
Han Ciu melihat Iblis Biru serta Tongki beradu omong, wajah pemuda itu tampak merah menahan hawa amarah yang hampir meledak.
Dengan nada dingin, Han Ciu kemudian bicara.
“Kalian sudah tua tapi kalian sepertinya tidak bisa membedakan mana urusan yang penting dan mana yang tidak, selalu seperti ini,” ucap Han Ciu sambil menatap dingin bergantian kepada Tongki dan Iblis Biru.
Tongki serta lblis Biru diam tak membalas perkataan Han Ciu.
“Aku tegaskan sekali lagi, jika kalian sudah tak mau mendengar perintahku, kalian boleh bebas pergi sekarang juga.
“Walau aku butuh karena kalian punya kemampuan lebih di bandingkan yang lain, tetapi jika kalian tak bisa di atur aku tak butuh tenaga kalian.
“Talaba kau pergi dengan Dewi Kipas ke kota Sanchuan, biar aku dan kedua istriku yang akan mempelajari situasi di kota Xianyang.” Ucap Han Ciu.
“Baik ketua,” Talaba serta Dewi kipas menjawab.
“Talaba ! kau pergi denganku, biar lebih cepat,” seru lblis Biru.
Tongki yang mendengar perkataan lblis Biru kemudian berdiri sambil merapatkan kedua tangan di dada lalu membungkukkan badan.
“Saudara Ming Mo ! aku minta maaf jika aku membuatmu kesal, biarlah aku yang akan mengawal Talaba sampai kota Sanchuan secepat yang aku bisa.” Tongki berkata menyadari kesalahannya.
“Tidak, kau pergi bersama ketua ke Xianyang, karna mengawal Talaba adalah tugasku dari awal, biar aku saja yang pergi ke Sanchuan,” Ming Mo membalas perkataan Tongki.
“Baiklah kalau begitu, biar aku yang akan mengawal ketua sampai ke Xianyang.”
“Ketua ! di markas perguruan Selaksa Racun sudah tak ada barang berharga yang bisa kita ambil, apa yang harus kita lakukan terhadap perguruan Selaksa Racun ? Tanya Talaba.
“Kau serta paman Ming Mo pergi saja ke Sanchuan, masalah perguruan Selaksa Racun biar aku yang urus,”
Mendengar perkataan Han Ciu.
Talaba anggukan kepala, “baik jika begitu, aku dan paman Ming Mo akan berangkat sekarang juga ke Sanchuan.” Talaba membalas ucapan Han Ciu.
Setelah berkata, Talaba kemudian bersama Ming Mo pamit untuk segera pergi ke Sanchuan.
Setelah Talaba pergi, Han Ciu tampak masih menikmati arak yang ada di meja.
“Ketua ! Apa yang harus kita lakukan terhadap perguruan Selaksa Racun ? Tanya Tongki.
Han Ciu tanpa melihat ke arah Tongki sewaktu mendengar perkataan Tongki.
Berkata dengan suara penuh ketegasan.
“Bakar sampai habis tempat ini,”
Setelah mendengar perkataan Han Ciu.
__ADS_1
Tongki kemudian menarik tangan Dewi Kipas.
“Dewi ! mari kita lakukan perintah ketua,” seru Tongki.
Dewi Kipas mendengar seruan Tongki, kemudian anggukan kepala, lalu bersama dengan Tongki keluar untuk membumi hanguskan perguruan Selaksa Racun.
“Kak Han, kau marah ya ? Tanya Zhain Li Er, melihat Han Ciu masih minum arak yang ada di meja.
“Tidak, aku sedang berpikir tentang kota Xianyang, ternyata mereka mempunyai pemikiran yang sama denganku, menyerang dari kedua sisi, kemudian menyisir ke tengah untuk menguasai keadaan.” Han Ciu berkata.
Setelah menarik nafas, Han Ciu menghabiskan arak yang tersisa di cawan, lalu beranjak dari kursi, kemudian keluar ruangan di ikuti oleh kedua istri serta Fang Ji,
Sesampainya di luar gedung, Han Ciu melihat api mulai membakar rumah – rumah serta gedung.
Kemudian Han Ciu menghantamkan tangan kanan dengan pukulan Dewa Api ke arah gedung.
Brak....Blam !
Pintu hancur terkena pukulan berhawa panas, pukulan terus menerobos dan menghantam dinding gedung, api mulai membakar gedung saat hawa panas membakar kain – kain penutup jendela serta kayu yang terkena hantaman pukulan Dewa api.
Perlahan tapi pasti, api mulai melahap gedung, begitu pula di tempat lain.
Tongki bersama Dewi Kipas datang memberi laporan bahwa mereka sudah membakar gedung dan rumah di perguruan selaksa racun.
“Bagaimana dengan terowongan bawah tanah yang mereka miliki ? Tanya Han Ciu.
“Baiklah jika sudah beres mari kita pergi ke Xianyang, kita memutar melalui hutan, sambil menyelidiki apakah ada tenda atau benteng musuh yang akan menyerang dari sisi kiri kota Xianyang.” Ucap Han Ciu.
Lanjut ucapan pemuda itu.
