Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 185 Tewasnya Sang Kui


__ADS_3

Wajah Sang Kui semakin pucat melihat keadaan yang ada.


Walaupun jumlah mereka di dalam ruangan ada 3 kali lipat dibandingkan dengan rombongan Han Ciu, tetapi dalam hal kepandaian sangat jauh berbeda, bagaikan bumi dan langit.


Sedangkan anak buah di luar juga tidak bisa di andalkan.


Sang Kui melihat satu persatu anak buahnya tewas oleh rombongan Han Ciu.


Keparaat !


Kalau begini terus, tamat sudah riwayat Siluman Air.” Batin Sang Kui sambil menghindari serangan Han Ciu.


Huang Zilin, Tongki, Dewi kipas, Zhain Li Er serta Xiao Er, mengamuk. anak buah Siluman Air tak banyak berkutik.


Hanya beberapa anak buah yang tersisa, si mata ular dengan beberapa anggota perguruan Selaksa racun yang sedang bertempur dengan lblis Biru.


“Kemungkinan melarikan diri sudah tertutup,” batin Mata Ular.


“Kakek ini memang benar sudah makan mutiara racun, bubuk racunku sudah hampir habis, memang sepertinya tak berpengaruh sama sekali terhadap kakek bermata biru ini.” Mata ular berkata dalam hati sambil melemparkan bubuk racun kelabang merah, ke arah lblis Biru yang tengah menghantam pinggangnya.


Setelah melemparkan bubuk racun, Mata Ular bergerak ke kanan.


Phuih !


Iblis Biru mendengus kesal saat langkahnya terhenti ketika pandangannya tertutup oleh kabut warna merah yang di lemparkan oleh Mata Ular.


“Bangsaat ! Dari tadi lempar sana lempar sini, merah kuning hijau, bikin mataku kelilipan saja.


“Cepat bawa kesini semua bubuk racunmu, biar aku makan semua,” teriak lblis Biru yang merasa kesal sambil menatap Mata Ular.


“Kakek tua, lepaskan kami dari sini, terserah apa yang akan kalian lakukan terhadap Sang Kui, kami tidak akan ikut campur lagi.” Mata ular berkata.


Phuih !


“Apa kau tahu tujuan ketua ke sini ? Tanya lblis Biru kepada Mata Ular.


“Mana kami tahu tujuan ketua mu datang ke sini ? Jawab si Mata Ular.


“Kota Nan hanya tempat singgah sambil melihat penginapan bunga naga.


Tetapi tujuan sebenarnya adalah ke kota Hanzhong.” Ucap lblis Biru.


Mata Ular mendengar kata Hanzhong mengerutkan keningnya.


“Mau apa ketua kalian ke Hanzhong ? Mata Ular bertanya.


“Memberantas perguruan Selaksa Racun,” ucap lblis Biru dingin.


Mendengar perkataan lblis Biru, Mata Ular mundur selangkah sambil menatap tajam.


“Keparat...! Teriak Mata Ular.


“Kawan – kawan, bunuh mereka ! Seru Mata Ular sambil memutar pedangnya yang berwarna hitam.


Ke empat orang dari perguruan Selaksa Racun, kembali mengepung lblis Biru.


Pedang mereka yang hitam karna di lapisi racun berputar putar.


Hiaaaaat !


Mata Ular berteriak sambil pedangnya menyambar ke arah lblis Biru.


Teriakan Mata Ular menjadi penanda bagi orang dari perguruan Selaksa Racun untuk menyerang bersama.


Iblis Biru memiringkan kepala ketika pedang Mata Ular menyambar, lalu lblis Biru berputar dan mendorongkan tangan kanan, menggunakan jurus titik beku ke arah tiga orang dari perguruan Selaksa Racun yang hendak menyerang.


Whuus....Blam !


Dua orang bergerak ke kiri dan kekanan, sementara yang berada di posisi tengah tak bisa menghindar, tubuhnya langsung terlempar dan tewas seketika terkena jurus titik beku yang di keluarkan lblis Biru.


Mata ular tambah marah melihat kawannya tewas.


Pedang Mata Ular langsung menyambar ke arah pinggang Iblis Biru.


Sementara dua orang lainnya menyerang dari arah samping dan belakang.


Hmm !


Iblis Biru mendengus, lalu bergerak ke samping kiri menghindari serangan pedang Mata ular yang menyambar pinggang.


Saat melihat sebuah pedang menebas ke arah bahu, dari serangan kawan Mata Ular.


Dengan ujung baju, lblis Biru menepak badan pedang yang hendak menebas ke arah bahunya.


Plak !


Pedang hitam melenceng dari sasaran, saat hendak balik menyerang, lblis Biru merasakan punggungnya ada angin dingin menyambar.


Salah satu kawan Mata Ular yang berada di belakang menusuk punggung lblis Biru yang ketika itu tangan kanannya mulai kebiruan, hendak menyerang kearah kawan mereka.


