Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 165 Mencoba Kerja Sama


__ADS_3

Talaba memberi hormat kepada Han Ciu sambil memberi laporan apa yang berhasil ia selidiki, dan ternyata Bu Ban Liong tak di sukai oleh gubernur kota Sishui karna terlalu ikut campur dalam hal urusan kota yang bukan wewenangnya.


Tapi gubernur kota Sishui tak bisa berbuat apa – apa, karna kekuatan prajurit kota yang di punyai oleh gubernur Ping An, masih jauh di bawah kekuatan anggota perguruan Naga Api pimpinan Bu Ban Liong.”


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Talaba, keningnya berkerut mendengar perkataan anak buahnya.


“Apa kau juga mencari tahu ke arah mana arah dukungan gubernur An, terhadap dua kekuatan antara paman Liu Bang atau Xiang Yu ? Tanya Han Ciu.


“Menurut Hamba, gubernur An mendukung tuan Liu Bang ketua, karna hamba melihat sistem pemerintahan yang terlihat tidak seperti kota yang di kuasai oleh Xiang Yu.” Talaba menjawab pertanyaan Han Ciu.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Talaba.


Jika memang seperti apa yang kau ucapkan, aku akan datang bersama dengan adik Sa untuk mengajak gubernur kota Sishui bekerja sama menyerang perguruan Naga Api, karna jika gubernur Ping An yang bergerak, tidak akan ada kecurigaan dari pihak Bu Ban Liong.


Karna gubernur kota berhak menentukan apa yang terbaik untuk kota yang ia pimpin, apalagi kota Sishui masuk dalam daerah barat menurut pembagian peta wilayah antara dua penguasa yang berseteru.


“Kenapa hanya kak Han serta Nci Sa yang ikut, bukankah kita juga sama bisa ikut ke Sishui, daripada tinggal di hutan ini,” ucap Zhain Li Er.


Hmm !


“Apa kita akan meninggalkan pasukan disini tanpa ada pemimpin yang sanggup melindungi mereka ?” Tanya Han Ciu sambil menatap tajam ke arah Zhain Li Er.


Zhain Li Er diam mendengar perkataan Han Ciu.


Ahn Nio tersenyum lalu angkat bicara.


“Silahkan kak Han berangkat bersama adik Sa, biar kami menunggu di sini, aku berharap ada sebuah hasil menggembirakan nanti dari hasil pertemuan itu.” Ahn Nio berkata sambil tersenyum.


Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Ahn Nio lalu membalas perkataan selir tertuanya.


“Terima kasih adik Nio! aku akan kembali secepatnya atau setidaknya nanti Talaba yang akan memberitahu kalian, jika kami sudah bertemu dengan gubernur kota Sishui.”


Zhain Li Er yang melihat tatapan Han Ciu tajam ke arahnya menundukkan kepala, entah kenapa kali ini ia tak berani balas menatap suaminya.


Setelah sepakat, Han Ciu, Sa Sie Hwa serta Talaba bergerak masuk ke kota Sishui.


Jagal utara yang tak menyadari bahwa rambutnya telah hilang, karna merasakan panas di kepala yang ia pikir hanya akibat hawa pedang Tongki, menatap tajam sambil melotot, walau sudah bisa di katakan kalah, tapi Jagal utara seperti tak mau mengakui kekalahannya.


Melihat Jagal Utara pasang kuda – kuda kembali, Bu Ban Liong mendengus.


“Mundur kau !” ucap Bu Ban Liong, sambil menatap tajam ke arah Jagal Utara.


Jagal Utara yang melihat wajah serius ketuanya langsung mundur, kemudian duduk di sebelah nenek kipas hitam.


Hi Hi Hi.


“Kau terlihat aneh sekarang ? Ucap nenek kipas hitam sambil terus sebentar – sebentar melirik ke arah Jagal utara, kemudian tertawa.


“Kenapa kau peot, ketawa terus, memang ada yang aneh pada diriku ?” Jagal utara berkata sambil menoleh ke arah nenek kipas hitam.


Kau ambil cermin, ucap Setan Tangan Putih.


Ketika mendapat cermin dari seorang pelayan dan melihat wajah apalagi rambutnya yang sudah berubah, wajah Jagal Utara berubah sangat kelam.


Kemudian Jagal Utara tanpa ragu melesat kembali ke tengah dan berdiri di samping Bu Ban Liong.

__ADS_1


“Mau apa kau kemari ? Tanya Bu Ban Liong.


