
Setelah mendapat informasi penting dari perkumpulan pengemis tongkat hitam, perlahan tapi pasti, Beng San, pedang langit serta ketua Xiao , mulai bertahap menggerakkan pasukannya untuk menuju kota terdepan yang berdekatan dengan wilayah kota penguasa timur.
Liu Bang tak ingin Xiang Yu mengambil langkah yang bisa menguntungkan pasukannya.
3 kota yang di yakini menjadi pusat kekuatan pasukan bintang timur, Julu, Handan serta kota Dong, akan menjadi perhatian Liu Bang bersama pimpinan lain dan mencari solusi, bagaimana cara mengatasi kekurangan mereka dalam jumlah pasukan.
Liu bang memutuskan menggunakan kota Henei dan kota Dang, sebagai pusat tempat kekuatan mereka.
Kota yang berdekatan dan layaknya dua gerbang besar yang menuju kawasan barat.
Kota Henei dan kota Dang berada di antara kota Dong, lalu Handan kemudian Zulu.
Liu Bang sudah memperkirakan, jika ia menyerang maka pasukannya bisa terkepung, karena pasukan Xiang Yu yang berada di Handan akan bergerak menyerang, belum lagi Julu yang bisa bergerak ke kiri maupun kanan.
Tiga kota yang sangat strategis untuk bertahan dan menyerang.
Semua pasukan yang ada di Sanchuan mulai pindah menuju kedua kota Dan juga Henei.
Xiang Yu tahu musuhnya mulai pindah dan mendekat, Xiang Yu yakin sekali Liu Bang tidak akan menyerangnya secara langsung.
tapi Xiang Yi hanya ada satu pilihan, yaitu menyerang dan perang terbuka.
Jika Xiang Yu bisa menembus pintu gerbang kedua kota itu, maka di pastikan pasukan bintang timur yang ia pimpin, tinggal selangkah lagi bisa memenangkan pertempuran.
Pasukan Xiang Yu kurang lebih 60 ribu prajurit, 10 ribu di Taiyuan sedangkan sisanya berkumpul di tiga kota, sedangkan pasukan Liu Bang hanya 30 ribu, di tambah pasukan yang di pimpin Han Ciu.
Tetapi Han Ciu harus menghadapi 10 ribu pasukan yang ada di Taiyuan.
Perbedaan 20 ribu pasukan itulah yang akan di manfaatkan oleh Xiang Yu untuk menaklukkan kedua kota, sebelum pasukan Han Ciu tiba.
Jarak puluhan tombak di depan benteng kota Henei.
Lima prajurit sambil membawa tongkat yang ujungnya terdapat bendera putih, mengibarkan bendera ke arah benteng kota Henei.
Beng Sang anggukan kepala, seorang pemanah terlemah serta seorang pemanah terkuat tengah bersama Beng San.
“Kau panah sekuatnya! sampai di mana batas kemampuanmu," Beng San berkata kepada pemanah terlemah.
Prajurit pemanah anggukan kepala lalu memasang anak panah, busurnya melengkung saat tangan kanan prajurit itu terus menarik anak panahnya.
Shing!
Panah melesat puluhan tombak menuju arah kelima orang yang membawa bendera putih.
Crep!
Panah menancap sekitar 3 tombak di dekat kelima orang yang membawa bendera putih.
Salah seorang pembawa bendera mengibar mengibarkan bendera ke arah benteng.
Lalu mereka memberi tanda dengan bubuk batu kapur di tempat panah itu menancap.
Giliran pemanah kedua, panah melesat lebih jauh berbeda hampir sepuluh tombak dengan pemanah terlemah.
Beng San anggukan kepala melihat dua tanda putih jauh di depan benteng kota Henei
Tolong kalian beri tanda di dua tempat itu, beri tanda di beberapa tempat dengan jarak yang sama dengan kedua titik itu.
“Kita tidak boleh membuang buang anak panah, anak panah yang di lepaskan harus bisa melumpuhkan prajurit bintang timur,” ucap Beng San.
Kedua pemanah anggukan kepala mendengar perkataan Beng San yang penuh semangat.
Parit – parit berisi pasak beracun di buat untuk menghambat pergerakan pasukan bintang timur.
__ADS_1
Paku2 beracun, serta banyak lagi jebakan yang siap untuk melumpuhkan pasukan bintang timur.
Kita harus bisa menahan pasukan bintang timur semampu yang kita bisa, buat pasukan musuh putus asa.
Setelah mereka putus asa, baru kita sikat mereka.
Ketua perguruan api suci Xiao Chen tersenyum sambil mengangguk, ia memuji ketelitian dan kecerdikan Beng San dalam mengatur jarak para pemanah.
Belum lagi jebakan² yang di buat di depan benteng kota Henei.
Ketua Chen menatap ke arah langit, sambil tangan kanan mengelus elus janggutnya yang panjang dan berwarna putih.
Ketua Chen berkata.
“Kartu kemenangan kita ada di anak Han, jika anak Han berhasil mengatasi Taiyuan, ada harapan kita bisa berdiri tegak di negeri ini.
Beng San anggukan kepala sambil tersenyum mendengar perkataan ketua Chen, karena ia mempunyai pemikiran yang sama dengan sahabatnya itu.
****
Setelah mendapat instruksi dari Han Ciu, pedang api langsung bersiap membenahi pasukannya, pedang api memilih sendiri pasukan yang bergabung dengan Han Ciu, karena Pedang Api tahu tugas berat sang ketua.
“Orang² pilihan masuk ke dalam 3000 pasukan Han Ciu, sisanya masuk ke dalam barisannya.
“Siasat ketua memang hebat, pasukan yang aku pimpin walaupun lemah tapi berjumlah banyak, dan itu bisa membuat musuh berpikir dua kali jika ingin menyerang langsung pasukan yang aku pimpin.
