya berkata apa? Tanya Tongki.
“Aku bilang, siapa wanita yang kurang beruntung itu? Ucap Sa Sie Hwa membalas pertanyaan Tongki.
Phuih!
“Nyonya ketiga mau memberi tidak? Tanya Tongki, raut wajahnya terlihat kesal, sedangkan Xiao Er terus tertawa melihat Sa Sie Hwa menggoda Tongki.
“Aku mau melamar Dewi kipas,” ucap Tongki.
“Jadi....jadi kalian selama ini ada hubungan? Tanya Sa Sie Hwa.
Tongki anggukan kepala.
“Paman hebat! Dewi kipas adalah adik dari koksu Beng San.
“Jika paman menikah, paman akan menjadi ipar penasihat tuan Liu Bang,” ucap Sa Sie Hwa.
“Makanya pinjami aku uang untuk melamar,” Tongki kembali berkata.
“Aku akan kasih paman 100 tail emas, jika paman menikah dengan Bibi Dewi.”
“Terima kasih Nyonya....terima kasih,” ucap Tongki.
“Tetapi! Ucap Sa Sie Hwa.
“Tetapi apa nyonya? Tanya Tongki, hatinya mendadak tidak enak mendengar Sa Sie Hwa berkata, "tetapi."
“Tetapi! Aku akan memberikan 100 tail emas itu setelah paman dan bibi menikah,” ucap Sa Sie Hwa.
Wajah Tongki tampak bingung mendengar perkataan Sa Sie Hwa.
“Lalu...lalu, biaya untuk melamar dan menikah? Tanya Tongki.
Sa Sie Hwa tersenyum mendengar perkataan Tongki.
__ADS_1
Sambil menatap Tongki, Sa Sie Hwa berkata.
“Kalau itu, cari sendiri,”