
“Talaba, kapan kau sampai Xianyang dan berapa pasukan yang di berikan oleh pamanku untuk mempertahankan kota Xianyang dari serangan musuh,” ucap Han Ciu sambil tertawa untuk mencairkan suasana yang ia lihat tidak seperti biasa.
Talaba hanya menarik nafas panjang, belum menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Kak Han, duduk lah dulu ! baru kita bicara,” seru Xiao Er ketika melihat suaminya datang.
Han Ciu serta Zhain Li Er kemudian duduk di kursi yang telah di siapkan, lalu menatap anak buahnya.
Talaba yang pertama kali di tanya sewaktu Han Ciu datang berdiri lalu memberi hormat.
“Duduklah, lalu ceritakan perjalananmu ke Sanchuan,” ucap Han Ciu.
Hamba sudah bertemu dengan yang mulia Liu Bang, ketua Chen serta wakil ketua Pedang Langit.
Yang mulia Liu Bang memberi 1000 pasukan, tuan Pedang Api serta 200 pasukan perguruan Selaksa Pedang, serta 300 orang dari perguruan api suci.
Jadi jumlah pasukan yang kami bawa dari Sanchuan berjumlah 1500 orang.
“Kenapa kakek hanya memberikan 300 orang ? tanya Xiao Er.
“Ketua Chen berkata baru memerintahkan anak muridnya menyebar di kota – kota yang berbatasan langsung dengan kota yang berada di wilayah penguasa timur, jadi tak bisa memberi banyak orang ikut ke Xianyang.
Begitu pula tuan Liu Bang minta maaf pada ketua, karna hanya bisa mengirim 1000 pasukan, tuan Liu Bang bilang, bahwa ia juga harus memperkuat Sanchuan karena Sanchuan adalah pusat tempat ia menggerakkan pasukan, Xianyang boleh jatuh, tapi tidak dengan Sanchuan.” Talaba menyampaikan cerita yang ia dapat dari Liu Bang dan ketua Chen.
Han Ciu anggukan kepala mendengar cerita Talaba, lalu menatap ke arah mereka yang duduk berkumpul.
Lalu kenapa wajah kalian tampak sedih, bukankah bantuan sudah datang.
Gubernur Cia Kun menarik nafas mendengar ucapan Han Ciu.
“Kami memang gembira setelah tuan Talaba dan tuan Ming Mo datang membawa pasukan dari Sanchuan, tapi kegembiraan itu lenyap karena kedatangan tuan Tongki dari Hedong, serta Dewi Kipas serta nyonya Han dari kota Shang, kabar mereka yang membuat kami jadi serba salah dan bingung.” Ucap gubernur Cia Kun.
“Kabar apa yang kalian bawa dari kota yang kalian selidiki ? Tanya Han Ciu.
“Kau saja bicara lebih dulu,” ucap Tongki setelah ia dan Dewi Kipas Saling tatap.
Dewi Kipas anggukan kepala, kemudian sambil menatap ke arah Han Ciu, perempuan tua itu mulai bercerita apa yang ia ketahui setelah menyelidik ke kota Shang bersama Xiao Er.
“Ketua ! pusat pasukan yang akan menyerang kota Xianyang berada di kota Shang, kami mendapat kabar dari mata – mata bahwa di kota Shang sudah berkumpul 5000 pasukan, sedangkan di kota Hedong, saudara Tongki melihat kota Hedong dengan 1000 pasukan.
__ADS_1
“Beidi juga ada sekitar 1000 pasukan,” Han Ciu memotong cerita Dewi Kipas.
“Itulah yang membuat kami bingung ketua, Kota Shang akan membagi pasukan ke Beidi atau ke Hedong jika salah satu dari kota itu meminta bantuan, tetapi bisa juga mereka menyerang dengan segenap kekuatan dari tengah, Beidi dan Hedong adalah kota pemancing agar pasukan kita terpecah dan mereka dengan bebas bisa menghancurkan Xianyang dari tengah.” Dewi Kipas tampak menarik nafas setelah bercerita.
Setelah mendengar cerita Dewi Kipas, mereka yang berkumpul kini menatap ke arah Han Ciu, mereka ingin mendengar langkah apa yang akan di ambil Han Ciu setelah mendengar cerita Dewi Kipas.
Hmm !
“Memang berat setelah mendengar cerita bibi Dewi,” ucap Han Ciu
Kening pemuda itu berkerut, berpikir apa yang harus ia lakukan.
7000 pasukan musuh yang menyerang melawan 2000 pasukan musuh yang bertahan di kota Xianyang.
“Memang secara teori Xianyang akan hancur jika membandingkan kekuatan, tetapi apa kalian akan menerima begitu saja ? Tanya Han Ciu sambil menatap ke arah Mereka yang sedang berkumpul.