Sedangkan ketua selalu mengikuti dari belakang untuk mendukung jika kami di serang,” pikir Pedang Api.
Zhain Li Er yang tengah hamil muda semakin manja dan tak mau di tinggal oleh sang suami
Sehingga Han Ciu tak bisa langsung memberi arahan kepada pasukan yang bakal ia pimpin, tapi Han Ciu beruntung punya anak buah seperti Talaba yang bekerja tanpa mengeluh dan selalu mengatur sambil melatih pasukan pemanah yang ia pimpin.
Hari yang di tentukan telah tiba, barisan prajurit sebanyak 6000 pasukan berdiri tertib di lapang luas dekat pintu gerbang Kota Shang.
Han Ciu yang juga duduk di atas kuda, perlahan mondar mandir di depan pasukan yang akan berangkat ke kota Hengshan timur.
Membantu pasukan utama penguasa barat yang akan melakukan pertempuran besar melawan pasukan bintang timur pimpinan Xiang Yu.
“Kawan – kawan sekalian” teriak Han Ciu dengan tenaga dalam tinggi sehingga bisa di dengar oleh semua pasukan yang sedang berkumpul.
“Kalian yang berangkat ke medan perang akan menoreh sejarah serta membuat anak dan cucu kalian bangga, mempunyai seorang yang menjadi penentu sejarah negeri ini.
“Hidup dan mati sudah menjadi garis tangan seorang prajurit.
"Tetapi kematian yang akan selalu di ingat adalah kematian yang bisa merubah sejarah dan membuat anak dan cucu kita bisa menatap masa depan.
“Jangan lengah! Tetap berjuang sampai darah penghabisan,
“Dan satu lagi yang terpenting."
Kawan – kawan harus kembali dengan selamat, karena anak, istri, ibu bapak serta sanak keluarga kalian menunggu kedatangan kawan sekalian.
Hidup Yang Mulia Liu Bang....!
Teriak Han Ciu dengan suara menggelegar sambil tangannya mengepal ke atas penuh semangat.
Para prajurit dan pemimpin pasukan yang akan berangkat, mendengar kata penuh semangat yang akan mengantar kepergian mereka ke medan perang, darah mereka terpacu dan semangat mereka menggelora.
Lalu berteriak dengan kata yang sama.
Hidup Yang Mulia Liu Bang!
Kota Shang seperti bergetar ketika ribuan prajurit berteriak.
__ADS_1
Hidup penguasa barat....!
Teriakan kencang Han Ciu kembali menggelegar menggetarkan hati para pasukan.
Hidup penguasa barat.
Sambut ribuan prajurit membalas teriakan Han Ciu.
6000 Ribu prajurit yang di pimpin oleh Pedang api, bergerak keluar menuju kota Hengshan timur, jika tak ada hambatan, 6 hari mereka akan sampai di kota Hengshan timur.
Tetapi Pedang api yakin, pasukan bintang timur yang ada di kota Taiyuan tidak akan membiarkan pasukannya berjalan dengan mulus menuju Hengshan Timur.
“Paman! Usahakan pasukan paman sampai di kota Julu dalam 10 hari, tapi tidak menutup kemungkinan kita menunggu di sana, jika pasukan bintang timur belum bergerak,” Han Ciu berkata kepada Pedang api sebelum berangkat.
“Kami akan berusaha ketua,” ucap Pedang api.
“Pasukanku akan berangkat setelah 3 hari pasukanmu keluar dari kota Shang, Jika pasukan Taiyuan memburu kalian, usahakan untuk mengulur waktu, sampai pasukan ku mendekat, kemudian kita hancurkan bersama, kita jepit posisi mereka.
“jika posisi kalian dalam bahaya, suruh Fang ji mencariku,” Han Ciu kembali berkata.
“Baik ketua,” Ucap Pedang api.
Iblis biru, Tongki serta yang lain, setelah pasukan pedang api keluar dari kota Shang.
Mereka Kembali ke tempat masing².
Tongki jalan di dalam gedung menuju ke arah kamarnya, ia malas keluar, ia hanya ingin berdiam diri di kamar.
Ketika berjalan, Tongki melihat Dewi kipas tengah berjalan ke arahnya.
Tongki tersenyum melihat Dewi Kipas.
Setelah dekat, Tongki langsung berkata.
“Dewi! Apa....apa malam ini ada acara? Tanya Tongki dengan nada gugup.
“Tidak ada,” jawab Dewi Kipas sambil memandang ke arah Tongki.
“Bagaimana....bagaimana kalau kita bertemu nanti malam? Ucap Tongki dengan wajah penuh harap.
“Untuk apa? Tanya Dewi Kipas sambil menatap heran.
“Bukankah sekarang sudah bertemu, apa bedanya ? Lanjut perkataan Dewi kipas.
“Ada yang ingin ku sampaikan, tapi aku ingin menyampaikannya malam hari,” jawab Tongki
Dewi kipas menatap ke arah Tongki ketika mendengar perkataannya.
Dewi Kipas akhirnya anggukan kepala.
kemudian berbalik hendak melanjutkan perjalanannya.
Tongki langsung menggerak gerakan kedua tangan, ketika Dewi Kipas berbalik, hatinya sangat senang karena Dewi kipas mau memenuhi permintaannya.
Ketika Tongki menggerak gerakan kedua tangannya ke atas dan ke bawah, tiba – tiba Dewi kipas berbalik, lalu menatap heran ke arah Tongki dan bertanya.
“Sedang apa kau?
Tongki terkejut, wajahnya langsung merah.
Ke dua tangannya langsung bergerak bolak balik ke depan.
Sambil membalas tatapan Dewi Kipas.
__ADS_1
“Aku sedang berlatih.”