“Dewi ! Apakah Dewi tahu jalan yang menuju ke Xianyang jika kita ambil jalur yang bukan dari jalan raya ?”
“Tahu ketua, tetapi hutannya lumayan lebat,” jawab Dewi Kipas.
“Tidak apa, sambil kita menyisir hutan,” ucap Han Ciu.
Setelah perguruan Selaksa Racun habis Di lalap api, Han Ciu masih terpaku dan berpikir di mana Han Cikung sekarang bersembunyi, tapi ia yakin Han Cikung tak jauh dari manusia beracun, ketua perguruan Selaksa Racun dan itu artinya Han Cikung tak jauh di sekitar Xiang Yu.
Han Ciu beserta rombongan yang berkurang 2 orang, yakni Talaba serta Ming Mo, melanjutkan perjalanan menuju kota Xianyang dengan memutar.
Mereka melewati hutan lebat yang jarang di lewati oleh manusia, hanya ada jalan setapak bagi para pemburu binatang yang mencoba mencari peruntungan di hutan yang jarang di lewati manusia.
Dewi Kipas bersyukur, masih ada Fang Ji di rombongan, jika salah jalan Fang Ji dengan penciumannya yang tajam berhasil membaui jejak para pemburu yang pernah melewati hutan itu.
Saat malam tiba, Han Ciu beserta rombongan memilih tidur diatas sebuah pohon besar, untuk menghindari serangan binatang buas, setelah pagi hari mereka melanjutkan perjalanan menuju Xianyang.
Siang itu, Han Ciu melihat sebuah pohon yang dahannya besar dan bisa di pakai untuk tempat istirahat.
__ADS_1
Mereka lalu istirahat di pohon tersebut untuk mengisi perut dan melepas lelah.
“Fang Ji, kau liat situasi di sekitar hutan,”
Fang Ji mengerti apa yang di maksud oleh tuannya, serigala itu kemudian pergi lebih jauh ke dalam hutan.
Setelah beres menyantap perbekalan yang mereka bawa, Han Ciu bercakap cakap dengan Dewi Kipas.
“Bibi, apa masih jauh sampai di Xianyang ? Tanya Han Ciu.
“Jika tak ada aral melintang, 2 hari lagi kita keluar dari hutan, kemudian melanjutkan perjalanan melalui hutan bambu kurang lebih setengah hari, baru akan sampai ke Xianyang ketua,” jawab Dewi Kipas.
Han Ciu anggukan kepala mendengar perkataan Dewi Kipas, jika mereka melalui jalan umum yang biasa di pakai, mungkin sehari perjalanan lagi mereka akan sampai, tapi karena memutar arah, perjalanan menjadi lebih lama.
Saat tengah bercakap cakap, telinga Han Ciu mendengar ada suara gerakan dan daun yang tersibak.
Han Ciu kemudian memberi isyarat kepada yang lain agar diam dan tak membuat gerakan.
Tak lama kemudian dari sebuah semak belukar yang tersibak, tampak sepasang pemburu yang memakai pakaian yang terbuat dari kulit binatang, sedang memanggul Fang Ji.
Kedua kaki depan dan belakang Fang Ji, sudah terikat oleh sulur pohon dan dipanggul di bahu lelaki yang memakai topi terbuat dari kulit binatang.
“Suami, kulit serigala ini untuk baju gantiku, bulunya bagus sekali, putih Ke abuan dan lembut seperti salju,” ucap perempuan yang bersama orang yang memanggul Fang Ji.
“Tapi selama puluhan tahun kita menetap di hutan ini, baru aku lihat serigala secantik ini,” lanjut ucapan pemburu wanita yang merupakan istri dari orang yang memanggul Fang Ji.
“Serigala ini memang bukan berasal dari hutan Hanzhong, sudah tahunan kita keliling hutan Hanzhong seluk beluk dan setiap binatang di hutan Hanzhong aku tahu semua,” pria itu membalas ucapan istrinya.
Keduanya terus berjalan sambil bercakap cakap, kemudian mereka berhenti di bawah pohon besar dimana Han Ciu dan rombongan sedang berada di atas pohon tersebut.
“Apa mungkin serigala ini tersasar masuk hutan Hanzhong ? Tanya sang istri.
“Aku tidak tahu ! Tapi memang sekarang banyak binatang yang sasar ke hutan Hanzhong kita."
Lanjut ucapan sang suami.
“Diatas pohon ini saja ada beberapa ekor monyet sedang mengawasi kita.”
-----------------------------------------------------------------------------
**Mohon maaf buat kawan² reader, bulan ini udatenya selalu telat, terkadang 2 hari saya tidak up, memang lagi banyak pikiran, jadi kurang konsentrasi untuk menulis novel, dari kerjaan di RL, dan adik kandung saya yang sedang sakit kritis dan masih di rawat di RS.
Saya juga ucapkan beribu terima kasih buat kawan kawan yang sudah bantu doa, bantu suport dan memberi saran serta masukan serta bantuanya, di bulan depan saya akan usahakan update teratur lagi.
Sekali lagi saya mohon maaf karna sering telat up.
Semoga kawan reader semua di beri kesehatan, dan kelancaran atas segalanya oleh yg maha kuasa, amin**
__ADS_1