Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 38 Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Suara hancurnya gerbang perkampungan selaksa pedang yang di hantam oleh Han ciu, terdengar hingga ke dalam.


Orang orang yang berdiam di rumah rumah kecil yang mengelilingi gedung besar berhamburan keluar, untuk melihat apa yang terjadi dan suara apa barusan yang mereka dengar.


Puluhan orang terpaku ketika melihat gerbang kayu perkampungan mereka yang kokoh hancur berantakan, lalu mereka melihat seorang pemuda melangkah masuk ke dalam perkampungan selaksa pedang, melewati pintu gerbang yang hancur.


"Maaf tuan boleh bertanya ?" ucap Han ciu yang mendekati salah seorang dari warga perkampungan selaksa pedang.


Beberapa orang langsung mendekati Han ciu.


"Siapa kau, mau tanya apa, darimana, siapa yang menghacurkan pintu gerbang ?"


Berbagai macam pertanyaan langsung keluar dari mulut masing masing warga kampung, sambil menatap Han ciu.


"Diam, diam dulu saudara saudara !" biar aku yang bertanya, dan salah seorang tolong cari Cengcu."


Seorang warga yang menggembol pedang langsung melesat pergi, mencari Cengcu mereka si Pedang langit yang sedang keluar kampung.


"Dua orang pria paruh baya berwajah seram dengan brewok lebat saling bisik, "sepertinya pemuda ini yang di maksud ketua, apa kau sudah siap ?"


"Demi ketua aku rela mati," ucap pria yang usianya lebih muda, pria yang lebih tua berkata sambil menepak bahu kawannya, "berpura pura pingsan saja, sisanya serahkan padaku."


"Baik, setelah berkata, perlahan pria itu sedikit demi sedikit maju mendekati Han ciu, sambil merogoh pisau yang berada di dalam saku baju.


Ketika Kakek tua yang mewakili warga kampung hendak bertanya, teriakan kencang terdengar dari pria yang baru saja perlahan mendekat.


"Pengacau."


Syuuuut !


Sebuah pisau menyabet ke arah dada Han ciu.


Han ciu mendengus, tangan kirinya menepak pergelangan tangan musuh yang memegang pisau.


Plak, trak !


Pisau jatuh ke tanah, kemudian sebelum pria itu mundur, tangan kanan Han ciu langsung menyambar dan mencengkram tenggorokan pria itu.


Kreeek !


Pria pembokong itu tak berteriak, dengan mata melotot dan tulang tenggorokan hancur, pria itu tewas seketika.


Bhuuk !


Han ciu langsung membanting pria yang telah tewas itu.


Pria brewok yang tadi berbisik bisik bersama dengan penyerang langsung memburu mayat kawannya, meraba tenggorokan lalu mengerutkan dahi, dan wajahnya langsung berubah.


A ceng tewas, Aceng tewas


Teriak pria brewok itu sambil mencabut pedang yang berada di punggung.


Warga kampung selaksa pedang kemudian mencabut pedang mereka, menuruti pria brewok itu.


Seraaang !


Teriak pria brewok sambil melesat dan menyabetkan pedangnya ke arah dada Han ciu.


Whuuut !


Han ciu mundur selangkah, sehingga pedang pria brewokan itu tak sampai mengenai dada.


Ketika bergerak mundur Han ciu sambil mencabut kedua pedang pendeknya yang berwarna hitam.


Begini rupanya orang orang perkampungan selaksa pedang.

__ADS_1


Tak mampu satu lawan satu, main bokong dan yang tak mempunyai kepandaian lalu main bantai.


Ha ha ha.


Perkampungan selaksa pedang, yang di takuti oleh dunia persilatan, ternyata hanya sebangsa curut yang lari cepat jika ada bahaya.


"Hati hati kalau bicara anak muda !" kakek tua itu berkata.


"Kau tadi bilang ingin bertamu, kenapa sekarang kau bikin onar di sini."


Pria yang tadi membawa kayu bakar, telah berdiri diantara kerumunan orang orang perkampungan selaksa pedang.


"Paman !" aku berterima kasih kepada paman yang telah memberitahu alamat perkampungan selaksa pedang, dan memang benar aku mencari Kiam to." tapi orang perkampungan selaksa pesang yang terlebih dahulu 2x membokongku.


"Maju saja semua, tak usah main bokong."


Pria brewok itu, semakin nafsu mendengar celoteh Han ciu.


Seraaang !


"Setelah berkata tubuhnya bergerak dan pedang menyabet ke arah kepala.


Han ciu tersenyum dingin, sepasang pedang naga hitamnya berputar di kedua tangan.


Trang !


Pedang yang mengarah leher berhasil di tangkis.


Kemudian tangan kiri dengan pedang yang berputar menyambar perut orang berwajah brewok.


Breeet !


Pria brewok yang merupakan kawan A ceng.


Selamat, hanya baju di bagian peruk robek besar.


Hmm !


"Kau sungguh gegabah, tapi aku baru melihat kau di perkampungan selaksa pedang ?" kakek itu berkata sambil menatap tajam ke arah pria brewo yang sedang memakai pedang.


Hamba di bawa oleh pendekar pedang tunggal, Congkoan di perkampungan selaksa pedang, Kiam to.


Kakek tua itu mengangguk setelah mendengar perkataan A kun, nama pria brewok yang menyerang Han ciu.


