
Han Ciu terkejut mendengar perkataan Zhain Li Er, mata pemuda itu berkaca kaca.
"Adik, kau sudah kembali ?" ucap Han Ciu ketika mendengar perkataan Li Er.
Li Er memeluk Han Ciu dan kepalanya di benamkan di dada pemuda itu.
"Ingatanku pulih sewaktu terkena pijaran api dari Elang botak, tapi aku malu untuk bicara dengan kakak Han." Li Er berbisik di dada Han Ciu.
Han Ciu mengelus kepala Zhain Li Er.
Han Ciu mendorong tubuh Li Er ketika mendengar perkataan Sa Sie Hwa.
"Disini bukan kau saja wanita miliknya, sekarang kita dalam bahaya, nanti saja jika ingin bercakap cakap !"
Cis
"Cici Sa lebih tua, tapi kulihat selama ini cici Sa seperti tak suka denganku !" ucap Li Er sambil menatap Sa Sie Hwa.
Cis !
"Siapa yang suka dengan gadis gila !"
Mendengar perkataan Sa Sie Hwa, wajah Zhain Li Er merah.
"Apaa kau bilang, Aku gila ?"
Blaaar !
Kaki kanan Zhain Li Er menjejak kearah rakit dimana ia berdiri.
"Muka Ayam, jangan coba coba menghalangiku untuk menampar selirmu yang tua itu."
"Tunggu dulu, jangan gegabah !" Han Ciu berkata ketika mendengar perkataan Li Er.
Xi xi xi
"Adik, ternyata kau benar benar Li Er sejati. Jangan marah, cici Sa hanya mengujimu saja," ucap Sa Sie Hwa sambil tersenyum.
"Becandamu keterlaluan, coba kau lihat rakit ini ?" wajah Han Ciu tampak gusar sambil menegur Sa Sie Hwa
Rakit bambu yang sekarang ditempati oleh Zhain Li Er, Han Ciu dan Xiao Er tampak bolong besar akibat hentakan kaki Li Er.
Rakit yang di tempati tiga orang, perlahan mulai turun sampai mata kaki dan terus turun.
"Li Er kau pindah ke rakitmu !"
Li Er mengangguk, kemudian melesat ke arah rakit tempat Racun cilik berada.
"Adik Zee, taburkan racun di sekitar rakit usahakan Buaya mati atau setidaknya menjauh dari sini."
Li Er mengangguk mendengar perkataan Han Ciu, lalu merogoh kantong kulit lalu menaburkan racun kearah sekitar rakit tempat mereka.
Rakit yang di tempati Han Ciu dan Xiao Er berhenti bergerak turun, tapi tak lama kemudian rakit perlahan lahan mulai turun kembali.
"Celaka"
"Nona Xiao Er cepat pergi menjauh dari lobang," ucap Han Ciu sambil menarik tangan Xiao Er.
Beberapa ekor Buaya mati terkena racun yang di terbarkan oleh Zee ln Biauw, dan sebagian pergi menjauh dari rakit.
"Kakak Han, racunku tidak akan bertahan lama, Air di telaga terlalu banyak, racun akan segera buyar.
Sebelum Zee ln Biauw berkata lebih jauh, suara desingan terdengar dari berbagai sudut menuju kearah mereka.
Shing..shing..Shing
Han Ciu terkejut melihat puluhan panah melesat ke arah mereka dari sekeliling perahu yang ada di telaga barat.
Han Ciu melesat ke atas sambil mengibaskan kedua tangan, menggunakan pukulan Dewa angin kearah panah yang melesat ke arah mereka.
Whuuuus !
Beberapa panah terhempas, Pedang langit, Zhain Li Er, Sa Sie Hwa menahan panah yang menuju ke arah mereka.
Ha ha ha
"Sebentar lagi kalian akan mampuuus"
Suara tertawa dan teriakan terdengar dari kapal tempat Dewa elang dan Sepasang siluman Elang berada.
Tak lama kemudian, puluhan cahaya melesat dari berbagai kapal yang agak besar, kearah Han Ciu
"Awas panah api," teriak Han ciu.
Kedua tangannya bergerak, lalu mengeluarkan puluhan pedang hampa, berusaha menghalau panah panah api yang melesat ke arah rakit.
