
Mendengar bisikan sang majikan, tubuh Mi Kun bergetar.
Han Ciu tahu nama tapi tak tahu orangnya.
Ternyata tokoh yang sering di bicarakan oleh tuan Xiang Yu masih muda.
Tapi walau masih muda, punggungnya sudah terkena tepakkan pemuda itu, serta pergelangan tangannya hampir remuk jika tidak di tolong oleh Shen Long.
“Satu senjata, satu tangan kosong, baik ! Ucap Han Ciu sambil mencabut pedang tulang naga, kemudian Han Ciu memutar pedang yang berada di tangan kanan.
Whut....Whut....Whut !
Suara putaran pedang terdengar jelas, seketika di sekeliling mereka cuaca berubah menjadi dingin.
Hmm !
“Pedang pusaka yang hebat,” batin Shen Long, sambil menatap ke arah pedang tulang naga.
Tanpa banyak bicara, Shen Long melesat dengan tombak tegak lurus ke arah dada Han Ciu.
Sedangkan Mi Kun bergerak ke kiri dan menyerang bahu Han Ciu dari sisi kiri.
Trang !
Han Ciu menangkis tombak yang mengincar dadanya, sementara tangan kiri menangkis serangan telapak Mi Kun.
Plak !
Tombak bergeser, dan menyabet ke arah kaki Han Ciu.
Shing !
Han Ciu loncat sambil berputar, saat Mi Kun datang hendak menghantam pinggang, Han Ciu berbalik sambil menebas bahu Mi Kun.
Mi Kun terkejut, sambil membantingkan dirinya ke tanah, kemudian berguling menjauh menghindari serangan susulan Han Ciu, wajah dan baju Mi Kun penuh dengan tanah serta rumput yang menempel.
“Keparat, jika aku tak keburu menjauh, bahuku pasti sudah terbelah dua,” batin Mi Kun, wajah kakek itu pucat pasi, tampak keringat mengucur deras.
Shen Long melihat pengawalnya di buat jatuh bangun oleh Han Ciu, tombaknya menyerang semakin gencar.
Dengan jurus 10 langkah naga langit, Han Ciu bergerak ke kanan dan ke kiri, menghindari serangan tombak Shen Long serta telapak penghancur hati milik Mi Kun.
Sementara itu di sisi lain, Zhain Li Er terus meniup suling, memerintahkan ular yang berada di hutan, datang dan menyerang pasukan bintang timur.
Dewi kipas mengamuk dengan kipasnya, sementara Xiao Er tak jauh dari Zhain Li Er untuk melindungi gadis itu.
Huang Zilin serta Tongki terus merangsek ke tengah sambil membabat barisan terdepan dari pasukan bintang timur.
Talaba ketika ada kesempatan, panahnya melesat membakar tenda serta meledakkan daerah sekitar tempat yang terkena panah.
Keadaan di sekitar lembah sangat kacau, bau amis darah serta jeritan teriakan dan beradunya senjata terdengar di keremangan malam.
Golok api Tongki menyambar kepala salah seorang prajurit.
Whut....Crash !
Tanpa terdengar suara dari mulut prajurit itu, tubuhnya rubuh dengan kepala terbelah.
Tongki menatap tajam ke arah seorang perwira tinggi dengan senjata tongkat yang ujungnya terdapat rantai tidak terlalu panjang, dengan bandul besi sebesar kepala anak kecil dan berduri.
Pria bertubuh besar itu tertawa tawa sambil menyerang prajurit anak buah Han Ciu.
Perwira itu adalah adik seperguruan Mi Kun,
Mi Chu si tombak kepala besi.
Tongki melesat ke arah Mi Chu, dengan golok api yang sudah penuh dengan darah.
Golok api menyabet pinggang Mi Chu.
Mi Chu terkejut merasakan hawa panas ke arah pinggang.
Tombak kepala besi menangkis golok api milik Tongki yang menebas pinggangnya.
Trang !
Golok api mental ke belakang, terkena hantaman bandul besi milik Mi Chu.
Tangan Tongki bergetar, telapak tangannya yang menggenggam golok api terasa panas.
“Gila ! Bandul besi itu pasti baja berisi dan sangat berat, tanganku sampai kesemutan di buatnya,” batin Tongki sambil mundur selangkah.
