Naga Hitam Dan 4 Selir

Naga Hitam Dan 4 Selir
Ch : 105 Jebakan Air Dewa Elang


__ADS_3

Belum lagi Han Ciu bicara, dari arah tempat Dewa elang melesat berbagai macam senjata Rahasia menyerang Han Ciu dan rombongannya.


Panah kecil, paku dan jarum jarum beracun melesat menyerang Han Ciu dan rombongan.


Han Ciu terkejut, bukan masalah ia di serang tapi khawatir terhadap Sa Sie Hwa, Racun cilik dan Xiao Er yang kemampuannya di bawah mereka.


"Semuanya berlindung di dekatku, cepaaat !"


Teriak Han Ciu.


Racun Cilik, Sa Sie Hwa dan Xiao Er melihat banyaknya senjata rahasia menyerang, lalu melesat ke arah Han Ciu, yang menempel di dinding kayu.


Han Ciu dengan pedang Hampa bergerak kemudian berusaha melindungi ketiga gadis yang datang bersamanya itu, Zhain Li Er dan Pedang langit juga ikut membantu mengibaskan tangan menghalau ratusan senjata rahasia yang menyerang.


di sebrang Dewa elang serta sepasang siluman elang tersenyum melihat musuh musuh mereka repot, menghindar serta menghalau senjata senjata rahasia beracun yang mereka keluarkan.


Han Ciu yang merasa khawatir, kemudian kaki pemuda itu menancap di dinding, lalu kedua tangan di putar putar, semakin lama semakin besar sebuah bola putih, setelah besar Han Ciu lalu mengarahkan bola tenaga dalam itu kearah Dewa elang.


Dewa elang dan sepasang Siluman elang menghantam, ke arah hawa tenaga dalam Han Ciu, ketika kedua tenaga dalam bertemu, ledakan dasyat dan ratusan pedang hampa yang berada di dalam bola, keluar dan melesat ke arah Dewa elang dan sepasang siluman elang.


Sring .. sring .. sring


Dewa elang dan sepasang Siluman elang terkejut, ketika pukulan mereka bertemu dan meledak, muncul ratusan pedang yang wujudnya kadang terlihat kadang tidak.


"Awas serangan !"


Teriak Dewa elang, melihat puluhan pedang kecil melesat ke arahnya dan anak buah yang sedang melemparkan senjata rahasia.


Sa Sie Hwa dan Racun cilik yang sudah berhasil mendekati Han Ciu, lalu melemparkan senjata rahasia mereka, menyerang ke arah rombongan Dewa elang.


Puluhan anak buah Dewa elang yang meluncurkan senjata rahasia kalang kabut, ketika ratusan pedang hampa melibas semua senjata rahasia, dan terus melesat menghantam ke arah mereka.


Jeritan jeritan kematian terdengar dari anak buah Dewa elang yang terkena pedang hampa dan senjata rahasia milik Sa Sie Hwa dan jarum beracun milik Racun cilik.


Melihat situasi berbalik, Dewa elang dan sepasang Siluman elang, lalu membuka sebuah pintu dan melesat pergi.


Han Ciu melihat musuhnya pergi, lalu menghantamkan pukulan Dewa api ke arah pintu tempat Dewa elang pergi.


Blaaam !


Pintu hancur berantakan, Han Ciu lalu melesat menyusul ke arah pintu, Han Ciu turun dan berpijak di kayu yang berserakan di atas air kemudian melesat ke arah pintu tempat Dewa elang melarikan diri.


Pedang langit, Zhain Li Er, Racun cilik, Sa Sie Hwa serta Xiao Er mengikuti langkah Han Ciu.


Berpijak pada kayu dan bambu yang berserakan, lalu keluar, ketika melihat Han Ciu mengamuk sambil membabat anak buah Dewa elang, mereka kemudian membantu.


Anak buah perguruan Elang putih yang sudah jeri semakin jeri melihat rombongan Han Ciu datang menghampiri.


Han Ciu melihat Dewa elang dan sepasang Siluman elang sudah berada dalam kapal besar.


Satu persatu bangunan di telaga barat seperti di tarik masuk kedalam air.


Han Ciu terkejut, jika bangunan bangunan masuk ke dalam air tanpa perahu, mereka akan tenggelam.


Perahu perahu kecil mulai menjauh dari tempat Han Ciu beserta rombongannya.

__ADS_1


Ha ha ha


"Kau pikir gampang lolos dari telaga barat !" sekarang kau hadapi anak buahku," ucap Dewa elang, suaranya terdengar kencang karna menggunakan tenaga dalam."


Han Ciu dengan jiwa pedang, melesat ke arah bangunan bangunan yang terbuat dari bambu yang mulai tenggelam, lalu menebas dinding serta lantai yang terbuat dari bambu, untuk tempat mereka berpijak.


3 buah rakit bambu akhirnya di pakai oleh Han Ciu beserta Rombongannya.


"Paman coba lihat dari bangunan yang besar dan masih berdiri itu !" banyak gerakan yang kulihat dan kilatan sinar seperti mata binatang buas.


Pedang langit melihat kearah bangunan yang di maksud oleh Han Ciu.


Terus memperhatikan tak lama kemudian wajahnya terkejut.


"Buaya, itu adalah Buaya !" Cengcu harus hati hati, kulitnya tebal serta kuat, selain senjata mustika susah melukai tubuh binatang itu." ucap Pedang langit.


Hmm !