Rapatkan rakit bambu, teriak Han Ciu sambil terus menghalau panah panah api yang datang, pedang langit dan Zhain Li Er juga menghalau panah panah api yang datang, sedangkan Racun Cilik, Sa Sie Hwa, menggerakan rakit mereka ke arah rakit Han Ciu dan membentuk segitiga yang memudahkan mereka menghalau serangan panah panah api yang semakin banyak melesat kearah mereka.
Puluhan panah terhempas, tapi ada beberapa yang menancap di rakit kemudian membakar bambu, Sa Sie Hwa, Racun cilik serta Xiao Er bergerak kearah bambu yang terbakar, kemudian memadamkan api yang membakar bambu dengan menginjak dan mencabuti panah yang menancap di bambu.
Sa Sie Hwa yang memadamkan api di pinggir rakit menyiram api dengan air yang berada di sampingnya.
Sa Sie Hwa tak menyadari ada sebuah bayangan melesat dari dalam telaga ke arahnya.
Bayangan yang ternyata adalah se ekor buaya, melesat dari dalam air menyambar kearah kepala Sa Sie Hwa.
Han Ciu yang melihat kejadian itu langsung mengibaskan tangan kanannya.
Whuut...Creeeps !
Pedang hampa yang besar melesat dan menembus leher buaya yang akan menerkam kepala Sa Sie Hwa.
Darah buaya muncrat dan membasahi wajah Sa Sie Hwa yang pucat dengan badan gemetar.
Tapi akibat tangan kanannya menghantam Buaya yang akan menerkam Sa Sie Hwa, beberapa panah api menghantam punggung Han Ciu, sinar ke emasan terlihat sewaktu panah menghantam tubuh Han Ciu, dan mental tak bisa menembus badan Han Ciu.
Tapi baju Han Ciu terbakar terkena panah api.
Pemuda itu lalu membuka baju, kemudian membuangnya.
Han Ciu yang bertelanjang dada dan terlihat Rajah di dada kiri Han Ciu yang bergambar Naga hitam, wajah pemuda itu mulai berubah sangat bengis.
__ADS_1
"Kau pikir panah dari atas, serta buaya dari bawah akan membuat aku gentar ?"
"Satukan rakit ini !" teriak Han Ciu.
Sa Sie Hwa, Racun cilik serta Xiao Er, kali ini merapatkan 3 rakit sejajar berdampingan.
"Kalian bertiga tahan rakit supaya tidak bergeser !" Han Ciu berkata kembali.
Lalu kedua tangan Han Ciu menghantam ke arah air yang ada di depannya, tangan kiri menggunakan pukulan Dewa angin sedangkan tangan kanan menggunakan pukulan Dewa api.
Air telaga barat yang terkena kedua pukulan Han Ciu menimbulkan gelombang air yang terasa panas, sedangkan rakit bambu akibat besarnya tenaga dalam, seperti di dorong dan bergerak cepat kearah pintu gerbang.
Gelombang air menyapu perahu perahu kecil, teriakan ngeri para murid perguruan Elang putih, yang tercebur saat perahu mereka terbalik dan melihat Buaya Buaya telaga barat langsung berbalik menyerbu ke arah mereka.
"Kejar .. kejaaar mereka !" teriak Dewa elang kepada anak buahnya, melihat rakit yang di taiki oleh rombongan Han Ciu bergerak ke arah pintu gerbang telaga barat.
Perahu perahu yang berada di dekat pintu telaga barat langsung menyingkir, 2 buah perahu hancur oleh pedang hampa Han Ciu.
Setelah dekat pintu gerbang telaga barat, Han Ciu yang telinganya tajam mendengar teriakan teriakan dan suara beradunya pedang.
"Paman !"
Pedang langit mengangguk ketika Han Ciu menyebut nama, karna ia juga mendengar teriakan teriakan itu.
"Paman, pimpin mereka untuk menghalau serangan panah dan senjata rahasia, dan Li Er, kau tahan sekuat tenaga rakit ini, supaya tidak bergerak dan tergoncang saat aku menghancurkan pintu telaga dengan tenaga dalam.
Pedang Langit dan Zhain Li Er mengangguk dan mengerti arahan dari Han Ciu.
Pedang langit, Sa Sie Hwa, Racun cilik Serta Xiao Er, berjaga di depan menghalau serangan panah musuh, sementara Zhain Li Er memasang kuda kuda, mengerahkan hampir segenap tenaga dalam yang ia miliki kearah kedua kaki memberatkan bobot tekanan pada kakinya agar rakit bambu diam tak bergerak.