Ho Ho Ho
“Kakek ceking mau membokong aku,” ucap Mi Chu sambil tertawa tawa.
Mendengar perkataan Mi Chu, hati Tongki semakin panas.
Golok api berputar sambil mengeluarkan hawa panas dari tenaga dalam hawa neraka.
Tapi serangan golok api berhasil di tangkis oleh Mi Chu menggunakan tombak anehnya.
Mi Chu yang memiliki gwakang ( tenaga luar ) lebih tinggi dari Tongki dengan gesit bisa memainkan senjata yang beratnya ratusan kati menghindar dan menangkis serangan golok Tongki.
Dengan gemasnya Tongki terus menyerang tubuh Mi Chu, tapi Mi Chu terus menangkis sambil tertawa tawa.
“Sepertinya ada yang kesal, benar tidak kakek ceking ? Mi Chu berkata sambil tertawa tawa.
Trang....Trang....Trang.
Golok menghantam tombak kepala besi, bunga api terpercik ketika kedua senjata mereka bertemu.
Tombak Mi Chu yang semuanya terbuat dari besi berhasil menindih golok api yang di pakai Tongki.
“Kakek ceking, sekarang giliranku menyerang,” teriak Mi Chu.
Rantai dengan bandul besi berduri berputar, kemudian bandul besi berduri menghantam ke arah kepala Tongki.
Tongki melihat serangan cepat musuh, memalangkan golok di atas kepala.
Trang !
Bandul besi berduri milik Mi Chu menghantam badan golok api.
Tangan kiri Tongki menghantam perut Mi Chu dengan pukulan hawa neraka, tapi tangan Mi Chu menepis pukulan tangan Kiri Tongki.
Plak !
Setelah berhasil menangkis, tak di sangka, tangan kiri Mi Chu berhasil mencengkeram pergelangan tangan kiri Tongki, kemudian menarik dan membanting.
Tongki yang tak berani menahan, karena takut pergelangan tangan kirinya patah, hanya bisa pasrah saat tubuhnya terbanting akibat bantingan Mi Chu.
Buk !
Ho Ho Ho.
“Periksa dulu tubuhmu kakek ceking, kalau – kalau ada tulang yang patah.” Mi Chu berkata sambil meledek Tongki.
“Keparat....kadal busuk, gwakang orang ini sungguh tinggi, dan sepertinya ia mempunyai ilmu gulat yang biasa di pakai oleh suku gurun, jika sampai tubuhku terkena cengkeramannya, pasti ia akan membantingku,” batin Tongki.
Semakin lama keduanya semakin cepat saling serang, sementara itu pasukan bintang timur mulai kewalahan, pasukan yang berada di tengah, tak bisa bergerak membantu kawan mereka yang berada di depan, sementara mereka di tengah terus di hujani oleh panah api dari pasukan Talaba yang menyerang dari atas lembah.
“Hanya tinggal timur dan tengah, ketua memang sengaja mengulur waktu, tetapi aku malah tertahan oleh raksasa ini,” keparat ! saudara Huang dari utara, dan rombongan Dewi dari selatan mulai mendesak.
“Jika aku tak bisa membunuh raksasa ini, pasukan mereka akan menyebar,” batin Tongki sambil menghindari bandul besi milik Mi Chu.
“Benar ! Rantai itu kelemahannya,” seru Tongki, bersorak dalam hati.
__ADS_1
Tongki terus menyabetkan goloknya ke arah bahu Mi Chu.
Tapi Mi Chu berhasil menghindari serangan, dengan mundur dua langkah, tombak besi balas menyambar ke arah perut Tongki.
Tongki terkejut, tak menyangka tombak besi berbalik menyerang perut.
Whut....Bret !
Ha Ha Ha
Tombak Mi Chu yang menyambar, berhasil merobek baju bagian perut Tongki, wajah Tongki terlihat dingin mendengar suara tawa Mi Chu dan ledekan perwira tinggi itu.
“Ternyata memang kurus, hai kakek ceking ! Banyak makan daging biar gemuk,” ucap Mi Chu sambil senyum kepada Tongki.
