
"Tahan !" teriak Han ciu.
Semua diam mendengar teriakan Han Ciu.
"Kami bukan orang Xiang Yu." ucap Han Ciu
"Bohong"
"Kami kecolongan karna mulut manis pendekar pendekar busuk seperti kalian." pemimpin perampok itu berkata.
"Tidak semua pendekar seperti apa yang kau katakan." Han Ciu menjawab perkataan pemimpin perampok.
"Ketua bagaiman jika aku yang bicara," ucap Sin Ko.
Cis
"kau manis di mulut pahit di hati." ucap Zhain Li Er.
"Nyonya muda jangan seperti itu !" bukankah kita satu tim sekarang."
Hmm !
Keduanya langsung diam, ketika mendengar dengusan Han Ciu.
"Aku tahu kalian bukan perampok, wajah dan pakaian kalian tidak meyakinkan ku bahwa kalian adalah perampok." Han Ciu berkata.
Pemimpin perampok menunduk lalu menggelengkan kepala, sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.
Aku adalah Xue Yang, bekas gubernur kota Xue.
"Mereka adalah berkas prajurit serta penduduk kota Xue yang lari, akibat menghindari kekejaman pasukan Xiang Yu.
"Rupanya gubernur Xue masih hidup," ucap Han Ciu.
Pemimpin rampok yang ternyata gubernur Xue, terkejut mendengar perkataan Han Ciu.
"Darimana tuan dengar tentang aku ?" tanya Xue Yang.
"Gubernur Ziang Hay Ji yang memberitahu, bahwa kota Xue telah di ambil alih oleh pasukan Xiang Yu.
"Ziang Hay Ji, mungkin selanjutnya adalah kota yang ia kuasai." ucap Xue yang.
He he he
"Tak mungkin tuan Xue, kami baru saja dari kota Donghai, orang yang di suruh membunuh gubernur Ziang Hay Ji telah kami bunuh," ucap Sin Ko.
"Beb .. benarkah yang tuan katakan ?" Xue yang bertanya, sambil menghampiri Han Ciu yang berdiri di samping Sin Ko.
Setelah bercakap cakap sebentar, kemudian Xue Yang mengajak Han Ciu serta yang lain, pergi ketempat persembunyian mereka karna hari mulai senja.
Mereka masuk lebih dalam ke hutan, melewati jalan setapak, menuruni sebuah bukit, dan akhirnya sampai di suatu lembah. yang atasnya terlindungi oleh bukit bukit kecil.
Sebuah perkampungan yang tak terlalu besar, terlihat setelah mereka memasuki lembah.
"Kami tinggal di tempat tersembunyi ini tuan pendekar, kebetulan salah seorang pengawalku adalah pemburu dan hapal seluk beluk hutan ini, ia menemukan tempat persembunyian yang bagus untuk kami semua."
Setelah sampai perkampungan, seorang wanita paruh baya dan seorang gadis cantik yang masih muda, tengah berdiri di depan sebuah rumah yang sedikit lebih besar, melihat rombongan datang, gadis itu lari memburu ke arah Xue Yang.
"Ayah, akhirnya ayah kembali," ucap gadis itu, tapi akhirnya gadis itu diam ketika melihat, Han Ciu, Sin Ko, Zhain Li Er serta Racun cilik yang baru ia lihat.
"Ayah !"
Sebelum gadis itu berkata lebih jauh, Xue yang sudah memotong perkataan gadis itu, lalu berkata
"Nanti saja kita bicarakan di dalam, sebentar lagi kabut akan turun."
"Mari tuan pendekar," Xue Yang mempersilahkan Han Ciu serta yang lain masuk ke dalam.
Han Ciu kemudian masuk ke dalam rumah yang agak besar mengikuti Xue Yang.
__ADS_1
Kabut turun membuat lembah, gelap sebelum malam tiba, cuaca mulai berubah lebih dingin.
