Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch 250 : Serangan ke kota Henei


__ADS_3

Buat para Reader biar bisa lebih menikmati membaca, saya kasih visual peta kerajaan Qin.



-----------------------------------‐------------------------------------------


Keparaat....! Dasar orang yang tak bisa di percaya, di surat ia tulis 2 hari, tapi hari ini mereka menyerang,” umpat Liu Bang.


Hati Liu Bang semakin panas mendengar genderang perang pasukan bintang timur terus di tabuh.


Paman bunyikan suara tantangan perang! Seru Liu Bang kepada Beng San.


Beng San setelah mendapat perintah dari Liu Bang langsung memberi tanda.


Seorang pria bertubuh tinggi kekar, mengambil trompet yang berbentuk seperti tanduk kerbau dari pinggangnya, kemudian meniup trompet itu dengan sekuat tenaga.


Dung....Dung....Dung....Dung....Dung


Suara pukulan beduk terdengar kencang dengan alunan nada yang semakin lama semakin kencang, mengiringi tiupan trompet.


Prajurit penguasa barat, mendengar suara isyarat perang langsung menghentakan satu kaki ke tanah dan mengangkat pedang sambil berteriak kencang untuk memompa semangat juang mereka.


Xiang Yu duduk bersama Han Cikung di sebuah kereta kuda, sebuah kereta yang megah dan di tarik oleh beberapa ekor kuda.


“Tuan Han, kau dengar suara tantangan perang yang baru saja mereka dengarkan! Sungguh menggelikan,” ucap Xiang Yu sambil tersenyum sinis.


Kita tidak boleh menganggap remeh pasukan Liu Bang yang mulia.


Mereka pasti telah menyiapkan pertahanan yang kokoh untuk menahan sambil menunggu kedatangan, pasukan yang di pimpin Han Ciu.


“Jendral Chow! Serang sekarang seperti yang telah kita rundingkan,” Xiang Yu berkata kepada seorang pria tua yang memakai seragam perang yang indah.


“Baik yang mulia,” jawab jendral Chow.


Jendral Chow mengambil sebuah bendera berwarna merah dari pinggang, lalu mengibarkan bendera merah itu.


Ribuan Prajurit langsung bersiap, puluhan alat pelontar batu besar di siapkan.


Setelah puluhan alat pelontar batu berbaris, kemudian alat yang bisa menghancurkan benteng kota di dorong maju mendekati benteng kota Henei, di kawal oleh ratusan prajurit bintang timur.


Ribuan prajurit bintang timur yang mengawal, perlahan maju di depan alat yang akan di pakai untuk menghancurkan bangunan di dalam kota dan benteng kota Henei.


Ribuan prajurit berbaris dengan tombak atau pedang di tangan kanan dan tameng di tangan kiri.


Melihat prajurit bintang timur, masih berjalan dan jauh dari sasaran pemanah, Beng San angkat tangannya.


“Tunggu, sampai masuk sasaran para pemanah,” ucap Beng San.


Seorang perwira anggukan kepala mendengar perintah Beng San.


Ribuan prajurit bintang timur berjalan semakin lama langkah mereka semakin cepat, Ribuan prajurit bintang timur mendengar suara trompet panjang sebagai tanda untuk menyerang, kemudian berlari ke arah benteng kota Henei.


Beng San melihat prajurit bintang timur sudah berlari, kemudian berteriak.


Serang!


Di atas benteng kota yang lumayan Luas, 3 pemanah berbaris ke belakang, mengelilingi benteng.


Pemanah terkuat yang berada di barisan paling depan, lalu memanah ribuan prajurit yang berlari.

__ADS_1


Shing....Shing....Shing....Shing....Shing.


Ribuan panah melesat, ketika barisan tengah dan barisan paling belakang ikut memanah susul menyusul dengan barisan pemanah terdepan.


Crep....Crep....Crep....Crep....Crep.


Ratusan prajurit bintang timur tewas bergelimpangan terkena panah pasukan penguasa barat, yang selamat terus berlari, tetapi panah dari pemanah yang paling belakang dari pasukan penguasa barat menghantam mereka.


Ribuan prajurit terus berlari tapi kali ini mereka berlari sambil tameng berada di atas tubuh mereka.


Alat pelontar batu di siapkan dan terus di dorong mendekati jarak tembak menuju kota Henei.


Setelah di rasa cukup jarak tembak alat sampai ke kota Henei, puluhan alat pelontar batu kemudian disiapkan dan di isi oleh sebuah batu besar.


Tuas lalu di putar, perlahan alat turun setelah terisi batu, kait tuas roda gigi, di lepaskan.


Puluhan Batu besar melesat cepat, dengan jarak yang berbeda tergantung dengan berat batu yang di lemparkan.


Brak....Blar!


Beberapa batu menghantam bagian bawah benteng membuat benteng sedikit retak, sebagian besar batu tidak sampai ke benteng.


Melihat hal itu, perwira yang memimpin kemudian memerintahkan prajurit untuk mendorong kembali alat penghancur benteng semakin maju mendekat, agar jarak tembak menjadi maksimal.


Jendral Chow mengambil bendera hitam.


Seorang perwira yang posisinya berdiri di kereta kuda langsung mengibarkan bendera hitam yang lebih besar.