Tongki perlahan mulai memutar golok sambil menatap tajam ke arah Mi Chu.
Tangan kiri tampak kemerahan karna tenaga dalam hawa neraka yang ia kerahkan, begitu pula dengan golok api yang di pakai Tongki.
Melihat musuhnya mulai mengeluarkan ilmu andalan, wajah Mi Chu tampak serius, senyum hilang dari wajah perwira tinggi anak buah jendral Shen Long itu.
Tongki mendahului menyerang dengan menghantam dengan telapak kiri, pukulan hawa neraka melesat mengincar tubuh Mi Chu.
Mi Chu bergerak ke kanan, menghindari serangan, tapi golok Tongki menyusul, menyambar ke arah leher Mi Chu.
Mi Chu mengangkat tombak besi, bandul besi berputar, kemudian dari atas menghantam badan golok Tongki.
Trang !
Golok mental ke bawah, Tongki melihat goloknya bergerak ke bawah, lalu menyabetkan golok api, menyambar kedua kaki Mi Chu.
Mi Chu menurunkan tombak bandul besinya ke tanah.
Trang !
Golok Tongki terpental di tahan oleh bandul besi Mi Chu.
Tongki semakin penasaran, goloknya terus menyambar mencari kelemahan Mi Chu.
Saat golok Tongki menyambar dari bawah dan terus naik ke dada dan leher.
Mi Chu terkejut, kemudian tombak bandul besinya di tarik ke tengah.
Ketika golok dan tombak bandul besi sejajar, Tongki memutar golok api.
Tring....Tring !
Golok Tongki terbelit rantai, dan bandul besi mengunci erat golok tersebut.
Tangan kiri Mi Chu melihat tombaknya terkunci, tangan kiri berusaha menyambar baju Tongki, agar bisa menarik dan membanting kakek itu.
Tapi tangan kiri Tongki menepis niat Mi Chu.
Plak !
Mi Chu menarik tombak bandul besi miliknya, tapi Tongki menahan tarikan Mi Chu.
Golok semakin terikat dan susah bergerak, begitu pula dengan tombak bandul besi milik Mi Chu.
Kedua tangan kiri mereka silih serang, Mi Chu berusaha mencengkeram dan menarik, agar bisa membanting Tongki.
Sedangkan Tongki selalu menangkis, tangannya yang berhawa panas, karena tenaga dalam hawa neraka, merepotkan Mi Chu.
Kulit tangan Mi Chu merah, karena panas sering beradu dengan Tongki.
Plak....plak !
Tongki terus menangkis, dari telapak jari Tongki berubah menjadi cakar.
Crep !
Asap tampak mengepul, keluar dari tangan Mi Chu dan Tongki.
Kaki Mi Chu mengait paha Tongki, keduanya lalu rubuh ke tanah.
“Kurang ajar, kau bertempur seperti bocah ! Seru Tongki sambil menghindar, saat kepalanya hendak di tumbuk oleh badan tombak.
Trang !
Tombak mengenai tanah.
Debu mengepul di sekitar wajah Tongki.
Phuih....Phuih !
“Kurang aja mataku kelilipan debu,” teriak Tongki.
“Cerewet sekali kau ! Mau pakai cara apa, yang penting bisa menang,” ucap Mi Chu.
Kali ini kedua kakinya berusaha mengunci kaki Tongki.
Tongki menambah tenaga dalam ke tangan kiri, tangan kiri Tongki merah.
Tombak yang menempel dan sekali sentak, keduanya melayang terlempar.
Tongki berbalik menindih Mi Chu, tangan kanannya menampar.
Tapi Mi Chu menepis tamparan Tongki.
Plak.
Keduanya bergulingan di tanah, dengan kedua tangan kanan saling serang, sementara tangan kiri saling cengkeram.
Mi Chu yang hanya mengandalkan tenaga luar sementara tenaga dalamnya masih kalah di bawah Tongki, mulai terlihat lemas, kedua wajah mereka sudah memar karna saling tampar, tapi memar di wajah Mi Chu lebih parah, karena tampak merah dengan kulit sedikit hangus.
Setelah berguling kembali, posisi Tongki berada di atas Mi Chu.
Pinggang Tongki terangkat dan dengkulnya naik, lalu turun menghantam perut Mi Chu.