Malam hari mereka berkumpul di ruang tengah, Istri tuan Xue Yang menyuguhkan minum yang terlihat mengepul mengeluarkan asap dan tercium bau harum.
Xue Yang mempersilahkan para tamu untuk minum sambil bercakap cakap.
Hmm !
"Baunya begitu harum dan masih panas, pasti ini arak rempah yang berkhasiat,"
Setelah di Xue Yang selesai mempersilahkan minum.
Sin Ko langsung menyambar cangkir yang terbuat dari bambu.
Sreet, gluk .. Uhkkk !"
"Phuih .. Phuih"
Han Ciu, Zhain Li Er serta Racun cilik mengerutkan kening menatap heran ke arah Sin ko.
"Ada apa ?" Han Ciu bertanya, sambil menatap ke arah Sin Ko.
"Maaf ketua, kupikir arak rempah, ternyata hanya rempah dengar air gula." Sin Ko menjawab pertanyaan Han Ciu.
"Bukannya kami tak suka arak, tapi persedian arak kami sudah habis, sedangkan kota Xue Sekarang di jaga ketat oleh orang orang Xuang Yu, untuk saat ini kami tak bisa mengambil arak dari kota Xue," ucap Xue Yang dengan suara sedih.
"Kakak Han !" ijinkan aku untuk menampar mulutnya." Li Er berkata, sambil melotot ke arah Sin Ko.
Sin Ko terkejut, lalu sambil menunduk ia memohon kepada Han Ciu.
"Ketua, jangan ijin kan nyonya muda untuk menamparku.
"Gigi ku bisa hilang dua, jika ketua mengijinkan Nyonya muda menampar hamba."
"Nyonya muda."
Apaa ini istri tuan pendekar ?"
Xue Hwa tiba tiba menunduk, wajah gadis itu terlihat sedikit agak kecewa, tapi tak lama kemudian tersenyum kembali.
"Paman, di pelana kuda ada arak, ambil saja biar di panaskan buat minum bersama.
Sin Ko yang mendengar perkataan Han Ciu baru tersadar, di masing masing kuda tergantung kantung makanan dan arak.
Sin Ko langsung berdiri dan menanyakan dimana kuda mereka di tempatkan.
Tak lama kemudian, daging kering serta arak panas menemani malam yang dingin akibat kabut tebal turun menutupi lembah tempat perkampungan Xue Yang.
Saat santai sambil minum arak, untuk menghangatkan badan.
Han Ciu bertanya kepada Xue Yang.
"Tuan !" bagaimana bisa, Kota Xue begitu gampang di rebut oleh anak buah Xuang Yu ?" yang aku dengar dari gubernur Ziang Hay Ji, pasukan kota Xue Lebih besar dari Donghai."
Xue Yang menarik napas panjang sebelum bercerita.
Ini gara gara sepasang pendekar suami istri itu, mereka sangat sakti dan licik.
Mereka masuk dan menginap di kota Xue beberapa hari, selalu berkeliling sambil bermesraan.
Tetapi sebenarnya mereka memata matai tempat strategis, yang di pakai oleh pasukan kota Xue.
Malam sebelum merebut kota, sumur sumur tempat minum di taburi racun oleh sepasang pendekar suami istri.
Yang tak lain adalah, Siluman lembah bunga dan Sepasang pedang bunga.
"Tepat tengah hari, semua pasukan kota Xue lumpuh, Siluman lembah bunga, Sepasang pedang bunga serta Golok api seorang pendekar paruh baya, berasal dari daerah utara, salah seorang kepercayaan Xuang Yu.
Yang sekarang menjabat gubernur kota Xue, dibawah pengaruh Xuang Yu.
__ADS_1
"Mereka menyerang dan menghabisi prajurit yang tak terkena racun, kami sekeluarga melarikan diri bersama prajurit yang selamat.
"Sepasang pendekar keparaat ?!" ucap Xue Yang dengan nada geram.
