
Dua hari setelah mereka berkumpul, Rombongan Han Ciu akhirnya berangkat ke kota Julu, dengan semangat yang tinggi dan bekal cukup selama mereka melakukan perjalanan. membuat para prajurit merasa tenang berangkat untuk melakukan pertempuran terakhir.
Pertempuran antara penguasa barat dan timur untuk memimpin negeri, yang sudah terlepas dari Dinasty Qin.
Han Ciu membawa kurang lebih 8000 pasukan termasuk pasukan bintang timur yang menyerah dan bersedia bergabung.
2000 pasukan berkuda, 1000 pasukan panah yang bisa bertempur dengan memakai pedang, sedangkan sisanya adalah prajurit depan, dengan tombak serta tameng dan sebagian memakai pedang, mereka berbaris rapi ber iringan
Zhain Li Er di temani oleh Dewi kipas, Han Ciu bersama Sa Sie Hwa dan Xiao Er, Tongki serta iblis biru di bagian tengah, di bagian depan, Pedang api bersama Talaba juga sepasang Pedang kiri dan kanan
Di bagian belakang, Huang Zilin, Siluman hutan Hanzhong mengawal bagian belakang pasukan.
“Ming Mo! jika kita berhasil memenangkan perang apa yang akan kau lakukan? Tanya Tongki.
“Aku akan membeli rumah makan,” jawab Iblis biru.
Tongki kaget mendengar perkataan Iblis biru dan tak sengaja menarik tali kekang kuda, sehingga kudanya meringkik keras.
“Kau tak salah bicara? Tanya Tongki.
“Tidak! Aku memang ingin membeli rumah makan,” Iblis biru menjawab pertanyaan Tongki.
“Jika kau senang makan, datang saja ke penginapan bunga naga, kenapa harus membeli rumah makan? Ucap Tongki.
Phuih!
“Dasar tolool! Aku membeli rumah makan karena aku ingin usaha,” Iblis biru berkata.
“Kalau aku! Setelah selesai perang akan melamar Dewi Kipas,” ucap Tongki.
“Ya, jika hidup,” jawab Iblis biru.
“Tentu saja hidup, memangnya kau mendoakan aku cepat mati? Tanya Tongki.
“Jika kau hidup, lalu jika Dewi Kipas yang tewas, apa yang kau lakukan? Tanya Iblis biru.
Phuih!
Tongki meludah di dekat Iblis biru ketika mendengar perkataannya.
“Kau selalu mengatakan yang tidak enak ku dengar.
Lanjut perkataan Tongki, “kau saja yang mati duluan, nanti aku ambil rumah makan milikmu,”
“Dasar kadal tolool, kalau aku mati tentu saja tidak ada rumah makan, lalu apa yang kau ambil.” Iblis biru berkata.
__ADS_1
Tapi kau lebih enak dibandingkan aku, hari tuamu tidak sepi karena ada Dewi Kipas, tetapi aku hanya sendiri,” kali ini suara Iblis biru terdengar sedih.
“Terkadang bagi kita yang sudah tua, harta seperti tidak berarti, kebersamaan yang lebih kita butuh kan.”
Tongki anggukan kepala mendengar perkataan Iblis biru dan ia mengakui kebenaran yang di katakan oleh sahabatnya.
“Jika kau merasa tidak ada teman, kau boleh tinggal denganku.
“Aku juga sudah tua, sama denganmu, tidak ada keturunan yang bisa menghibur kita di masa tua.
“Ilmu yang kita pelajari selama hidup, di masa tua mungkin sudah tak begitu berarti, menyesal memang selalu terjadi setelah kita dapat merasakan kekurangan kita.
Keduanya mendadak menjadi pendiam sambil berpikir, bagaimana nanti kehidupan yang akan mereka jalani setelah perang.
****
Di Kota Henei Liu Bang serta para pemimpin sedang berkumpul, mereka menerima seorang utusan yang dikirim oleh penguasa timur, Xiang Yu.
Utusan yang terdiri dari dua orang pria paruh baya, seorang pria gagah bersama dengan pria yang di wajahnya terdapat bekas luka melintang.
Pria gagah utusan Xiang Yu memberi hormat kepada Liu Bang.
“Salam hormat untuk penguasa barat,”
“Hamba bernama Lao Bu, membawa surat dan beberapa pembicaraan yang hamba akan sampaikan, setelah penguasa barat membaca surat dari yang mulia Xiang Yu.”
Beng San mendengus mendengar Lao Bu menyebut Liu Bang hanya dengan penguasa barat, sedangkan Xiang Yu memakai Yang mulia, itu menandakan Xiang Yu berada di atas Liu Bang.
