Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 192 Terkepung di markas Selaksa Racun


__ADS_3

“Selamat datang di perguruan Selaksa Racun !”


“ Maafkan kami jika tidak sopan menyambut kedatangan tuan – tuan, tapi maaf, ketua perguruan Selaksa Racun sedang tidak berada di sini, jika tuan – tuan tidak ingin mencari perkara dengan perguruan kami, cepat pergi dari sini !


Racun Merah yang sedang berdiri di atas panggung, berbicara kepada Han Ciu.


“Aku sudah tahu Manusia Racun sedang bersama Xiang Yu.”


Yang kutanyakan adalah dimana Han Cikung berada ? Han Ciu berkata mengerahkan tenaga dalam, sehingga ke lima racun mendengar perkataan Han Ciu.


“Guru Han Cikung juga tak ada di sini,” Racun baju merah menjawab pertanyaan Han Ciu.


“Kalian guru dan murid sama – sama licik, akan ku bakar perguruan Selaksa Racun, biat tidak meresahkan dunia persilatan,” ucap Han Ciu.


Lanjut perkataan pemuda itu.


“Kau pikir dengan menjebak kami memakai binatang beracunmu akan membuat kami gentar ?


Racun baju merah mendengus mendengar perkataan Han Ciu.


Lalu memberikan perintah kepada adik ke tiganya.


“Adik ! cepat kerahkan semua binatang peliharaanmu untuk menyerang mereka,”


Racun hijau mendengar perkataan kakak pertama anggukan kepala, kemudian mengambil suling yang berada di pinggang.


Suara suling yang melengking lengking terdengar.


Ratusan ular mendengar suara suling, langsung diam seperti sedang mendengarkan perintah.


Semakin lama suara suling semakin tinggi, ular serta serangga beracun tampak mulai beringas mendengar suara suling racun baju hijau.


Suara ratusan ular besar dan kecil serta serangga mendesis, kemudian serentak binatang – binatang itu menyerang Han Ciu dan rombongan.


Lebah perut biru ikut menyerang dari atas.


“Paman ! cepat ambil obor untuk mengusir binatang peliharaan mereka.”


Tongki serta lblis biru begitu mendengar perintah Han Ciu langsung bergerak berusaha mengambil obor yang ada di sekitar tempat mereka berdiri.


Tapi siasat Han Ciu Sudah di baca oleh lima racun.


Racun baju merah mengangkat tangan, Racun Hijau kemudian menempelkan suling ke mulut dan hendak meniup, sementara puluhan anggota Selaksa racun yang berada di samping bersiap siaga sambil, memasang panah dan membidik ke arah Iblis Biru serta Tongki.


“Seraaang ! Teriak Racun Merah.


Suara suling melengking lengking terdengar.


Ular, lebah serta serangga beracun lain yang di gabung berjumlah ribuan mulai bergerak begitu mendengar suara suling Racun Hijau.


Panah – panah melesat ke arah lblis Biru serta Tongki, juga para lebah perut biru.


Sedangkan ular serta serangga beracun yang lain menyerang ke arah Han Ciu.

__ADS_1


Han Ciu mengibaskan pedangnya ke arah ular – ular yang bergerak cepat.


Whuut....Blar !


Puluhan ular terangkat, terpental terkena pukulan hawa pedang tulang naga milik Han Ciu, tetapi ratusan ular lain seperti tak peduli, mereka terus bergerak menyerang Han Ciu serta rombongan.


Zhain Li Er menebas seekor ular yang loncat ke arahnya, begitu pula dengan Xiao Er serta Dewi Kipas keduanya juga dengan pedang dan kipas menghalau ular – ular yang berusaha mendekat, meskipun mereka jijik dengan ular, tetapi mereka tidak mau di patuk atau di belit dengan ular peliharaan dari racun hijau.


Sementara itu Iblis Biru yang menyambar sebuah obor, tidak melemparkan obor tersebut ke arah Han Ciu, tapi di pakai untuk menghalau lebah perut biru yang berusaha menyerang ke arahnya.


Sedangkan Tongki memutar mutar golok api, dengan saluran tenaga dalam hawa neraka yang di miliki oleh Tongki, golok api mengeluarkan sinar merah dan berhawa panas, sehingga lebah perut biru tak berani mendekat.


Tetapi panah dari anak buah selaksa racun serta ular menyerbu ke arah Tongki, Tongki melesat ke arah obor yang tertancap di tanah, lalu menendang obor tersebut.


Tak !


“Ketua, tangkap ! Seru Tongki setelah menendang tiang obor.


Obor melesat seperti terbang ke arah Han Ciu.


Han Ciu menangkap obor yang melesat ke arahnya, lalu ia menyabetkan obor ke arah ular, ular yang merasakan panasnya api bergeser menjauh, lalu berganti menyerang ke arah lain.


