
Tapi masalah ini harus di pikirkan masak masak, karna jika berada di atas perahu mereka sangat susah untuk di taklukan, karna rata rata anak buah mereka mempunyai ilmu berenang yang Handal.
"Paman benar, kita bagi 2 rombongan !" Rombongan pertama adalah rombongan kita yang akan membuat kekacauan serta menahan ketua dan Sepasang Siluman Elang di benteng mereka.
Sementara rombongan kedua, adalah rombongan pembersih yang membabat semua anggota Elang putih yang terlihat.
Pedang langit mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
"Siapa saja yang Cengcu pilih untuk masuk rombongan pertama ?" tanya Pedang langit.
Paman dan adik Zee sudah pasti ikut, sisanya aku akan beritahu sebelum kapal penjemput dari perguruan Elang putih datang.
Pedang langit mengangguk mendengar perkataan Han Ciu.
Mereka lalu kembali ke tempat masing masing dan bersiap.
Sebelum Sore, Han Ciu mengumpulkan semua orang penting dalam rombongan untuk berkumpul dan membagi tugas, tapi sebelumya Han Ciu meminta kepastian dari mereka untuk ikut membantu, tak ada yang menolak dan mereka semua siap.
"Baik, kita bagi bagi tugas."
Aku bersama paman pedang langit, adik Zee, serta Xiao Er, akan ikut bersama rombongan penjemput dari perguruan Elang putih, sementara sisanya terbagi dalam beberapa kelompok untuk menyerang dan mengamankan jalan masuk dan keluar dari benteng air telaga barat.
Rombongan kedua di pimpin oleh kakek Seribu wajah dan Dewi angin.
Aku hanya memilih 4 orang karna hanya untuk mengulur waktu, sampai rombongan kedua membersihkan area sungai lalu menerobos gerbang telaga barat.
Adik Zee, ahli racun dan pengobatan, paman Pedang langit kenal dengan Sepasang siluman elang dan ketua perguruan Elang putih, sementara Xiao Er adalah tanggung jawabku terhadap ketua Cen, jadi aku harus bertanggung jawab langsung atas keselamatan adik Xiao er.
"Aku ikut rombongan kakak Han ?" ucap Sa Sie Hwa.
Adik Sa adalah ahli senjata rahasia, pasti di butuhkan untuk membuat orang orang dalam perahu kalang kabut.
Sa Sie Hwa diam ketika Han Ciu menjelaskan kenapa ia tidak ikut bersamanya.
"Anak Han, bagaimana jika Li Er ikut bersamamu !" kami merasa masih mampu jika hanya menghadapi ******** air seperti mereka." ucap Dewi angin.
Cis
"Tak pernah berhenti berusaha," Sa Sie Hwa berkata dalam hati sambil cemberut, mendengar perkataan Dewi angin.
"Bagaimana menurut paman ?" Han Ciu bertanya kepada Pedang langit.
"Nona Li Er bisa sangat membantu Cengcu," ucap pedang langit.
"Apa nona Li Er bersedia ?" Han Ciu bertanya, sambil melihat ke arah gadis itu.
Wajah Zhain Li Er terlihat kaku ketika di tanya, tanpa melihat ke arah Han Ciu, Li Er menganggukan kepala.
Han Ciu tersenyum.
"Rupanya memang dia belum mengingat aku," Han Ciu berkata dalam hati.
"Aku juga ikut rombongan pertama," ucap Sa Sie Hwa sambil menatap tajam ke arah Han Ciu.
Melihat tatapan gadis itu, Han Ciu hanya bisa menganggukan kepala.
Tak lama setelah mereka bercakap cakap, salah seorang anggota selaksa pedang datang melapor, bahwa kapal penjemput dari perguruan Elang putih telah sampai di penginapan.
Elang barat memberi hormat kepada Han Ciu yang merupakan Cengcu dari perkampungan selaksa pedang.
Setelah semua naik, perlahan kapal meninggalkan rombongan menuju telaga barat yang merupakan markas dari perguruan Elang putih.
Setelah kapal penjemput tak terlihat, Iblis seribu wajah serta Dewi angin membagi beberapa rombongan, mereka lalu bersiap sedia, saat malam tiba mereka akan bergerak menuju telaga barat.
__ADS_1
Hmm !