Huuuuuufh !
Han Ciu menarik napas dalam dalam, perut pemuda itu mengembung, kedua tangannya bergerak memutar.
Sambil menghembuskan napasnya, perut Han Ciu mengempis lalu kedua telapak tangan yang dipenuhi tenaga dalam dengan pukulan Dewa anginn mendorong kearah gerbang kayu telaga barat yang kokoh.
Suara gemuruh angin terdengar serta angin berputar menghantam sambungan tengah pintu gerbang.
"Blaaaaaaam !"
Gerbang telaga barat hancur serta sebagian balok balok kayu terbang.
Zhain Li Er berusaha menahan sekuat tenaga, tapi tetap saja rakit bambu berguncang hebat, Xiao Er dan Racun Cilik, memegang pinggiran rakit, Pedang langit dan Sa Sie Hwa kaki mereka seperti menempel, dan menahan panah panah yang menyerang kearah rakit.
Suara riuh pertempuran di luar gerbang langsung diam ketika mendengar suara keras hancurnya gerbang telaga barat.
Sebuah kapal besar dan beberapa kapal kecil, yang berada di luar bergerak kembali, Han ciu melihat di kapal besar, lblis seribu wajah serta Dewi angin, mengibaskan tangan, terkadang melemparkan tombak serta panah ke arah perahu perahu kecil yang coba menghadang.
Han Ciu melesat kearah perahu perahu kecil milik perguruan Elang putih.
Kedua tangan sebelum melesat kearah perahu, terlebih dahulu mengeluarkan pedang hampa menyerang orang yang berada dalam perahu.
Shing .. Shing .. Shing
Dua orang langsung tewas akibat pedang hampa Han Ciu.
Seorang anggota Elang putih yang tersisa, melihat Han ciu berdiri di perahu langsung loncat menceburkan dirinya ke sungai dan berenang menjauh.
Kapal besar perlahan masuk, Han Ciu, Pedang langit, Zhain Li Er dan yang lain naik keatas kapal besar.
Maaf, kami terlambat datang, mereka benar benar piawai bertempur dalam air, 2 perahu kecil yang di tumpangi orang perkampungan selaksa hancur, ucap Iblis seribu wajah.
Han Ciu mengangguk mendengar perkataan Iblis seribu wajah, lalu mata pemuda itu menatap tajam kearah Kapal besar milik Dewa elang.
"Mari kita habisi mereka" ucap Han Ciu
Iblis seribu wajah kemudian memerintahkan juru mudi kapal, agar bergerak menuju kapal besar milik Dewa Elang.
Kapal lalu bergerak dan berhadapan dengan kapal besar milik Dewa elang.
Han Ciu, Zhain Li Er serta Pedang langit melesat kearah kapal Dewa elang.
Sedangkan Iblis seribu wajah, Dewi angin serta perahu perahu kecil, membabat perahu perahu kecil pendukung dari perguruan Elang putih.
"Elang busuk, sekarang adalah giliranmu, jangan hanya pintar main siasat licik dan mengorbankan anak buah yang tak ada artinya," ucap Han Ciu.
"Kepaaarat !"
"Jangan jumawa anak muda, hutang nyawa bayar nyawa," teriak Dewa elang marah, sambil menyerang kearah Han Ciu, sedangkan pedang langit dan Zhain Li Er melesat kearah Elang botak dan Elang salju.
3 orang murid pilhan dari Dewa elang membantu gurunya mengeroyok Han Ciu.
Jurus jurus cakar Dewa elang menyambar ke arah kepala Han Ciu dan perut pemuda itu.
Han Ciu mundur, kemudian jurus cakar Naga hitam ia keluarkan, kedua tangan Han Ciu menangkis serangan jurus cakar elang musuh, ketiga murid Dewa elang tak tinggal diam, mereka menggunakan sarung tangan kulit, yang ujungnya terdapat besi besi tajam.
Mereka berempat menyerang dari berbagai posisi dan mempersempit ruang gerak Han Ciu.
Plak .. plak !
Han Ciu menangkis 2 kali serangan Dewa elang, Dewa elang terkejut, bahwa tangkisan Han Ciu membuat tangannya panas, tanda tenaga dalamnya masih kalah oleh pemuda itu.