Semua yang berkumpul diam tak ada yang menjawab perkataan Han Ciu.
“Kak Han, kami juga mendengar dan mendapat informasi bahwa mereka akan bergerak dalam beberapa hari ini.
“Pasukan yang minim, kota yang belum ada persiapan, itu yang membuat mereka bingung, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi keadaan ini,” Xiao Er berkata kepada Han Ciu mewakili mereka yang berkumpul.
“Jika memang keadaannya seperti itu, apa boleh buat, kita tidak boleh mundur sebelum bertempur.
Setelah melihat tak ada orang yang mengundurkan diri, Han Ciu tersenyum
“Baik, kita mulai berbagi tugas.”
“Paman pedang api bersama paman Ming Mo memimpin 500 orang pendekar, menghadang jalan masuk dari kota Hedong,
“Bikin jebakan dan perangkap di hutan serta jalan yang menuju ke arah kota Xianyang.
Aku bersama dengan 200 orang pergi Untuk memperlambat gerakan pasukan yang menyerang dari arah Beidi.
Sisa pasukan yang berjumlah 1300 orang harus bertahan dan menjaga kota Xianyang jangan sampai jatuh ke tangan musuh, jika kami berhasil menghalau serbuan musuh, kami akan segera bergabung.
“Siapkan jebakan di sekeliling kota Xianyang, suruh penduduk dan prajurit bekerja sama membuat parit di sekeliling benteng Xianyang, untuk memperlambat musuh yang datang.”
“Sampai saat ini, ada yang mau di tanyakan ? Ucap Han Ciu.
__ADS_1
Maaf tuan, siapa yang memimpin pasukan di kota Xianyang ini ? Tanya gubernur Cia Kun.
Kota Xianyang di pimpin oleh jendral Cao serta Kai Ko.
“Ingat.... ! apapun yang terjadi, Xianyang jangan sampai jatuh ke tangan musuh.”
Jendral Cao memberi hormat, begitu pula Kai Ko, keduanya menjawab dengan lantang.
“Kami akan mempertahankan kota Xianyang sampai titik darah penghabisan.”
“Baiklah....jika semua siap, pelajari medan tempat kalian, pasang jebakan di tempat yang tidak di sangka oleh musuh, untuk paman Pedang Api, jangan perang terbuka dengan musuh, tapi pukul dan sembunyi, karna kita kalah jumlah.
Sementara aku bersama dengan 200 orang dari perguruan selaksa pedang, berusaha menghabisi prajurit Xiang Yu yang berada di kota Beidi, jika aku berhasil membasmi mereka, aku akan langsung bergerak ke kota Shang dan menyerang mereka dari belakang.” Han Ciu berkata dengan nada penuh semangat.
Semua yang mendengar anggukan kepala.
Lalu mereka minum arak yang telah di sediakan oleh gubernur Cia Kun.
Tak ada bimbang dan ragu di wajah mereka, seperti ketika Han Ciu belum datang.
Sekarang mereka semua lebih bersemangat, walau dalam hati mereka berpikir, bahwa mempertahankan kota Xianyang adalah hal yang mustahil, karna jumlah pasukan yang tidak seimbang.
Sedangkan Xiao Er serta Zhain Li Er menggenggam tangan kanan serta kiri Han Ciu, mereka berdua merasa bangga mempunyai suami yang tegas dalam memimpin pasukan, walau keduanya berpikir mungkin perang ini bisa membunuh mereka, tapi kedua gadis itu tak peduli, apapun akan mereka lakukan asal bisa bersama dengan pemuda yang mereka cintai.
“Tak pernah terpikir akan kembali ke penginapan Hansi, ucap Zhain Li Er sambil tersenyum ke arah Han Ciu yang tengah minum arak.
Memang ada apa di penginapan Hansi adik Li, tanya Xiao Er dengan tatapan curiga.
“Ah tidak....tidak ada apa – apa Cici,” ucap Zhain Li Er sambil tersenyum.
Hmm !
“Pasti di penginapan itu mereka bermesraan, walau bilang tidak ada apa – apa, tapi raut wajah gembira adik Li tak bisa di tutupi,” batin Xiao Er.
“Adik Li sekarang adalah jatahku selama dua hari bersama kak Han,” Tiba – tiba Xiao Er berkata kepada Zhain Li Er.
“Silahkan Cici, kita telah membuat kesepakatan, aku akan menghormati kesepakatan yang telah kita buat,” Zhain Li Er menjawab.
Tapi dalam hati Zhain Li Er tersenyum, sambil membayangkan wajah Xiao Er.
__ADS_1
Xi....Xi....Xi
“Aku ingin lihat reaksi wajah cici Xiao jika melihat leher Han Ciu Koko yang banyak bekas tanda bibir ku.”