
Setelah berhasil menewaskan pemimpin pasukan bintang timur yang akan membantu kota Shang, kemudian menawan pasukan mereka yang menyerah.
Pedang api bersama pasukannya bergerak menuju kota Shang dari arah utara.
Talaba, Tongki, Dewi kipas, serta Iblis Biru kembali ke tempat persembunyian pasukan Han Ciu di selatan menuju kota Shang untuk memberitahukan rencana selanjutnya dari pedang api yang akan menyerang kota Shang dari arah utara, Pedang api mempunyai sebuah rencana yang bagus untuk menaklukkan kota Shang.
Sepanjang perjalanan, Talaba hanya bisa tersenyum melihat Iblis biru yang selalu menyindir Tongki yang selalu memanfaatkan keadaan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Dan itu selalu di bantah oleh Tongki.
“Aku memang terluka, bukankah wajar jika kalian datang menyelamatkan dan menyembuhkanku,” ucap Tongki.
“Memang wajar, tapi kau meminta hal yang tak wajar.
Ingin ku sembuhkan kau tak mau, bukankah itu tak wajar,” ucap Ming Mo.
“Dewi Kipas yang pertama menyembuhkanku, jadi kau tak usah ikut campur,” jawab Tongki dengan nada kesal.
Phuih!
“Memang itu maumu, Dewi Kipas sudah lelah dan kau masih saja meminta tangannya untuk menempel di kulitmu yang keriput, aku tahu itu hanya akal²an mu saja,” jawab lblis biru.
“Terserah kau mau bilang apa, intinya aku tak sudi tanganmu yang dingin itu meraba raba kulitku, dengan tangan Dewi yang hangat, luka dalamku akan cepat sembuh, berbeda jika tanganmu yang seperti tangan mayat yang meraba raba, bisa jadi lukaku akan bertambah parah,” Tongki membalas perkataan Ming Mo.
“Apa kau bilang?
“Sepertinya kau yang ingin menjadi mayat,” balas Iblis Biru.
“Apa kau iri terhadapku? Karena aku di raba² oleh Dewi Kipas,” bisik Tongki kepada lblis biru.
Phuih!
“Hati² kau bicara, nanti ku cabut lidah peot mu itu,” lblis biru berkata kesal
.
Walaupun Talaba dan Dewi kipas melerai mereka dan mereka kemudian diam, tapi itu tak berlangsung lama, keduanya jika ada kesempatan, terus beradu omong sehingga Talaba dan Dewi Kipas berhenti menasihati keduanya.
Han Ciu dan pasukan yang menunggu berita akhirnya bisa bernafas lega dan tersenyum setelah mendengar kabar pasukan Jari api berhasil di tumpas.
Setelah membaca surat dari Pedang api, Han Ciu tersenyum. Siasat yang di gunakan oleh Pedang api jika tak bocor oleh mata² pasukan bintang timur, pasti akan memberikan keuntungan bagi mereka.
Setelah mendengar keterangan dan membaca surat dari Pedang Api, Han Ciu memutuskan mereka besok akan bergerak menggempur kota Shang.
Jarak mereka yang lebih dekat kota Shang, akan memberikan waktu bagi pasukan Jari api 1 hari istirahat.
Paman dan bibi serta Talaba lebih baik istirahat, kalau tenaga sudah pulih, kalian bisa menyusul ke kota Shang.
__ADS_1
“Aku akan ikut bersama ketua,” ucap Talaba.
“Hanya Tongki yang cedera parah, biarkan saja tinggal di sini, bersama dengan pasukan perbekalan yang berjalan menyusul.” Iblis biru berkata sambil melirik kepada kawannya itu.
“Tidak....tidak! Aku ikut ketua,” ucap Tongki.
“Jika paman cedera, lebih baik paman istirahat saja! nanti jika sudah sembuh, paman bisa menyusul kami ke kota Shang,” Han Ciu menjawab perkataan Tongki.
“Aku sudah sembuh,” ucap Tongki setengah teriak, sambil matanya melotot ke arah Ming Mo.
Setelah malam mereka melakukan persiapan, Han Ciu menugaskan pedang kiri dan Pedang kanan menjadi perwira yang mengatur pasukan, karena mereka telah berpengalaman ketika menjadi perwira kerajaan Qin.
Ke esokkan hari, pasukan Han Ciu bergerak dari selatan, menuju pintu gerbang utama kota Shang dengan pasukan yang berjumlah kurang lebih 3000 prajurit, diantara-Nya 300 pasukan panah yang di pimpin langsung oleh Talaba.
Han Ciu akan menyerang secara langsung dari gerbang utama.
Kota Shang di pimpin oleh penguasa kota, gubernur Li Cao Bu.
Kekuatan kota Shang yang tadinya lumayan besar, sekarang hanya tersisa sekitar 5000 prajurit karena mereka harus membagi bagi pasukan untuk menyerang kota Xianyang.
