Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 225 Menyerang Kota Hedong


__ADS_3

Prajurit yang sudah bergabung dan bersama mengepung Hedong, ada kurang lebih 1200 prajurit.


Pedang api bersama Talaba membagi dua pasukan di barat dan timur, sementara itu Ming Mo, Huang Zilin serta sepasang siluman hutan Hanzhong, terus menyerang ke sekitar Hedong, berusaha untuk menghilangkan kecurigaan pasukan musuh, bahwa mereka menggali tanah membuat terowongan ke arah dalam kota Hedong.


Ming Mo yang selalu berkeras untuk menyerang langsung merasakan betapa susahnya untuk mendekati benteng dan gerbang kota Hedong.


Benteng yang tinggi, serta pasukan panah yang berjajar di atas benteng dengan jumlah ratusan, membuat susah buat pasukan mereka untuk sekedar mendekat, apalagi masuk ke dalam kota Hedong.


Bangsaat !


“Ternyata benar, pertahanan kota Hedong sangat susah di tembus dari luar, dan satu² nya cara tak lain adalah membuat terowongan sampai melewati benteng kota dan tembus ke dalam,” batin Ming Mo, sudah dua hari ia berusaha menyerang di tempat yang sama untuk melemahkan pertahanan musuh, tetapi bukannya melemah, malah anak buahnya yang banyak berguguran sehingga ia menarik pasukan nya agar jangan terlalu dekat dengan benteng musuh.


Sementara itu Talaba dan Pedang Api dari sisi yang berbeda terus menggali terowongan bawah tanah untuk bisa masuk ke dalam kota Hedong.


Seorang jendral pasukan bintang timur bernama Luo Mintang bersama dengan wakilnya Wu Ching tengah berdiri di atas benteng sambil tersenyum.


“Kau pikir mudah menaklukkan pasukan bintang timur jika sudah masuk ke kota Hedong,” batin Luo Mintang sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Memang ada kelebihan dan kekurangannya kita berada di dalam kota Hedong,” Wu Ching berkata.


“Kau benar Wu Ching ! jika kita tidak mempunyai bekal yang cukup kita akan kalah, tetapi sebaliknya, pasukan musuh yang akan rugi, karena waktu dan bekal mereka yang tidak cukup untuk melakukan pertempuran.” Luo Mingtan berkata.


“Tidak seperti itu jendral, mereka yang berada di luar, malah gampang mencari bekal untuk pasukan, sementara kita yang di dalam kota akan repot jika bekal kita habis,” Wu Ching membantah perkataan atasannya.


Luo Mintang anggukan kepala mendengar perkataan anak buahnya sambil menarik napas.


“Aku tak sangka pasukan Liu Bang begitu gigih dalam bertempur, jumlah kita lebih banyak, tetapi taktik mereka yang selalu sergap dan sembunyi membuat kita banyak kehilangan pasukan dan akhirnya mundur ke kota Hedong.


“Kita hanya bisa menunggu bantuan yang kita minta, kepada yang mulia Xiang Yu” lanjut perkataan Luo Mintang.


“Tetapi kota Shang belum membalas permintaan kita jendral, ucap Wu Ching.


Mereka tidak tahu, kabar yang di kirim melalui merpati, baik keluar kota Hedong maupun yang masuk selalu berhasil di gagalkan oleh para pemanah anak buah Talaba.


Di hari ke 6 setelah melakukan penggalian yang terus menerus, malamnya Pedang api mengumpulkan para pimpinan pasukan.


Talaba, Huang Zilin serta sepasang siluman hutan Hanzhong tengah mendengar arahan dari Pedang Api.


“Sepertinya besok kita berhasil masuk ke dalam kota, tetapi jika kita bertindak gegabah, maka kita sendiri yang akan celaka,” ucap Pedang Api.


Lanjut perkataan Pedang Api.


“Menurut peta kota Hedong yang kita punya, terowongan yang kita gali dari barat dan timur akan berada di dalam sebuah gedung tua yang tidak terpakai.


“Jika sudah berhasil, kita amankan daerah sekitar gedung dari pasukan musuh dan para penduduk kota Hedong.


“Setelah sebagian besar pasukan kita berada di dalam, baru kita serang mereka.


Aku bersama dengan sepasang siluman hutang Hanzhong akan masuk dari timur membawa 500 pasukan, sedangkan saudara Ming Mo dengan saudara Huang dan 500 pasukan yang sama masuk dari barat.


“Sisa pasukan akan di pimpin oleh Talaba untuk mengalihkan perhatian musuh agar selalu menduga serangan akan di lancarkan dari luar.”


“Talaba ! Sebar pasukan kita yang berada di luar di sekeliling benteng, supaya pasukan musuh tidak curiga.”

__ADS_1


“Baik guru ! Ucap Talaba mendengar perintah dari Pedang Api.


Setelah memaparkan rencana untuk esok.


Pedang Api kemudian menatap mereka kemudian berkata dengan penuh semangat.


“Mari kita rebut Hedong untuk kejayaan ketua dan perguruan Selaksa pedang,” teriak Pedang Api yang langsung di sambut oleh yang lain dengan penuh semangat.


Ke esokkan hari perlahan tapi pasti, masing – masing yang sudah mendapat tugas melakukan apa yang sudah di rencanakan oleh pedang api.