Mi Chu matanya melotot, saat merasakan perutnya seperti hancur, terkena hantaman dengkul Tongki.
Tangan kanan Mi Chu langsung menahan kaki Tongki, ketika Tongki hendak kembali menumbuk perut Mi Chu.
Tap !
“Lepaskan tanganmu keparat,” teriak Tongki ketika kakinya tertahan diatas perut Mi Chu.
Pergumulan keduanya yang seperti anak kecil, malah jadi tontonan anak buah mereka.
Kedua pasukan membuat lingkaran dan masing – masing pasukan memberi semangat kepada pemimpin mereka yang tengah bergumul.
Mi Chu yang balik terkunci berusaha membuka kuncian kaki Tongki, tangan perwira tinggi itu meremas pinggang Tongki.
Tongki melepaskan kuncian, kemudian kakinya bergerak ke arah pinggang, berusaha menutupi pinggangnya dari Cengkeraman tangan Mi Chu.
Kesempatan baik itu tak di sia² kan oleh Mi Chu.
Perwira tinggi itu melepaskan cengkeraman tangan kiri, lalu menekan kaki Tongki dengan bahunya.
Dan perlahan kedua kaki Mi Chu mulai naik.
“Celaka! kalau sampai dia bisa berdiri, tamat sudah riwayatku,” batin Tongki.
Jika sampai Mi Chu bisa setengah berdiri di atas dada Tongki, tubuhnya yang besar dan tinggi, kedua tangannya akan dengan mudah bisa menghantam kepala Tongki, sedangkan tangan Tongki tak akan sampai bila hendak membalas pukulan karena lebih pendek.
Dengan pinggang di jepit oleh kedua paha dan kaki tak bisa menyerang.
Wajah Tongki pucat.
__ADS_1
Mi Chu tersenyum, kedua tangannya siap menghantam kepala Tongki.
Tongki dengan kedua tangan mencengkeram tanah berusaha menggeser tubuhnya.
Tongki goyangkan kepala ke kiri, lalu tubuhnya mundur.
Buk....Buk !
Tangan kanan Mi Chu menghantam tanah, melihat kepala Tongki bergerak ke kiri, tangan kiri Mi Chu kembali menghantam, tapi tubuh Tongki mundur melewati kolong kaki Mi Chu.
Melihat Tongki bisa menghindar, Mi Chu berbalik, kemudian tangannya menyambar tangan kanan Tongki.
Setelah berhasil mencengkeram tangan kanan Tongki, Mi Chu langsung menarik, kemudian membanting Tongki.
Buk !
Tongki menggeliat kesakitan, punggungnya dengan keras menghantam tanah.
Kaki Mi Chu menginjak dada Tongki.
Tongki bergulingan di tanah, menghindari injakan Mi Chu.
Suara sorak para prajurit terdengar jelas oleh Tongki, suara lengkingan wanita bertempur.
“Bangsaat ! Bikin malu aku saja,” batin Tongki sambil mengusap darah yang semakin banyak keluar dari bibirnya.
Utara dan selatan berhasil mendesak, pasukan Zhain Li Er berhasil mendekati pasukan yang di pimpin oleh Tongki yang masih tertahan oleh Mi Chu.
Sedangkan Han Ciu masih menghadapi keroyokan jendral Shen Long serta pengawal pribadinya, Mi Kun.
Telinga Tongki berdengung mendengar sorak para prajurit yang mengelilingi mereka.
Golok api miliknya juga entah dimana bersama dengan tombak bandul besi milik Mi Chu.
Wajah lebam, darah memenuhi muka, serta tangan yang terlihat kemerahan karena terbakar oleh tenaga dalam hawa neraka, Mi Chu tampak menyeramkan, tak ada tawa dari mulut perwira tinggi itu.
Matanya tajam menatap ke arah Tongki.
“Ilmu gulat ku yang banyak menggunakan tenaga luar sangat berguna, karna tenaga dalamku masih kalah oleh kakek ceking itu,” batin Mi Chu.
Keadaan Tongki yang tak jauh beda dengan Mi Chu, tanpa menunggu lama. Setelah menarik napas dalam – dalam, Tongki kembali melesat menyerang ke arah Mi Chu.