“Keparat itu sudah mempermalukan aku ketua,” ucap Jagal Utara.


“Masih untung kepalamu yang tidak terbabat oleh golok tuan ini,” ucap Bu Ban Liong sambil mendengus.


“Tuan silahkan kembali !” maafkan anak buahku yang tak tahu diri ini, ucap Bu Ban Liong kepada Tongki.


Tongki mengangguk lalu kembali ke tempat lblis Biru serta Sepasang Hantu Malam.


Hantu Malam rambut putih maju, kemudian memberi hormat, ketua Bu kawan paman kami hanya menunjukkan kekuatan tanpa ada maksud tertentu, apalagi senjata tidak bermata dalam pibu.


“Sudahlah, kalian istirahat saja dulu, aku juga akan mengirim orang untuk mengetahui kenapa markas cabang belum mengirimkan kabar.”


Sepasang Hantu Malam, mengajak lblis Biru serta Tongki ke ruangan mereka, untuk istirahat.


Di ruangan lain, Bu Ban Liong, nenek kipas Hitam, Setan Tangan Putih serta jagal utara tengah berunding.


“Bagaimana menurut kalian tentang dua orang yang di bawa oleh sepasang Hantu Malam ?” tanya Bu Bang Liong kepada ketiga orang anak buahnya.


“Ketua ! Aku curiga terhadap mereka berdua,” ucap Jagal utara.


“Apa karna kau kalah dengan salah seorang yang di bawa sepasang Hantu Malam ?” tanya Bu Ban Liong.


“Bukan itu ketua, tapi memang keduanya tampak aneh, mereka memiliki kepandaian tinggi, tapi aku belum pernah mendengar nama mereka, apa mereka berdua baru turun dari tempat pertapaan ?” Jagal Utara berkata sambil mengerutkan kening.


“Benar apa yang di ucapkan oleh saudara Jagal utara ketua, kami memang belum pernah mendengar kabar tentang mereka.” ucap Setan Tangan Putih.


“Tapi yang aneh adalah perkataan Hantu Malam rambut putih, Jika benar apa yang ia katakan, seharusnya Tongkat Naga akan memberi laporan padaku, tapi sampai sekarang masih tak ada merpati pos ataupun orang dari markas cabang yang melapor.”


“Setan Tangan putih, kirim salah seorang yang tercepat untuk mencari tahu, keadaan markas cabang.” Ucap Bu Ban Liong.


“Kalian istirahat saja dulu, suruh beberapa orang anak buah untuk memata matai mereka.” Jagal Utara serta nenek kipas hitam mengangguk, kemudian undur diri setelah mendengar perkataan Bu Ban Liong.


Sementara itu di kediaman gubernur Sishui, Sa Sie Hwa yang masih keturunan bangsawan dan melalu jalan penginapan Bunga Naga minta secara resmi untuk bertemu dengan gubernur Ping An.


Gubernur Ping An yang mendapat laporan bahwa ketua penginapan bunga naga yang terkenal ingin bertemu, menyuruh kepada wakilnya agar mereka di suruh menunggu di ruang utama.


Han Ciu, Sa Sie Hwa serta Talaba duduk di sebuah ruangan lumayan besar dan megah, menunggu kedatangan gubernur Sishui.


Tak lama kemudian masuk tiga orang ke ruangan tempat Han Ciu menunggu.


Seorang pria pendek dengan perut besar serta wajahnya selalu tersenyum, bersama dengan 2 orang yang berjalan di belakang menghampiri meja tempat Han Ciu menunggu.


Salah seorang berbisik ke telinga pria gendut itu sebelum mendekati Han Ciu serta rombongan.


Pria gemuk yang tak lain adalah gubernur Sishui, penasihat serta pengawal pribadi, langsung memberi hormat kepada Sa Sie Hwa, ketika sampai di hadapan Sishui.


“Selamat datang di kota kami Bangsawan Sa,” gubernur An memberi hormat kepada Sa Sie Hwa.


Sa Sie Hwa mengerutkan kening melihat gubernur Ping An memberi hormat kemudian menoleh ke arah Han Ciu.


Setelah menerima isyarat dari Han Ciu untuk meneruskan, Sa Sie Hwa mengangguk.


“Maaf mengganggu istirahat tuan gubernur serta pejabat yang lain.” Ucap Sa Sie Hwa setelah memberi hormat.

__ADS_1


“Silahkan duduk....Silahkan duduk,” gubernur Ping An lalu mempersilahkan Sa Sie Hwa duduk.