"Memang benar apa yang di katakan paman Pedang langit, aliran sungai ini merupakan jalan satu satunya menuju telaga barat." ucap Han Ciu dalam hati.
Setelah berlayar terus ke barat, kapal akirnya sampai di sebuah gerbang besar, di sebuah telaga.
"Markas yang indah," Han Ciu berkata dalam hati sambil melihat ke arah benteng air telaga barat, markas perguruan Elang putih.
Pintu gerbang terbuka, kapal masuk ke dalam, setelah kapal berlabuh, penumpang turun dari kapal, Han Ciu dan rombongannya sangat kagum dengan keindahan markas Elang putih,
Bangunan bangunan di tempat itu seperti berdiri diatas tanah, tiang tiang pancang yang kebawah dan menancap kuat di dasar telaga membuat bangunan diam tak bergerak layaknya di atas tanah.
Han Ciu lalu diantar dan dibawa keadalam gedung utama.
Semua orang penting perguruan Elang putih berkumpul, ketika melihat rombongan Han Ciu datang, mereka lalu berdiri memberi hormat.
"Selamat datang Cengcu perkampungan Selaksa pedang" Lelaki tua dengan wajah sedikit lebar serta hidung yang agak melengkung dan mata tajam layaknya se ekor elang, memberi hormat setelah memberi kata sambutan.
Han Ciu membalas penghormatan lelaki tua itu serta menjawab kata sambutannya.
Terima kasih buat ketua perguruan Elang putih yang telah bersedia menerima kami.
"Saudara Pedang langit selamat datang, lama tidak jumpa," ucap Dewa elang, Pedang langit tersenyum dan membalas basa basi yang dikatakan Dewa elang, ia ingat sewaktu terakhir bertemu, ketika diadakan pertemuan tokoh dunia persilatan mereka bertemu dengan Dewa elang bersama kawannya, yang di kenal dengan nama Datuk lembah burung.
Sementara itu seorang pemuda yang sebagian mukanya di balut kain, terus menatap tajam ke arah Zhain Li Er.
Han Ciu lalu duduk bersama dengan rombongan, meja yang besar dan panjang membagi rombongan Han Ciu dengan orang orang perguruan Elang putih.
"Maaf, Cengcu kami ingin bertemu dengan ketua Elang putih, karna ingin membicarakan kesalahpahaman antara orang orang kami dengan Siauw pocu dari elang putih yang terjadi di kedai apung." ucap Pedang langit.
Dewa elang tersenyum sinis mendengar perkataan Pedang langit.
"Anakku menggoda seorang nona karna ia duduk sendirian, tidak dengan Cengcu, dan masalah itu banyak saksi yang melihat mereka." ucap Dewa elang.
"Apa perlu dilanjutkan pertandingan ulang ?" Pedang langit berkata dingin.
Ha ha ha.
Dewa elang tertawa, lalu ucapnya.
"Tidak usah, aku tahu anakku bukan tandingan selir dari Cengcu selaksa pedang, tapi nanti saja kita bicarakan lagi, setelah kita makan dan minum arak.
Pedang langit mengangguk mendengar perkataan Dewa Elang.
Dewa elang kemudian memerintahkan para pelayan dan dayang menyiapkan jamuan serta arak.
Racuk cilik melihat ada yang aneh, lalu secara perlahan, menyebarkan bubuk anti racun yang tak terlihat sambil mengambil arak dan hidangan,
Setelah Racun cilik memeriksa makanan dan arak sudah terbebas dari racun gadis itu mengedipkan mata kepada Han Ciu, mereka lalu menyantap dan minum arak yang di suguhkan.
Setelah menyantap jamuan dan arak.
Dewa elang kembali membuka percakapan.
"Cengcu, mengenai selir Cengcu yang telah membuat anakku babak belur, akan kami sudahi masalah ini jika Cengcu memberikan selir Cengcu kepada kami, Dewa elang berkata.
Hmm !
Han Ciu meremas cawan arak yang ia pegang, hingga hancur tak berbentuk.
"Kau berani sekali bicara seperti itu padaku ?" ucap Han Ciu, sambil menatap tajam ke arah Dewa elang.
