8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 1: Pengawasan Anak Halus


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


Seorang gadis remaja berjalan cepat menuruni jurang berbatu. Ia begitu lincah bergerak di tebing batu, seolah ia sudah memetakan jalan khusus, sehingga membuatnya mudah melompat ke sana dan ke mari.


Hingga akhirnya gadis berpakaian serba hitam itu tiba di dasar jurang yang kering. Gadis berambut kepang tunggal itu sejenak memandang ke atas bibir jurang. Seolah tidak mau ada orang yang melihatnya. Selanjutnya ia berjalan menembus dinding batu dan menghilang.


Tahu-tahu remaja cantik beralis tebal itu muncul di sebuah lingkungan berbatu, tapi masih memiliki beberapa pohon besar sebagai penyejuk kawasan. Di lingkungan itu juga ada sebuah rumah sederhana dari kayu, yang di bagian bawahnya ada sealiran air yang salurannya dibuat khusus.


Agak jauh dari rumah itu, terlihat seorang wanita berpakaian hijau, yang masih terbilang muda dengan usia tiga puluh tahunan, duduk pada sebongkah batu menghadap dinding batu sejauh lima tombak.


Duar! Duar! Duar…!


Wanita berbibir merah alami itu berulang-ulang menyentilkan jari tengah kanannya. Tanpa ada yang terlihat melesat dari sentilan itu, tapi ada ledakan-ledakan di dalam lubang yang sudah tercipta cukup dalam di dinding batu. Ia adalah Anai Layang yang lebih ternama dengan julukan Putri Bibir Merah.


Anai Layang tetap fokus kepada latihannya. Tanpa perlu melihat, Anai Layang tahu bahwa yang datang adalah Murai Manikam, anak yang ia gelari Anak Halus. Gelar itu ia berikan karena dalam usia muda ia sudah menguasai ilmu senyap tingkat tinggi. Ia mampu berada dalam keramaian tanpa bisa diketahui oleh siapa pun, bahkan meski di dekat orang sakti sekalipun.


“Apa yang kau dapat, Murai?” tanya Anai Layang tanpa menengok saat Murai Manikam tiba di dekat gurunya itu.


Murai lebih dulu duduk di batu sebelum menjawab pertanyaan gurunya. Meski statusnya sebagai murid, Murai tidak menunjukkan adanya sikap penghormatan. Hal itu karena memang perintah Anai yang tidak mau ada formalitas penghormatan. Yang terpenting Murai sebagai murid tidak bertindak lancang berlebihan.


“Ningsih Dirama dibuang ke Hutan Anker, Guru!” lapor Murai.


“Apakah kau sudah periksa Hutan Angker?”


“Sudah guru. Di sana ada dua orang lelaki yang tinggal, namanya Anjas dan Gurudi. Anjas pemuda tampan, Gurudi lelaki cebol yang setia kepada tuannya,” jawab Murai.


“Menurutmu mereka orang jahat atau baik?” tanya Anai Layang.


“Mereka orang baik.”


“Jika begitu, terus awasi mereka!”

__ADS_1


“Baik, Guru!”


Beberapa hari kemudian, Murai Manikam kembali pergi ke Hutan Angker untuk melihat kondisi Ningsih Dirama yang saat itu terkena teluh.


Dengan menggunakan ilmu Diam-Diam, Murai bisa mengawasi Ningsih Dirama yang saat itu sudah tinggal satu lingkungan bersama Anjas Perjana dan Gurudi. Murai harus terkejut karena melihat Ningsih Dirama sudah sembuh dari penyakit teluhnya yang berbau sangat busuk.


Meski Anjas seorang yang sakti, tetapi ia tidak pernah merasakan sedikit pun keberadaan Murai yang memang berlindung dalam ruangan tabir.


Murai bisa sehari dua hari mengawasi kehidupan Ningsih Dirama dan Anjas. Bahkan ia menyaksikan kemesraan antara Anjas dan Ningsih, termasuk mendengar obrolan-obrolan yang sifatnya lebih pribadi.


Murai pun menyaksikan pernikahan antara Anjas dan Ningsih. Gurudi sebagai saksinya. Pernikahan yang tidak memenuhi syarat jumlah saksi itu dianggap sah saja, maklum dianggap darurat seolah masa pandemi yang apa-apa disebut darurat.


Namun, untuk urusan percumbuan suami istri, Murai memilih balik kanan karena ia malu sendiri, terlebih ia masih di bawah umur menurut kriteria UU Perlindungan Anak Pasal 1 angka 1, yakni di bawah 18 tahun.


Semua apa yang dilihat dan didengarnya, Murai laporkan kepada Anai Layang.