"Tuan Xue tenang saja !" sepasang pendekar itu sekarang sedang bermesraan dan tengah mengintai situasi dalam neraka."
ucap Sin Ko sambil meminum araknya.
"Jadi .. Jadi mereka telaaah ?"
"Benar, mereka tewas di tangan ketua, sewaktu menyerang kota Donghai." ucap Sin Ko.
Cis
Penjilat, ucap Li Er pelan.
"Tuan Xue, aku dengar kau pendukung tuan Liu Bang, apa benar ?"
Xue Yang menarik napas, mendengar perkataan Han Ciu, lalu menjawab perkataan pemuda itu.
"Sebagian orang berkata seperti itu, tapi sebenarnya kota Xue masih netral, belum berpihak kepada salah seorang dari penguasa yang bersiteru.
"Tapi aku lebih condong kepada tuan Liu Bang, karna melihat dan mendengar cerita daerah yang di bawah pimpinan tuan Liu Bang makmur, serta rakyatnya sejahtera."
"Tuan Xue Yang, aku akan membantumu merebut kota Xue.
"Tapi kau tuan Xue harus mau berkorban dan bekerja sama denganku, bagaimana ?"
Wajah Xue Yang langsung berubah, kemudian ia memegang tangan Han Ciu.
"Kota Xue adalah kota leluhur keluarga kami tuan pendekar, apapun permintaan tuan pendekar akan ku penuhi, asalkan kota Xue bisa kembali ketanganku.
Suara Xue yang tampak bergetar, sambil matanya melirik ke arah anak gadisnya Xue Hwa.
Xue Hwa langsung tertunduk malu.
Sin Ko melirik kearah Zhain Li Er, setelah medengar ucapan serta lirikan mata Xue Yang.
Tapi Sin ko langsung memalingkan wajah, melihat tatapan mata Zhain Li Er yang dingin, sedang menatapnya.
"Duh, ini mata kenapa larak lirik terus, bisa rontok gigiku," ucap Sin Ko dalam hati sambil menunduk, wajahnya sangat pucat.
Diantara orang yang dekat dengan Han Ciu, hanya Zhain Li Er yang paling di takuti Sin Ko, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri, setiap orang yang di tampar Li Er pasti rontok giginya.
"Berapa pasukan yang tuan Xue punya ?"
"Jika benar benar di kumpukan mungkin ada seratus, tapi yang bekas prajurit hanya setengah, selebihnya adalah para penduduk kota Xue yang mengungsi.
Han Ciu mengangguk, kemudian bertanya kembali,
"Apa di dalam kota, masih ada anak buah tuan Xue ?"
"Ada tuan, tapi tidak banyak, untuk saat ini mereka hanya diam, sambil menunggu perintah selanjutnya."
"Tuan Xue hubungi mereka, apakah mereka bisa memasukan aku bertiga ke dalam kota."
"Jika sampai di dalam kota Xue dengan aman, aku langsung menuju pintu gerbang dan membuka dari dalam, pasukan tuan setelah masuk, bisa langsung menyebar mengepung pasukan Golok api."
"Semoga dalam dua hari, ada kabar dari anak buah tuan yang ada di kota."
"Jika kota berhasil di rebut, tuan harus berjanji dan mau mendukung tuan Liu Bang, itulah syaratku, bagaimana ?" Xue Yang langsung mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
Setelah membahas strategi, lalu bercakap cakap sebentar dan malam semakin larut, Xue Yang lalu mempersilahkan Han Ciu untuk istirahat.
Xue Hwa mengantar Han Ciu ke kamar yang sudah mereka siapkan untuk pemuda itu, serta istrinya.
Han Ciu, Racun cilik masuk kamar, Li Er perlahan menutup pintu.
Melihat Xue Hwa masih berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
Sebelum pintu kamar tertutup rapat, LI Er menjulurkan kepalanya keluar pintu, lalu berkata pelan kepada Xue Hwa.
"Sudah ada lima"