Kakek tua dan pencari kayu, maju berhadapan dengan Han ciu.


Paman pencari kayu yang menunjukan jalan, menatap ke arah Han ciu.


"Aku tadi memberitahu jalan, karna aku pikir kau berniat baik, jika tahu kau mengacau mungkin tadi di pinggiran hutan kau sudah kubunuh.


"Paman orang perkampungan selaksa pedang ?" Han ciu bertanya.


Aku di sebut bayangan pedang, Kim ho dan kakek di sebelahku adalah Pedang iblis, Kiam mo.


"Orang mu telah membantai teman temanku dan membakar rumah hiburan surga malam."


"Tutup mulutmu anak muda, kami bukan orang semacam itu" Kiam mo berkata sambil menatap tajam ke arah Han ciu.


Ha ha ha


"Apa kiam to orang dari perkampungan selaksa pedang ?" dan si brewok tadi berkata bahwa Kiam to adalah Congkoan perkampungan ini.


"Kiam to yang membunuh dengan keji kawan kawanku di rumah hiburan surga malam, mana orangnya suruh keluar !"


"Setiap tempat ada aturannya, kau jangan seenaknya saja berbuat sesukamu di tempat orang."

__ADS_1


Kiam mo mencabut pedang dari punggungnya.


"Paman !" biar aku saja, Kim ho berkata.


Kim ho seperti tidak membawa pedang, tapi ternyata pedang Kim ho sangat tipis dan bisa di lilitkan seperti ikat pinggang.


Kim ho memegang gagang pedang tipisnya yang bergerak gerak tertiup angin.


Han ciu tak mau menunggu lama, tubuhnya melesat sambil menyambar ke arah dada Kim ho.


Pedang Kim ho yang bergoyang goyang tiba tiba mengeras dan langsung menusuk ke arah leher Han ciu.


Han ciu kaget dengan reflek menarik leher dan tubuhnya langsung bergerak ke kiri, sambil Pedang naga hitam di tangan kiri yang berputar lalu berhenti kemudian menyambar ke arah pinggang Kim ho.


"Ih" teriakan kaget terdengar dari mulut Kim ho ketika pinggangnya terancam oleh serangan pedang pendek Han ciu.


Kim ho menarik tenaga dalam yang di salurkan kedalam pedang, pedang tipis yang keras menjadi lemas kembali, lalu Kim ho melecutkan pedangnya ke arah tangan kiri Han ciu.


Han ciu menarik serangan, lalu pedang naga hitam menyambar ke arah pedang Kim ho.


Ting !


Pinggiran pedang Kim ho terkena mata pedang Han ciu, pedang Kim ho bergetar


Melihat serangannya masih dapat di tangkis, Kim ho mengerahkan tenaga dalamnya, pedang yang sedang lemas tiba tiba kaku dan menusuk dada Han ciu.


Han ciu mundur dua langkah dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, tusukan Kim ho hanya mengenai tempat kosong.


Tubuh Han ciu tiba tiba menghilang dari pandangan Kim ho.


Wajah Kim ho pucat, ketika melihat di depannya puluhan pedang pendek berwarna hitam mengincar seluruh tubuh.


Kim ho sambil memutar pedang berusaha melindungi tubuhnya dari tusukan pedang Han ciu.


Tring, tring !


Kemudian Kim ho menunduk dan bergulingan di tanah, sewaktu pedang pendek Han ciu tiba tiba berputar dan menyambar ke arah leher Kim ho.


Kim ho lompat dan bangkit kembali, lalu berdiri di hadapan Han ciu.


"Sungguh aneh ilmu pedang pemuda ini !" serangannya tak bisa di duga arah dan tujuan, aku baru kali ini menghindari serangan pedang musuh sampai bergulingan di tanah, sungguh memalukan," Kim ho berkata dalam hati.


Ha ha ha


Kau menghindar sungguh cepat, seperti mirip tikus," Han ciu tertawa dan berkata meledek Kim ho.


Anak muda ini sangat berbahaya, jika dibiarkan dan menjadi jahat 10 tahun kedepan tak akan ada yang bisa menadingi ilmu pedangnya selain Cengcu.


"Kim ho, kali ini aku harus ikut ambil bagian."


Kiam mo sudah meloloskan pedang berwarna hitam dari pungungnya, hawa pembunuh mulai menyelimuti tubuh Kiam mo, pedang iblis Kiam mo tampak di selimuti kabut tipis berwarna hitam, akibat besarnya pancaran tenaga dalam yang di alirkan ke dalam pedang.


Kini mereka berdua berhadapan dengan Han ciu,


Sementara itu, seorang kakek berpakaian ala pendeta To, duduk di sebuah pohon besar melihat ke arah pertempuran, rambut putihnya di gelung dan sebagian sisinya terurai


Kumis dan jenggotnya panjang sampai dada.


Dan di punggungnya menggembol sebuah pedang yang gagangnya seperti ukiran badan naga dengan kepala di ujung gagang pedang, seperti pedang naga hitam, tapi pedang kakek itu berwarna putih.


Hmm !


"Dua jurus yang di keluarkan sudah merupakan bukti kuat, bahwa anak muda itu adalah pewaris sesungguhnya." ucap kakek itu.


Dalam hati kakek itu berkata, sambil tersenyum penuh arti menatap ke arah Han ciu.

__ADS_1


"Setelah lama menunggu, akhirnya sang pemilik datang,"


__ADS_2