8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 14: Pasukan Murka Kegelapan


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Gadis Cadar Maut hanya menggunakan tangan kanannya dalam memainkan tombak kayunya. Tangan kirinya tidak aktif karena memang sengaja tidak diaktifkan.


Setelah menangkis tiga bacokan pedang hanya sekali gerak, tombak kayu si gadis bercadar langsung mengibas berputar. Kecepatannya membuat ketiga prajurit Pasukan Murka Kegelapan tidak bisa menyelamatkan lehernya dari torehan mata tombak.


Siluman Lidah Kelu bertarung gesit dengan jurus cakarannya. Meski ia cadel, tetapi gaya bertarungnya ramai.


“Kau pikil bisa menang dengan cala culang sepelti ini?!” teriak Siluman Lidah Kelu sambil gesit menghindari serangan pedang-pedang para prajurit. “Lasakan Cakalan Halimau Ganas!”


Bret! Bret! Bret!


Tiga cakaran ganasnya sukses merobek perut dan dada tiga orang prajurit, meski sebenarnya kuku jari tangannya tidak panjang.


“Belgembilalah di alam kubul!” maki Siluman Lidah Kelu.


Sementara itu, Joko Tingkir yang bertarung tidak jauh dari posisi gadis yang ditaksirnya, menunjukkan pula tajinya.


Ia melompat berputar di udara seperti silinder, tepat di atas tusukan tiga pedang, lalu tubuhnya menabrak wajah ketiga prajurit itu. Ketiga prajurit jadi jatuh terjengkang dengan wajah tertindih.


Bubuk bubuk bubuk…!


Belum sempat ketiganya fokus memandang, Joko Tingkir sudah menonjoki wajah mereka secara beruntun tanpa henti, seperti seorang drumer yang sedang mengamuk dalam sebuah lagu rock. Dan ketika Joko Tingkir berhenti, kondisi wajah ketiga prajurit itu sudah hancur tanpa nyawa.


“Boleh juga!” puji Siluman Lidah Kelu.


“Jadi kau tertarik kepadaku?” tanya Joko Tingkir.


“Belum teltalik!” jawab Siluman Lidah Kelu dengan senyuman sinis.


“Berarti kau berniat tertarik kepadaku. Hahaha!” tukas Joko Tingkir gembira.


“Jangan belhalap!” ketus Siluman Lidah Kelu.


“Jangan menyerah, Tingkiiir!” teriak Joko Tingkir menyemangati dirinya sendiri.


Sementara itu, Tembangi Mendayu duet dengan Arya Permana.


Tembangi Mendayu bergerak berputar merunduk di bawah sabetan dua pedang sambil tangannya bergerak.


Buk! Buk!


Sekali tinju, satu prajurit langsung terlempar sejauh dua tombak. Demikian pula prajurit kedua yang juga terlempar kuat ke belakang.

__ADS_1


Pada saat yang bersamaan, dua prajurit lain datang menyerang. Arya Permana yang melihat pergerakan itu, cepat berkelebat di atas Tembangi Mendayu yang sedang membungkuk.


Bak bak!


Terjangan Arya Permana mendarat di dada dan wajah kedua prajurit tersebut. Dan ketika kedua prajurit itu buru-buru bangun, tahu-tahu tusukan jari tangan kanan Arya Permana sudah melukai leher mereka.


Wuss!


Setelah mundur-mundur sambil mengelaki serangan tiga pedang yang bersusul-susulan, Lanang Jagad melompat mundur sambil menghentakkan lengan kanannya. Segelombang angin pukulan panas menderu menghempas dua orang prajurit, sebab satu orang berhasil melompat jauh menghindar.


Dua prajurit yang terhempas jatuh dengan kulit yang melepuh. Mereka mengerang kesakitan dan kepanasan.


Krak! Trek! Bukr!


Pangeran Keriting bertarung dengan tinjunya. Satu hantaman tinju maka satu bagian tulang lawan remuk. Maka tidak ada prajurit yang datang menyerangnya tanpa menderita remuk tulang. Kecepatan gerak Pangeran Keriting terlalu tinggi bagi para prajurit itu.


Pangeran Botak beraksi dengan keris barunya. Tubuhnya meliuk-liuk di antara serangan pedang-pedang. Kerisnya berkelebat cepat dan cantik mengiris tangan-tangan para prajurit, yang ditutup dengan menusuk leher para prajurit dengan gaya menyamping.


Pangeran Mayat menggunakan usapan jari-jarinya yang beracun ganas.


“Aakk…!” jerit para prajurit yang mendapat belaian dari Pangeran Mayat, racun ganasnya bekerja cepat dan menyakitkan.


Sementara itu, pedang para prajurit yang menyerang Pangeran Derajat berpentalan karena diadu oleh tendangan maut. Setelah itu, kecepatan dan kekuatan kaki Pangeran Derajat mengamuk menghakimi wajah dan dada para prajurit bergantian.