"Kurang ajar" Dewa elang berkata, ketika kaki Han Ciu menyabet ke arah kakinya yang membuat Ia harus lompat mundur menghindari serangan Han Ciu.
Setelah Han Ciu, berhasil membuat Dewa elang mundur, kedua tangan Han Ciu berubah menjadi perak, lalu dengan ilmu selaksa pedang tangan Han Ciu beruba menjadi seperti puluhan banyaknya, kemudian menyambar ke arah ke tiga murid Dewa elang.
Murid Dewa elang terkejut, melihat tangan perak Han Ciu yang berubah menjadi banyak,
Salah seorang murid Dewa elang menyerang dari samping dengan cakar besi miliknya.
Han Ciu sambil menghindari serangan cakar besi musuh, tangan kirinya balik menyabet pinggang murid Dewa elang.
Craaash !
Murid Dewa elang yang berusaha membokong malah tewas terlebih dahulu, ketika pinggangnya tertebas oleh tangan yang telah di aliri oleh Jiwa pedang Han Ciu.
Setelah berhasil menebas pinggang musuh, Han Ciu kemudian menendang tubuh murid Dewa elang sampai keluar kapal, untuk menjadi santapan buaya telaga barat yang kelaparan.
Dewa elang semakin gelap mata melihat salah seorang muridnya menjadi korban, jurus cakar Dewa elangnya bergerak cepat menyabet ke arah Han Ciu.
Tubuhnya berputar putar sambil cakarnya menyambar nyambar ke arah perut dan dan kepala, Tangan Cakar elang berubah menjadi putih dan sangat panas.
__ADS_1
Han Ciu yang bajunya sudah hangus terbakar, berusaha menghindari serangan serangan jurus Cakar elang api milik Dewa Elang,
Dewa Elang bergerak menyerang sambil lompat dan menyambar dari atas, serangan serangan dari atas memang membuat repot Han Ciu, apalagi tangan Dewa elang sering menyambar kepala Han Ciu dari atas, membuat Han Ciu sering mundur dan menangkis serangan mematikan Dewa elang.
Shing !
Pedang hampa menyerang badan Dewa elang, ketika ketua perguruan Elang putih itu sedang berada di atas dan hendak menyambar kepala Han Ciu.
Dewa elang mengibaskan tangan, saat pedang hampa mendekati tubuhnya.
Blaar !
Pedang hampa terbabat oleh cakar elang api kemudian hancur.
Han Ciu berkali kali mengeluarkan pedang hampa ketika Dewa elang berada di udara.
Tapi berkali kali pula Dewa elang menepis atau membabat pedang hampa yang di keluarkan Han Ciu.
Han Ciu mundur dua langkah, dan menatap tajam ke arah Dewa elang.
Hawa amarah di dadanya hampir meledak melihat seringai Dewa elang yang seakan akan mengejek.
Han Ciu kemudian memusatkan pikirannya berusaha menyatukan jiwa pedang dengan pukulan Dewa api.
Sreet .. Sreet !
Kedua tangan Han Ciu bergetar, saat tenaga dalam mengalir deras perlahan kedua tangan Han Ciu berubah merah.
Han Ciu melesat, tangannya menyabet kearah leher dan Dewa elang, Dewa elang melihat kedua tangan berubah menjadi merah dan mengeluarkan hawa panas yang sama dengannya, menjadi ragu untuk menangkis.
Dewa elang mundur, kemudian lompat dan menyerang Han Ciu dari atas, cakarnya menyambar kepala, Han Ciu menangkis serangan yang mengarah kepala.
Plak !
Setelah Serangannya tertahan, Dewa elang tiba tiba tubuhnya berputar, kemudian tangannya menyabet kearah perut Han Ciu.
Bhuk !
5 jari Dewa Elang mencengkram kearah perut Han Ciu.
Dewa elang menyeringai.
"Mati kau !" teriak Dewa elang sambil menambah tenaga dalamnya, Han Ciu menahan tangan kanan Dewa elang yang tadi menghantam kepala, sementara satu persatu jari jari kiri Dewa elang berusaha menekan dan menembus perut Han Ciu.
Han Ciu dengan tenaga dalam Jiwa emas sekuat tenaga menahan jari tangan yang berusaha menembus tubuhnya, perlahan tubuh Han Ciu berubah kuning ke emasan.