Dengan benteng yang kokoh dan gerbang yang terbuat dari kayu tebal yang susah di robohkan, Kota Shang menjadi kota yang kuat.
Tapi Han Ciu punya perhitungan sendiri dan berani menyerang, setelah membaca surat dari Pedang api.
Setelah sehari berjalan, senja hari pasukan Han Ciu sampai di dekat kota Shang, mereka lalu istirahat tak jauh dari benteng kota Shang, yang merupakan padang rumput luas.
Sore hari mereka berkumpul.
“Aku bersama paman Ming Mo malam ini akan masuk ke kota Shang untuk bicara dengan penguasa kota, jika mereka tak mau menyerah, maka pagi hari kita akan langsung menyerang mereka tanpa ampun,” ucap Han Ciu.
“Kenapa harus kak Han yang pergi sendiri, bukankah itu sangat berbahaya,” Zhain Li Er berkata.
“Benar ketua! biar kami berdua saja yang pergi,” pedang kiri berkata.
Li Cao Bu di sebut pendekar pedang terbang, di wilayah timur ia terkenal akan kelicikan dan kekejamannya dalam memerintah kota Shang.
Han Ciu tersenyum mendengar perkataan Pedang Kiri, kemudian berkata.
“Dalam aturan perang mereka tidak boleh membunuh seorang utusan, tapi jika mereka licik, aku dan paman Ming Mo masih bisa melarikan diri, kalian tidak usah khawatir,” Han Ciu berkata untuk menenangkan mereka yang sedang berkumpul.
Setelah merencanakan penyerangan sebagai siasat kedua, apabila malam ini kota Shang tidak mau menyerahkan diri, Han Ciu bersama lblis Biru melesat ke arah kota Shang.
Han Ciu yang menyamar menjadi Pria paruh baya bersama Ming Mo
Sambil membawa bendera putih dan obor di tangan, akhirnya Han Ciu bersama Ming Mo di perbolehkan masuk ke kota Shang dan bertemu dengan Li Cao Bu serta beberapa orang perwira pemimpin pasukan.
Di dalam gedung tempat Li Cao Bu.
__ADS_1
Setelah memberi Hormat kepada Li Cao Bu, kemudian Han Ciu memberikan surat yang telah ia tulis sendiri.
Setelah membaca isi surat Han Ciu, wajah Li Cao Bu tampak berubah kelam.
Li Cao Bu langsung membanting surat di hadapan Han Ciu.
Prak!
“Keparat orang She Han!? dia pikir dia itu siapa, berani memerintah aku,” teriak Li Cao Bu.
“Maaf tuan! ketua Han Ciu hanya tak ingin banyak jatuh korban, dan ketua Han memberikan janjinya, jika kota Shang menyerah, maka pertumpahan darah yang bisa merugikan penduduk kota Shang bisa di hindari,” ucap Han Ciu yang tengah menyamar.
Phuih!
“Kau pikir pasukan yang di pimpin ketuamu bisa masuk ke kota ini? Apa kau pikir aku tidak tahu pasukan kalian yang berjumlah 3000 pasukan berada di hutan kecil di depan gerbang kota, Pasukanku lebih besar dari pasukan kalian,” Li Cao Bu berkata sambil menatap tajam ke arah Han Ciu.
“Jika tuan Li tahu dan merasa sanggup, kenapa tuan tidak langsung menyerang? Han Ciu balik bertanya.
“Diam kau, jangan kau pikir bahwa kau seorang utusan, aku tak bisa menebas kepalamu,” ucap Penguasa kota Shang.
Wajah Li Cao Bu merah menahan hawa amarah.
Ia sebagai penguasa kota merasa di ejek oleh seorang utusan.
“Tangkap mereka dan penggal kepalanya! Teriak Li Cao Bu.
Ha Ha Ha
Han Ciu tertawa, kemudian berkata
“Ternyata seperti ini pemimpin pasukan bintang timur, hanya sekumpulan manusia² busuk,”
Ming Mo yang sudah tak tahan mendengar perkataan Li Co Bu langsung bergerak mendahului, melihat para pemimpin pasukan kota Shang hendak bergerak.
Tangannya melesat ke arah seorang perwira yang berada di depannya.
Perwira itu tak sempat menghindar mendapat serangan cepat Ming Mo.
Lehernya berhasil di cengkeram, lalu terdengar suara berderak di dalam ruangan.
Krek!
Kepala perwira itu langsung terkulai dengan leher patah.
Li Cao Bu yang melihat kejadian begitu cepat dan tak sempat menolong anak buahnya menjadi sangat murka, dan berteriak kencang sambil menunjuk ke arah Han Ciu.
“Seraaaang, bunuh kedua utusan itu!
__ADS_1