Betapa senangnya Anai Layang ketika mengetahui ternyata Ningsih Dirama melahirkan bayi lelaki yang berbibir merah. Karena terlalu senangnya, ia sampai memotong dua ekor ayam sebagai wujud syukurnya. Ayam itu ia bakar bersama Murai.


Murai tidak sempat mencari keberadaan Anjas dan Ningsih, ia lebih memilih mengikuti ke mana Gurudi pergi. Ternyata, Gurudi pergi ke Bukit Gluguk, tempat kediaman Ki Ageng Kunsa Pari.


“Joko Tenang dititipkan di kediaman Ki Ageng Kunsa Pari, Guru!” lapor Murai setelah ia pulang usai menempuh perjalanan cukup jauh dari Bukit Gluguk.


“Baguslah, itu artinya masa depan Joko akan bagus di tangan Ki Ageng Kunsa Pari,” kata Anai Layang.


“Tapi aku tidak tahu di mana Anjas dan Ningsih, Guru,” ujar Murai.


“Hah! Lalu siapa yang membawa Joko ke Ki Ageng Kunsa Pari?” tanya Anai Layang.


“Si cebol Gurudi,” jawab Murai.


“Besok kau kembali ke Hutan Angker untuk mencari jejak Anjas dan Ningsih.


Keesokannya, Murai kembali ke Hutan Angker untuk melacak kepergian Anjas dan Ningsih. Namun, ia tidak menemukan apa-apa, kecuali area jalan hutan yang rusak oleh bekas pertarungan antara Anjas dan Prabu Raga Sata. Tidak adanya mayat prajurit Kerajaan Siluman yang dibiarkan tertinggal di lokasi, membuat Murai tidak tahu siapa yang pernah bertarung di jalan hutan itu.

__ADS_1


Awalnya mayat-mayat prajurit Kerajaan Siluman ditinggal, tetapi kemudian ada pasukan lain yang ditugaskan untuk mengevakuasi mayat para prajurit.


Murai kemudian kembali ke kediaman gurunya dengan tanpa hasil.


“Semoga saja Ningsih baik-baik saja,” ucap Anai yang merupakan bibi dari Ningsih Dirama.


Sepuluh tahun kemudian, Anai Layang muncul dengan membawa sebuah benda silinder berwarna merah, panjangnya hanya sejengkal orang dewasa. Benda setebal lingkaran jari tengan dan ibu jari itu, diselipkan di sabuk warna putihnya.


“Guru mau pergi ke luar? Pakai bawa Tongkat Jengkal Dewa,” tanya Murai saat melihat gurunya berpakaian dan berhias lebih cantik, ditambah membawa pusaka Tongkat Jengkal Dewa. Ia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik bertubuh sekal. Gaya rambutnya masih sama, yakni dikepang tunggal.


“Aku ingin pergi menyerahkan pusaka ini kepada Ki Ageng Kunda Poyo,” jawab Anai Layang.


“Siapa dia, Guru?”


“Adiknya Ki Ageng Kunsa Pari. Pusaka ini akan aku wariskan kepada Joko Tenang, tetapi aku akan menitipkannya kepada Ki Ageng Kunda Poyo.”


Pergilah Putri Bibir Merah dan Murai Manikam ke kediaman Ki Ageng Kunda Poyo di sebuah gua tersembunyi.


“Sungguh aku tidak berani menerima pusaka berbahaya ini, Anai Layang,” kata Ki Ageng Kunda Poyo setelah Abai Layang mengungkapkan niatnya.


Ki Ageng Kunda Poyo adalah kakek berambut serba putih dan berjenggot sedada tapi berwarna abu-abu. Kakek itu mengenakan jubah hitam dan bertongkat kayu hitam pekat. Uniknya si tongkat adalah dia memiliki kepala yang diukir seperti buah nanas.


“Selama ini tidak ada yang mengetahuinya, maka kau akan aman. Suatu saat nanti jika Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari datang menemuimu, kau bisa memberikan kepadanya. Joko Tenang adalah keturunanku dari keponakanku.”


“Bukankah kau bisa memberinya langsung?” tanya Ki Ageng Kunda Poyo.


“Benar, tapi aku ingin bertapa dan tidak mau sedikit pun keberadaanku terendus oleh para pendekar dunia persilatan,” kilah Anai.


“Baiklah. Anggaplah balas budiku atas utang nyawaku kepadamu,” kata Ki Ageng Kunda Poyo.


Maka, resmilah Tongkat Jengkal Dewa disimpan oleh Ki Ageng Kunda Poyo, tanpa berani ia menyentuhnya. Ki Ageng Kunda Poyo tahu akibatnya jika memegang tongkat sakti itu.


Setelah itu, Anai Layang dan Murai Manikam kembali ke Jurang Sembunyi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2