"Buaya binatang air yang sangat ganas, kalian harus hati hati,"


Han ciu lalu menyuruh Zhain Li Er untuk melindungi Racun Cilik, sedangkan Pedang langit melindungi Sa Sie Hwa.


Han Ciu sendiri harus melindungi Xiao Er, mereka masing masing memakai sebuah rakit.


Cis !


"Kenapa harus Xiao Er yang kakak Han lindungi !" Sa Sie Hwa berkata dalam hati.


Sedangkan mata Zhain Li Er tampak berkilat melihat ke arah Xiaor Er yang memegang baju Han Ciu.


Puluhan ekor buaya, bergerak cepat menuju kearah rakit Han Ciu dan yang lain.


"Jangan buang buang senjata, incar mata mereka" teriak Han Ciu memberitahu Sa Sie Hwa serta yang lain.


Xiao Er semakin takut, apalagi sekarang ia melihat dengan jelas, kepala dari Buaya yang seperti mengambang dan bergerak diatas air.


Pegangan tangan Xiao Er semakin erat, hampir menyentuh kulit pinggang Han Ciu.


Zhain Li Er sesekali melirik, ketika melihat pegangan Xiao Er semakin erat.


Wajahnya merah, dari mulutnya keluar suara dengusan kesal.


Hmm !


"Aku malu mengatakan aku sudah sadar serta ingat bahwa kau adalah suamiku, tapi kutunggu sampai sekarang, kau masih saja tak mau menyapa dan selalu memanggil aku nona."


serta lebih akrab dengan gadis lain


Setelah mengungkapkan kekesalan dalam hati.


Zhain Li Er menatap kearah puluhan Buaya yang bergerak cepat, pantulan sinar bulan membuat kulit buaya terlihat jelas diatas air.


Tiba tiba Zhain Li Er melesat ke arah puluhan Buaya yang masih jauh di depan.


Han Ciu dan Pedang langit terkejut melihat Li Er bergerak ke arah Buaya.

__ADS_1


Zhain Li Er hinggap di punggung salah satu buaya, lalu dengan cepat pedang angin menusuk ke arah Buaya yang sedang ia taiki.


Darah langsung muncrat, apalagi setelah Li Er menggerakan tangannya kekiri dan kekanan, membuat pedang angin semakin menyobek nyobek badan Buaya


Buaya itu menggelepar, perlahan tubuhnya tenggelam lalu mati, buaya buaya lain semakin ganas ketika mencium bau darah.


Li Er tersenyum puas ketika berhasil menusuk dan menewaskan salah se ekor Buaya.


Setelah hinggap di punggung Buaya yang lain, Li Er siap menusuk kembali.


Tapi wajah Li Er berubah ketika merasakan kakinya dingin terkena air telaga, buaya tempat ia berdiri seperti sadar akan bahaya yang akan mengancamnya, buaya itu kemudian menyelam ke dalam air.


Li Er Kembali Lompat ke atas punggung Buaya yang lain, tapi buaya yang punggungnya di tempati oleh Li Er, seperti tahu dan mereka menyelam, dan akhirnya satu persatu buaya buaya itu menyelam ke dalam telaga.


"Celaka"


Ucap Han Ciu setelah melihat Li Er terjebak di tengah telaga,


Wajah Han Ciu pucat melihat Zhain Li Er perlahan masuk ke dalam air, sementara beberapa Buaya terlihat mulai melesat ke arah gadis itu.


Han Ciu menebas 3 batang bambu, kemudian melesat kearah Zhai Li Er.


Whuuut !


Setelah melesat, Han Ciu melemparkan bambu pertama, lalu mengibaskan tangan pedang hampa melesat, menghantam Buaya yang loncat menerkam Zhain Li Er.


Braaak !


Punggung Buaya terkena hantaman pedang hampa terpental, lalu masuk kembali kedalam telaga.


Han Ciu lalu menyambar pinggang Zhain Li Er lalu melemparkan bambu yang ia bawa.


Shiing .. tap !


Setelah menyambar serta merangkul pinggang Li Er.


Han Ciu hinggap di bambu yang ia lempar, lalu melemparkan bambu ke arah rakit, lalu melesat sambil mengibaskan tangan ke arah Buaya Buaya yang mengejar.


Craash !


Se ekor Buaya langsung buntung terkena tangan Han Ciu yang di aliri oleh Jiwa pedang.


Han Ciu hinggap di bambu yang ia lempar lalu melesat kembali ke arah rakit tempat ia tadi berdiri.


Setelah sampai rakit, Han Ciu menurunkan Zhain Li Er.


"Nona Er jangan ceroboh !" nona bisa mati oleh Buaya buaya itu." ucap Han Ciu.


Li Er yang masih merasakan pelukan hangat Han Ciu diam, wajahnya tampak merah karna menyesal dan Malu, Li Er masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, lalu pergi menjauh.


Perlahan Buaya Buaya mulai medekati rakit, sebagian moncongnya terbuka dan memperlihatkan giginya yang tajam.


Han Ciu dan mereka yang berada di atas rakit mulai cemas, melihat buaya buaya yang puluhan banyaknya sudah siap menyerang.


Zhain Li Er melihat situasi makin gawat, lalu berjalan ke arah Han Ciu, kemudian memeluk pemuda itu dan berbisik di telinganya

__ADS_1


"Kakak Han !" walau harus mati hari ini aku sangat bahagia, karna sudah mengingat kembali siapa kau dan apa hubungannya denganku." Zhain Li Er lalu menatap wajah Han Ciu.


"Muka ayam, aku telah kembali."


__ADS_2