Han Ciu yang melihat ular serta serangga beracun balik menyerang ke arah, Zhain Li Er, Xiao Er serta Dewi Kipas, melemparkan obor ke arah Xiao Er.


“Adik, tangkap ! Seru Han Ciu.


Setelah melihat obor berhasil di pegang oleh Xiao Er, Han Ciu menghantamkan tangan kiri.


Tiupan seruling semakin lama semakin kencang dan melengking lengking, ular, serangga serta lebah perut biru, semakin ganas menyerang rombongan Han Ciu.


“Celaka kalau terus seperti ini, tenaga kita akan cepat terkuras, sementara binatang – binatang beracun itu seperti tak pernah habis, walau mereka sudah ratusan yang mati,” batin Han Ciu.


“Paman ! Lindungi para wanita, aku akan ke panggung arena untuk menghancurkan pawang ular itu.” Ucap Han Ciu.


Ming Mo yang mendengar perkataan ketuanya, kemudian melesat kembali sambil membawa obor, sementara Han Ciu melesat ke arah panggung, tempat dimana kelima racun berkumpul.


Racun baju merah yang melihat Han Ciu melesat ke arah mereka langsung menghantamkan tangannya, sebuah sinar hitam yang berbau anyir melesat ke arah Han Ciu.


Whuuut !


Han Ciu yang melihat sinar hitam melesat ke arahnya, kemudian mengibaskan pedang tulang naga.


Sebuah sinar putih melesat keluar dari pedang tulang naga, sebuah hawa pedang yang sangat dingin melesat menghadang pukulan racun merah.


Blar !


“Lindungi adik Hijau,” teriak racun merah yang melihat pukulannya lenyap oleh hawa pedang Han Ciu, dan pemuda itu terus melesat ke arah adik ketiganya.


Pedang hitam milik Racun hitam dan Coklat, menyambar ke arah pedang yang berwarna putih dan berusaha menebas ke arah Racun Hijau.


Trang !


Dua buah pedang hitam menahan pedang tulang naga yang hendak menebas Racun Hijau.

__ADS_1


“Adik pergi menjauh,” teriak Racun Merah.


Racun Hijau anggukan kepala, kemudian melesat ke arah belakang dan berlindung di balik Racun kuning.


Han Ciu melentingkan tubuhnya ke belakang, saat melihat Racun Merah menghantamkan pukulan beracun ke arahnya.


Setelah pindah, kembali suling ular berbunyi, ular yang tadi diam dan bingung karna suara suling berhenti, kini bergerak kembali dan menyerang Ming Mo.


Talaba yang melihat Tongki mulai kerepotan menghadapi lebah serta panah beracun milik, anggota perguruan Selaksa Racun.


Mulai menggunakan panah, lalu membidik ke arah para anggota selaksa racun.


Shing....Shing....Shing !


Tiga panah yang sekali pasang di busur melesat menyambar lebah perut biru, dan terus menuju ke arah anggota perguruan Selaksa Racun.


Jleb...Jleb...Jleb !


Tiga buah panah Talaba menembus tubuh para pemanah anak buah perguruan Selaksa Racun.


Mereka terkejut melihat kawan mereka tewas oleh panah Talaba, lalu mereka berpencar untuk menghindari bidikan panah Talaba.


Tongki yang melihat panah yang menuju ke arahnya mulai berkurang, kemudian mencabut sebuah obor dan melemparkan obor tersebut ke arah Dewi kipas.


“Dewi, tangkap obor ! Seru Tongki sambil melemparkan obor yang barus saja ia cabut.


Shing....Tap !


Dewi Kipas anggukan kepala sambil tersenyum manis, setelah menangkap obor yang di lemparkan oleh Tongki.


“Terima kasih saudara Tong,” teriak Dewi Kipas.


Tongki yang mendengar perkataan Dewi Kipas langsung tersenyum dan semangatnya semakin tinggi, golok apinya berputar sambi mengeluarkan Hawa panas.


Zhain Li Er yang melihat Dewi Kipas memperoleh obor berteriak ke arah Tongki.


“Hai Kadal tengik, lemparkan satu obor untukku,” teriak Zhain Li Er.


Mendengar perkataan Zhain Li Er, Tongki mendengus.


Phuih !


"Dasar gadis gila"


“Harusnya yang butuh bantuan berkata sopan, dia malah memanggilku Kadal tengik,” batin Tongki.


Zhain Li Er mendengus ketika melihat Tongki yang sepertinya tidak mendengar apa yang ia ucapkan, lalu berkata kembali kepada Tongki.


“Kadal tengik, kau dengar tidak ?


Tongki mendengar teriakan Zhain Li Er semakin kesal dan hatinya terasa panas di sebut kadal tengik, lalu Tongki berteriak kencang, membalas ucapan Zhain Li Er.


“Tidak”

__ADS_1


__ADS_2