Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 158 Diantara dua rencana


__ADS_3

Akhirnya para penyergap anak buah perguruan Naga Api yang berasal dari markas cabang yang di pimpin oleh Tongkat Naga berhasil di tumpas.


Han Ciu kehilangan hampir kurang lebih 30 orang anak buahnya yang tewas dan puluhan orang terluka berat dan ringan


Mereka yang tewas paling banyak adalah anak buah Suma Han yang di sergap oleh Sepasang Tongkat Langit dan Bumi.


Serangan dadakan dengan panah yang membuat mereka tidak siap dan menimbulkan banyak korban.


Tapi pengorbanan mereka tidak sia – sia, hampir seratus enam puluh orang lebih pasukan yang berasal dari markas cabang Naga Api tewas, termasuk pemimpin mereka, Tongkat Naga Api yang menjabat wakil ketua serta dua orang muridnya, sepasang Tongkat Langit dan Bumi.


“Bagaimana dengan tawanan – tawanan ini, apa yang harus kita lakukan terhadap mereka ?” tanya Han Ciu.


“Bunuh saja mereka ketua Han !” teriak ketua perguruan Naga Air yang sangat benci dengan orang dari perguruan Naga Api.


“Mereka sudah tak berdaya paman, kita tak boleh membunuh musuh yang sudah menyerah,” Han Ciu Berkata untuk menenangkan emosi Suma Han, Akibat banyak anggotanya yang tewas di sergap oleh sepasang Tongkat Langit dan Bumi.


Lalu di putuskan, tawanan anggota perguruan Naga Api di ikat, lalu di jaga oleh beberapa orang yang terluka ringan dan berat sambil menunggu kedatangan Han Ciu menyerang perguruan Naga Api di kota Sishui.


Han Ciu lalu memutuskan istirahat di sekitar tempat itu, sambil mengobati anggota yang terluka, serta menguburkan kawan - kawan mereka yang tewas.


Han Ciu lalu mengutus Talaba pergi terlebih dahulu dengan dua orang anggota selaksa pedang pergi ke kota Sishui, untuk melihat situasi di sana dan memantau keadaan perguruan Naga Api.


"kau bawa dua orang yang tahu seluk beluk kota Sishui, cari tahu semua yang bisa kau ketahui, mungkin besok pagi rombongan akan berangkat.


"Aku harap kau bisa memberi kabar sebelum rombongan kita masuk ke kota Sishui," ucap Han Ciu.


"Baik ketua."


Talaba kemudian memberi hormat kepada Han Ciu lalu berangkat melaksanakan tugas yang di perintahkan padanya, 2 orang anggota selaksa pedang yang ikut adalah orang yang pernah ke kota Sishui dan tahu situasi serta keadaan, sehingga Talaba tak perlu repot dengan tugas yang ia jalani.


Beberapa anggota Selaksa Pedang lalu mendirikan tenda – tenda sementara untuk istirahat, sambil menyiapkan rencana kedepannya.


Sebuah tenda agak besar dari para anggota, di buat untuk Han Ciu dan para selirnya juga untuk membahas serangan yang akan mereka lakukan terhadap perguruan Naga Api.


Tongki selalu ada di sisi yang berbeda dengan lblis biru yang masih menatapnya dengan geram, jika lblis biru di sebelah kiri Han Ciu, maka Tongki akan berada di sebelah kanan, dan Tongki tak berani senyum jika lblis biru menatapnya dengan tajam, tapi jika sudah tak menatapnya senyum konyol Tongki terlihat kembali, dan ini yang semakin membuat lblis Biru kesal kepada Tongki.


“Ketua Han, menurut ketua bentuk serangan apa yang akan kita lakukan terhadap perguruan Naga Api ?” tanya Suma Han.


Lanjut perkataan Suma Han.


“Markas cabang mereka saja sudah ada 200 orang, apalagi di markas utama mereka, sedangkan kita hanya ada kurang lebih 150 orang yang tersisa.”


“Kau takut ?” lblis biru berkata sambil menatap tajam ke arah Suma Han.


“Betul, kau takut ?” Tongki berkata mengikuti perkataan lblis Biru.


Mendengar Tongki bicara, lblis Biru mendengus, sambil menatap Tongki.


“Diam kau ! sekali lagi ku dengar suaramu, ku bikin beku nanti otakmu,” ucap lblis Biru.


Tongki langsung diam mendengar perkataan Iblis Biru.


Hmm !

__ADS_1


Han Ciu melihat kedua anak buahnya itu hanya bisa gelengkan kepala.


“Paman !” memang benar apa yang paman katakan, sepertinya jika kita menyerang secara terbuka kerugian ada di pihak kita.


Setidaknya jumlah anggota mereka di markas utama kota Sishui ada dua kali lipat dari para penyergap pimpinan Tongkat Naga.


Han Ciu setelah berkata, lalu diam dan wajahnya tampak mengerut seperti berpikir, apa langkah selanjutnya yang harus ia lakukan untuk menyerang perguruan Naga Api.


Lalu Han Ciu bertanya kepada anak buahnya yang hadir, begitu pula terhadap Suma Han.


Apa diantara kalian ada yang mempunyai saran bagaimana kita menyerang perguruan Naga Api ?


Melihat tak ada yang bicara, Sa Sie Hwa kemudian melirik ke arah Han Ciu.


“Kak Han, jika kita tak ingin menyerang secara terbuka, hanya ada dua pilihan menurut adik.”


Han Ciu lalu menoleh kearah Sa Sie Hwa, Han Ciu merasa tertarik dengan keterangan selirnya itu.


“Coba adik Sa utarakan apa yang ada di pikiran adik Sa, biar kita bahas sekalian di sini,” ucap Han Ciu.


