
Tongki diam tak menjawab perkataan Zhain Li Er, kakek nyentrik itu hanya bisa menunduk, entah kenapa ia yang biasanya lancar bicara kini hanya bisa diam.
Tapi kali ini Tongki tertolong oleh suara Han Ciu yang bertanya kepada Dewi Kipas.
“Bibi ! Apa masih jauh lokasi markas perguruan Selaksa Racun ?
“Sebentar lagi kita sampai ketua, nanti kita turun pas di jalur sungai yang kiri kanannya di apit oleh hutan yang lebat, di dalam hutan yang lebat itulah markas perguruan Selaksa Racun.” Dewi Kipas menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Apa jalur kapal yang menuju Hanzhong tidak di ganggu oleh orang perguruan Selaksa Racun ?” tanya Han Ciu.
“Mereka tidak mengganggu kapal, karna mereka juga butuh kapal untuk membeli kebutuhan, tapi mereka meminta pajak kepada pemilik kapal,” Dewi kipas menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Hmm ! Begitu rupanya,” Han Ciu berkata setelah mendengar perkataan Dewi kipas.
“Sebelum turun semua harus makan obat pemusnah racun dari adik Zee, tidak terkecuali Fang Ji, dan ingat ! Jangan gegabah, karna lawan kita adalah ahli dalam racun, selain paman Ming Mo kita hanya bisa mengandalkan obat dari adik Zee untuk membantu kita menangkal racun.” Semua yang mendengar perkataan Han Ciu anggukan kepala.
Pertempuran antara dua orang anggota perguruan Selaksa Racun dengan Han Ciu serta Ming Mo tak membuat pemilik kapal serta penumpang lain heboh, karna di dalam ruangan Dewi kipas memberi tahu apa yang terjadi di luar dan mereka diminta untuk tenang.
***
Sementara si Hitam dan Coklat, anggota perguruan Selaksa Racun yang berhasil melarikan diri dengan menceburkan diri mereka ke dalam sungai telah berenang dan berada di sisi sungai.
Mereka naik lalu keduanya berlari kencang bersama sama masuk ke dalam hutan yang lebat.
“Toako kita harus memberitahu, Hijau kuning serta Merah, agar membuat jebakan dan untuk menyambut kedatangan musuh.
Musuhku kebal racun, semua racun yang aku punya tak mempan terhadapnya.
Pria yang memakai baju hitam, mendengar perkataan sang adik langsung berhenti.
“Aneh! lawanku juga tidak takut terhadap racun kelabang merah, padahal terkena cipratan darah kelabang merah sudah dapat membunuh lawan.
“Agaknya mereka memang sudah mempersiapkan diri membawa pemusnah racun,” pikir pria berbaju hitam.
“Adik ! Kita harus segera bergegas memberitahu kawan perguruan agar bersiap, jika mereka kebal racun, perguruan Selaksa Racun dalam bahaya.” Setelah berkata pria yang memakai baju hitam melesat kembali, kali ini gerakannya lebih cepat, karna di hatinya timbul rasa was – was akan kedatangan rombongan Han Ciu yang akan membasmi perguruan mereka.
***
Han Ciu bersama rombongan telah sampai di hutan yang dimaksud oleh Dewi Kipas.
Hmm !
“Lebat sekali hutan ini,” batin Han Ciu sambil menatap ke arah hutan yang berada di depannya.
“Bibi masih ingat jalan ke markas perguruan Selaksa Racun ? Tanya Han Ciu.
“Masih ingat ketua, letak markas mereka ada di lembah kabut, di dalam hutan yang lebat ini, kita harus berhati hati, semakin dekat dengan markas mereka, semakin banyak jebakan – jebakan mematikan dari mereka.” Dewi kipas menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Baiklah kalau begitu ! Bibi silakan pimpin rombongan bersama Fang Ji, paman Ming Mo tolong jangan berjauhan dengan Bibi Dewi Kipas, takut ada serangan atau sergapan dari pihak perguruan Selaksa Racun.
“Sebelum masuk kita makan pil pemusnah racun buatan adik Zee dan ingat ! jangan jauh dari rombongan, jadi bila ada sergapan kita bisa saling bantu.”
__ADS_1
Semua mengangguk mendengar Perintah Han Ciu, mereka lalu mengeluarkan pil anti racun kemudian memakannya, lalu Dewi kipas bersama Fang Ji serta lblis Biru memimpin rombongan melesat masuk ke dalam hutan.
Saat Dewi Kipas melesat masuk ke dalam hutan, Tongki tampak termenung.
“Kau cemburu melihat bibi Dewi bersama tua bangka busuk itu ? Tapi menurutku bibi Dewi lebih baik bersama dia daripada denganmu.” Setelah berkata Zhain Li Er melesat mengikuti Han Ciu serta Xiao Er.
Sementara Tongki mendengus mendengar perkataan Zhain Li Er.
Puih !
“Memang benar kata Ming Mo, dasar gadis kampret.”
Setelah berkata Tongki melesat mengikuti rombongan dan posisinya tepat di belakang Talaba.
Lembah kabut hutan Hanzhong memang terkenal banyak binatang serta tumbuhan beracun.
Dewi kipas melesat meliak liuk diantara pepohonan serta semak belukar, semakin mereka masuk ke dalam hutan, jalan yang di lalui semakin penuh dengan pohon dan semak.