Sa Sie Hwa tersenyum lalu duduk setelah di persilahkan oleh gubernur An.


Ketika Han Ciu hendak duduk, lelaki tua di belakang gubernur An mendengus, lalu berkata.


“Tak pantas seorang pengawal duduk di dekat majikannya,” ucap orang tua itu.


Mendengar perkataan lelaki tua itu, Talaba sangat geram dan langsung meraba gagang pedang, sedangkan Sa Sie Hwa menatap tajam ke arah orang tua itu.


Tapi Talaba serta Sa Sie Hwa tak melanjutkan, karna Han Ciu langsung berdiri sambil berkata. “Maaf...Maaf telah lancang.” Ucap Han Ciu sambil berdiri dan mundur ke belakang, sedangkan Talaba terus menatap tajam ke arah orang tua berbaju merah yang ada di belakang gubernur Ping An.


Ha Ha Ha.


Maaf kan pengawalku nyonya Sa, ia memang selalu menjaga kehormatan majikannya, pengawalku ini di sebut pendekar Baju Merah, karna selalu berpakaian merah.


Sa Sie Hwa tersenyum sambil melirik ke arah pendekar Baju merah, yang tersenyum bangga karna telah di puji oleh sang majikan.


“Apa yang bisa kami bantu terhadap pemilik penginapan Bunga Naga? ucap Gubernur Ping An


“Kami ada rencana untuk membuka penginapan di kota Sishui ini, jadi hendak bertanya tanya kepada tuan gubernur,” Sa Sie Hwa berkata sambil menatap ke arah pria bertubuh gemuk itu.


Mendengar perkataan Sa Sie Hwa, wajah gubernur Sishui tampak gembira, penginapan bunga naga sangat terkenal, jika mereka membangun di kota Sishui, maka kota ini akan menjadi kota yang lebih berkembang, belum lagi pajak yang di dapat dari penginapan bunga naga, akan sangat membantu untuk mengembangkan kota Sishui.


Jika ketua akan membangun penginapan bunga naga di kota Sishui, saya mewakili penduduk kota sangat berterima kasih kepada ketua.


“Tunggu dulu gubernur An, membangun penginapan besar sangat mudah buat kami, berapa pun biayanya akan kami keluarkan,” ucap Sa Sie Hwa.


Tetapi bukan masalah itu, kami menanamkan uang di kota Sishui apakah akan berkembang atau malah membuang uang yang kami keluarkan.


Tentu saja akan menguntungkan nyonya, nyonya ketua tidak usah khawatir, penduduk kota pasti senang dengan adanya rencana dari nyonya ketua.


“Dan satu Hal lagi ! Apakah gubernur bisa menjamin keselamatan anak buah dan penginapan bunga naga kami yang berada di kota Sishui ? Tanya Sa Sie Hwa sambil menatap tajam ke arah Gubernur An


“Apa maksud nyonya ketua ? Gubernur An balik bertanya kepada Sa Sie Hwa.


“Tuan gubernur, sebelum kami mendirikan penginapan Bunga naga di suatu kota, kami akan memastikan kami akan aman di dalam kota tersebut.


“Tapi kami melihat di Sishui berbeda dengan kota lain, berbisnis di kota ini keamanan selalu menjadi perdebatan, antara penguasa kota dengan partai perguruan, apa benar tuan ?” tanya Sa Sie Hwa.


Mendengar pertanya Sa Sie Hwa, gubernur An tampak termenung sambil menghela nafas.


Memang benar yang nyonya katakan, bukan rahasia umun bahwa, di Sishui ada kekuatan yang melebihi kami dan terkadang ingin ikut campur dalam urusan pemerintahan.


“Lantas bagaimana menurut tuan gubernur ? Tanya Sa Sie Hwa.


Aku tak bisa menjanjikan apa-apa nyonya, jawab gubernur An.


Sa Sie Hwa tersenyum penuh arti, sambil menatap gubernur An.


“Bagaimana, jika penginapan bunga naga membantu tuan gubernur menyingkirkan, mereka yang selalu ikut campur urusan pemerintahan kota Sishui”


Wajah Gubernur An tersenyum, mendengar perkataan Sa Sie Hwa.


Ia sangat senang serta anggukan kepala.

__ADS_1


Tapi sebelum gubernur Ahn bicara lebih lanjut Sa Sie Hwa sudah memotongnya.


“Berapa tuan berani bayar dan apa keuntungannya buat kami ?"


__ADS_2