Dewa elang terkejut, jari tangan kirinya yang akan menembus perut Han Ciu seakan mencengkram sebuah baja, licin dan sangat keras, tangang kiri semakin putih dan panas, tubuh Han ciu juga semakin kuning.
Tangan Han Ciu yang mencengkram pergelangan tangan, mulai memelintir tangan Dewa elang.
Perlahan tapi pasti, wajah Dewa elang mulai meringis kesakitan.
Kraaak .. auuuugghhhr !
Suara jeritan terdengar ketika tulang pergelangan tangan Dewa elang patah.
Dewa elang sambil menahan sakit terus mencengkram, perut Han Ciu, tapi semakin keras usaha yang dilakukan oleh Dewa elang, perut Han Ciu dengan ilmu tenaga dalam jubah emas tingkat 4 semakin keras layaknya besi baja.
Sambil mencengkram pergelangan tangan yang tulangnya telah remuk, Han Ciu lalu balik menyeringai lalu berkata
"Saatnya kau pergi ke neraka."
Kemudian Han Ciu dengan sekuat tenaga menancapkan tangan kirinya ke arah perut Dewa elang.
Breeesh !
Tangan kiri Han ciu yang merah menembus perut Dewa elang, hingga punggung.
Suara desisan dan bau darah yang terbakar, tercium oleh orang orang yang sedang bertempur.
Mata Dewa elang terbelalak menahan sakit, lalu terpejam, ketua perguruan Elang putih tewas dengan perut bolong sampai punggung.
Han Ciu menarik tangannya, lalu memegang leher Dewa elang, kemudian melemparkannya ke arah buaya yang sedang berkumpul.
Byuuur.....krek, gejubyar..suara riuh buaya buaya memburu tubuh Dewa elang, menggigit dan mencabik cabik tubuh ketua perguruan elang putih.
Elang botak dan Elang salju terkejut, nyalinya langsung pecah melihat kematian ketuanya.
Kosentrasi mereka mulai goyah, jurus jurus mereka mulai kacau, Pedang langit dengan gerak tipu, akhirnya berhasil menebas leher Elang botak, tubuh dan kepala elang botak lalu di tendang oleh Pedang langit ke telaga agar menjadi santapan buaya.
Sementara itu Zhain Li Er berhasil menyarangkan Tinju petirnya di perut Elang salju, dan melemparkan tubuh kakek tua itu kedalam telaga yang langsung di serbu oleh buaya buaya peliharaan mereka sendiri.
Kapal dan perahu perahu kecil yang di kemudikan oleh anak buah perguruan elang putih berhamburan melarikan diri melihat ketua dan penasehat mereka tewas.
Kapal merapat Racun Cilik berlari sambil membawa pakaian dan jubah hitam untuk Han Ciu.
Semua yang berada di kapal tersenyum dan tertawa tawa, walau pun hanya tersisa beberapa orang anggota perkampungan selaksa pedang mereka puas dengan hasil yang sudah di capai, mereka menatap bangga ke arah Cengcu dan Hu Cengcu mereka.
"Kakak Han, kita harus mencari harta perguruan Elang putih, aku yakin bangunan bangunan yang tenggelam di gerakan oleh alat yang luarbiasa, jika kita bisa menemukan alat penggeraknya, bangunan benteng telaga barat bisa naik, dengan sedikit biaya, kita bisa merubahnya menjadi tempat penginapan dan wisata.
Bagaimana jika kita mendirikan cabang Bunga Naga di tempat ini ?"
Han Ciu tersenyum mendengar perkataan Sa Sie Hwa dan mengangguk.
Sedangkan Zhain Li Er, menatap ke arah Han Ciu, yang sedang tertawa.
Racun Cilik yang berada di samping Li Er, lalu menyolek pinggang gadis itu.
"Ada apa adik Zee ?" tanya Li Er.
"Aku senang Cici Er sudah ingat kembali." Racun cilik menjawab perkataan Li Er.
"Lantas ?" ucap Li er
"Aku .. aku hanya ingin mengingatkan saja !"
"Adik Zee ingin mengingatkan apa ?" Li Er bertanya.
"Bahwa malam ini adalah jatahku," ucap Racun cilik.
Zhain Li Er tersenyum mendengar perkataan Racun cilik, lalu menoleh ke arahnya sambil berkata.
__ADS_1
"Adik, apa kau ingin aku gampar ?"