Sebelum pedang sampai, lblis Biru bergerak memutar lalu menghantam badan pedang yang hendak menusuk punggungnya.

__ADS_1


Plak !


Pedang mental ke arah kiri.


Lalu lblis Biru berbalik ke arah Mata ular, dengan tangan siap menebas ke arah leher si Mata Ular.


Mata Ular terkejut, melihat lblis Biru malah berbalik menyerang ke arah dirinya, tadinya ia berpikir lblis Biru akan menyerang kedua orang kawannya.


Mata Ular meraup segenggam racun kelabang merah yang tersisa di kantung tempat ia menyimpan racun, lalu melemparkan racun kelabang merah ke arah lblis Biru.


Melihat bubuk merah melesat ke arahnya, lblis Biru langsung menghindar, lalu menyerang pinggang Mata Ular dari arah samping.


Mata Ular terkejut melihat lblis Biru menghindari bubuk kelabang merah.


Mata Ular mundur sambil ujung pedangnya menusuk ke dada lblis Biru.


Dengan ujung baju kembali lblis Biru menepak ke arah pedang hitam milik Mata Ular.


Plak !


Mata Ular terkejut saat pedangnya tergetar dan terpental ke samping.


Melihat Mata Ular dalam bahaya, kedua temannya menyerang ke arah lblis Biru untuk membantu kawan mereka.


Iblis Biru melirik sebentar, kemudian menghindari tusukan pedang ke arah Punggung.


Kawan Mata Ular terkejut, melihat lblis Biru sudah berada di belakang.


Lalu berbalik, tapi lblis Biru lebih cepat, setelah berbalik dan hendak menyerang, Iblis Biru menghantam terlebih dahulu dengan jurus titik beku.


Buk....Whuut....Blek !


Dada kawan Mata Ular terkena hantaman telapak lblis Biru.


Tubuhnya terpental, lalu tewas seketika dengan seluruh tubuh membeku, layaknya sebuah batang kayu ketika tubuhnya jatuh ke lantai.


Salah seorang kawan yang tersisa, langsung menyabetkan pedang hitamnya ke arah leher.


Iblis Biru memutar kedua tangan saat melihat pedang hitam menyambar lehernya.


Plak


Kembali ujung baju lblis biru menepis pedang.


Saat pedang melenceng, lblis Biru bergerak maju, lalu keduanya berhadapan.


Dengan tatapan lblis Es, kawan Mata Ular diam terpaku, otaknya langsung beku tak bisa memberikan perintah kepada anggota tubuh yang lain.


Buk.....Krek !


Suara patahan tulang leher musuh terdengar. Tak lama kemudian anggota perguruan Selaksa Racun tersungkur, tewas seketika.


Mata Ular memandang bengis, lalu sekuat tenaga pedang hitam yang ia pegang di sabetkan ke arah kepala lblis Biru.


Iblis Biru bergerak ke samping, menghindari tebasan pedang Mata Ular.


Melihat musuh berhasil menghindari serangan pedangnya, sebelum pedang Mata Ular turun.


Pedang berubah arah, kemudian menebas ke arah samping, membabat pinggang lblis Biru.


Iblis Biru mundur menghindari serangan si Mata Ular.


Lalu lblis Biru membalas dengan memutar tubuh, lalu telapaknya menghantam ke arah bahu.


Mata Ular terkejut, lalu berusaha menghindar, tapi bahunya masih terserempet pukulan titik beku lblis Biru.


Mata Ular tergetar saat bahunya terkena pukulan lblis Biru.


Badannya terasa beku, tubuhnya terhuyung 2 langkah ke belakang.


Melihat Mata Ular terhuyung, Zhain Li Er yang tengah menonton setelah selesai menghabisi bajak sungai anak buah Sang Kui melesat sambil mencabut pedang angin miliknya.


Sreet......Crash !


Gerakan yang cepat dari Zhain Li Er sungguh tak di duga oleh Mata Ular.


Tak ada suara keluhan ketika kepala Mata Ular menggelinding, saat putus terkena tebasan pedang Dewi angin.


Phuih !


“Gadis kampret, cuma mau enaknya saja.”


Cis !


“Kakek busuk, jika tadi aku yang melawannya, tak perlu menunggu lama seperti kau,” ucap Zhain Li Er.


Hanya tersisa Sang Kui yang terus mundur menghindari serangan Han Ciu.


Han Ciu yang memang tidak terlalu serius melayani Sang Kui, mengulur waktu agar Sang Kui melihat bahwa apa yang ia bangun dan banggakan tidak sesuai dengan pengorbanan yang sekarang ia keluarkan.


“Kau lihat Sang Kui, nama besar yang kau agungkan, kekuatan yang kau banggakan serta harta yang sudah kau kumpulkan, itu semua apa akan kau bawa mati sekarang ?”

__ADS_1


Han Ciu berkata sambil menyerang Sang Kui.


