
Semua yang hadir menatap ke arah karung besar yang di bawa oleh Tongki dan di bantingkan di depan orang yang berada di ruangan.
“Buka karung itu paman ?” Han Ciu berkata kepada Tongki.
Tongki mengangguk mendengar perkataan Han Ciu lalu membuka ikatan karung, kemudian mengeluarkan isi karung.
Ternyata isi karung adalah dua orang berbaju merah yang kepalanya botak.
Orang yang di temui Han Ciu sewaktu ia minum di kedai arak.
Saat kedua orang itu keluar kedai, Han Ciu hanya sekilas memperhatikan mereka.
Tapi sewaktu Tongki juga hendak keluar, Han Ciu membisiki Tongki waktu itu.
Flasback
“Paman, kau telah menipu aku !” seratus tail perak bukan uang sedikit, aku akan tagih uang itu kepada perguruan selaksa pedang atau penginapan bunga naga,”
Tongki mengerutkan kening mendengar perkataan Han Ciu, bukankah kau sudah setuju, membayar hutangku.” Ucap Tongki.
“Apa paman dengar aku bilang setuju, paman Cuma bilang, “bayar hutangku” lalu pergi,” Tongki diam mendengar perkataan Han Ciu.
“Begini saja, paman tangkap kedua manusia gundul tadi yang baru saja keluar, lalu taruh di perahu paman, jika paman bertemu aku lagi, paman serahkan kedua orang itu padaku, lalu hutang paman aku anggap lunas, bagaimana ?” tanpa banyak berkata, Tongki langsung mengangguk sambil tersenyum tanda setuju.
Kemudian Tongki keluar lalu menaiki perahu miliknya, mencari kedua orang gundul yang di maksud oleh Han Ciu, setelah berkeliling, Tongki melihat sebuah perahu melesat ke arah timur, kepala gundul mereka tampak mengkilat tertimpa sinar matahari.
Dengan cepat Tongki mendayung perahunya mengejar ke arah perahu kedua orang gundul itu.
Karna di telaga Tong yang arah timur, tak ada perahu lain, ketika kedua pria gundul itu melihat ada sebuah perahu yang mengejarnya, kemudian mereka mempercepat laju perahu.
Tongki melihat kapal yang ia kejar semakin cepat, dan sisi telaga semakin dekat.
Tongki tanpa ragu melemparkan dayungnya ke arah perahu kedua orang gundul itu.
Dayung melesat cepat ke arah perahu, Tongki dengan ilmu meringankan tubuhnya kemudian melesat mengikuti dayung yang ia lemparkan.
Setelah dayung jatuh ke air, Tongki kemudian menginjakkan kakinya ke dayung yang jatuh ke air, kemudian tubuh Tongki melesat kembali ke arah perahu kedua pria gundul setelah menginjak dayung sebagai tumpuan.
Whuuut !
Setelah melesat dengan cepat Jari Tongki menunjuk ke arah dada, salah seorang pria gundul itu.
Sebuah angin sebesar jari melesat ke arah jalan darah di dada pria gundul.
Tuk !
Pria gundul itu kemudian langsung terbujur kaku, melihat temannya berhasil di totok dari jarak jauh, seorang lagi kemudian langsung loncat ke arah air dan menyelam karna melihat sisi telaga sudah dekat.
Tongki yang sampai di perahu, melihat salah satu orang yang ia kejar menceburkan diri ke telaga, kemudian tangannya masuk ke dalam air lalu mengeluarkan tenaga dalamnya. Perahu melesat ke arah sisi telaga.
Tongki menunggu pria gundul itu muncul setelah memperhatikan kemana arah riak air dalam telaga.
__ADS_1
Pria yang menceburkan diri, kemudian dari bawah air, pria itu seperti melihat batang kayu, “aku sepertinya sudah dekat sisi telaga,” pria itu berkata dalam hati. sambil tangannya meraih batang kayu yang ia lihat dari dalam air.
Setelah tangan pria itu meraih batang kayu, dengan tubuh masih berada di dalam air.
Pria itu merasa heran karna tubuhnya bergerak ikut terbawa, saat tangannya memegang batang kayu
Karna merasa heran, pria itu munculkan diri.
Ketika kepalanya muncul dan melihat ke arah batang kayu, wajah pria gundul itu pucat, karna batang kayu yang ia pegang ternyata pendayung yang sedang di pegang Tongki.
Pria itu langsung melepaskan pendayung yang ia pegang dan berusaha menyelam kembali, tapi terlambat.
Plak !
Sebelum kepala gundul itu menyelam, dayung pipih yang di pegang Tongki terlebih dahulu menghantam kepala pria itu, pria itu merasakan hantaman keras di kepalanya dan langsung tak sadarkan diri,
Mau main akal akalan dengan Tongki.
Phuiih !
Sebelum pria gundul itu tenggelam, perahu yang di pakai Tongki bergerak mendekat, kemudian dayung menerobos baju, mengait dan menaikkan pria gundul yang tak sadarkan diri, kemudian menotoknya.