Ha ha ha.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak berani ?" aku sedang berada di tempatku sendiri, seharusnya Cengcu yang mengalah kepada kami, karna di darat memang kami kurang beruntung, tapi di air !" perguruan elang putih belum pernah kalah." Dewa elang berkata dengan nada sinis.
Ha ha ha.
Han Ciu tertawa mendengar perkataan Dewa elang.
"Tadi kau sangat sopan orang tua, setelah kau berikan hidangan pada kami kau jadi galak sekali, apa kau pikir racunmu yang kau campurkan dalam hidangan akan mempan terhadap kami ?"
Wajah Dewa elang dan Sepasang siluman elang berubah mendengar perkataan Han Ciu.
"Dan aku memang berniat ke benteng telaga air untuk membasmi kalian semua serta menghapus Perguruan elang putih dari dunia persilatan."
Phuuuih !
"Bicaramu sangat jumawa anak muda, apa kau sudah berpikir dengan apa yang kau katakan ?" ucap Elang botak.
Han Ciu membuka dadanya, Rajah naga hitam terlihat di dada kiri.
"Kau lihat dadaku dan dengarkan baik baik, aku adalah orang terakhir dari sekte naga hitam yang selamat, tetapi hari ini kupastikan tak ada dari turunan perguruan Elang putih yang selamat dari hukumanku, setelah berkata, Han ciu yang memang sudah tak suka kepada Anak elang mengibaskan tangannya."
Sreeet !
Pedang hampa melesat ke arah Anak elang, semua yang ada di ruangan terkejut melihat Han ciu menggerakan tangan, apalagi setelah melihat Anak elang terlempar dari kursi dengan kepala hancur terkena pedang hampa Han ciu."
Dewa elang berteriak marah ketika melihat anaknya tewas, lalu tubuhnya bergerak ke arah Han Ciu sambil menyambar kepala.
Han Ciu menangkis serangan Dewa elang sementara, pedang langit memburu ke arah Elang botak, Zhain Li Er menyerang ke arah Elang salju, sementara, Xiao er, Sa Sie Hwa dan Racun Cilik menyerang anak buah perguruan elang putih yang berada dalam ruangan.
Pertempuran pun terjadi di dalam ruangan besar itu.
Racun cilik belum berani mengeluarkan racun karna ruangan tertutup dan rombongan tidak di beri obat untuk penawar racun.
Tapi ketiga orang gadis itu sangat kompak, senjata rahasia Sa Sie Hwa serta kecepatannya, sangat merepotkan Anak buah Dewa elang.
Dewa elang yang marah terus menyerang Han Ciu, kedua cakarnya menyambar nyambar, ke arah kepala dan badan Han Ciu, tapi pemuda itu melayani dengan jurus cakar naga hitam, tubuhnya bergerak cepat menghindari serangan serangan Dewa elang.
Dewa Elang lalu teriak, sambil menjauh dari Han Ciu.
"Tarik jaring bambu !"
Tak lama kemudian, setelah Dewa elang teriak.
Satu persatu lantai tempat berpijak hilang dan tenggelam, Han ciu melihat hal itu, lalu loncat mundur, sebagian anak buah Dewa elang yang ingin menceburkan diri ke dalam telaga, terkena kibasan tangan Han ciu dan senjata Rahasia.
Han Ciu melihat lantai ruangan perlahan satu persatu mulai tenggelam, lalu memberi isyarat tangan untuk berkumpul.
"Kalian harus hati hati !" aku bisa berenang, tapi sambil melindungi kalian akan sangat repot." ucap Han Ciu.
Ruangan tempat mereka kini, bawahnya sudah mulai hilang, Han Ciu serta rombongan mulai melesat ke atap, dan sebagian menempel di dinding ruangan.
Anak buah Dewa elang mulai banyak yang mencebutkan diri ke telaga.
Racun Cilik lalu menaburkan bubuk racun ke air.
Air telaga yang ada di ruangan mendadak Berubah warna menjadi hitam, anak buah Dewa elang yang sudah menceburkan diri naik lagi, ke atas tak berani berenang di air telaga.
Ha ha ha.
"Sebentar lagi, kalian akan tahu jebakan dari Elang putih," ucap Dewa elang, Racun tak ada artinya di air telaga barat.
Mendengar perkataan Dewa elang, Han Ciu tersenyum sinis,
"Buktikan perkataanmu."
__ADS_1