Sa Sie Hwa tersenyum kemudian wajahnya mulai serius ketika hendak bicara.


“Menurutku ada dua cara jika kita tidak ingin menyerang secara terbuka.


“Salah satu cara pertama adalah, kita pancing semua ketua dan para pemimpin perguruan Naga Api untuk keluar dari markas dan menjauh dari anak buah yang selalu berada di sekitar Bu Ban Liong.


“Nah cara yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa memancing Bu Ban Liong untuk keluar dari markas perguruan Naga Api tanpa banyak pengawal ?” ucap Sa Sie Hwa.


"Sepertinya susah jika kita ingin ketua perguruan Naga Api keluar dari markasnya, harus ada suatu hal khusus yang dapat memancingnya keluar," ucap Han Ciu sambil termenung.


“Apa ada usul lain ?” Han Ciu bertanya kembali kepada Sa Sie Hwa.


Sa Sie Hwa tampak termenung dan akhirnya tersenyum lalu berkata.


Cara yang kedua adalah kita bunuh mereka di kediamannya.


“Maksud adik Sa adalah ?” tanya Han Ciu.


“Maksud adik adalah, kita menyusup ke tempat mereka dan bunuh di tempat.” Sa Si Hwa berkata.


“Jika kita masuk ke tempat mereka itu lebih berbahaya, karna kita tidak tahu ada apa di dalam markas perguruan Naga Api, dan jebakan apa yang akan menanti kita di sana, aku tak mau membahayakan anak buahku dengan suatu hal yang tak pasti,” ucap Han Ciu.


Mereka mengangguk mendengar perkataan Han Ciu, masing - masing yang hadir seperti tengah berpikir, apa yang akan mereka lakukan dan langkah apa yang tepat setelah berada di perguruan Naga Api.


"Nanti akan kita pikirkan lagi setelah dekat dengan kota Sishui, sambil menunggu kabar dari Talaba apa yang harus kita lakukan." lanjut perkataan Han Ciu.


Perketat penjagaan, karna kita tidak tahu apa yang akan terjadi.


Tapi aku yakin mereka akan mencari kabar dari markas cabang mereka kenapa belum ada kabar, pasti mereka akan kirim orang untuk memeriksa, jika mereka tahu orang mereka yang berada di markas cabang hancur, Bu Ban Liong pasti membuat persiapan untuk menghadapi kita.


Yang hadir di dalam tenda mengangguk mendengar perkataan Han Ciu dan baru terpikir, bahwa kemungkinan besar hal itu bisa saja terjadi.


Semua membubarkan diri setelah membirakan langkah yang tepat untuk menyerang perguruan Naga Api, kini yang berada di tenda, hanya Han Ciu beserta ketiga selir serta Fang Ji.

__ADS_1


Lalu ketiganya menatap Han Ciu.


“Sekarang apa yang akan kita lakukan ?” Tanya Zhain Li Er.


Sa Sie Hwa Serta Ah Nio tersenyum, lalu membalas perkataan Zhain Li Er.


“Adik Li Er lantas maunya apa ?” Sa Sie Hwa balik bertanya sambil tersenyum.


"Aku maunya sih anu, tapi sepertinya tidak bisa," ucap Zhain Li Er.


“Anu apa adik Zhain ?” tanya Ahn Nio sambil tersenyum.


“Anu ya anu, kenapa sih harus jelas in lagi, memangnya cici berdua tidak mengerti apa yang adik maksud ?” Zhain Li Er berkata dengan nada kesal.


Ahn Nio dan Sa Sie Hwa saling pandang, lalu keduanya tersenyum mendengar perkataan Zhain Li Er.


Sedangkan Han Ciu gelengkan kepala sambil tersenyum melihat Ahn Nio serta Sa Sie Hwa menggoda Zhain Li Er.


Kalian ini selalu saja menggoda adik kalian, lebih baik istirahat, besok kita akan melanjutkan perjalanan. Han Ciu berkata.


Mendengar perkataan Han Ciu, ketiganya tersenyum manja, lalu menarik Han Ciu ke dalam selimut besar, hanya canda tawa yang terdengar dari dalam selimut.


Sementara itu, di sekitar tenda yang didirikan oleh pasukan Selaksa pedang.


Dua orang sedang berjalan cepat ke arah atas bukit.


Tongki yang berjalan di depan akhirnya sampai di atas bukit, sedangkan di belakangnya, lblis Biru terus mengikuti di belakang Tongki.


"Kenapa dia terus mengikuti aku, apa dia masih marah padaku gara – gara siang tadi ?


Ucap Tongki dalam Hati.


Tongki karna sudah tak tahan dan merasa selalu berada dalam tekanan lblis Biru sejak masih berada di dalam tenda, kemudian berbalik lalu menatap kakek bermata biru yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Iblis Biru terus berjalan ke arah Tongki.


Tongki menatap tajam sambil bersiap.


Tongki perlahan mengerahkan tenaga dalam ke arah tangan, siap sedia jika ada serangan mendadak dari lblis Biru.


Karna Tongki tahu kepandaian dari sahabatnya tidak bisa di buat main jika sedang kesal.


Setelah tinggal dua langkah dari hadapannya, Tongki langsung pasang kuda – kuda dan bersiap.


"Baiklah kawan, sekarang aku sudah siap," ucap Tongki dalam hati.


Iblis Biru mengerutkan kening melihat Tongki pasang kuda – kuda di hadapannya.


Lalu lblis Biru berbalik, sambil melihat lihat ke arah belakang.


Setelah melihat tidak ada hal yang mencurigakan di belakangnya, lblis biru berbalik kembali, lalu bertanya kepada Tongki.


Kau sedang apa ?

__ADS_1


__ADS_2