2000 pasukan berkuda prajurit bintang timur bersiap, dengan panah di tangan.


Ketika perwira kembali mengibarkan bendera hitam, 1000 penunggang kuda langsung menggebrak kuda mereka.


Kemudian sambil menunggang kuda, pasukan bintang timur mulai memanah, pasukan panah penguasa barat yang berdiri berjajar diatas benteng.


Beng San tersenyum, sambil terus menatap tanda putih di atas rumput yang akan di lalui pasukan berkuda bintang timur.


“Siapkan panah api! Teriak Beng San.


Anak panah yang telah di rekatkan kain dan di celupkan ke dalam minyak bakar.


Ratusan anak panah berapi melesat ke arah pasukan berkuda bintang timur, dan sebagian panah api melesat ke arah tanda panah yang telah di beri serbuk peledak oleh Beng San.


Blam....Blam!


Beberapa kuda terpental ke udara.


Prajurit berkuda yang tepat berada dekat lokasi bahan peledak, badan kuda hancur bersama si penunggang.


Keadaan menjadi kacau, kuda – kuda meringkik dan banyak yang berlari berhamburan menabrak prajurit yang terus bergerak maju.


Tapi banyak juga para pemanah penguasa barat yang terkena panah yang di lepaskan pasukan berkuda bintang timur.


Seribu pasukan berkuda yang melihat pasukan pertama terkena jebakan, mereka melesat lebih mendekat.


Beng San tersenyum sambil mengangkat tangan.


Panah – panah melesat dari atas benteng kota Henei.


Shing....Shing....Shing.

__ADS_1


Beberapa kuda dan si penunggang terjungkal tertembus panah prajurit penguasa barat.


Saat sebagian melesat berlari ke arah tanda merah di rumput.


Kuda – kuda pasukan bintang timur terperosok ke dalam lubang besar yang berisi pasak – pasak kayu dan tombak besi.


Prajurit langsung lompat, ketika mengetahui ada jebakan dan kuda mereka terperosok dan tewas.


Tapi ketika mereka lompat, ratusan panah melesat menyambut puluhan prajurit yang berusaha menyelamatkan diri.


Crep....Crep....Crep!


Prajurit bintang timur langsung terjungkal dan masuk ke dalam lubang, bersama dengan kuda – kuda yang mereka tunggangi.


Melihat hal itu, pasukan pemanah penguasa barat semakin bersemangat dan terus memanah ke arah pasukan berkuda musuh.


Pasukan pemanah berkuda bintang timur juga membalas serta berhasil memanah dan menewaskan puluhan pemanah penguas barat yang berada di atas benteng.


Pasukan bintang timur terus berusaha menembus pertahanan dan pasukan pemanah, tapi mereka tetap tidak berhasil mendekat, sementara alat pelontar batu belum maksimal membuat kerusakan di benteng kota Henei.


Waktu terus berlalu dan matahari mulai terbenam, pasukan bintang timur mulai mundur ketika hari beranjak senja.


Langkah kaki mereka tampak lesu, dan kurang bersemangat.


Pasukan penguasa barat bersorak, genderang kemenangan serta Trompet berbunyi dari atas benteng kota Henei memberi semangat kepada pasukan yang berhasil memenangkan peperangan untuk hari ini.


Liu Bang tersenyum, kemudian anggukan kepala ke arah Beng San.


Beng San langsung memberi hormat melihat Liu Bang tersenyum ke arahnya.


Hampir kurang lebih 2000 kawan mereka tewas dalam serangan hari pertama yang tidak membawa hasil memuaskan.


Sedangkan kurang lebih 300 pasukan pemanah penguasa barat tewas.


Malam hari di tenda kebesaran penguasa bintang timur, Xiang Yu habis menghantam sebuah meja, karena marah dan merasa di permalukan, akibat kekalahan telak yang terjadi hari ini.


Pasukan yang menyerang kota Dang juga mengalami kekalahan dan mundur, tetapi prajurit yang tewas tidak sebanyak pasukan yang menyerang kota Henei.


Memalukan...! Teriak Xiang Yu sambil membanting cawan arak yang ia pegang.


“Ternyata Liu Bang sudah menyiapkan jebakan dan siasat untuk menahan kita, tak salah lagi! Ini pasti kerjaan Beng San,” Xiang Yu berkata dengan wajah kelam.


“Yang mulia jangan khawatir! Ini hanya hari pertama sambil kita mempelajari situasi pertempuran,” ucap Han Cikung sambil tersenyum, berusaha menenangkan Xiang Yu yang masih terlihat sangat marah.


Hmm!


Xiang Yu mendengus mendengar perkataan Han Cikung.


Tapi penguasa timur itu merasa penasaran, siasat apa yang ada di kepala Han Cikung.


“Apa paman Han ada rencana? Tanya Xiang Yu.


Han Cikung tersenyum licik sambil anggukan kepala.


“Yang mulia jangan khawatir, kali ini rencana hamba pasti bisa menembus benteng kota Henei.”


“Apa rencana paman? Tanya Xiang Yu.


Han Cikung tersenyum licik sambil berkata.

__ADS_1


“Hancurkan kota Dang”


__ADS_2