Sebelum siang, terowongan yang mereka gali berhasil sampai di dalam kota Hedong, satu persatu pasukan berkumpul di dalam gedung, lalu dengan sangat berhati hati, setelah masuk dengan memakai pakaian seperti penduduk biasa, mereka mulai menyebar.


Menurut perkiraan Pedang Api, pasukan yang ada di dalam kota Hedong kurang lebih berjumlah 800 pasukan.


Talaba menatap ke arah langit, matahari perlahan mulai menghilang, dan senja berganti malam.


“Inilah saat yang di tunggu,” batin Talaba.


Talaba kemudian mengumpulkan pasukan yang berada di luar untuk berkumpul di satu titik bersiap masuk, jika gerbang kota sudah terbuka.


“Pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu,” ucap Ming Mo yang duduk bersama Huang Zilin sambil minum arak yang mereka bawa di dalam gedung.


“Kau benar saudara Ming ! jika ada saudara Tong tidak akan sebosan ini menunggu, karna bisa sambil bertaruh,” Huang Zilin berkata membalas ucapan Ming Mo.


Huang Zilin berkata seperti itu, karena ia tak pernah bisa membujuk Ming Mo untuk bertaruh.


Mereka berdua terus bercakap cakap sambil menunggu isyarat dari pedang api untuk menyerang.


Ming Mo menginginkan jika mereka berhasil masuk ke dalam, langsung menyerang, tapi di tolak oleh Pedang Api.


Pedang Api memerintahkan untuk menyerang di malam hari, karena di malam hari, pihak musuh akan lengah dan juga untuk menghindari korban lebih banyak di pasukan mereka.


Tang....Tang....Tang !


Suara kentungan petugas yang berjaga malam terdengar.


Wajah Iblis biru langsung cerah ketika mendengar suara isyarat seperti burung malam.


Iblis Biru langsung memberi isyarat pasukannya untuk bergerak.


2 orang petugas jaga yang sedang keliling sambil membunyikan kentungan, langsung menjadi sasaran pertama dari lblis Biru.


Iblis Biru melesat, setelah berada di belakang kedua petugas jaga, tangan kanan menghantam kepala, sedangkan tangan kiri menarik leher petugas jaga dari belakang.


Prak....krek !


Suara kepala pecah, dan tulang leher yang patah dari kedua orang penjaga terdengar di malam hari.


Ming Mo, Huang Zilin bersama pasukan yang mereka pimpin langsung bergerak.


Ming Mo melihat sebuah lapang yang cukup luas dengan beberapa tenda prajurit dan puluhan prajurit yang sedang duduk sambil minum arak di sekeliling api unggun.


Serang !

__ADS_1


Teriak Ming Mo sambil melesat ke arah para prajurit yang sedang menghangatkan badan di sekeliling api unggun.


Prajurit bintang timur terkejut melihat seorang kakek bermata biru melesat ke arah mereka.


Para prajurit itu langsung mengambil pedang yang di letakan di samping tempat mereka duduk.


Tapi baru saja mereka memegang pedang, Ming Mo sudah sampai, kemudian dengan tangan kiri menghantam ke arah kepala.


Prak !


Prajurit itu langsung tersungkur dengan kepala pecah, lalu tangan kanan Ming Mo mengibas ke arah api unggun.


Whut....Brak !


Kayu bakar yang masih menyala, langsung berhamburan, menghantam ke arah para prajurit yang lain.


Sementara Huang Zilin serta sebagian pasukan langsung memburu ke arah tenda para prajurit bintang timur.


Puluhan prajurit yang tengah istirahat di dalam tenda langsung di hantam oleh Huang Zilin.


Teriakan dan jerit kesakitan terdengar di malam hari.


Ming Mo Serta Huang Zilin mengamuk, begitu pula dengan pasukan yang mereka bawa, langsung menyerang prajurit bintang timur.


Suara beradunya pedang, serta jerit kematian terdengar.


Ming Mo serta ratusan pasukan kemudian bergerak ke arah gerbang kota.


Shing....Shing....Shing !


Puluhan pemanah yang berada di atas benteng melesatkan puluhan anak panah ke arah Ming Mo.


“Sebagian naik ke atas benteng ! teriak Ming Mo, sambil mengibaskan tangan kanan, mengeluarkan ilmu titik beku ke arah 2 orang prajurit yang menghampirinya.


Ming Mo terus bergerak ke arah gerbang kota Hedong bersama ratusan anak buahnya.


Sebuah pedang menyambar ke arah kepala Ming Mo.


Whut !


Ming Mo tundukkan kepala menghindari tebasan pedang musuh, lalu kakinya menyambar ke arah kaki musuh.


Orang yang memakai pedang yang ternyata adalah Wu Ching loncat menghindari serangan kaki Ming Mo, lalu mundur dengan pedang di depan dada sambil menatap ke arah Ming Mo.


“Dasar pengecut, berani menyerang di malam hari ketika musuh sedang istirahat,” teriak Wu Ching sambil menunjuk Ming Mo dengan pedangnya.


Phuih !


Ming Mo meludah, ketika mendengar perkataan Wu Ching.


Lalu membalas perkataan Wu Ching sambil tersenyum mengejek.


“Siapa yang pengecut, kami yang menyerang atau kalian yang hanya diam menunggu ?

__ADS_1


__ADS_2