Liu Bang mengeluarkan gulungan surat yang berada di dalam sebuah wadah dari kayu, kemudian membuka gulungan surat dan mulai membaca.
Adik Liu Bang, mengingat selama ini kita selalu berjuang bersama, kakak memberi kesempatan kepadamu untuk bergabung dan jika adik Liu bersedia berada di bawah kakak, kita sudahi semua ini, tetapi jika adik Liu menolak, 2 hari setelah surat ini aku kirimkan, aku akan menyerang Henei dan kita buktikan siapa yang pentas berkuasa.
Liu bang mendengus setelah membaca surat dari Xiang Yu, kemudian menatap Lao Bu.
“Apa yang ingin kau sampaikan? Tanya Liu Bang.
Hamba hanya di suruh mengingatkan kepada tuan Liu, bahwa jika tuan Liu menolak isi surat yang hamba bawa.
“Pasukan bintang timur tidak akan segan lagi, kami akan menghancurkan kedua kota dan mungkin saat itu untuk menyerah juga sudah tidak bisa.” Ucap Lao Bu.
“50 ribu pasukan terlatih siap menghantam Henei serta kota Dang, berapa lama pasukan tuan Liu bisa bertahan? Tanya Lao Bu.
Lanjut perkataan Lao Bu, “tuan mungkin mengharapkan pasukan ketua perguruan selaksa pedang yang membawa sekitar 10 ribu pasukan yang berhasil memenangkan pertarungan dengan pasukan bintang timur di padang rumput Taiyuan.
Tetapi kapan mereka akan sampai Henei, dan apabila sudah sampai, apakah bisa menolong tuan Liu Bang.
__ADS_1
“Lebih baik tuan bekerja sama di bawah yang mulia Xiang Yu, itu suatu kehormatan buat tuan Liu Bang, bagaimana menurut tuan?
Wajah Liu Bang merah menahan hawa marah yang bergejolak di dalam dadanya mendengar perkataan Lao Bu.
“Tutup mulutmu!!
“Kau hanya seorang utusan, tetapi lagakmu seperti orang yang memegang kebijakan,” Liu Bang berkata sambil matanya menatap tajam ke arah Lao Bu.
“Hamba hanya menyampaikan pemikiran yang mulia Xiang Yu,” ucap Lao Bu sambil memberi hormat.
“Jika kau bukan seorang utusan, apa kau pikir kepalamu masih ada? Pedang langit berkata sambil menatap tajam ke arah Lao Bu.
Lao Bu tak menjawab perkataan Pedang langit.
Lao Bu memberi hormat kepada Liu Bang.
Setelah Liu Bang berkata, hanya satu kata,
"Perang"
Lao Bu kemudian mengundurkan diri, untuk menyampaikan kepada atasannya jawaban dari Liu Bang.
Setelah Lao Bu pergi, Liu Bang mengumpulkan semua pimpinan, untuk membicarakan persiapan mereka untuk menghadapi serangan pasukan bintang timur.
Sebab mereka kalah segalanya, jika sesuatunya tidak di persiapkan dengan matang, kota Henei serta kota Dang tidak bisa bertahan lama melawan gempuran pasukan bintang timur pimpinan Xiang Yu.
Setelah berunding, para pemimpin segera memberitahu anak buah mereka agar selalu bersiap, karena musuh akan menyerang.
Pagi hari di kota Henei, Liu Bang terkejut ketika seorang pengawalnya mengetuk pintu kamar dan memberitahu kepadanya, bahwa dia telah di tunggu oleh para pemimpin pasukan di atas benteng kota Henei.
“Memangnya ada apa pagi² sudah mengajak berkumpul di sana? Tanya Liu Bang.
Yang Mulia Liu harap segera kesana dan lihat lebih lanjut.
Liu Bang anggukan kepala, kemudian memakai pakaiannya, kemudian pergi menuju benteng kota Henei.
Setelah Liu Bang naik dan matanya menatap ke arah depan, wajah Liu Bang pucat, melihat puluhan ribu pasukan yang memakai seragam prajurit bintang timur telah bersiap.
Di depan benteng kota Henei.
Puluhan ribu prajurit bintang timur mendengarkan suara trompet perang, lalu di susul pukulan berapa kali genderang perang.
Pasukan bintang timur yang berbaris rapi mulai bergerak mendekat.
Liu Bang langsung memberi tahu pasukan untuk bersiap.
__ADS_1
Liu Bang menatap pasukan bintang timur, kekesalannya semakin bertambah kepada Xiang Yu.
“Kau bilang dua hari, dasar manusia licik!