Setelah berhasil melumpuhkan kedua pria gundul yang di maksud oleh Han Ciu, Tongki lalu membeli sebuah karung besar.
Kedua orang itu kemudian di masukan ke dalam kain yang seperti karung, dan di taruh di perahu.
Melihat karung besar terikat, yang dibantingkan di depan orang – orang yang tengah berkumpul.
Han Ciu tersenyum kemudian berkata.
“Buka dan keluarkan isinya ?”
Tongki menuruti perkataan Han Ciu, Kemudian membuka tali yang mengikat karung, dan menariknya.
Brusuuut !
Dua orang pria gundul yang terbujur kaku, sedangkan satu pria dengan kepala gundulnya terdapat benjolan sebesar telur ayam menghiasi kepalanya.
Han Ciu anggukan kepala karna memang kedua pria ini yang waktu itu bicara di dalam kedai arak, yang didengar sendiri oleh Han Ciu percakapan mereka berdua.
Sedangkan Bu Heng dan Bu Khi wajahnya berubah melihat pria gundul yang berpakaian merah tengah terbujur kaku di hadapan orang banyak.
Han Ciu menyeringai sambil menatap tajam ke arah Bu Heng serta anaknya Bu Khi.
“Ini adalah hadiah untuk kalian berdua,” ucap Han Ciu sambil menatap tajam ke arah keduanya.
Bu Heng serta Bu Khi mundur, Sedangkan Suma Han memandang heran ke arah Han Ciu, tak mengerti apa maksud dari pemuda itu.
“Apa maksud ketua dengan hadiah ?” Bu Heng bertanya dengan wajah pucat, melihat kedua orang berpakaian merah yang terbujur kaku di hadapan mereka.
“Masa kau masih tak mengerti dengan perkataanku,” ucap Han Ciu sambil tersenyum.
__ADS_1
Han Ciu kemudian menoleh ke arah Tongki.
“Bebaskan totokan mereka paman !”
Mendengar perkataan Han Ciu, Tongki Menendang satu persatu pria yang ia telah totok.
Buk .. Buk
Kedua pria gundul itu perlahan membuka mata, setelah melihat banyak orang tengah melihat ke arah mereka, wajah keduanya langsung pucat.
Apalagi setelah mereka melihat Bu Heng serta Bu Khi yang menatap bengis ke arah mereka.
“Ketua apa maksud semua ini ?” Suma Han berkata dengan raut wajah tak mengerti, dan pertanyaan itu sekaligus mewakili orang – orang yang juga tak mengerti akan maksud dari Han Ciu.
“Tuan Suma, tuan boleh tanyakan kepada sahabat tuan, siapa orang ini serta dari mana mereka berasal,” ucap Han Ciu.
Mendengar perkataan Han Ciu, pandangan mata Suma Han Beralih kepada Bu Heng sahabatnya.
“Kakak, apa kau bisa menjelaskan padaku, apa maksud dari perkataan ketua, serta siapa kedua orang ini ?”
“Maaf adik, sepertinya ada yang tak suka padaku dan aku telah di jebak oleh seseorang,” Bu Heng berkata.
Han Ciu mendengar perkataan Bu Heng tersenyum dingin, lalu berkata kepada dua orang yang berada di depannya.
“Katakan pada semua orang yang berada di sini, siapa kalian dan apa tujuan kalian di telaga Tong ini, aku akan menjamin keselamatan kalian jika kalian mau bicara jujur,” Han Ciu berkata sambil menatap kedua orang itu.
Keduanya saling pandang, lalu mereka melirik ke arah Bu Heng dan Bu Khi.
Bu Khi yang berada paling dekat dengan salah seorang pria gundul itu, wajahnya langsung berubah, melihat orang yang berada di dekatnya hendak bicara.
Jari Bu Khi langsung menyentil dengan ilmu jari tunggal pemberian dari ayahnya.
Whut ... Craks !
Kepala pria gundul yang hendak bicara langsung tewas dengan kepala pecah terkena hantaman jari tunggal Bu Khi.
Bu Heng terkejut melihat kecerobohan anaknya yang tak bisa melihat situasi, belum sempat ia bicara.
Tangan Han Ciu mengibas ke arah Bu Khi.
Whut ...Brak !
Kibasan tenaga dalam Han Ciu yang berhawa sangat dingin langsung menghantam tubuh Bu Khi serta membuat pemuda itu terpental dan langsung tak sadarkan diri.
Bu Heng terkejut, lalu jari telunjuknya mengarah Han Ciu hendak mengeluarkan pukulan Jari tunggal, tapi Tongki yang berada tak jauh dari Bu Heng bergerak cepak, tangan kanannya lalu memegang jari telunjuk Bu Heng kemudian menariknya ke atas.
Kraak ... Auuuggggrhhhh !
Jeritan panjang terdengar ketika jari telunjuk Bu Heng di tarik ke atas dan langsung patah kemudian putus oleh tarikan Tongki.
Tongki mendengus sambil menatap tajam, kemudian membantingkan jari Bu Heng ke lantai.
__ADS_1
“Tak sopan, tanjak tunjuk di depanku,”