Sang Kui tak menjawab perkataan Han Ciu, ia masih fokus menghindari serangan – serangan dari pemilik penginapan bunga naga yang sebenarnya.


Han Ciu sudah dari tadi menyarungkan sepasang pedang tulang naga.


Han Ciu hanya menggunakan jurus cakar naga hitam, warisan keluarganya.


Nyali Sang Kui pecah, napasnya sudah memburu begitu pula konsentrasinya sudah terbagi dengan berbagai macam pikiran.


Gerakan tangan Han Ciu yang cepat dan membawa hawa dingin mulai membatasi gerakan Sang Kui.


Perlahan, urat Serta darah Sang Kui mulai membeku, karna pemuda itu menggabungkan jurus cakar naga hitam dengan jurus air mata naga, kabut dingin mulai menyelimuti Sang Kui.


Arrrrghhh.... Bret !


Sang Kui menjerit saat pinggangnya terkena cakar naga hitam


Sang Kui mundur selangkah, tampak 3 buah guratan jari Han Ciu di pinggang Sang Kui.


“Sudah cukup permainan ini Sang Kui ! kau juga telah memperlakukan paman salah seorang selirku dengan kejam.


Han Ciu memutar kedua tangan, kabut dingin bermunculan, Han Ciu Lalu menarik tangannya ke belakang.


Sang Kui terkejut, kemudian lompat mundur, ia sudah merasakan kabut dingin yang keluar dari serangan cakar Han Ciu, kali ini kabut lebih tebal dan lebih terasa.


Han Ciu mendorong kedua tangan yang tadi ia tarik ke belakang, lalu mendorong ke depan.


Angin yang sangat dingin menghantam kabut, lalu dari balik kabut berhamburan butiran es seperti peluru melesat ke arah Sang Kui.


Sang Kui terkejut, matanya melotot melihat butiran es melesat ke arahnya dengan sangat cepat.


Sang Kui langsung memutar kedua tangan menciptakan tameng tenaga dalam.


Tak...Tak....Tak !


Butiran es yang menuju ke arah Sang Kui pecah berhamburan ketika bertemu dengan tameng tenaga dalam yang ia ciptakan.


Sang Kui semakin percaya diri, tapi semakin lama butiran es yang keluar dari kabut semakin besar serta semakin banyak.


Sang Kui terus bertahan.


Sret....Sret....Sret !


Beberapa butir es melesat melewati Sang Kui.


Sang Kui semakin panik, kemudian berusaha menambah tenaga dalam agar tameng badan yang ia gunakan menjadi lebih kuat.


Shing.....Creep !


Mata Sang Kui terbelalak, sebuah tombak es yang hanya sebesar jari melesat dan menancap di bahu Sang Kui hingga tembus.


Butiran es yang menyerang, sekarang berubah seperti jarum dan tombak, sebagian masih tertahan oleh tameng tenaga dalam miliknya, tetapi terlihat bolong seperti jari menembus bahu Sang Kui.


Sang Kui menahan sakit dan menggigit bibir saat tombak es menusuk bahunya.


Konsentrasi Sang Kui semakin terbagi, puluhan jarum es masuk menerobos tameng, dan menancap di dada dan sekitar tubuh lainnya.


Crep....Crep....Crep !


Sang Kui tersungkur dan tewas, tubuhnya penuh lubang jarum es, tapi darah tidak keluar dari tubuh Sang Kui, karna darahnya telah beku.


Setelah berhasil membunuh Sang Kui, Han Ciu melihat ke arah sekeĺilingnya.


Ternyata rombongannya telah menghabisi semua orang gerombolan bajak Siluman Air.


“Buka semua pintu,” ucap Han Ciu.


Brak....Brak....Brak !


Tiga buah pintu terbuka.


Beberapa orang yang terlihat di luar ruangan tertegun, mereka lalu mundur.


“Letakan senjata kalian !” Huang Zilin teriak sambil melesat.


Mereka langsung meletakan senjata dan duduk di luar ruangan sambil menundukkan kepala tak berani melihat ke dalam ruangan


“Talaba jemput pengurus kuda di penginapan bunga naga dan bawa kesini.”


Mendengar perintah Han Ciu, Talaba langsung melesat ke luar ruangan.


Anak buah bajak yang menyerah di suruh membersihkan mayat kawan serta ketua mereka yang tewas, sambil di awasi oleh Huang Zilin.


Tak lama kemudian Talaba datang bersama seorang pria bertubuh sedikit agak gemuk, dengan pakaian lusuh dan wajahnya tak terlihat karena selalu menunduk.


“Ketua ! ini pengurus kuda penginapan bunga naga.” Ucap Talaba.


Orang yang di sebut pengurus kuda, dari masuk hingga duduk selalu menundukkan kepala, tampak gemetar mendengar perkataan Talaba.


Han Ciu tersenyum.

__ADS_1


“Paman Kwe Hun Ti, apa sudah tak ingat lagi padaku ?”


__ADS_2