Kedua telapak tangannya bergerak mengincar tubuh Mi Chu.
Mata Mi Chu bersinar melihat serangan Tongki.
Whut !
Tangan kanan Tongki menyambar ke arah kepala Mi Chu.
Mi Chu menghindar dengan menundukkan kepala, setelah menunduk tangan kiri Mi Chu balik menyerang dengan menghantam ke arah perut Tongki.
Tangan kiri Tongki dengan cepat menangkis pukulan tangan kiri Mi Chu.
Plak !
Tangan kiri Tongki menyambar ke arah pinggang Mi Chu.
“Kena kau ! Ucap Tongki.
Buk !
Tangan kiri Tongki menghantam pinggang Mi Chu.
Wajah Mi Chu berkerut menahan sakit, tapi tangan kanan Mi Chu menyambar dada Tongki.
Tongki mundur menghindari serangan Mi Chu.
Tapi baju Tongki berhasil di cengkeram oleh Mi Chu.
Dengan sekuat tenaga Mi Chu menarik, kemudian membanting Tongki ke tanah.
Tongki terkejut, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan wajah, berusaha melindungi wajah dari benturan akibat bantingan Mi Chu.
Brak !
Tubuh Tongki terhempas, dadanya menghantam tanah, tapi karna sudah bersiap dan menyalurkan tenaga dalam hawa neraka ke tubuh, luka yang di derita Tongki tidak terlalu parah.
Tongki berguling dan menangkis tinju kanan Mi Chu setelah tubuhnya berbalik.
Plak !
Kaki Mi Chu bergerak, kembali menjepit pinggang Tongki.
Tongki dengan siku tangan menghantam kaki Mi Chu, tapi kembali tangan Mi Chu menahan.
Dengkul Tongki menyerang, pinggang yang terjepit menjadi longgar karena Mi Chu melepaskan jepitan kakinya.
Tongki terlepas, kemudian mundur, sedangkan Mi Chu bersiap di depan Tongki.
Tongki duduk bersila, sementara Mi Chu berdiri di hadapan Tongki.
Mata Tongki merah, seluruh urat di tubuhnya menonjol juga terlihat merah.
“Ilmu Roh dari neraka ini adalah pilihan terakhirku, walaupun berhasil membunuh si keparat ini, aku belum tentu selamat.
“Tidak ada pilihan,” batin Tongki.
“Tubuhku sudah tidak bertenaga.”
Tubuhnya mengejang, dari kepala dan tubuh Tongki keluar asap kemerahan yang berhawa panas.
Ilmu roh neraka adalah ilmu membakar darah, setelah darah terbakar dan semangat terpompa, uap darah akan menjadi tenaga dalam.
Mi Chu langsung menendang kepala Tongki melihat perubahan yang terjadi pada musuhnya.
Plak !
Tongki menangkis tendangan Mi Chu dengan tangan kanan, kaki Mi Chu terpental.
Tongki yang sedang bersila, tubuhnya bergerak melesat melewati kolong kaki Mi Chu.
Tangan kiri Tongki terangkat, setelah melewati Mi Chu, tangan kiri Tongki menyambar ke arah celana Mi Chu.
Crep !
Tongki merasakan daging lunak bulat serta panjang, lalu meremas daging itu sekuat tenaga.
Crash !
Mi Chu berdiri kemudian berbalik sambil melotot, sementara Tongki berdiri di depan Mi Chu.
Dari tengah celana tampak darah segar terus keluar membasahi celana Mi Chu.
Tangan perwira tinggi itu menunjuk ke arah Tongki sambil melotot menahan sakit.
“Kau....kau kejam,” ucap Mi Chu, kemudian tubuhnya ambruk tak bergerak.
Tongki menghela napas, tubuhnya tak bergerak karna sudah kehabisan tenaga.
Sambil menatap langit, Tongki yang sudah kehabisan tenaga merasa sangat bersyukur, karena di saat terakhir ia berhasil menyambar titik kelemahan Mi Chu.
Sambil tersenyum dan mengusap tangan ke tanah yang tadi di pakai mencengkeram.
Berkata dalam hati.
“Untung berhasil ku remas,”
__ADS_1