Dewi Kipas berhenti, melihat jalan yang akan ia lalui mulai tertutup kabut.
“Ketua, kita harus berhati hati, karna kita akan masuk ke lembah kabut, pandangan kita sekarang terbatas, jangan terlalu jauh.” Dewi Kipas berkata.
Han Ciu serta rombongan mengangguk mendengar perkataan Dewi Kipas.
Dewi Kipas lalu mulai masuk ke dalam kabut, jalan tak terlalu besar tapi banyak tumbuh pepohonan kecil.
Rombongan mulai melambatkan langkah mereka, karna melihat kabut semakin tebal.
Brak !
Ming Mo terkejut melihat Dewi Kipas terperosok ke dalam lubang, dengan cepat ia menyambar pinggang wanita itu sebelum jatuh, kemudian menjejakkan kakinya ke arah akar pohon, lalu tubuhnya melesat ke atas.
Whuut !
Dewi Kipas hampir berteriak ketika dirinya jatuh, karna di dasar lubang jebakan ia mendengar banyak desisan tajam serta bau busuk yang menyengat.
“Terima kasih saudara Ming Mo,” ucap Dewi Kipas setelah dirinya di selamat kan oleh Ming Mo.
“Huh ! Hampir saja aku jadi santapan ular,” batin Dewi kipas.
“Dewi kau tidak apa – apa ? Tanya Han Ciu.
“Tidak apa ketua, untung ada saudara Ming Mo yang menyambar tubuhku, jika tidak, mungkin aku sudah jadi santapan ular di bawah sana,” Dewi kipas menjawab pertanyaan Han Ciu.
“Lubang jebakan milik perguruan Selaksa Racun sudah mulai ada, itu artinya mereka sudah tidak jauh dari sini,” ucap Dewi kipas.
Rombongan lalu bergerak kembali, tapi kini mereka lebih berhati hati.
“Aneh ! Tongki berkata ketika ia mencium bau wangi di sekitar tubuhnya.
“Apa yang aneh paman,” tanya Han Ciu
__ADS_1
“Apa ketua tidak mencium bau wangi ini ? Tanya Tongki.
“Benar paman, baju paman tampaknya bau wangi,” Han Ciu berkata ketika mencium bau wangi di sekitar tubuh Tongki.
“Apa paman habis memetik bunga ? Tanya Han Ciu.
Tidak ketua, hanya saja tadi sewaktu rombongan sedang melihat ke lubang jebakan, hamba buang air kecil kemudian meraba raba daun di semak – semak tempat buang air kecil, di atas permukaan daun agak basah, serta lengket,” jawab Tongki.
Dewi kipas yang mendengar perkataan Tongki lalu mendekat, kemudian menarik tangan Tongki dan membaui bau wangi yang ada di tangan Kakek itu.
Setelah mencium bau wangi tersebut, wajah Dewi kipas tampak mengerutkan kening, dan tak lama kemudian wajahnya tampak berubah.
“Celaka ! ini madu lembah kabut, kita harus segera pergi,” Dewi Kipas berkata.
“Eh....Eh, apa memang benar ini madu ? Tongki berkata setelah mendengar ucapan Dewi kipas.
Sebelum Dewi kipas menjawab pertanyaan Tongki.
Terdengar suara.
Ngung.....Ngung ....ngung.
Mendengar suara itu, wajah Dewi kipas terkejut dan cemas.
“Ketua ! Mari kita bergegas, saudara Tongki memegang madu lembah kabut, Lebah perut biru yang sangat beracun penghuni lembah kabut sudah mulai mengejar kita, suara mereka mulai terdengar mendekati kita," ucap Dewi Kipas dengan nada cemas.
“Kenapa cemas Dewi, itu kan cuma lebah, apalagi kita sudah makan pil pemusnah racun, biar aku habisi saja lebah – lebah itu,” ucap Tongki dengan santai.
“Saudara Tong, mungkin racun lebah perut biru tidak akan bisa melukai kita, tapi sengatan mereka sakit sekali, lalu bagaimana kau mengatasi serangan mereka yang jumlahnya ratusan lebih di tengah kabut yang tebal ini ? Tanya Dewi Kipas sambil melirik ke arah Xiao Er dan Talaba.
“Dan kau harus tahu, lebah perut biru adalah lebah yang berukuran besar,” lanjut perkataan Dewi kipas.
Wajah Tongki serta yang lain berubah mendengar penjelasan Dewi Kipas.
Ngung....Ngung....Ngung.
Suara lebah perut biru semakin terdengar mendekati mereka.
Tanpa pikir panjang, Tongki lalu menarik tangan Dewi Kipas sambil mencabut golok api pemberian Han Ciu.
“Dewi, ! mari cepat kau tunjukan jalannya biar aku yang melindungimu dari lebah – lebah itu.” Mendengar perkataan Tongki, Dewi kipas lalu anggukan kepala kepada Han Ciu lalu melesat bersama Tongki.
Zhain Li Er yang melihat Tongki menarik Dewi Kipas mendengus.
Cis !
“Dasar tua bangka, sudah bikin ulah, sekarang cari kesempatan dalam kesempitan pegang - pegang tangan Bibi.
"Eh, Kaburnya malah lebih dulu dari yang lain.
“Dasar Kadal tengik”
__ADS_1