Pangeran Basah menggunakan senjata seperti benang tebal tapi berbahan baja. Senjatanya pernah putus oleh Pedang Singa Suci milik Joko Tenang, tetapi ia masih punya senjata cadangan.


Sreet!


Ketika satu bacokan datang dari belakang, Pangeran Basah menangkis dengan bentangan benangnya. Lalu dengan cepat Pangeran Basah bergerak berputar ke belakang tubuh lawan, kemudian menjerat lehernya dengan benang itu.


Set!


Sekali tarik, leher prajurit itu putus.


Sementara Putri Embun mengandalkan senjata pedang. Pedang lawan pedang, tetapi ilmu pedang Putri Embun jelas lebih unggul.


Ting! Ting! Ting!


Ketika tiga pedang prajurit Pasukan Murka Kegelapan beradu dengan pedang Putri Embun satu per satu, ketiga prajurit itu terdiam sejenak dengan wajah pias. Mereka tidak bisa langsung lanjut menyerang, karena tangan mereka gemetar akibat peraduan pedang tersebut.


Momentum itulah yang membuat Putri Embun bisa langsung menyerang habis ketiga prajurit.


Tratak tratak!


Tongkat Putri Pelangi bermain lincah menangkis semua serangan pedang yang datang susul-menyusul. Setelah melumpuhkan pedang-pedang itu, Putri Pelangi menggebuki para prajurit dengan tongkatnya yang bisa dipendekpanjangkan.

__ADS_1


Nenek Rambut Merah tetap mengandalkan ilmu daunnya. Bertarung di tengah hutan seperti petarung yang sedang bertarung di rumah sendiri.


Swest!


Ketika para prajurit datang berombongan, Nenek Rambut Merah menghentakkan sepasang lengannya ke kanan dan ke kiri. Dedaunan yang ada di tangkai tersedot lepas dan melesat mendekati si nenek. Para daun itu melayang di sekeliling tubuh si nenek. Ketika si nenek menghentakkan kedua lengannya, puluhan daun itu melesat kaku menyerang para prajurit.


“Ak! Akk! Akk!” jerit para prajurit dengan tubuh berpentalan dalam kondisi panen tancapan daun.


Beda cerita dengan pertarungan Setan Ngompol. Sarung bau pesingnya membuat para prajurit pingsan sebelum adu fisik.


Singkat tarung, sekitar seratus prajurit Pasukan Murka Kegelapan berguguran.


Ketika jumlah prajurit yang mengeroyok semakin sedikit, muncul serangan baru.


“Panah!” perintah satu suara lelaki yang menggelegar garang.


Seset seset…!


Serangan puluhan anak panah muncul dari satu sisi di saat para pendekar masih sibuk.


“Akh!” pekik Pangeran Derajat saat satu anak panah menusuk lambung kanannya.


“Ukh!” keluh Siluman Lidah Kelu saat satu anak panah menancap di paha kirinya.


Hujan anak panah yang tiba-tiba itu mengurangi kesigapan beberapa pendekar, membuat mereka terkena tembakan. Ketika yang lain bisa menghindar dan menangkisi serangan panah, Pangeran Derajat dan Siluman Lidah Kelu terkena panahan.


“Gadis Cadel!” sebut Joko Tingkir terkejut, lalu buru-buru mendapati keberadaan Siluman Lidah Kelu.


“Kakang Derajat!” sebut Putri Embun. Ia cepat menghampiri Pangeran Derajat yang duduk bersandar pada batang pohon dengan lambung tertancap anak panah.


“Seraaang!” teriak satu komando lagi tanpa terlihat wujudnya.


Dari berbagai arah kembali muncul puluhan prajurit berseragam hitam-hitam. Serangan susulan itu memancing Anjas dan pendekar lainnya meningkatkan pula perlawanannya.


Seperti Anjas. Baru saja para prajurit berterbangan ke arah ia dan Ratu, Anjas langsung mengibaskan lengan kanannya.


Wuss! Sweet!


Satu angin keras menerbangbalikkan enam prajurit.


Sementara Ratu Sri Mayang Sih melesatkan sekelebatan sinar kuning ke arah yang lain. Empat prajurit langsung berpentalan dengan tubuh menderita luka sayatan yang parah.


Pangeran Lidah Putih pun bertindak lebih.


Set set set…!

__ADS_1


Dengan santainya, Petra Kelana menggesekkan telapak tangan kanannya pada telapak tangan kirinya, seperti pesulap yang sedang melesatkan kartu remi di tangannya satu per satu. Dari setiap gesekan melesat lempengan-lempengan sinar merah seperti koin yang menyambut kedatangan para prajurit tersebut.


Sejumlah prajurit ada yang bergerak gesit mampu menghindar, tetapi bagi mereka yang terkena, harus bertewasan dengan tubuh yang berlubang hangus. (RH)


__ADS_2